
..."Serpihan hati sama halnya dengan secuil luka lama, yang akan goyah dengan adanya masa lalu, yang kembali menyapa."...
...***...
Adiputera masih saja bergelut di dalam dapur. Ia berusaha sangat keras untuk memasak sesuatu untuk Keysa. Meski sulit dirinya kembali merasa senang saat mengingat kenangan lama yang masih saja hinggap.
Celemek yang ia kenakan di awal kini tak lagi terlihat seperti celemek. Ada noda dimana-mana. Bahkan wajah Adiputera-pun penuh dengan noda akan masakan yang ia buat.
Para pelayan masih saja mengamati Adiputera dari kejahuan. Mereka ingin membantu akan tetapi dilarang Adiputera untuk masuk.
Setelah beberapa jam kemudian. Akhirnya Adiputera selesai dengan masakannya. Ia tersenyum tipis. Hal tersebut membuat para pelayan seakan penomena langka.
"Wah ternyata tuan besar bisa tersenyum juga ya," celetuk salah satu pelayan yang melihat dari kejahuan.
"Benar. Aku baru kali ini melihat tuan tersenyum. Pasti wanita itu sangatlah berharga," timpal pelayan lain.
Sisi lain Adiputera menghias piring serta membersikan sedikit noda yang tertempel di pinggir piring. Setelah itu ia mulai membuka celemek tersebut dan melemparkannya sembarang arah.
"Akhirnya aku siap juga. Aku harap Keysa masih menyukainya," batinnya sembari menatap masakan di piring itu dengan penuh harap.
Adiputera bersiap mengantarkan nampan makanan tersebut dengan tangannya sendiri. Akan tetapi beberapa saat kemudian dering telepon membuatnya berhenti sejenak dan kembali meletakan nampan itu di atas meja.
Drttt ...
"Jay?" ucapnya seraya menatap layar ponsel.
"Ada apa Jay?" tanyanya.
"Jay cuma ingin bilang bahwa malam ini Jay gak akan pulang kerumah, Pa."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Jay harus menemani Cia di rumah sakit, Pa."
"Baiklah. Kau jaga saja dia. Besok Papa akan ke sana untuk melihat keadaannya," jawab Adiputera.
"Baik, Pa. Kalau gitu Jay tutup dulu telponnya," ucapnya.
"Oke."
Percakapan berakhir. Adiputera kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia kembali memegang nampan dan menuju ke kamar Keysa.
Beberapa saat kemudian.
Adiputera menghampiri Keysa yang ternyata sudah tertidur pulas. Ia tersenyum lebih lebar dari biasanya. Adiputera meletakan nampan itu di atas meja dan ia duduk tepat di samping Keysa. Tangannya mulai mengelus lembut rambut Keysa. Menatap dengan penuh.
"Kau masih saja tetap cantik saat sedang tidur. Bagaimana bisa aku melupakanmu kalau begini," batinnya.
Beberapa saat kemudian Adiputera sengaja membangunkan Keysa dari tidurnya.
__ADS_1
"Keysa bangunlah."
Keysa tetap tidur pulas.
"Keysa bangunlah. Kau harus makan dulu baru tidur," ucap Adiputera lagi.
Keysa masih tetap tidur. Bahkan suara Adiputera tak cukup untuk membuatnya terbangun.
"Jangan salahkan aku memakai cara lain untuk membangunkan dirimu ya,"
Adiputera langsung saja meyatukan bibirnya pada bibir Keysa. Ia menciumnya dengan lembut. Keysa sedikit bergeming.
"Ayo bangun. Atau kau mau aku melakukan lebih dari ini," bisiknya tetap di telinga Keysa.
"Sungguh keras kepala."
Adiputera melanjutkan aksinya. Ia kembali mencium bibir Keysa. Kali ini semakin dalam. Hal itu membuat Keysa akhirnya bangun dari tidurnya. Dengan segera tangannya mendorong tubuh Adiputera menjauh.
"Apa yang kau lakukan!" Keysa mengelap bibirnya. "Dasar tidak sopan!" lanjutnya.
Adiputera tersenyum.
"Suruh siapa kau tidak bangun saat aku bangunkan."
"Tapi tidak dengan cara ini juga!" ketusnya.
"Kenapa tidak?" Adiputera tersenyum tipis. "Bukankah dulu kita sering melakukannya, bahkan lebih dari ini," lanjutnya.
"Lupakan itu. Kau makanlah dulu. Aku sudah membuatnya seperti yang kau sukai dulu," ucapnya seraya mengambil makanan.
"Aku gak lapar. Jangan paksa aku!"
"Lapar atau tidak kau harus tetap makan."
"Aku tidak ingin makan apapun sebelum bertemu dengan anakku!"
Keysa bersikeras untuk menolak makanan dari Adiputera.
"Terserah kau saja."
Adiputera langsung meletakan piring itu dengan sedikit membantingnya dan ia segera keluar dari kamar tersebut dengan kesal.
Keysa melihat itu sedikit tersentak.
"Apa aku sudah keterlaluan? Tapi aku hanya mau ketemu Cia secepat mungkin," ucapnya .
Tak lama setelah Adiputera keluar. Ada seorang pelayan masuk mengunjungi Keysa.
"Ada apa lagi? Sudah aku katakan aku gak akan makan!"
__ADS_1
"Maafkan saya nyonya. Tapi nyonya tetap harus makan," jawab pelayan tersebut.
"Aku tau kau di utus olehnya kan. Bilang padanya aku gak akan makan! Kenapa kalian semua memaksaku!"
"Maaf nyonya. Tapi saya tidak di utus oleh tuan besar. Ini adalah keinginan saya sendiri menemui nyonya. Saya hanya ingin bilang jika tuan besar sudah sangat berusaha untuk membuat makanan ini. Beliau masuk ke dapur sendiri dan masak semuanya sendiri hanya untuk nyonya."
Keysa tersentak atas apa yang dikatakan pelayan tersebut.
"Saya hanya ingin nyonya menghargai usaha tuan. Lagipula nyonya harus makan agar bisa sehat untuk menemui putri nyonya tersebut," jelasnya lagi.
Keysa merenung.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Jika butuh sesuatu katakan saja pada saya."
Pelayan tersebut keluar dari kamar Keysa.
"Kenapa dia repot-repot membuatkan makanan untukku?" tanyanya. "Tapi benar kata pelayan tersebut. Aku harus makan agar bisa cepat pulih dan bisa bertemu dengan Cia," lanjutnya.
Keysa menatap makanan tersebut. Pada akhirnya ia mengambil piring tersebut dan mulai memakannya.
Adiputera yang memantau Keysa sejak tadi dari monitor tersenyum puas. Sejak ia keluar dari kamar Keysa Adiputera menuju kamarnya dan menyalakan cctv yang ia pasang di kamar tersebut.
"Aku senang dia akhirnya makan masakan ku," ucapnya.
Beberapa saat kemudian.
"Masuk!"
Salah satu pengawal Adiputera masuk. Menghadap Adiputera.
"Ada apa?"
"Maaf tuan besar.Ada anak muda yang ingin bertemu tuan muda."
"Kau kan tau Jay tidak ada di rumah. Kenapa kau malah melapor padaku?"
"Maafkan saya tuan. Tapi anak muda tersebut bersikukuh ingin bertemu dengan tuan muda. Ia berkata jika tujuan kesini hanya untuk menjemput Nona Cia," jelasnya lagi.
"Siapa dia? Beraninya bersikap kurang ajar di tempatku!"
"Lalu apa yang harus saya lakukan padanya tuan?"
"Suruh dia masuk ke ruang kerjaku. Aku akan menemuinya sendiri. Aku ingin lihat siapa anak kurang ajar itu!"
"Baik tuan."
Pengawal tersebut keluar ruangan. Adiputera juga bangkit dan menuju meja kerjanya.
"Padahal aku ingin melihat Keysa menghabiskan makanan itu dulu. Beraninya anak itu menggangguku!"
__ADS_1
Bersambung ...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....