
...***...
Bima masuk kedalam kediaman Adiputera. Ia melangkah mengikuti pengawal yang menuntut dirinya menuju ruang kerja. Sesekali ia menatap sekeliling.
Tok ... Tok.
"Permisi tuan besar. Saya sudah membawanya," ucapnya rendah.
"Suruh dia masuk dan kau pergilah." tihtanya.
"Baik tuan," jawabnya.
Bima acuh tak acuh mendengar percakapan tersebut. Dalam hatinya tak ada sedikitpun rasa takut.
"Silakan masuk."
Setelah mengatakan hal itu, pengawal tersebut undur diri. Tanpa pikir panjang Bima langsung bergegas masuk.
"Dimana Jay?" tanya Bima langsung.
Adiputera tersenyum. Menatap Bima kalut.
"Untuk apa kau mencari anakku?"
"Aku ingin membawa Cia pulang. Dimana dia?"
Bima tampak sangat serius. Tidak ada rasa ketakutan sedikitpun dalam matanya.
"Sebelum itu, siapa namamu anak muda?"
"Namaku tidak penting sekarang. Yang terpenting dimana Cia? Aku akan membawanya," balasnya.
"Tunjukan sedikit rasa hormatmu kepadaku, bagaimana kalau aku tidak ingin memberitahu dirimu dimana calon menantuku nanti,"
"Aku akan mencarinya sendiri di sini, lagipula dia belum resmi menikah dengan Jay, sekarang katakan dimana dia?"
Bima sudah tampak kesal dengan semua permainan ini. Kesabarannya semakin menipis.
"Dengar anak muda. Jangan cari calon menantuku lagi. Dia sedang bersama tunangannya sekarang, jadi pulang saja kerumahmu," ucap Adiputera tegas.
"Dia belum menikah jadi kalian tidak berhak menahannya, sekarang katakan padaku dimana dia?"
Adiputera menghela nafasnya ringan.
"Kau keras kepala juga ternyata."
Bima terus menatap tajam tanpa bergeming sekalipun.
"Aku akan memberitahu dirimu dimana calon menantuku, tapi dengan satu syarat, bagaimana?"
"Aku tidak tertarik pada persyaratanmu itu. Langsung saja pada intinya?"
"Dia sama seperti Jay. Haha ... aku sedikit tertarik pada anak ini," batin Adiputera.
"Baiklah. Kali ini aku tidak ingin mempersulit dirimu. Aku akan memberitahu dimana dia."
Adiputera langsung menelpon pengawalnya.
"Datang keruanganku sekarang!" tihtanya.
"Baik tuan besar."
Bima terus menatap tajam. Mengawasi.
Beberapa saat kemudian pengawal tersebut masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa tuan?" ucapnya sedikit menunduk.
"Antar dia pada Jay sekarang. Ingat jangan lakukan apapun padanya!"
"Baik tuan," jawabnya.
"Pergilah. Kau akan di antar olehnya,"ucap Adiputera tersenyum tipis.
"Terimakasih."
Bima mengatakan itu dan langsung berbalik keluar ruangan. Pengawal tersebut juga undur diri.
"Sekarang aku akan melihat apa yang sedang Keysa lakukan," batinnya.
Rumah sakit.
__ADS_1
"Kemana Jay pergi. Kurang ajar, gue di tinggalin sendiri di sini," gerutu Cia.
Sejak tadi Jay sama sekali belum kembali juga. Hal tersebut.embuat Cia sangat cemas. Cemas karena ia takut pada rumah sakit dan cemas karena Jay memang tak kunjung kembali.
"Akhhh! Bod* amat! Mau dia kembali kek, gak kek, bukan urusan gue juga," makinya.
Cia langsung menidurkan dirinya seraya menutupi wajahnya dengan selimut.
Tak beberapa lama. Suara langkah kaki kian terdengar. langkah kaki tersebut mulai masuk ke dalam ruangan. Cia memasang sikap waspada-nya. Ia bersiap-siap menyerang.
Saat tangan itu menyentuh pundaknya, ia langsung saja menggenggam tangan tersebut dengan kuat, seraya menekan dan membantingnya dengan sedikit keras.
"Akhh!"
Suara tersebut tentu saja mengejutkan. Tentu saja begitu, karena orang yang ia genggam itu adalah tangan dari Jay sendiri.
"Hei, lihat kelakuan loe! Sakit!"
Tampak jelas wajah Jay meringis kesakitan.
"Eh maaf Jay. Gue gak tau kalau itu loe. Gue kira tadi ..." Cia tampak bersalah.
Melihat itu Jay sengaja ingin lebih menjahilinya.
"Loe kira gue penjahat? Mana ada yang berani kemari saat para pengawal gue di depan,"
"Ya maaf. Gue kan gak tau. Habisnya sih loe jalannya pelan banget kayak penjahat aja," gerutu Cia.
"Cih. Sekarang tanggung jawab! Lihat tangan gue sakit,"
"Dihhh. Lemah banget sih jadi cowok. Gitu aja manja," omelnya.
Jay tampak senang melihat Cia menggerutu seperti itu. Sangat menggemaskan.
"Jadi kalau gue lakik, gue gak boleh sakit?" balas Jay.
"Ya boleh sih ..." Cia menatap Jay kesakitan. "Yaudah deh sini-sini gue pijet," ucapnya lagi.
Cia langsung menggenggam tangan Jay dengan lembut. Ia perlahan meniupnya dan memijatnya dengan lembut. Cia fokus pada tangan Jay, sedangkan Jay sendiri sudah tersipu malu. Hal tersebut sangat membuatnya ingin sekali mengec*up bibir Cia saat itu juga.
"Gimana? Apa sakitnya udah mendingan?" tanya Cia sembari fokus memijat.
"Dasar manja,"
"Gue gak manja! Salah loe sendiri ngelukai tangan berharga gue," balas Jay.
"Cih, kenak-kanakan loe Jay,"
"Cia," panggil Jay lembut.
"Hem ..." balasnya hanya berdehem.
"Tatap gue,"
"Ngapain sih, gue lagi fokus pijet tangan loe ni,"
"Tatap gue!"
Via menghela nafas. Ia menuruti Jay. Ia menatap Jay, namun seketika Jay langsung saja menyodorkan bibirnya mendarat tepat pada bibir Cia. Tentu saja hal itu sungguh membuatnya terkejut. Mata Cia terbelalak atas apa yang Jay lakukan. Sengatan listrik tiba-tiba menghantam dirinya dan juga Jay.
Cup.
Semakin dalam dan semakin dalam. Balutan kedua bibir tersebut semakin menyatu. Cia semakin mengikuti irama permainan bibir Jay. Hingga seketika Jay melepaskan ciu*mannya.
Nafas keduanya seakan tersegal-se*gal. Kedua wajah itu masih sangat dekat.
"Sangat manis," ucap Jay tersenyum tipis.
Jantung Cia seakan ingin meledak. Seketika ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jay kembali ingin men*cium bibir Cia kembali, namun seketika terdengar suara pintu yang di buka dengan paksa.
Brak.
Cia maupun Jay langsung menjauh dan melihat siapa yang melakukan keributan itu.
"Bima!" ucap Cia terkejut.
Jay menatap tajam kepada Bima.
"Loe?" ucapnya mengangkat sebelah alisnya.
Bima menatap tajam pada Jay. Ya dia melihat apa yang barusan Cia dan Jay lakukan. Hatinya merasa sakit. Tanpa.banyak bicara Bima langsung menghampiri Jay dan melayangkan pukulan yang sangat keras pada wajah Jay.
__ADS_1
Bug.
Jay kehilangan keseimbangannya. Ia jatuh tersungkur ke dasar lantai.
"Be*engsek! Beraninya loe sentuh dia!" maki Bima penuh amarah.
Jay meyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Mencoba bangkit.
Bug.
Bug.
Lagi-lagi Bima kembali melayangkan pukulannya. Ia tidak memberikan Jay untuk bangkit.
"Udah gue bilang jangan sentuh dia!" teriak Bima.
"Bima hentikan!" teriak Cia.
Jay tersenyum kecut. Ia langsung bangun dan tanpa berbasa-basi langsung membalas pukulan Bima.
Bug. Bug.
Pukulan berhasil mendarat tepat di wajah Bima.
"Dia tunangan gue. Loe gak berhak atas dia, Bima!"
"Sial*an! Loe yanh harusnya gak punya hak itu!!"
Keduanya terus saja berkelahi. Cia yang sejak tadi berteriak sama sekali tidak mereka hiaraukan. Hingga Cia mencoba bangkit dari bangkarnya untuk merelai mereka berdua. Namun, karena kondisinya masih terlalu lemah, Cia seketika jatuh ke dasar lantai.
Jay serta Bima melihat hal tersebut dan langsung menghentikan pertengkaran keduanya.
"Cia!!" teriak Jay serta Bima secara bersamaan.
Keduanya menghampiri Cia. Membantunya bangun dari dasar lantai. Membawanya kembali duduk di atas bangkar.
"Loe baik-baik aja kan? Apa ada yang luka?" tanya Bima.
"Cia istirahatlah. Gue akan panggil dokter untuk periksakan diri loe," ucap Jay.
"Cukup! Gue baik-baik aja. Kalian stop bertengkar dan gue mohon diamlah!"
"Jay gue mohon loe keluar dulu. Ada yang mau gue bicarakan sama Bima," ucap Cia.
Apa yang Cia katakan seakan-akan membuat Jay tak percaya.
"Loe ngusir gue demi dia!" Jay menatap Bima tajam.
Bima tersenyum tipis. Mengejek Jay.
"Jay, gue mohon loe keluar dulu," pinta Cia.
Jay langsung saja keluar dengan kesal.
Cia kembali menghela nafasnya. Rasanya terlalu merepotkan mengurus keduanya.
"Bima, loe kok tau gue di sini?" tanya Cia.
"Gak penting gue tau darimana. Sekarang gue yang harus tanya, kenapa bisa loe di rumah sakit? Apa terjadi sesuatu?"
"Gue juga gak tau, saat gue mau pergi kerumah love tiba-tiba gue pingsan dan saat sadar gue udah ada di sini," jelasnya.
"Apa Jay yang bawa loe kemari?"
Cia mengangguk.
"Kenapa Cia sampai kerumah sakit. Apa terjadi sesuatu. Gak mungkin dia pingsan gitu aja, pasti Jay tau sesuatu," batin Bima.
"Sekarang istirahatlah dulu. Gue mau bicara sama Jay," ucap Bima.
"Bim. Stop! Jangan berkelahi lagi!" pinta Cia.
Bima mengusap rambut Cia dengan lembut. Memberikan senyuman hangatnya.
"Loe tenang aja. Gue mau bilang makasih karena udah bawa loe ke sini," ucapnya lembut. "Sekarang tidurlah dulu." ucapnya lagi.
Bima langsung meninggalkan Cia dan menuju pada Jay.
Bersambung ...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....
__ADS_1