JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#40


__ADS_3

...“Jangan berusaha lari dari kenyataanmu sendiri. dan, jangan pernah menoleh kebelakang lagi, dengan begitu, rasa sakitnya tidak akan terlalu terasa sakit.”...


.


.


.


Meriska telah sampai di rumah. Dengan berjalan pelan, seraya tidak ingin membangunkan kedua putrinya.


“Mama,” panggil Kiki.


Kiki yang beberapa saat lalu pergi ke dalam dapur untuk mengambil air minum. Tidak sengaja menjumpai Mama-nya yang sedang berjalan begitu hati-hati, seperti halnya seorang pencuri.


“Kiki, kamu belum tidur?” tanyanya.


“Belum. Tapi Mama sendiri dari mana aja? Kenapa baru pulang sekarang?” tanyanya penuh kecurigaan.


“Ouh. Mama habis menjenguk teman lama yang sedang sakit. Sayang,” jawabnya canggung.


“Jenguk teman. Malam-malam begini?”


“Ya. Sudahlah. Sebaiknya kamu segera pergi tidur, besok kamu kan harus sekolah. Mama mau pergi ke kamar dulu ya,” ucapnya panik.


Meriska bergegas masuk ke dalam kamar.


“Mama aneh banget sih.”


Kiki juga segera kembali ke dalam kamarnya.


“Hampir saja,” gumamnya sembari menghela nafas.


Meriska masuk ke dalam kamar, ia di kejutkan dengan keadaan ruangan yang gelap.


“Kenapa lampunya mati?”


Meriska berjalan perlahan seraya mencari tombol lampu. Segera ia menghidupkannya, ia tertegun dengan apa yang dirinya lihat, tampak sudah Agung yang tertidur di atas sofa panjang, yang terletak di dalam kamar mereka berdua.


“Astaga. Kenapa dia tidur di sana?” batinnya.


“Kenapa baru pulang?” tanya Agung, yang masih tetap merebahkan dirinya di atas sofa panjang.


“Maaf. Aku ada urusan mendadak, sayang,” ujarnya. Seraya meletakan tasnya di atas tempat tidur.


Agung membuka kedua matanya. Menatap Meriska yang masih terlihat cemas akan sesuatu. Tak lama, Agung segera beranjak dari sofa, dan menghampiri Meriska.


“Kenapa lama sekali untukmu pulang.”


Agung berbicara begitu dekat di telinga Meriska, ia juga segera merangkul tubuh istrinya tersebut.


Meriska terkejut atas apa yang kini dilakukan, Agung.


“Ehm, maaf sayang. Aku kira kamu tidak akan menungguku,” elaknya.


Meriska berusaha tenang, sedangkan Agung semakin liar memeluk tubuh istrinya tersebut. Sedikit memberikan kecupan di sela leher Meriska.


“Kamu tau kan apa hukumannya, jika kamu membuatku menunggu?” tanya Agung penuh dengan hasrat menggoda.


“Aku tau, tapi biarkan aku mandi dulu ya. Badanku terasa gerah dan lengket,” elaknya.


“Baiklah. Aku mencium bau kecemasan dalam dirimu, sayang. Apa kamu habis melakukan sesuatu yang terlarang?”


Agung kembali mencium leher istrinya tersebut.


“Mana mungkin, aku hanya menjenguk seorang teman tadi.”


“Biarkan aku mandi dulu. Oke,” ucapnya lanjut.

__ADS_1


“Baiklah. Segeralah mandi, aku menunggumu untuk melayaniku malam ini,” pintanya manja.


“Oke. Aku akan mandi dulu.”


Meriska semakin merasa tidak nyaman. Rasa panas dalam tubuhnya kian muncul, ditambah segala pertanyaan Agung yang kian membuatnya takut. Dengan segera, ia melepaskan pelukan tersebut, dan langsung menuju kamar mandi.


“Sepertinya dia mulai curiga padaku, aku harus segera membereskan semuanya secepat mungkin,” batin Meriska.


“Apapun yang coba kau sembunyikan dariku, itu takkan bertahan lama. Sayangku!” gumam Agung, seraya tersenyum tipis.


**


Pagi hari telah tiba. Hari baru telah hadir menyapa bagi semuanya. Seperti biasa, Meriska sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Agung bersiap untuk pergi bekerja, begitu pula dengan Kiki dan juga Cia yang juga bergegas pergi ke sekolah.


Meriska melihat di tengah kesibukannya, kedua putrinya tengah menuruni tangga secara bersama-sama.


“Ayo sayang, segera habiskan sarapan kalian berdua. Dan, pergi berangkat sekolah tepat waktu,” ucap Meriska.


Kiki dan juga Cia duduk di meja makan secara bersebrangan.


Meriska ikut duduk setelah menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya.


“Ayo, segera habisan sarapan kalian. Papa ada rapat penting pagi ini,” ucap Meriska.


Cia hanya diam. Begitu pula dengan Kiki. Keduanya memulai sarapan.


“Ouh ya, Cia. Bagaimana dengan pesta Jay tadi malam? Apakah menyenangkan?” tanya Meriska.


“Uhuk … Uhuk,”


Seketika Cia terbatuk-batuk mendengarnya. Meriska segera mengambilkan segelas air putih, dan memberikannya kepada Cia. Kiki dan juga Agung hanya menatap dan melanjutkan sarapan mereka.


“Kamu harus lebih hati-hati, sayang.”


“Iya.”


“Sayang, kamu kenapa? Apa pertanyaan Mama ada yang salah?” tanya Meriska lanjut.


“Gak. Pestanya biasa aja,” ucapnya sedikit malu. Kenangan malam itu, kini terlintas kembali.


“Mama kira ada hal yang menarik,” ucapnya sedikit kecewa.


“Pestanya menyenangkan, Ma.” Tiba-tiba Kiki bersuara.


“Ouh ya, apa yang menyenangkan?”


“Banyak, Ma.” Kiki menatap Cia. “Tapi, di tengah pesta Cia dan Jay pergi entah kemana, mungkin mereka ingin menghabiskan waktu bersama-sama, ya kami paham, mereka kan sebentar lagi menikah,” jelas Kiki.


Cia menatap Kiki seketika.


“Wah benarkah. Baguslah, kamu sudah dekat dengan Jay, Cia. Mama sangat senang mendengarnya.” Tampak kegembiraan di raut wajah Meriska.


Agung tersenyum. Menatap Cia.


“Bagus, Cia. Papa harap, kamu tetap menjaga hubungan baik ini. Jangan buat keluarga kita malu, dengan tindakan yang tidak di perlukan,” jelas Agung.


“Aku membuat malu atau tidak, apa urusannya dengan Anda! Lagipula, Anda sebaiknya sadar siapa yang membuat aku dan Mamaku malu dulu,” ucapnya getir.


Prang.


Keheningan pagi telah sirna. Agung melempar gelas yang ada di hadapannya, di sembarang arah, hingga menciptakan kegaduhan di pagi hari. Wajahnya terlihat sangat marah, tepat setelah mendengar ucapan tersebut. Kiki tersenyum tipis, bersiap menyaksikan sebuah drama pagi. Meriska langsung bangkit dari duduknya.


“Beraninya kau! Apa kau tidak tau sopan santun, saat berbicara dengan Papamu sendiri!”


“Sayang,tenanglah dulu. Cia tidak mungkin bermaksud begitu,” ucap meriska mencoba menenangkan.


“Cia, segera minta maaf kepada Papamu,” pinta Meriska.

__ADS_1


“Aku tidak salah. Kenapa harus minta maaf,” ucapnya santai.


“Sayang, segera minta maaf. Setidaknya demi Mama,” pintanya kembali.


“Maaf, Nyonya. Mamaku hanya satu dan kini dia tidak ada di sini,’ jawabnya.


“Cia!” bentak Agung. Menatap tajam.


“Apakah begitu menyakitkannya, mendengar sebuah fakta. Selama ini dunia hanya tau, jika Mamaku-lah yang bertanggung jawab atas keadaanya saat itu, tapi aku tau. Orang yang seharusnya bertanggung jawab, itu adalah Anda. Tuan Agung Sukti Wijaya yang terhormat.”


Agung bangkit dari duduknya, kemudian langsung menghampiri Cia yang masih saja duduk.


Plak.


Tamparan keras, sudah mendarat tepat di wajah Cia. Cia langsung memegangi pipinya tersebut. Tersenyum getir.


“Jika Tuan belum puas, maka tampar saja lagi aku. Aku sudah sangat terbiasa dengan ini.”


Cia kini bangkit dari duduknya. Berani menatap kedua mata Agung yang sudah naik pitam.


“Dasar ank tidak bermoral!” hardiknya.


“Ya, aku memang anak yang tidak bermoral. Bahkan, sebelum Tuan mengatakan hal itu, seluruh dunia juga sudah lebih dulu memanggilku begitu, bukan hanya itu saja, bahkan dunia yang tidak tau apa-apa langsung membenciku dan juga Mama, dan mereka hanya menganggap kami sebagai orang yang hina.”


“Walau begitu, Mama tidak pernah mengajarkanku untuk melawan ucapan mereka. Tapi, Mama lupa mengajarkanku satu hal. Yaitu, untuk bertindak sopan di depan Anda, itu artinya aku tidak perlu bersikap sopan dengan Anda kan?” Cia tersenyum tipis.


Plak.


Kali ini, Agung kembali menampar sebelah wajah Cia.


“Sayang hentikan! Kamu kehilangan akal, dia putri kita, jangan menamparnya lagi,” bela Meriska.


“Diam! Jangan coba-coba ikut campur. Aku akan mengajarinya bagaimana seharusnya dia bersikap di sini!”


“Wah wah, drama ini semakin seru!’ batin Kiki, sembari menikmati sarapannya.


“Cia. Seharusnya kamu bersyukur, Papa-mu ini membawa dan memberimu keluarga baru! Jika tidak, maka saat ini, kamu sudah berada di jalanan!” hardik Agung.


“Dan soal Mama kamu itu, dia sudah meninggal. Akan lebih baik untuk tidak membicarakannya lagi! Bagiku dia hanyalah wanita murahan, tapi kamu beruntung, masih ada darahku di dalam tubuhmu, jka tidak maka aku akan membuangmu. Sama seperti dia.” Agung menatap remeh kepada Cia.


Cia merasa sangat marah. Seakan jantungnya kian meledak, karena memburu dan berdetak sangat cepat.


Brak.


Seketika semua terkejut, Cia melampiaskan amarahnya dengan memukul meja sekuat mungkin, hingga meninggalkan bekas luka dalam dalam tangannya. Darahnya terus saja mengalir deras.


“Dengarkan ini baik-baik, Tuan Agung yang terhormat. Aku tidak peduli seberapa banyak kamu mau menghinaku, tapi jangan coba-coba menghina Mama ku. Bagiku, dia adalah Ibu terbaik. Setidaknya dia berbeda dengan Anda. Dia adalah wanita baik-baik, yang masih mau merawat anaknya seorang diri. Sedangkan Anda! Pergi begitu saja, dan meninggalkan kami dengan banyak aib!”


“Dan setelah sekian lama, akhirnya Anda muncul kembali dan sok bersikap sebagai pahlawan di depanku, dengan membawa dan memberikan keluarga baru untukku. Apa itu sudah menjadikanmu sebagai pahlawan di mataku! Haha … Anda salah besar, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai seorang penjahat yang sok bersikap sebagai malaikat!”


“Cia!”


Agung semakin tersulut emosi. Ia lagi-lagi menampar Cia.


“Apa hanya ini saja yang bisa Anda lakukan. Tampar aku sepuas mungkin. Tapi, aku takkan pernah menganggap Anda, sebagai seorang Papa bagiku!”


Tanpa berbasa-basi lagi, Cia langsung saja pergi meninggalkan ruangan tersebut. Berjalan keluar rumah. Darahnya menetes, meninggalkan jejak dalam ruah tersebut.


“Dasar anak kurang ajar! Beraninya dia memakiku seperti itu!”


“Sayang , tenanglah.”


“Wah, gue akui, Cia melakukan pertunjukan hebat pagi ini. Sangat menyenangkan.” batin Kiki.


_Bersambung_


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI.

__ADS_1


__ADS_2