JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#24


__ADS_3

...“Kepercayaan dan kesetiaan adalah dua pondasi dalam menjalin rajutan asa.”...


...__...


Setelah mendengar kabar tentang, Bima. Cia langsung segera meninggalkan aktivitasnya dan segera berangkat menuju rumah sakit, dengan perasaan haru biu membuat langkah kaki Cia semakin cepat. Tak sabar melihat kembali sahabatnya itu.


Angin kota terus saja berderu kencang menerpa wajahnya, dengan menaiki sepeda motor. Ia menambah kecepatnnya dua kali lipat dari biasanya. Menyalip setiap mobil yang ada, dan menghiraukan kendaraan yang lalu lalang di sana. Ia tak kenal lagi akan namanya kematian. Karena setiap hari Cia di hadapakan maut setiap saat.


Setelah sampai di rumah sakit. Cia segera turun tanpa memakirkan dahulu motor yang ia bawa. Hingga harus membuat Pak Satpam marah-marah. Walaupun, hanya sepeda motor pinjaman. Cia langsung bergegas menuju ruang ICU tempat dimana Bima sempat di rawat.


Di pertengahan perjalannya, ia bertemu tanpa sengaja dengan Boby. Di sana Boby memberi kabar jika ruang perawatan bima telah di pindah. Tanpa berbasa-basi lagi Cia langsung saja menghampiri ruangan yang sempat Boby katakan tadi.


“Akhirnya loe bangun juga, Bim. Tunggu gue.”


Setibanya di depan ruangan Bima. Cia sempat terhenti sesaat. Ragu akan masuk. Deru jantungnya masih menyisakan sesak yang ia rasakan. Menggebu-gebu. Mengatur nafas sejenak.


Tangkai pintu ia pegang kuat-kuat. Pikirannya yang kalut kini mulai menyerang Cia. Ada perasaan takut dan bahagia. Takut jika semua ini hanyalah mimpi, dan bahagia karena sahabatnya telah kembali.


Perlahan namun pasti. Cia mulai membuka pintu tersebut. Jantungnya seketika berderu kencang. Nafasnya seakan menyempit seketika. Langkah kakinya juga perlahan melemah. Kini, terlihat sudah di hadapannya seorang pria yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tak lupa tubuhnya-pun masih saja bersanding dengan beberapa alat medis untuk membantu kehidupannya selama ini.


Cia melangkah semakin mendekati Bima. Bima masih tertidur pulas. Cia memberanikan diri menyentuh wajah Bima yang masih berselimut di dalam mimpi. Dan, sentuhan tersebut membuat Bima terbangun dari tidurnya.


Mata itu menatap langit-langit putih. Kemudian perlahan mengarahkan pandangannya ke arah samping. Memeriksa siapa yang membuat pipinya terasa begitu hangat. Bima menoleh, Cia-pun langsung berderai air mata.


Ada perasaan yang tidak bisa ia ungkap hanya dengan kata-kata. Perlahan Bima juga menitikan air matanya sama seperti, Cia. Tak lama, mereka berdua berpelukan secara erat. Melepas semua kerinduan yang selama ini tertahan. Haru pilu menyelimuti ruangan tersebut, sembari diiringi dengan nyanyian dari alat medis yang berbunyi.


“Gue ternyata lagi gak mimpi, ini beneran loe. Bim.” Cia masih terus saja terisak di dalam pelukan Bima.


“Maaf.”


“Dasar, Bima bodoh! Gue kesel sama loe.” Cia terus saja berbicara dengan Bima. Dan, sahabatnya tersebut hanya mengeluarkan satu kata selama masa pelukan mereka.


Beberapa saat kemudian. Keduanya saling melepas pelukan dan menyeka air mata masing-masing. Dan, tentu saja setelah itu suasana menjadi canggung, karena ini pertama kalinya kedua sahabat karib tersebut saling berpelukan dan menangis bersama-sama. Sangat memalukan.


“Dasar jelek.”


“Apa! Jelek? Maksud loe apa bilang kalau gue jelek, hah!” Cia tersulut emosi. Ia selalu saja tak lepas dari tingkah usil dari Bima. Suasana yang mengharukan, kini hilang seketika.


Bima tersenyum tipis. Menatap dalam mata Cia. “Loe kelihatan jelek banget kalau nangis.”


“Sama-sama jelek, jangan saling menjatuhkan deh. Nyadar woy nyadar.” Cia dengan lantang membalas setiap perkataan Bima.


“Kalau jelek jangan ngajak-ngajak deh, gue tampan begini di bilang jelek.’”

__ADS_1


“Cih, dasar butek.”


“Kolam kali akh, butek.”


Bima langsung saja tetawa kecil. Kelakar Cia memang selalu saja begitu. Selalu bisa membuat setiap orang akan merindukannya.


Keduanya saling berbalas senyuman. Saling melepas rindu dari hari-hari yang terasa lama. Tak lama, Boby mengetuk pintu ruangan. Cia menoleh kearah pintu. Menatap serius. Kemudian mengerucutkan bibirnya. Ya, Bima tau apa yang sedang Cia pikirkan. Cia pasti sangat kesal jika pertemuanya dengan Bima di ganggu begitu saja. Dan, selalu saja di akhirnya ia tersenyum puas.


“Masuk!”


Boby datang. Cia menatap tajam seperti biasanya.


“Ada apa?”


“Maaf, kak. Ini ada beberapa bungkus makanan untuk kak Bima.” Boby menyerahkan beberapa bungkus makanan yang sudah ada sejak tadi.


Boby menyodorkan bungkusan tersebut. Cia menerimanya.


“Baguslah. Tau aja loe kalau gue laper.”


“Ya, Kak. Tapi, ini untuk Kak Bima.” Boby menjelaskan. Sedikit rasa takut terlintas di wajahnya. Ya, takut jika Cia akan marah. Mengerikan jika itu terjadi.


“Ck, dia gak butuh makanan. Sekarang loe keluar aja.”


Ya, Boby adalah salah satu anggota geng singa maut yang sangat setia pada Bima. Begitu juga dengan Ivan, Refan dan yang lainnya. Bagi mereka Bima bukanlah sekedar bos tempat mereka berkumpul, tapi Bima sudah seperti kakak tertua bagi mereka. Bima yang sudah menarik mereka di tengah kegelapan dunia.


Setelah Boby pergi dari sana, Cia dengan sigapnya membuka bungkusan tersebut. Ya, lengkap dengan raut wajah yang seolah-olah ia tak makan sampai puluhan tahun.


“Apa loe bakal makan semua itu sendiri?” Bima memasang wajah melas. Menarik perhatian dari Cia.


“Emangnya kenapa? Bukannya loe dah kenyang tidurnya. Buat apalagi makan.”


Cia menaikan sebelah alisnya. Ia bersiap menyantap makanan tersebut.


Cia memilih lantai sebagai tempatnya makan. Tanpa alas satupun dan hanya beralaskan lantai dingin. Padahal, di dalam ruangan itu masih ada kursi untuk pengunjung, tapi dia lebih memilih lantai yang dingin. Baginya, dimanapun ia berada, yang paling penting adalah dirinya bisa merasa nyaman.


Membuka bungkusan tersebut satu-persatu. Wajah yang sangat berselera itu sampai membuatnya mengeluarkan air ilurnya sedikit. Mengacuhkan keberadaan Bima. Dan, itu sengaja ia lakukan untuk memberi hukuman bagi sahabatnya tersebut.


“Waw, ayam gepeng gue. Enak bener. Selamat makan.” Soraknya riang.


“Dasar rakus! Yang sakit siapa yang makan siapa.” Bima bergumam sendiri.


Cia mendengar hal itu. Dan segera menoleh. Menatap Bima tatapan yang amat tajam. Mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Tuhan, ambil saja nyawaku ini. Lihatlah sapi ini, dia akan segera memakan habis makananku.” Bima sengaja mengucapkan hal tersebut dengan tatapan yng melas. Sedikit melirik ke arah Cia berada.


“Cih, dasar ayam.”


Cia bangkit. Ia juga membawa bungkusan yang sempat ia buka lagi, dan membawanya kehadapan Bima. Hatinya masih tidak tega untuk memperlakukan sahabatnya tersebut secara kejam. Terlebih Bima baru saja siuman.


“Nih, makanlah.” Cia menyodorkan bungkusan tersebut.


Bima tidak mengambilnya. Ia hanya sekadar melihat saja bungkusan itu berada di hadapannya.


“Buruan ambil, dan cepat makan.”


“Bagaimana mungkin gue makan sendiri. lihatlah, tanganku saja masih sangat sulit aku gerakan.” Bima kembali memasang ekpresi menyedihkan.


“Astaga. Serangan imut ini aku tidak tahan. Sejak kapan dia pandai memainkan peran ini. Sial.” Cia berbicara sendiri.


“Oke-oke, gue suapin loe. Dasar manja.” Cia menggerutu.


Bima tersenyum lebar, ia puas bisa memberikan serangan balik dari permainan yang Cia lakukan.


_Di luar ruangan.


“Kak Cia sepertinya sekarang makin membaik. Baguslah. Kak Bima telah kembali. Jadi, kak Cia bisa tenang.” Boby berucap sendiri.


..._Bersambung_...


...“Buah mangga, buah semangka...


...Keduanya punya rasa yang berbeda....


...Jika kalian suka pada Bima...


...Silakan koment di kolom komentarnya.”...


...“Asam manis buah nanas...


...Akan semakin manis jika di tambah buah duku...


...Kalau cintamu tak pernah terbalas...


...Segera lupakan dan cari saja yang baru.”...


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....

__ADS_1


__ADS_2