
...“Kelamnya masa lalu tidak menjadikan seseorang menjadi lumpuh. Tataplah lebih dalam, di sana kamu akan menemukan kerjenihan yang abadi.”...
.
.
.
Kenzo terlihat gusar sedari tadi, semenjak Cia dan Lea bersama-sama pergi ke toilet. Raut kecemasan itu terlihat jelas di wajahnya.
“Apa yang kau cemaskan, Kenz?” tanya Robin.
Jay meneguk wine. Memperhatikan.
“Aku takut kalau Lea akan menyakiti Kakak ipar nanti, terlebih mereka masih belum kembali juga sampai sekarang. Bagaimana kalau Lea …”
Jay memotong pembicaraan itu.
“Lea memang gadis yang kejam dan juga banyak intrik. Sulit menghadapinya."
Jay yang lagi-lagi meneguk wine-nya.
Kenzo semakin terlihat gusar.
“Tenanglah, Kenz. Cia adalah orang yang tepat untuk menghadapi Lea. Daripada mengkhawatirkan kakak iparmu, seharusnya kalian lebih menghawatirkan Lea,” ucap Jay lagi tersenyum riang.
Kenzo dan juga Robin sedikit tenang mendengar penjelasan dari Jay. Kegusaran mereka berdua berkurang sedikit.
“Gue gak akan meragukan kemampuan Cia dalam melindungi dirinya sendiri. tapi, Lea. Dia akan melakukan segala cara, untuk menghancurkan siapapun yang berani menyinggungnya, merepotkan.” batin Jay.
Plak.
Tamparan keras kini sudah mendarat di wajah Cia. Lea menatapnya dengan sangat tajam. Cia tertegun atas apa yang baru saja terjadi. Dirinya spontan menyentuh perlahan pipi yang sudah merah, karena bekas tamparan tersebut.
“Dasar anak haram! Berani-beraninya kau bicara lancang padaku!!”
“Aku adalah anak dari pengusaha besar, sedangkan kau, cuma anak haram yang di pungut oleh keluarga Wijaya. Sama seperti anak kucing di jalanan, bahkan ibumu juga sama sepertimu. Murahan!” ucap Lea lebih lanjut.
Bug.
Pukulan keras mendarat di wajah Lea, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Lea langsung membulatkan matanya. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Rasa nyeri kian ia rasakan semakin lama.
“Beraninya kau!!” bentak Lea.
“Diam! Loe terlalu berisik!!”
Lea terkejut ketika melihat mata Cia yang sudah berubah sangat mengerikan. Tatapan seorang pembunuh terpancar sudah, hal itu membuat Lea merinding seketika. Dihadapan Cia, dirinya sama seperti seekor kucing yang berhadapan dengan Singa.
“Jangan pernah sebut Mama gue, dengan mulut loe yang kotor itu, paham!! Atau kalau gak, bersiaplah untuk mati mengenaskan!"
“K-Kau berani mengancamku! Aku adalah anak keluarga Brion. Dalam sekejap saja, aku bisa menghancurkan kehidupamu itu!!”
"Mau ngancurin hidup gue? Cih, loe sangat terlambat dalam hal itu."
"Apa maksudmu, terlambat?" tanya Lea.
"Pikir aja sendiri!"
"Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkanku!"
Cia sengaja menguap dihadapan Lea.
"Sangat berisik! Diam atau ku bungkam mulutmu yang kotor itu dengan tisu toilet!!"
Seketika Lea mengikuti perintah Cia. Diam membisu.
“Dan satu lagi soal, Jay. Rebut dia dari gue semau loe.” Cia mendekatkan wajahnya kepada Lea yang masih jatuh tersungkur. “Tapi, itupun kalau loe mampu!!” ucapnya sumringah.
Lea semakin murka. ia ingin sekali memukul Cia, namun tubuhnya sangat tidak bersahabat. Yang dimana, hanya bisa bergetar karena rasa takutnya kepada Cia.
__ADS_1
Cia berjalan pergi dari sana. Meninggalkan Lea yang masih terduduk di lantai.
“ Aku adalah anak dari keluarga Brion.
Kau pasti akan mati di tanganku nanti, lihat saja!”
*
“Ki, kenapa loe gak ke atas sih. Bukannya di sana ada Jay ya?” tanya Ciki.
“Iya nih, padahal gue semangat banget waktu loe ajak ke pestanya, Jay. Gue kan pingin ketemu dia,” celoteh Cuki yang protes.
“Kalian terlalu berisik! Nikmati aja pestanya sampai puas, tujuanku kemari bukan untuk memberikan selamat pada, Jay. Tapi …” Kiki menghentikan ucapannya dan meneguk segelas minuman dingin.
Sedari tadi mereka bertiga sudah datang pada acara ulang tahun, Jay. Namun, Kiki tidak sekalipun berniat menemuinya, ia dan teman-temannya hanya menikmati pesta di lantai dasar.
“Hei Kiki, katanya loe mau mempermalukan Cia, tapi mana? Sampai sekarang gak terjadi apa-apa tu,” bisik Ciki.
Cuki mendengarkan. Sesekali menatap keramaian pesta.
“Mungkin rencananya gagal kali, Cik. Karena itu dia gak bisa menemui Jay,” celoteh Cuki.
Kiki tersenyum tipis. Senyuman tersebut membuat kedua temannya tersebut seketika mengerti.
“Bukan gagal. Tapi baru saja di mulai, kita hanya perlu menunggu waktu pertunjukannya saja nanti,” jelasnya.
Cuki dan ciki saling menatap bersamaan. Kemudian menatap Kiki dengan bingung.
“Ya. Apapun rencana loe, gue gak peduli juga sih. Yang terpenting gue bisa dateng ke pesta kalangan atas seperti ini,” celoteh Ciki.
“Kalau begitu mari bersulang. Merayakan awal kehancuran Cia.”
Ciirrsss.
Mereka bertiga bersulang bersama.
**
“Ada apa, Cia?” tanya Jay.
“Kakak ipar, kenapa pipimu merah? Apa ada orang yang melukaimu?” tanya Kenzo cemas.
Jay baru tersadar dengan adanya bekas tamparan di pipi Cia. Spontan ia terperanjat dari duduknya dan menyentuh secara lembut wajah Cia.
“Siapa yang melakukan ini? Katakan!” ucap Jay.
“Sudahlah. Dia juga sudah menerima akibatnya,” jelasnya.
Cia melepaskan sentuhan tangan Jay dari wajahnya.
“Gue mau pulang.”
"Kenapa terburu-buru?"
"Gue capek."
“Oke. Kita pulang sekarang,” jawab Jay.
“Tapi Kak. Pestanya baru saja di mulai, kalian akan pulang secepat ini?” Robin berusaha menahan keduanya.
“Iya Kak Jay. Ini kan hari ulang tahunmu, dan kita juga baru ketemu setelah bertahun-tahun,” ucap Kenzo sendu.
Cia tersadar akan hal itu. Ia merasa bersalah karena meminta Jay untuk pulang lebih awal, itupun tepat di hari ulang tahunnya.
“Benar kata meraka, Jay. Gue bisa pulang sendiri dan loe lanjutkan aja pestanya,” jelas Cia.
“Walaupun gue gak suka pesta. Tapi, ini kan pesta ulang tahun Jay. Gue gak bisa begitu jahat padanya,” batin Cia.
“Kita pulang bersama. Pestanya sudah selesai,” jawab Jay menyakinkan.
__ADS_1
“Jangan ngeyel kenapa sih, Jay! Loe gak kasihan sama kedua sepupumu. Lagipula kalian baru bertemu setelah sekian lama kan. Jadi loe tetap di sini!!”
Robin dan Kenzo menyaksikan perdebatan antara Cia dan juga Jay.
“Gue akan antar loe pulang!! ayo jalan."
“Dan kalian berdua bisa lanjutkan pestanya sendiri,” ucap Jay kepada kedua sepupunya tersebut.
Akhirnya Cia dan Jay kembali pulang.
“Hah! Kak Jay sudah banyak berubah ternyata,” gumam Robin.
“Kau benar. Dia bukan Kakak Jay kita yang dingin itu, baguslah ada yang bisa melunakannya,” ucap Kenzo menimpali perkataan Robin.
“Oke. Mari kita bersulang untuk kita berdua,” ucap Robin
Keduanya kembali bersulang. Sedangkan Lea mendengar apa yang kedua sepupu itu katakan. Lea semakin kesal dan keinginan untuk melenyapkan Cia bertambah semakin kuat.
“Anak haram itu takkan ku biarkan!”
**
Sesaat ketika Cia dan juga Jay turun dari lantai atas. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Kiki dan teman-temannya yang asik berpesta.
“Kiki. Loe di sini?” ucap Jay.
“Iya. Gue udah disini dari tadi,” jawabnya singkat.
"Suasana hatiku semakin buruk aja." batin Cia.
“Kenapa tidak naik ke lantai atas?” tanya Jay lagi.
“Gue lebih suka di sini Jay. Lagipula gue gak mau ganggu kalian berdua,” ucapnya melirik Cia yang hanya diam membisu.
“Ouh ya. Selamat ulang tahun Jay.” Kiki mengukurkan tangannya.
Jay membalas uluran tangan tersebut. Bersalaman.
“Terima kasih.”
“Dan, ini dia hadiahmu. Maaf karena gue gak bisa kasih hadiah yang lebih mahal,” ucapnya merendah.
Jay menerima hadiah tersebut.
“Tidak perlu repot. Kedatanganmu sudah lebih dari cukup buat gue,” ucap Jay.
“Mana ada repot. Sebentar lagi loe kan bakalan jadi adik ipar gue. Ini adalah tradisi keluarga,” jelas Kiki lebih lanjut.
“Kalau kalian berdua masih mau ngobrol. Gue duluan.” Cia langsung melangkah pergi. Keluar café.
“Kalau begitu gue duluan ya. Silakan kalian nikmati pestanya.”
“Oke Jay. Sampai jumpa di sekolah,” jawab Kiki santai.
Jay pergi keluar. Menyusul Cia yang sudah lebih dulu pergi dari sana.
“Hei, Kiki. Cia kenapa sih? Tumben tu anak diam aja,” celoteh Ciki penasaran.
“Jay ganteng banget ya tadi. Gue sampai gak bisa ngomong apapun,” celoteh Cuki yang masih terpesona dengan ketampanan Jay.
“Jangan bahas mereka. Buat gue mual aja.” Kiki meneguk kembali minumannya.
“Dan untuk loe Cuki. Jangan terlalu banyak bermimpi tentang Jay,” ledek Kiki terhadap temannya tersebut.
“Gue tau. Tapi beneran deh, Jay itu gantengnya kebangetan. Cia beruntung banget ya nanti nikah sama dia. Gue kan juga mau,” celoteh Cuki lagi.
“Beruntung ya … hem. Ya, dia sangat beruntung atau tidak, kita akan tau nanti.” batin Kiki tersenyum dingin.
Bersambung ...
__ADS_1
BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI.