JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#31


__ADS_3

...“Jangan melempar batu dengan menutup mata, karena kamu takkan bisa melihat kemana batu tersebut akan melukai siapa? Bisa saja dirimu sendiri.”...


...***...


“Mati gue!”


“Ada apa? Loe kelihatan panik?”


“Anterin gue, kerumah sakit sekarang.” Cia menatap serius ke arah jalanan.


“Rumah sakit? Apa ada yang terluka?” Jay merasa heran.


“Jangan banyak tanya, Jay. Anterin gue aja!”


Jay diam, ia memutar arah jalan. Menuju rumah sakit. Walaupun ia sama sekali tidak mengerti apa yang akan Cia lakukan di sana.


...**...


“Siapa yang sedang bersamanya? Kenapa, tadi bilang dia kencan?” Bima terus saja berpikir keras untuk mencerna setiap kata yang Cia ucapkan.


Sedari tadi Bima terus saja menunggu kedatangan Cia. Ia bersanding dengan rasa cemas sekaligus bingung. Kondisi Bima sudah lebih baik lagi, ia juga sudah mampu berjalan tanpa menggunakan bantuan apapun. Namun, dirinya memang harus berada di sana beberapa hari lagi, sampai ia sembuh total.


“Boby, masuklah.”


Boby membuka pintu, mulai memasuki ruangan. Berjalan mendekat dengan kepada, Bima.


“Ya, Kak. Ada apa?”


“Selama gue koma, apa loe tau apa aja yang Cia lakukan?”


“Tidak ada, Kak. Setau saya, Kak Cia hanya menemani kakak di sini kemudian kembali lagi kerumah.” Boby menatap Bima dengan sangat yakin.


Tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. “Ouh, ya. Saya ingat. Waktu itu kak Cia datang bersama seorang wanita,”


“Wanita? Siapa dia?”


“Saya dengar kak Cia memanggilnya dengan nenek lampir, tapi wanita itu sangat berkelas dan sangat cantik. Kak Cia sempat mengusirnya beberapa kali, tapi dia tak juga pergi, ia terus saja menunggu.”


“Nenek lampir? Siapa yang dia panggil begitu?” Bima berpikir keras. “Apakah Ny.Meriska? Tapi, kenapa dia mau menemani, Cia? Mencurigakan.” Bima berbicara sendiri dalam hatinya.


Bima kembali menatap Boby. “Gue ada tugas buat loe.”


“Siap, Kak.” Boby serius mendengarkan.


“ …, Oke. Sekarang pergilah.”


Boby beranjak pergi dari sana, Bima kembali berpikir atas apa yang baru saja Boby katakan.tak lama setelah itu, Cia sampai di rumah sakit, ditemani dengan Jay. Setibanya di depan ruang rawat, Cia menghetikan langkah kakiknya, berpapasan dengan Boby.


“Selamat datang, Kak.” ucapnya sedikit menunduk.


“Dia, didalam?”


Boby mengangguk. Cia berpikir sejenak. Jay siap sedia menemani Cia.


“Loe di sini aja, Jay. Tunggu di luar.” Cia menatap Jay ketus bercampur panik.

__ADS_1


“Kenapa? Gue juga mau masuk ke dalam.” Jay menjawab santai.


“Loe nurut aja kenapa sih, gue gak mau loe ganggu waktu gue sama sahabat gue. Paham!!”


“Gue juga ingin masuk.” Jay menaikkan alisnya, "Sekarang loe tunangan gue, Cia. loe harus inget itu!!" ucapnya tegas.


"Gue inget! Tapi sekarang loe diluar aja!" Cia tak mau kalah membalas perkataan Jay.


"Oke, tapi jangan terlalu lama!!"


Cia mengkerutkan keningnya, ia sedari pagi sudah amat kesal dengan segala tingkah yang Jay perbuat.


“Loe lupa, kalau ada yang lagi ngawasin kita.” Jay tersenyum tipis.


“Gue lupa, dan gue gak peduli!”


Cia langsung masuk tanpa lebih lagi melanjutkan perdebatannya dengan Jay. Sedangkan Jay memutuskan menunggu di luar bersama Boby.


Dikala Bima masih berpikir keras, Cia sudah masuk ke dalam ruangan. Dirinya masih bingung untuk menjelaskan yang terjadi akhir-akhir ini.


Langkah kakinya kian memaksa untuk melarikan diri, namun hal itu sia-sia saja. Bima sudah sadar akan kehadirannya. Dengan memasang wajah datar, Bima terus menatap Cia yang masih terdiam di dekat pintu.


“Kenapa di situ, kemarilah.”


Cia mulai menggerakan langkah kakinya, ia semakin mendekati Bima dan semakin merasa gelisah. Jelas terlihat, jika keringat dingin sudah bersama Cia.


“Duduk!”


“Tu kan, dia bakalan marah sama gue. Terima aje nasib loe, Cia.” Ia berkata dalam hatinya.


“Kenapa duduk di situ? Duduk sini!” Bima menepuk pelan tempat tidurnya, sembari terus menatap Cia datar.


Cia menuruti begitu saja perkataan Bima, dirinya duduk sangat dekat dengan Bima. Duduk di atas ranjang bersama Bima. Cia masih mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap Bima secara langsung. Dirinya saja bingung, kenapa ia bisa sangat gelisah.


Setelah Cia sudah duduk, tangan Bima mulai meraih sebuah tisu yang terletak di atas meja, disamping ranjangnya. Kemudian mengarahkan tisu tersebut ke-dahi Cia.


“Ada apa, Cia? Loe kelihatan gak sehat hari ini?” Bima masih terus mengelap keringat Cia.


Cia masih merasa gelisah, bahkan sampai gelisahnya. Perhatian Bima pun tak membuatnya merasa tenang.


Bima menghentikan aktifitasnya, ia membenarkan diri untuk duduk.


“Kenapa? Coba ceritakan semua sama, gue.”


“Gak ada apa-apa, Bim.”


“Katakan sekarang, Cia!” Bima terus memaksa Cia untuk berbicara jujur.


“Tapi loe janji ya, gak akan marah.” Cia menatap Bima sendu.


“Kita lihat saja nanti.”


“Curang!” Cia mengerucutkan bibirnya.


Bima tersenyum tipis. Menatap Cia dengan tatapan yakin. “Oke-oke, gue janji.”

__ADS_1


Cia dengan segera menceritakan segalanya. Segala kesulitan yang ia alami, selama Bima terbaring koma. Terkecuali saat dirinya menangis tersedu-sedu pada malam itu. Ya, Cia takut jika hal memalukan tersebut, akan membuat Bima khawatir padanya.


Dirinya menceritakan dengan penuh kecemasan. Saat ini, hanya Bima tempat ia mengadukan segalanya.


Setelah Cia menceritakan segalanya, Bima terdiam, diikuti dengan Cia. Mereka berdua menciptakan susana hening bersama. Beberapa saat kemudian, Bima mulai menggenggam lembut tangan Cia. Menatap sendu.


“Jadi ini alasan kecemasan loe?”


“Ya.”


“Selanjutnya, jangan lagi sembunyikan apapun dari gue, Cia.”


“Gue gak bermaksud, Bim. Gue cuma takut loe marah dan cemas.”


“Bodoh! Mana mungkin gue marah. Justru dengan loe sembunyiin hal ini, gue akan semakin marah.” ucap bima menenangkan kegelisahan yang Cia alami.


“Jadi, sekarang gue harus apa, Bim?”


“Sekarang gue ada disini. Loe hanya perlu tenang. Sisanya biar gue yang atasi.” Bima tersenyum.


Cia akhirnya bisa bernafas lega. Rasa kecemasan yang berlebihan sudah tak ada lagi. Dirinya sangat yakin, jika semua akan baik-baik saja. Keyakinan ini semata-mata, bukan karena Bima berucap seperti itu. Melainkan Cia percaya, jika ada Bima disisinya, semua masalah akan mudah untuk dilewati bersama.


...***...


Jay sedari tadi hanya diam terpaku bersama Boby, di ruang tunggu. Mereka juga tidak tau harus berkata apa. Apalagi Jay bukanlah tipe yang bisa bersikap akrab pada siapapun juga.


“Kenapa dia lama sekali didalam, jika orang suruhan Papa curiga, maka semua akan kacau.” batin Jay.


Boby memperhatikannya sedari tadi. Beberapa saat kemudian Boby memutuskan untuk angkat suara. Memecahkan keheningan yang sudah berlarut-larut.


“Tenanglah, sebentar lagi dia akan keluar.” jelas Boby.


Jay menoleh kearahnya. Mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia berpaling kembali. Karena tak kunjung keluar, akhirnya Jay memutuskan untuk segera menyusul Cia. Jay beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu tersebut.


Sangat kebetulan, Cia juga sudah bersiap keluar dari sana. akhirnya mereka berdua bertemu satu sama lain. Sekejap keduanya saling pandang.


“Eh buset, gaget gue.”


“Kenapa lama sekali?” Jay sudah mulai kesal.


“Ealah, baru bentaran doang.” Cia segera melangkah keluar ruangan. Menutup pintu.


Jay sempat melihat Bima yang berada dalam ruangan. Kemudian pandangannya kembali pada Cia.


“Ini sudah mau sore, ayo kita pergi sekarang.”


“Iya-iya, dasar bawel.”


Boby memberi salam pada Cia. Kemudian Cia langsung ikut pergi bersama Jay. Menuju restoran. Tempat mereka akan berkencan.


..._Bersambung_...


#Dukungan kalian semua sangat saya harapkan. Makasih.


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....

__ADS_1


__ADS_2