JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#53


__ADS_3

..."Selamanya akan terus berjejak. Baik rasa yang pernah engkau tinggalkan ataupun kebencian itu!!"...


...***...


Adiputera terus saja berbicara sendiri. Ia memandang Keysa dengan penuh penyesalan. Tak lama, Keysa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar, dengan sigap Adiputera segera bangkit dari sana.


"Uhh,"


Dengan perlahan Keysa membuka kedua matanya. Pemandangan pert.ama yang ia lihat adalah Adiputera yang juga masih menatapnya. Seketika Keysa membulatkan kedua matanya. Seakan tak percaya atas apa yang ia lihat saat itu.


"Akhirnya kau sadar juga, Key," ucap Adi.


"A-Adi! Kenapa bisa kau--" ucapnya terbata-bata.


Adiputera tersenyum tipis. Memasukan kedua tangan kedalam sakunya.


"Lama tak berjumpa, Key. Apa kau masih ingat aku?" tanyanya.


Keysa mencoba bangkit dari tidurnya. Ia terlihat kesusahan. Adiputera ingin sekali membantunya, namun ia terkalahkan akan egonya yang tidak ingin menunjukkan sikap kepeduliannya.


Keysa akhirnya terduduk di atas tempat tidurnya.


"Putera, apa kau yang membawaku kesini?"


"Benar."


"Kenapa kau melakukan ini semua? Bagaimana bisa kau menemukanku?"


"Kau lupa siapa aku? Aku bisa menemukan dimana pun kau berada kalau aku ingin."


"Lalu kenapa dulu kau tidak mencariku?" bisiknya dalam hati.


Keysa menundukkan pandangannya. Kenangan lama seakan kembali satu persatu dalam hidupnya saat itu.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Adi.


"Bukan apa-apa," ucapnya ketus.


"Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu. Katakan padaku apa itu!"


"Masih saja dia keras kepala seperti dulu," batin Keysa.


"Jawab aku Key!"


"Apa untungnya kau menyelematkan aku dari sana. Bukankah dulu kau juga sempat membuang ku?" Kali ini Keysa memandang Adiputera dengan dalam.


Adiputera hanya menatap tanpa ada jawaban. Hal itu semakin membuat luka lama Keysa kembali terbuka. Luka lama yang berusaha mati-matian ia kubur. Kini terasa kembali hanya karena melihat wajah Adiputera.


"Sekarang aku tanya. Kenapa kau menyelamatkanku? Bukankah kita sudah gak ada hubungan apapun lagi, atau kau masih ..."


"Aku melakukannya karena kau masih berguna untukku Keysa. Jadi jangan salah paham akan semua ini," jawabnya.


Deg.


Seakan hantaman keras telah mengenai dada Keysa. Sakit dan penuh penyesalan. Perasaan yang dulu ia rasakan seolah kembali mengiringi dirinya saat ini.


"Aku akan pergi. Aku ucapkan terimakasih karena kau sudah mau menyelamatkanku dari sana," ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur.


Dengan sigap Adiputera langsung saja menekan bahu keysa, Hingga membuat wanita itu kembali terduduk di atas tempat tidurnya.


"Apa yang kau lakukan!"


"Siapa yang mengijinkanmu pergi dari sini! Tetap diam di sini!" Tihta Adi.

__ADS_1


"Aku tidak perlu lagi menuruti semua kata-katamu itu! Lepaskan!! Aku mau menemui anakku!"


Keysa berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Adiputera. Namun tenaganya saat ini tak cukup kuat untuk bisa melawan Adiputera saat ini.


"Diam di sini atau aku akan menggunakan cara yang lain untuk bisa menahanmu!"


"Dan soal anakmu itu, kau tidak perlu khawatir. Lagipula sadarlah Key, kau sudah dianggap tiada oleh dunia saat ini."


Mata Keysa membulat lebar. Ia kembali tersadar bahwa dirinya memang sudah tiada Dimata dunia. Walau begitu, ia masih sangat ingin menemui Cia.


"Tapi aku tetap ingin menemuinya dan memastikan dia baik-baik saja, walau dari kejauhan aku rela," ucapnya.


"Berhentilah merengek. Fokus saja pada kesehatanmu saat ini. Setelah kau sembuh total aku sendiri yang akan membawamu padanya," ucap Adiputera.


"Aku gak akan pernah lagi percaga akan kata-katamu itu! Biarkan aku pergi!" Tatapnya tajam.


Cup.


Seketika Adiputera meluncurkan bibirnya pada Keysa. Rasa hangat kini seakan menyentuh bibir Keysa. Perasaan serta kenangan lalu seakan kembali di putar dalam pikirannya saat itu. Seperian detik Keysa sadar dan berusaha mendorong Adiputera. Namun ia masih tak cukup kuat dengan kondisinya saat ini.


Sentuhan antara kedua bibir itu cukup lama bertaut. Adiputera yang semakin liar memainkan peranannya serta Keysa yang seakan mulai asik mengikuti irama dari Adiputera. Cukup lama mereka seperti itu. Saling memberikan salam rindu dengan cara yang berbeda.


Beberapa saat kemudian. Seketika Keysa terdiam. Ia kembali tenang.


"Istirahatlah. Aku akan suruh pelayan membawakan makananmu," ucapnya.


"Aku gak lapar," balasnya.


"Kau tetap harus makan!" tihta Adiputera.


Sejak dulu Keysa sama sekali tidak bisa membantah perkataan Adiputera. Selalu saja begitu.


Adiputera melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Keysa seorang diri.


Adiputera bergegas menuju dapur. Terlihat di sana beberapa pelayan yang sedang bekerja merapikan dapur.


"Tuan!"


Sontak saja karena satu ucapan pelayan semua pelayan yang tengah sibuk bekerja, seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Terlihat sudah di sana Adiputera berdiri dengan gagahnya.


"Kenapa tuan besar ada di sini. Tuan besar kan gak pernah masuk sekalipun ke dapur," batin salah satu pelayan.


Mereka semua seakan menundukkan kepala. Cemas dan heran secara bersamaan mereka rasakan.


"Mohon maaf tuan. Apa ada yang bisa kami kerjakan. Kenapa tuan besar datang sendiri ke dapur?" ucap salah seorang pelayan.


"Aku akan memasak. Kalian keluarlah," ucapnya.


Seketika semua pelayan di dapur terkejut. Bagaimana mungkin seorang tuan besar memasak. Atau ini merupakan sebuah peringatan kepada mereka.


"M-maafkan kami tuan. Biarkan kami saja yang memasak untuk tuan. Mohon ampuni kami tuan jika kami lalai dalam tugas," mohon ya.


"Kalian pergi keluar dari sini. Aku akan memasak sendiri. Apa perlu aku mengulangi kembali ucapanku?" tanya Adiputera dengan wajah muramnya.


"Maafkan kami tuan. Kami akan segera keluar."


Seketika semua pelayan keluar dari dapur. Dan Adiputera langsung masuk ke dalam dapur.


Dirinya melihat sekeliling dapur. Ya, ini seakan kembali mengingatkannya pada kenangan lalu.


Adiputera mulai membuka jaznya. Ia meletakan jaznya di atas meja. Kemudian ia mulai menggulung perlahan lengan kemeja putihnya. Melonggarkan dasi dan membuka satu dua kancing kemeja yang menyesakan.


"Hah. Sekarang apalagi yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Adiputera tampak begitu kebingungan. Sudah lama ia tak kembali masuk ke dalam dapur. Para pelayan masih saja berada di luar dapur. Mereka secara diam-diam melihat Adiputera di dalam sana.


"Pak Adi kesambet apaan sih. Tumben banget masuk ke dapur," celoteh salah satu pelayan.


"Apa karena wanita yang dibawanya kemari ya. Berarti wanita itu spesial banget sampai buat Pak Adi masuk ke dalam dapur," jawabnya.


Seakan Adiputera yang masuk ke dalam dapur merupakan sebuah fenomena langkah yang harus di abadikan.


"Apa kalian akan terus melihatku dari sana?" ucap Adiputera seraya berbalik dan menatap tajam ke luar dapur.


"Maafkan kami tuan besar. Kami tidak bermaksud," ucap semua pelayan yang sudah ketakutan.


Wajah pucat Pasih sudah menghiasi seluruh wajah mereka.


"Kau masuklah!" Adiputera menunjuk salah satu pelayan.


"S-saya tuan?" tanya kembali pelayan tersebut.


"Apa saya harus mengulangi kalimat saya?" ucapnya seraya menatap tajam.


Secepat kilat pelayan tersebut langsung saja menghampiri Adiputera.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan pertama kali sebelum memasak?"


Pelayan tersebut membulatkan matanya seraya menatap Adiputera secara spontan.


"Apa yang kau lihat! Katakan saja padaku apa yang harus aku lakukan!"


"Baik tuan."


"Pertama sekali tuan besar harus mencuci kedua tangan dengan bersih," ucap pelayan itu.


Adiputera mengikuti apa yang pelayan tersebut katakan. Ia mulai mencuci kedua tangannya. Sungguh pemandangan yang langkah bagi pelayan tersebut bisa menyaksikan Adiputera berkerja di dapur secara gagah.


"Lalu apalagi?" tanyanya kembali.


"Tuan besar harus menggunakan celemek terlebih dahulu sebelum mulai memasak,"


"Celemek? Apa itu?" wajah Adiputera jelas tampak kebingungan.


"Sebentar saya ambilkan tuan,"


Pelayan tersebut bergegas menuju pojok dapur dan mengambil celemek yang baru. Ia kembali dan menyerahkannya pada Adiputera.


Seketika Adiputera syok setelah ia membuka dan melebarkan celemek tersebut.


"Apa kau berniat mempermainkan aku dengan menyuruh aku memakai ini!" Tatapannya seakan ingin membunuh.


"Maafkan saya tuan besar. Tapi setiap akan memasak tuan memang harus memakai celemek ini. Ini bertujuan agar baju tuan juga tidak kotor saat sedang memasak," jelasnya.


"Sial!" umpatnya.


Pada akhirnya Adiputera dengan terpaksa memakai celemek sesuai perkataan para pelayan tersebut.


Tampilan Adiputera kini langsung berubah dari yang biasanya terlihat menyeramkan kini seperti manusia normal pada umumnya. Sunggu pemandangan langka.


Adiputera juga menahan malu karena memakai itu. Dengan segera ia memerintahkan para pelayan pergi dari sana.


"Tuan berada di dapur sendirian. Ntah dapurnya masih akan baik-baik saja nantinya atau tidak. Aku khawatir akan itu," batin salah satu pelayan.


#Bersambung ...


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....

__ADS_1


__ADS_2