
...“Setiap detak jantungku selalu ada namamu. Ku tertarik padamu dan juga kehidupan yang engkau jalani. Jadi, berhentilah berlari seperti angin.”...
..._Nura_...
...***...
“Ki, bagaimana? Apa berita yang gue denger itu bener?” ucap salah seorang teman Kiki.
“Iya, apa bener loe mau di jodohin? Kalau itu bener, ckck … kasihan bener loe,” celoteh teman kiki yang lain.
Baru saja Kiki melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Dua teman perempuannya sudah bersiap melayangkan begitu banyak pertayaan bak seorang wartawan sejati. Kiki hanya diam seribu bahasa dan melayangkan tatapan tajamnya. Dua temannya itu sangat membuat ia tak nyaman, sebut saja Ciki dan Cuki. Walau nama mereka berdua tampak seperti anak kembar, tapi sejatinya tidak. Hanya, sebuah kebetulan semata.
Kiki terus melangkah dan mencoba untuk tidak menanggapi mereka berdua. Ia segera duduk di bangku paling depan dan menaruh ranselnya di samping meja atas. Kemudian, ia membuka beberapa buku pelajaran dan mulai membaca. Berharap dua teman karibnya itu pergi, namun semua harapan Kiki tampaknya sia-sia saja. Ciki dan Cuki tetap saja berbunyi bak burung Beo.
“Gimana, Ki? Kita dari tadi ngomong panjang lebar kek rel kereta api, tapi loe tetep diem kek orang bisu!” celoteh Cuki.
“Apa yang kita pikirin semua itu,bener?” tebak Ciki.
Kiki sejenak berhenti membaca dan melirik kedua sahabat karibnya tersebut, dan kemudian ia kembali menatap buku. Kembali fokus. Karena terbawa kesal, Cuki dengan sigap mengambil buku yang sedang ia baca.
“Woy, kita ni lagi ngomong sama loe, malah asik baca buku!” celoteh Cuki.
“Kacang!” ucap Ciki menimpali celotehan Cuki.
“Kacang-kacangan? Apa kacang panjang? Atau, kacang ijo?” ucap Kiki meledek keduanya.
“Ck, masih aja loe bercanda. Kita berdua ini serius, Markona.” ketus Cuki sembari melipat-lipat buku tersebut.
“Sialan! Buku gue itu, peak!” Dengan secepat kilat Kiki langsung merebut bukunya itu, dan memeri tatapan super tajam pada kedua teman karibnya.
Cuki dan Ciki sesaat saling pandang, kemudian mereka tertawa bersama-sama melihat tingkah Kiki. Walau, Kiki di kenal sebagai perempuan yang gemar berkelahi. Namun, ia juga termasuk dari salah satu siswi yang berprestasi. Dan, kedua teman karibnya tersebut sudah paham betul dengan sifatnya, yang takkan mau mengusik sebelum ada yang mengusiknya.
“Oke, maaf-maaf. Jadi, gimana?” ucap Ciki mengalikan pembicaraan.
__ADS_1
“Apanya? Masalah kacang tadi?” Celoteh kiki yan masih merapikan bukunya tersebut.
“Bukan, markona!” ketus Ciki
“Loe lagi gak waras ya? Kita kan nanyak masalah perjodohan loe!” jelas Cuki.
“Ooo …. “ Kiki ber-O ria.
“O, apaan? Kalau di Tanya itu jawab yang bener!” ucap Ciki yang semakin kesal.
Kiki memutar kedua bola matanya, ia sama sekali tak tertarik untuk membahas hal yang membosankan. Terlebih, sedari awal ia tak mengingkan itu terjadi. Sedikit merubah posisi duduknya, Kiki mulai angkat bicara.
“Gue tolak!” jelas Kiki.
“Apaa!” kedua temannya tersebut berteriak bersama, hingga seisi kelas yang masih asik belajar mengarakan pandangannya pada mereka bertiga. Sontak saja Kiki langsung memukul kedua kepala temannya itu secara bergantian. Dan, mereka hanya bisa meringis kesakitan.
Tak lama, bell sekolah mulai bordering keras. Tanda, jika pelajaran akan segera di mulai. Seluruh murid mulai masuk satu-persatu ke dalam kelas. Bersiap untuk belajar. Kiki dan para temannya mulai duduk di kursi mereka masing-masing.
Selang beberapa lama, seorang guru datang dengan membawa beberapa buku dan juga laptop di tangannya. Sebut saja guru tersebut Pak adi. Seorang wali kelas.
“Pagi juga, Pak.” seru semua murid di dalam kelas.
“Baiklah, sebelum kita mulai pelajaran hari ini, Bapak akan memperkenalkan siswa baru kepada kalian. Dia seorang anak pindahan dari luar negeri. Silakan Masuk, Nak.” seru Pak Adi.
Langkah kaki yang begitu ringan, membawa suasana menjadi hening seketika. Semua mata hanya tertuju padanya, dengan seragam sekolah lengkap, dan tas ransel yang ia sandang sebelah tangan menambah aura bintang pada dirinya. Jay. Ia kini sudah tepat berada di depan kelas.
“Halo, perkenalkan nama saya Jay Adiputera. Senang bertemu kalian semua,” ucap Jay sopan sembari terseyum lebar.
“Kyaa, …. ” Semua siswi dalam ruangan tersebut bersorak bersama. Mereka takjub dengan ketampanan yang Jay miliki.
Postur badan tegap, wajah yang manis, hidung mancung, mata hitam kecoklatan, dan juga senyumannya itu. Mampu membuat siapa saja merasa terbang. Tapi, itu semua tak berlaku bagi dua saudara tiri tersebut. Cia dan juga Kiki.
Kiki sama sekali tak perduli atas kehadiran dari, Jay. Ia sudah memperkirakan segalanya. Jika, setelah pembicaraan perjodohan malam itu. Jay pastinya akan di kirm ke dalam sekolahnya. Dengan tujuan untuk bisa semakin dekat dengan mereka berdua.
__ADS_1
Setelah perkenalan yang cukup panjang, akhirnya Jay. Di persilahkan untuk duduk. Dan benar saja, ia duduk di samping bangku dari Cia. Walau yang mempunyai bangku tersebut sedang berada di rumah sakit. Menjemput sahabatnya, Bima.
Pelajaran kini telah di mulai. Semua murid kembali fokus pada pelajaran. Begitu pula dengan Jay. Namun, Kiki sedari kedatangan Jay juga tidak sama sekali meliriknya.
“Kemana cewek bar-bar itu, kenapa dia gak datang?” batin Jay.
Beberapa jam kemudian telah berlalu, kini saatnya bari para murid untuk beristirahat sejenak. Suara bell sangat jelas terdengar sudah. Semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Sedankan Jay masih duduk diam dalam kursinya tersebut. Tak lama, Kiki datang di hadapannya. Lengkap dengan wajah jutek, berbeda pada malam itu.
“Gue mau ngomong sama loe!” Kiki sedikit memukul meja dari Jay.
Jay hanya tersenyum lebar dan mengagguk. Tanda menyetujuinya. Semua orang yang masih di dalam kelas sengaja Kiki usir keluar, kni tersisa hanyalah mereka berdua.
“Katakanlah,” ucap Jay santai. Ia terus saja membaca bukunya yang ia pegang sedari tadi.
“Gue cuma mau bilang, soal perjodohan kemarin malam. Gue menolak! Jadi, berhentilah berharap tuan muda dari keluarga Adiputera!” jelas Kiki.
Jay menutup buku yang sedang ia baca tadi, lalu terseyum menatap Kiki yang sudah terlihat kesal. “Semua keputusan tidak di tangan kita, melainkan orang tua kita. Jadi, walau kau menolak dan bersikeras sekalipun. Pada akhirnya perkataan merekalah yang akan terjadi,” Jay meletakan buku tersebut kedalam lacinya. Dan ia kemudian menyangga wajahnya di atas meja dengan kedua telapak tangan,
“Daripada kau membuang waktu, dan itu akan membuatmu lelah. Maka, diam saja dan terima keputusan dari mereka nantinya, kita hanya bisa menunggu.” jelas Jay.
Kiki semaki terlihat marah, ia sama sekali tidak mau menerima perjodohan ini. Baginya ada hal yang lebih penting dari sekedar pernikahan semata.
“Gimana kalau loe milih anak haram itu aja? Di banding gue, sepertinya dia lebih pantas menjadi bagian keluarga kalian,” ucap Kiki tersenyum tipis.
Dirinya tau jika Cia juga sangat menolak perjodohan ini, karena itulah ia tak bisa melepaskan kesempatan untuk bisa membuat Cia menderita.
“Anak haram? Bukankah dia juga bagian dari keluarga kalian?”
“Sampai kapanpun, dia bukan bagian keluarga kami! Jadi, tuan muda dari keluarga Adiputera. Semoga loe paham apa yang gue bilang tadi!” setelah mengatakan hal itu, Kiki langsung pergi meninggakan Jay sendiri didalam kelas, diikuti dengan dua temannya. Cuki dan Ciki.
“Dari awal, hanya Cia yang gue mau. Semoga saja, Papa memilihnya.” harapnya.
..._Bersambung_...
__ADS_1
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....