
..."Setiap hal yang baik akan berakhir dengan baik pula. Begitupun dengan kisah yang engkau torehkan. Semakin baik maka semakin terjamin akan adanya kebahagiaan itu." /Lasceria....
...***...
Setengah jam kemudian. Dokter keluar ruangan. Menghadap pada Jay yang sudah sangat menanti kabar mengenai Cia.
"Bagaimana keadaannya?"
"Ini disebabkan oleh racun yang ada didalam tubuhnya kemarin malam, sepertinya racun ini bisa muncul dengan tiba-tiba," jelas sang dokter.
"Apa dokter sudah tau jenis racun apa itu?" tanya Jay dengan tidak sabaran.
"Saya belum bisa memastikan jenis racunnya. Saya perlu melakukan beberapa tes terhadap darah pasien, setelah itu baru kita bisa mengetahui hasilnya,"
"Lakukan pemeriksaan secepatnya. Saya minta hasilnya segera keluar." Jay menatap dengan serius. "Apa saat ini kondisinya baik?" tanyanya lagi.
"Saat ini pasien sudah membaik. Untuk berjaga-jaga, saya harap pasien juga tidak boleh terlalu lelah atau juga tidak boleh dahulu mendengar kabar buruk, itu bisa mempengaruhi jantungnya,"
"Baikalah. Aku akan ingat itu. Terimakasih dokter."
"Baiklah, tuan. Kalau begitu saya permisi dahulu."
Dokter berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Jay masuk kedalam ruangan. Terlihat disana ada beberapa suster yang sedang membantu memasangkan alat infus dan mencatat perkembangan kondisi Cia.
Saat setalah Jay masuk. Para suster tersebut mengundurkan diri dari dalam ruangan tersebut. Kini, tinggal Jay dan Cia yang terbaring lemah dalam ruangan tersebut.
Jay terduduk tepat di samping Cia. Menggenggam tangan Cia dengan lembut. Terkahir kali ia bersikap dengan le.but adalah saat bersama sang ibu.
Melihat Cia yang terbaring lemah tak berdaya. Mengingatkan dirinya lagi akan kenangan pahit. Jay sama sekali tidak ingin merasakan kenangan itu lagi.
"Aneh. Kenapa gue setakut itu saya lihat loe kenapa-kenapa. Sebenarnya kenapa?" tanya Jay kebingungan.
"Gue gak suka lihat loe lemah begini, Cia. Cia yang gue kenal itu bar-bar dan punya banyak tenaga, bukannya seperti sekarang. Gue harap loe cepat sehat Cia, maafin gue. Ini semua salah gue," batinnya.
Tring ... Tring ...
Suara dering ponsel memecahkan kesunyian tersebut. Jay mengambil ponselnya dari dalam saku. Adiputera menelpon.
"Halo, Pa."
"Halo, Jay. Bagaimana kabar Cia sekarang? Apa dia sudah membaik?"
"Kondisinya gak cukup baik, Pa. Untuk saat ini dia harus menjalani beberapa pemeriksaan, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya," jelas Jay.
"Bukankah terakhir kali kita bicara, dia sudah baik-baik saja?"
"Itu benar, Pa. Tapi tiba-tiba dia pingsan lagi, aku juga gak tau apa yang sebenarnya terjadi," ucap Jay kesal.
"Baiklah. Kamu tunggu saja hasil pemeriksaan itu keluar. Papa akan mengunjungimu dia nanti. Sampai jumpa di rumah sakit,"
"Baik, Pa."
Tut ... Tut ... Panggilan berakhir.
"Haha ..." Jay menghela nafasnya dengan berat.
...***...
Kiki menuruni tangga. Siap dengan seragam sekolahnya serta tas jinjing yang ia bawa. Ia melihat Meriska sudah ada di meja makan menyiapkan sarapan.
"Pagi, sayang." Meriska tersenyum lebar. Seolah kejadian tadi malam bukanlah apa-apa.
Kiki tidak membalas sahutan tersebut. Dia mengacuhkan Meriska.
"Kiki, ayo sarapan dulu," pinta Meriska.
"Gak perlu repot-repot, Ma. Aku sarapan di kantin sekolah aja," sungutnya.
Tampak jelas raut wajah Kiki masih sangat kesal akan kejadian tadi malam.
Meriska dengan terburu-buru menyiapkan kotak bekal sarapan untuk Kiki. Ia mendekati Kiki seraya ingin memberikan kotak bekal tersebut.
__ADS_1
"Ini Mama udah siapin bekalnya. Kamu makan dijalan aja ya,"
"Udah Kiki bilang, Ma. Kiki gak mau. Jangan paksa Kiki lagi!"
"Kamu masih marah sama Mama? Ayolah sayang, jangan marah lagi. Maafin Mama ya," pintanya.
"Kau masih aja jadi anak yang keras kepala ya?"
Suara berat itu seakan membuat Kiki kian membeku. Ya, itu suara dari Agung.
Agung menuruni tangga. Menuju meja makan dan langsung duduk.
"Duduk!" Agung menatap dengan pekat kearah Kiki.
Kiki tidak menjawab dan hanya diam membisu. Tak lupa memberikan tatapan kesal pada ayahnya tersebut.
"Kau ingin membantahku?"
"Sayang, ayo duduk dulu. Jangan bantah Papa kamu lagi ya," bujuk Meriska.
"Aku berangkat sekolah dulu!"
Kiki acuh terhadap gertakan dari Agung. Ia memilih pergi dari sana secepatnya. Sangat memuakan.
Prang ...
Piring beserta beberapa gelas ikut terlempar dari atas meja. Agung yang melemparkan itu dengan paksa. Tanda kekesalan. Tentu saja hal tersebut semakin membuat suasana kegaduhan.
"Semakin hari anak itu semakin liar! Sebaiknya kau cepat urus dia,"
"Aku akan menasehatinya nanti. Sekarang kamu sarapanlah dulu," bujuk Meriska.
"Apa kau pikir aku masih bisa makan sekarang? Dasar gak berguna!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Agung langsung saja bangkit dari duduknya dan bersiap pergi ke kantor.
Para pelayan sejak tadi memperhatikan keadaan disana. Mereka berbisik satu sama lain. Meriska tau akan itu.
"Akh,,, sial! Kacau semuanya," gumam Meriska.
"Wah, gila banget ni rumah makin kayak drama tv beneran ya," cibir salah seorang pelayan.
"Huss... Jangan gitu. Kalau nyonya dengar bisa gawat kita," balas salah-satunya.
"Habisnya ni drama keluarga kagak kelar-kelar," umpat salah seorang pelayan yang lain.
"Sudahlah. Ayo kita lanjut kerja saja. Gak ada untungnya juga ngurusin keluarga orang lain,"
Akhirnya beberapa pelayan tersebut, kembali menjalankan pekerjaan mereka masing-masing.
...***...
Mobil Kiki sampai pada halaman utama sekolah. Ia turun dari dalam mobil disambut dengan kedua temannya tersebut.
"Pagi sob," sapa Ciki.
"Loe cantik banget hari ini, Ki," sapa lagi Cika.
Kiki hanya diam. Seraya menampilkan muka yang teramat kesal. Siapapun yang melihatnya akan tau, jika saat ia tak ingin diganggu.
Kiki terus berjalan tanpa mempedulikan kedua temannya tersebut. Sedangkan Ciki dan Cika berjalan perlahan dibelakangnya. Mereka seraya berbisik.
"Anak ini lagi kesambet kali ya, jutek amat mukanya," bisik Ciki.
"Maybe. Jangan kita ganggu dulu deh, ntar bisa-bisa kita dua yang kena batunya," balas bisik dari Cika.
Seketika Kiki melirik keduanya dengan sangat tajam.
"Kalian dua bisa diem gak? Kalau banyak omong lebih baik pergi jauh-jauh dari gue!" ancamnya.
"Iya-iya maaf."
__ADS_1
"Annoying!"
Ketiganya masuk kedalam kelas. Disana Kiki bertatapan dengan Bima. Keduanya tampak saling menatap tajam. Sedangkan Ciki dan Cika segera menyingkir dari kedua srigala kelas tersebut.
"Tambah lagi satu orang yang menyebalkan!" ucapnya tepat dihadapan Bima.
"Yang menyebalkan itu loe, sebaiknya segera introspeksi diri. Sebelum loe kehilangan segalanya nanti," tutur Bima.
"Jangan berlagak seperti orang baik, Bim. Loe itu sama aja!"
"Terserahlah. Gak penting debat sama loe!"
Bima melangkah keluar kelas begitu saja. Baginya sikap Kiki memang selalu kekanak-kanakan. Terlebih ia sangat membenci Cia dan itu membuatnya merasa kesal.
"Apa hari ini semua orang sengaja buat gue marah! Sial!"
"Bima tunggu!" panggil Kiki keluar kelas.
Bima mendengar akan panggilan dari Kiki, namun dengan sengaja ia mengacuhkannya.
"Bima! Gue bilang tunggu!!" teriaknya lagi.
Bima terus saja berjalan menelusuri lorong sekolah. Diikuti oleh Kiki yang sejak tadi sudah memanggil namanya, namun tidak ada balasan sama sekali.
"Bima!! Dasar budeg!"
Siswa-siswi yang berada di lorong sekolah terfokus pada keduanya. Suara Kiki sangat mendominasi saat itu.
Bima terus saja mengabaikan Kiki, hingga sampailah mereka tepat diujung lorong sekolah. Bima mendadak berhenti. Berbalik arah menatap Kiki.
"Sekarang apa?" tanyanya.
"Gue dari tadi panggilan loe, baru sekarang loe nyahut, ha!" makinya.
"Terus, kenapa?" tanyanya santai.
"Terus kenapa loe bilang! Wah ... Parah loe ya!"
Bima semakin kesal dengan sikap Kiki yang semakin tidak jelas. Ditambah dirinya sangat memikirkan Cia saat ini. Dengan sigap Bima menarik tangan Kiki dengan paksa dan mendorongnya sampai Kedinding sekolah. Kini tubuh keduanya sangat dekat. Wajah mereka juga sangat dekat saat ini. Kiki tak lagi bisa bergerak karena Bima telah menyudutkannya pada pojok ruangan tersebut.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Kiki. Loe tau sikap loe yang sekarang ini sangat menyebalkan!" ucapnya seraya menatap tajam.
Mata Kiki hanya membulat. Nafasnya seakan berbalas dengan nafas milik Bima. Jantungnya seakan berdetak dengan sangat kencang.
"Apa ini? Kenapa jantung gue cepet banget. Bisa-bisanya Bima juga denger suara detak jantung gue," batinnya.
"Sekarang bilang apa mau loe? Gue gak punya waktu buat orang kayak loe, Kiki!"
"Kenapa? Loe hanya punya waktu buat anak haram itu, iya!"
"Kalau iya kenapa?" tantang Bima.
"Dasar gak waras! Kalian semua terobsesi dengan anak haram itu!"
"Karena Cia berhak dapatkan itu semua, dan loe gak bisa benci dia karena itu!"
"Gue lebih baik dari dia, Bim. Gue juga seharusnya berhak dapatin semua itu!"
"Loe berhak dapatkan kebahagiaan loe sendiri, asalkan sikap loe gak seperti ini. Paham!"
"Emang kenapa dengan sikap gue, hah!"
Kiki mendorong tubuh Bima. Akhirnya mereka kembali berjauhan.
"Loe gak berhak iri dengan kebahagiaan orang lain. Kalau loe mau bahagia, cari sendiri kebahagiaan itu dan bukannya loe rebut dari orang lain, apalagi dia adalah adik loe!"
"Cukup!" Kiki berteriak. Sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Gue muak akan semua ocehan loe, Bim! Loe gak tau apa yang selama ini gue rasain! Loe gak tau gimana rasanya diabaikan hanya karena adanya orang baru dihidup keluarga loe dan ngerusak semuanya. Loe itu gak tau apa-apa, Bim!"
Kiki menangis disela teriakannya. Ia seakan ingin mengeluarkan semua keluh kesahnya selama ini.
__ADS_1
"Yang buat diri loe gak bahagia itu karena diri loe sendiri. Loe yang terlalu terobsesi pada Cia hingga lupa caranya menerima dan bahagia." jelas Bima.
Bersambung ...