
..."Manis kata-katamu ternyata tak semanis cintamu padaku. Awan mentari telah mempertemukan kita berdua, tapi apakah kita bisa saling menyapa hangat? Entahlah .... "...
..._Nurana_...
Entah apa yang merasuki jiwa Priscila atau yang biasa kita kenal Cia, hingga ia selalu saja bisa menampar seseorang secara tidak sadar ketika ia terkejut. Mungkin saja itu sudah menjadi kebiasaanya dari lahir ataukah memang situasi dan kondisi yang merubahnya.
Plak ... Tamparan keras ala Cia berhasil mendarat bebas dalam lapangan pipi wajah si Babang tampan. Kulit putih yang mulus itu kini ternoda dengan bekas tamparan Cia yang super keras. Kini hanya tertinggal cap khusus, di atas lesung pipi yang menggoda itu.
"Akh! ,,, loe?" Cia merasa terheran-heran.
"Gila loe ya, main tampar orang sembarangan." keluh Jay, sembari terus mengelus pipinya yang sudah memerah.
"Suruh siapa loe ngagetin gue, itu salah loe sendiri. Dasar cowok mesum!" Ketus Cia merasa tak bersalah atas tindakannya sembari melengos kearah lain.
"Mesum?" Jay terseyum tipis.
"Iya, loe cowok brengsek + mesum!" ucap Cia lantang.
Tanpa di duga Jay langsung mencûri celah untuk mencium pipi Cia saat itu, tentu saja itu membuat Cia terkejut dan untuk sesaat ia hanya terdiam, mengingat kembali apa yg di lakukan Jay olehnya.
Setelah tersadar dari lamunan itu, Cia langsung mendorong keras badan Jay yang bidang itu. Seperti halnya sudah tercetak bagus sejak lahir.
"Kuang ajar! loe ngapain tadi hah!" hardik Cia sembari berusaha mengelap bekas ciuman tipis Jay tadi,
"Hanya tunjukan apa itu , Mesum yang sesungguhnya padamu," ucapnya terseyum tipis.
"Cowok sinting!" Cia menatap tajam.
"O," Jay ber-o ria menanggapi ucapan Cia.
"Ini cowok kerasukan jin apaan sih, heran gue ada cowok model beginian," batin Cia.
Cia nengeryitkan keningnya, tanpa berpanjang lebar lagi ia meutuskan untuk segera pergi dari sana, karena tujuan awal ia datang hanya untuk menyusul sahabatnya Bima.
Entah apa yang terjadi pada Bima sekarang, yang jelas ia harus segera menyusul dan membantu pertarungan itu. Sudah menjadi sipatnya jika di setiap pertarungan maka ia harus ikut andil di dalamnya.
"Tunggu," ucap Jay menahan kepergian Cia.
"Apa lagi!" Ketus Cia sembari berbalik arah menghadap Jay.
__ADS_1
"Loe, mau kemana?"
"Kebun binatang!"
Setelah menjawab itu, Cia-pun langsung bergegas pergi. Akan tetapi, Jay menghentikannya kembali.
"Sebelum loe datang, pertempuran mereka sudah selesai dari tadi. Dan pria itu sepertinya terluka parah," ucapnya sedikit keras agar Cia mendengarnya.
Degg ... Mendengar hal itu Cia langsung menghentikan langkah kakinya, dan langsung berbalik arah menghadap Jay yang terduduķ santai di atas kursi gudang.
Rasa kekhawatiran tengah melanda hati dan pikirannya. Banyak pertayaan yang kini lalu lalang dalam pikiran Cia yang sedang kacau.
"Loe bilang apa tadi? Ada cowok yang terluka parah? Siapa!"
"Gue gak tau siapa dia, ku akui dia berani datang sendiri ke dalam sini dan menantang seluruh preman di sini, tapi sayangnya dia terluka parah dan langsung di larikan kerumah sakit. Untung saja ada temannya, jika tidak, mungkin saja dia sudah mati." jelas Jay seraya menatap remeh pada Cia
Cia menatap Jay tajam, "Loe tau itu semua darimana? Atau jangan-jangan loe juga salah satu dari mereka!" hardik Cia.
"Bukan. Gue hanya numpang tidur di sini, soal pertarungan itu gue gak sengaja lihat. Lagian tu cowok bego banget ya," jelas Jay
Cia langsung menggenggam erat leher kaos hitam yang di kenakan Jay saat itu, begitu kuatnya ia meremas hingga kaos itupun sudah tak serapi pada awalnya. Di sana jelas terlihat tatapan tajam dari sorot mata Cia yang bercampur dengan kecemasan tak terhingga.
"Ouh, jadi nama pria bego itu, Bima. Ternyata namanya juga bego," ucap Jay seraya menatap remeh pada Cia.
"Brengs*k! Gue bilang jangan berani loe ngerendahin dia." Cia langsung mendaratkan pukulannya dengan begitu keras dengan sebelah tanganya, karena sebelah tangannya lagi masih menggnggam erat leher kaos Jay.
Akan tetapi, pukulan itu tak bérhasil mendarat di pipi Jay karena ia dengan cepat menangkisnya dengan sebelah tangannya yang kekar itu,
"Jangan terlalu kasar, atau loe mau tangan yang indah ini gue buat selamanya tidak bisa bergerak?" Ancam Jay sembari terseyum tipis.
Mata Cia terbelalak mendengarnya, ia masih dikejutkan dengan sikap Jay yang sering berubah-ubah setiap menitnya. Perlahan jay menggenggam kuat tangan Cia dan tak lama ia mendaratkan kecupan tipis di atas tangan mungil Cia yang indah.
"Tangan indah ini terlalu sayang jika di gunakan dengan kekerasan, belajarlah menjadi seorang gadis." ucap Jay menggoda.
Walau begitu rasa amarah yang meningkat tadi untuk sesaat berubah menjadi rasa malu. Bagaimana tidak karena dirinýa sedari dulu tidak pernah mendapatkan perlakuan manis itu dari siapapun, tanpa terkecuali dengan Bima sendiri.
Setelah sesaat pikirannya terbuyarkan dengan tindakan Jay, ia langsung melepaskan menjauhkan tangannya dari sentuhan Jay.
"Brengs*k!"
__ADS_1
Setelah itu ia langsung bergegas pergi meninggalkan gudang tersebut, rasa kesal dan malu kini bercampur aduk bak kolak pisang di dalam hatinya.
"Ternyata masih sama saja ya, sedikit membosankan juga ternyata." batin Jay sembari memandang punggung Cia yang berlalu pergi.
Tak lama setelah Cia berlalu pergi, dan Jay segera menelpon seseorang.
"Sedikit lagi, ya aku pastikan itu padamu."
...****...
"Bagaimana kabarmu, kakak?" ucap Meriska yang tengah duduk di atas kursi cantik, sembari menghadap ke arah tempat tidur.
Di sana nampak terbaring wanita yang sedikit lebih tua darinya. Wanita itu terbaring dalam keadaan koma. Nampak terlihat, jika sudah ada alat bantu kehidupan telah terpasang rapi di setiap titik-titik organ tubuhnya.
"Hari ini aku kembali mengunjungi-mu, apa kali ini kau tak juga mau menyapak, Kak?" ucapnya menatap sendu wanita yang terbaring koma tadi.
"Ayolah segera bangun, Kak. Ada banyak cerita yang ingin aku ceritakan padamu. Hari ini masih sama saja. Putriku masih saja marah padaku, bahkan semakin hari hubungan kami semakin jauh. Aku harus bagaimana, Kak? Tolong katakan sesuatu padaku walau hanya sebentar." ucapnya sendu, sembari sedikit menitihkan air mata.
Beberapa kali Meriska berbicara dan hasilnya tetap sama. Setiap ucapannya hanya terbalas dengan suara dari alat bantu wanita tersebut.
"Baiklah, Kak. Hari ini cukup sampai di sini dulu ya. Suami dan anak-tercintaku sedang menunggu Mama mereka di rumah. Sampai jumpa." ucap Meriska terseyum hangat, dan langsung bergegas pergi dari kamar tersebut.
Di depan pintu sudah ada beberapa penjaga ber-jaz hitam lengkap, dengan kacamata hitam yang mereka pakai tengah siap berjaga setiap saat.
"Awasi terus dia, jika ada perubahan langsung kabari aku." ucap Meriska sembari berjalan pergi.
"Siap, Nyonya." serentak para pengawal menjawab.
Di sisi lain ...
"Loe harus baik-baik aja Bim, kalau loe kenapa-napa gue gak akan pernah maafin loe," batin Cia
Cia bergegas pergi menuju rumah sakit terdekat untuk mencari keberadaan sahabatnya, Bima
..._Bersambung_...
"Sampai jumpa di episode berikutnya"
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....
__ADS_1