JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#47


__ADS_3

..."Rasa dari orang yang sedang mencintai, akan menjadi sangat peka dalam keadaan apapun."...


...***...


"Sial, apa-apaan mereka tadi. Main peluk-pelukan segala!"


"Kiki lagi nempel-nempel ke Bima segala, kek lem aja," gerutunya.


ia segera masuk ke dalam kamarnya dan langsung saja mengunci pintu. Ia melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur, masih lengkap dengan seragam sekolah yang belum ia ganti.


Beberapa saat kemudian. Suara ketukan pintu membuatnya tersadar.


Tok tok ....


"Siapa?" tanya Cia yang masih berbaring.


"Ini gue, Kiki."


Spontan saja, Cia langsung bangkit dari tidurnya dan bergegas membuka pintu. Tepat setelah ia membuka pintu, Cia langsung menarik kuat kerah seragam Kiki.


"Mau apa lagi loe!"


Kiki tersenyum. Tangannya perlahan menggenggam lengan Cia, seraya memaksa nya untuk melepaskan cengkraman tangan tersebut.


"Lepasin, Cia. Gue mau bicara hal penting sama loe,"ucap Kiki menatap santai.


"Cih!"


Cia melepaskan cengkramannya dengan paksa.


"Buruan!"


Kakak tiri dari Cia itu, lagi-lagi tersenyum.


"Gue cuman mau bilang. Jangan bersikap kekanak-kanakan Cia!! Bima juga berhak bahagia."


"Ngomong yang jelas! Apa maksud loe Bima berhak bahagia?"


"Loe gak paham ya maksudnya. Hah, ternyata IQ mu itu udah anjlok ya," ledek Kiki.


Cia menatap kesal.


"Bukannya tadi ada yang marah-marah gak jelas ya, saat lihat kami pelukan. Bukankah itu sipat kekanakan," ucapnya lanjut.


"Dengar, Ki! Gue gak akan biarin loe menghasut Bima. Paham!" ancamnya.


"Menghasut Bima? Haha ... Loe ini lucu juga ya," ledek Kiki lagi.


"Hak Bima dong mau ketemu dan dekat sama siapapun. Loe yang sebagai sahabatnya harus dukung dia. Bukan sebaliknya,"


"Cih! Gue bakal terima dia dekat sama siapapun. Tapi terkecuali orang itu adalah loe!"


"Hah. Serah deh ya. Gue cuman mau bilang gitu doang. Oh ya, gue lupa bilang satu hal sama loe."


Cia menanti apa yang akan di katakan Kiki. Perlahan Kiki mulai semakin mendekati Cia, dan berbisik padanya.


"Gue dan Bima. Kami berdua udah jadi pasangan. Jadi loe jangan coba-coba untuk ngelarang dia dekat dengan siapapun. Ingat Cia, loe gak berhak mengatur Bima. Karena loe sendiri udah bertunangan kan dengan Jay. Jadi, jalani aja takdir kita masing-masing!" bisik Kiki.


Betapa terkejutnya Cia atas apa yang baru saja ia dengar. Tubuhnya seakan mematung seketika. Ia bahkan sempat berada di alam pikiran nya sendiri, hingga tidak menyadari jika Kiki sudah sejak tadi pergi dari hadapannya.


Perasaannya saat itu sangatlah rumit. Bahkan dirinya sendiri harus bersikap seperti apa. Marah, kesal, sedih atau senang. Semua itu sangat membuatnya terpaku.


"Bima dan Kiki pacaran? Me-reka ..."


Seketika itu juga, Cia langsung saja masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya kemudian bergegas pergi menemui Bima. Ia bahkan tak mengganti seragamnya terlebih dahulu.

__ADS_1


***


Malam hari.


Para pengawal yang Adiputera tugaskan, kini mereka telah bersiap-siap untuk masuk ke dalam villa Meriska. Menjalankan perintah. Sedangkan Adiputera menunggu di kediamannya.


"Aku harap dugaanku selama ini benar. Dengan begitu semua akan lebih jelas nantinya," gumam Adiputera.


Adiputera yang terduduk di meja kerjanya, tak lama Jay datang menghampiri.


"Pa, apa Papa sibuk?" tanya Jay di luar pintu.


"Masuklah, Jay," sahut Adiputera.


Jay melangkah masuk.


"Duduklah, Jay. Ada apa kamu kesini?"


Jay duduk tepat di hadapan Papa-nya.


"Jay cuma pastikan beberapa hal,"


Adiputera mengangkat alisnya.


"Tentang apa?"


"Hem, i-ini rentang pernikahanku, Pa."


"Apa ada masalah? Sepertinya kamu sangat gugup."


Jay terlihat ragu-ragu. Hal tersebut membuat Adiputera semakin bingung.


"Langsung katakan, Jay. Kamu tau kan Papa sangat sibuk," ucapnya dengan sedikit tekanan.


"Maaf, Pa. Jay cuma mau tau, apa pernikahan ini bisa di batalkan," ucapnya ragu.


"Apa maksudmu dengan membatalkan pernikahan ini, Jay? Katakan dengan jelas. Jangan berbelit-belit!"


"Maksud, Jay. Apa mungkin pernikahan ini bisa di batalkan. Karena Jay lihat Cia sama sekali gak bahagia dengan semua ini, Pa." Jay mengatakannya tanpa berani menatap wajah Papa-nya. Ia mengalihkan pandangan.


"Pernikahan ini takkan bisa di batalkan. Kamu tau kan, kalau Papa tidak akan menarik apa yang sudah Papa ucapkan," jelas Adiputera.


Jay mendengarkan tanpa membalas ucapan tersebut.


"Gak ada harapan ya," batin Jay.


"Kalau begitu Jay akan kembali ke kamar dulu, Pa. Maaf sudah menganggu Papa." Jay beranjak dari duduknya. Ia berbalik arah dan mulai melangkah pergi.


"Jay," panggilnya.


Jay berhenti dan berbalik arah. Menatap sang Papa yang masih saja terduduk dengan elegan di meja kerjanya.


"Ada apa, Pa?"


"Papa harap, kamu bisa melindungi apa yang kamu punya saat ini. Papa hanya tidak mau kamu akan menyesal nantinya. Percayalah kalau apa yang Papa lakukan selama ini, semua itu demi kebaikanmu sendiri," ucapnya dengan penuh keseriusan.


"Selamat malam, Pa."


Jay pergi begitu saja. Tidak ada lagi kata-kata yang tepat selain itu. Ia tak tau harus menjawab apa dari ucapan Adiputera. Mendengar kata-kata itu, seakan kembali mengingatkannya pada kenangan buruk.


"Demi kebaikanku sendiri? Haha, jangan bercanda Pa," batin Jay.


Jay masuk ke dalam kamarnya. Mengunci diri dari dalam. Berjalan ke balkon.


"Sepertinya pernikahan ini akan tetap terjadi. Papa selalu serius dengan ucapannya. Maaf Cia, gue gak bisa lepasin loe juga. Gue mau loe bahagia, tapi gue juga gak bisa lepasin loe," gumamnya seraya melihat langit-langit malam.

__ADS_1


"Ma, kalau Mama ada di sini. Apa Mama juga akan bertindak seperti, Papa?" Gumamnya lagi.


Drztt ...


Seketika suara dering ponsel milik Jay berbunyi.


"Halo," ucap Jay mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Jay. Apa kabar?"


"Siapa kau?" tanya Jay kebingungan. Pasalnya nomor tersebut tidaklah terdaftar di kontaknya.


"Aish. Apa kau gak kenal dengan suara kekasihmu sendiri sayang."


"Aku sedikit kecewa," ucapnya lagi.


"Jangan banyak basa-basi. Katakan siapa kau?"


"Oke oke baiklah. Padahal aku hanya ingin bermain-main sebentar saja. Tapi kamu selalu saja mudah marah," jawabnya di sebrang sana.


Jay mengerutkan keningnya. Ia masih saja bingung dengan apa yang di maksudkan si penelepon tersebut.


"Dasar gila. Aku gak punya waktu meladenimu!"


Jay dengan segera memutuskan panggilan tersebut dengan cepat.


"Siapa orang gila itu! Dasar merepotkan!"


Belum lama Jay memutuskan panggilan tersebut. Panggilan tersebut kembali datang.


Drztt ....


Jay hanya melihatnya saja tanpa berniat menjawab.


Beberapa menit kemudian.


Dua pulu kali panggilan tidak terjawab. Panggilan tersebut terus saja masuk. Jay sudah terlanjur kesal, kemudian ia langsung saja mengangkat nya.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan cari mati dengan bertingkah konyol seperti ini. Katakan siapa kau. Atau aku akan pakai cara lain untuk menemukanmu!" ancamnya.


"Aish ... Sabar sedikit dong sayang. Kau itu cepat sekali marah. Itu kan gak baik buat kesehatan kamu."


Jay semakin kehilangan kesabarannya.


"Aku akan menemukanmu dan menghancurkan segalanya!" ucap Jay


"Oke oke baiklah. Kita persingkat saja. Aku sudah mengirim sebuah email padamu semenit yang lalu. Silakan cek dan semoga tidur nyenyak sayangku. Bye. Muachh."


Penelpon Tersebut langsung menutup panggilannya.


"Email. Apa yang dia kirim?" gumam Jay.


Bergegas dengan cepat. Jay langsung saja mengecek email yang masuk di laptopnya. Dan, sebuah gambar yang sangat membuatnya amat terkejut. Ia bahkan membulatkan kedua matanya. Merasa tidak percaya. Tubuhnya seketika bergetar hebat.


Di sisi lain.


Bima yang sejak siang selalu merasa cemas karena Cia yang marah besar kepadanya. Ia terus saja memikirkan hal tersebut.


"Gue harap Cia gak akan marah lama-lama. Bisa gila gue dia marah begitu. Mana salah paham lagi sama kejadian tadi siang," gumam Bima.


"Cia. Gue suka sama loe. Gue akan lakuin yang terbaik buat loe. Pasti," gumamnya lagi.


Bima yang terus bergumam tidak jelas seorang diri di atas tempat tidurnya.


..._Bersambung_...

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....


__ADS_2