JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#50


__ADS_3

..."Jangan halangi kebahagiaan orang lain, jika kamu sendiri saja tidak mampu memberinya kebahagiaan yang sama!!"...


.


.


.


Malam hari itu rasanya menjadi sangat kelam dari biasanya. Terasa begitu menyeramkan.


Jay yang menemukan Cia dengan keadaan tak sadarkan diri, membuat dirinya merasakan ketakutan yang sama. Ia seolah kembali pada masa lalunya yang kelam. Takut akan ditinggalkan, membuatnya sangat gelisah.


Beberapa jam kemudian.


"Tuan muda. Duduklah dulu, tuan sudah lama berdiri terus sejak tadi," ucap Pak Abdi.


"Aku tak punya waktu untuk itu."


Jay terus menatap pintu ICU. Berharap semua akan baik-baik saja, hingga beberapa jam kemudian sang dokter-pun akhirnya keluar .


"Bagaimana keadaannya?" tanyanya langsung.


"Anda berhasil membawanya tepat waktu. Karena sedikit saja terlambat, maka kami sendiri-pun sulit menyelamatkannya," jelas Sang Dokter.


"Apa kau sudah tau dia di berikan obat apa?"


"Tentang itu, mari kita lihat setelah pemeriksaan lebih lanjut."


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, dia sudah baik-baik saja sekarang, jadi Anda tidak perlu khawatir, untuk sementara waktu pasien belum boleh di jenguk," ucap sang dokter lagi.


"Baik. Terimakasih Dok," jawab Pak Abdi.


Dokter tersebut melangkah pergi.


"Tuan, silakan istirahat dahulu. Nona Cia sudah baik-baik saja sekarang, jadi ..."


"Berhenti bicara! Bisa-bisanya menyuruhku istirahat di keadaan seperti ini," ucap Jay dengan ketusnya.


"Maafkan saya." Pak Abdi membungkukkan sedikit kepalanya.


Jay hanya bisa menatap Cia dari balik dinding kaca di luar ICU. Ia meletakan tangganya seakan menyentuh Cia yang sedang terbaring di sana.


"Kali ini juga sama," gumamnya.


Jay kembali teringat akan kenangan ia saat sang Ibu terbaring lemah di ruang ICU. Saat itu usia Jay masih sangat kecil hingga ia tak bisa berbuat apapun, dan hanya bisa menangis.


Kilas balik.


"Mama! Ma ... Hiks, aku mau Mama!"


Jay kecil terus saja menangis. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan.


Sedangkan di dalam ruang ICU. Sang dokter dengan para suster lainnya sedang berjuang untuk menyelematkan Kiara. Sang Mama dari Jay.


"Bawa tuan muda pulang," tihta Adiputera.


"Baik tuan," jawab Pak Abdi.

__ADS_1


"Mama! Ma..."


"Tuan muda, mari kita pulang dahulu," bujuk pak Abdi.


"Lepaskan, aku mau Mamaku sekarang. Ijinkan aku bertemu dengannya, hiks."


Jay kecil terus saja memberontak. Pak Abdi terpaksa menggendongnya dan membawa Jay pulang. Sepanjang jalan Jay kecil terus saja menangis, tapi semua itu hanya sia-sia semata.


Setelah itu, Jay kecil tidak pernah lagi bisa melihat Mamanya. Bahkan, setelah kematian Kiara.


Kembali masa kini.


"Kali ini aku tidak ingin lagi kehilangan yang sama," gumamnya.


Pak Abdi hanya bisa menatap Jay dengan sendu. Dalam lubuk hatinya, ia juga menyesal atas apa yang pernah ia lakukan dahulu.


"Tuan muda pasti teringat akan masa lalu, maafkan saya tuan muda. Seharusnya saya tidak melakukan itu," ucapnya dalam hati.


"Pergilah. Aku akan menjaganya sendiri di sini," ucap Jay.


"Biarkan saya saja yang menjaganya tuan, sebaiknya tuan muda kembali ke rumah dan istirahat saja," jawab Pak Abdi.


Mendengar itu, Jay berbalik menatap pak Abdi dan tersenyum kecut.


"Apa Anda ingin kejadian dulu terulang lagi padaku!"


"Bukan itu maksud saya tuan,"


"Pergi. Aku takkan mengulangi untuk ketiga kalinya." Jay memberikan tatapan tajamnya.


"Akh tunggu!"


Pak Abdi kembali berbalik menghadap Jay.


"Apa kalian sudah menemukan jejaknya?" tanya Jay.


"Masih belum tuan, saya akan segera mungkin menemukannya."


"Cari dia sampai dapat. Baik itu hidup ataupun mati!"


"Baik. Saya permisi dulu," jawab Pak Abdi.


Pak Abdi langsung pergi meninggalkan Jay seorang diri.


"Cepatlah sadar, jangan coba-coba kau seperti Mamaku," batinnya.


Kediaman Adiputera.


"Bagaimana?" tanya Adiputera kepada Pak Abdi yang sudah menghadap di depannya.


"Nona Cia sudah di tangani dokter, keadaannya saat ini sudah tidak lagi kritis dan tuan Jay masih menemaninya seorang di diri di rumah sakit tuan," jawab Pak Abdi.


"Siapa yang berani-beraninya menculik gadis itu?"


"Dia adalah Tuan Brion. Saingan bisnis Anda tuan,"


Adiputera tersenyum tipis.

__ADS_1


"Dia sangat naif. Dia kira akan mendapatkan hal yang dia inginkan dengan cara kekanakan seperti itu,"


"Bersihkan semua tempat kejadian. Kau tau harus berbuat apa kan?" Tanya Adiputera.


"Saya paham tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


Adiputera bangkit dari duduknya. Ia kembali berdiri sembari menatap pemandangan langit malam dari balik jendelanya.


"Saatnya memulai pembalasan," ucapnya tersenyum tipis.


Kediaman Wijaya.


Dering ponsel berulang kali berbunyi dari ponsel Meriska dan juga Agung. Keduanya masih saja sibuk dengena pekerjaan malam mereka yang melelahkan. Setelah beberapa lama, keduanya memutuskan berhenti sejenak dan menerima panggilan tersebut.


"Halo, ada apa?" tanya Agung.


Seketika Agung menjadi pucat Pasih setelah menerima panggilan tersebut. Begitu pula yang di alami oleh Meriska.


Agung langsung menutup ponselnya. Dan bergegas berganti pakaian. Sekilas ia juga melihat Meriska yang masih menerima panggilan tersebut.


"Siapa itu?" tanya Agung.


"Akh, bukan siapa-siapa. Hanya masalah bisnis saja," elak Meriska.


Meriska segera menutup panggilan tersebut.


"Lalu siapa tadi yang menelponmu? Aku lihat kau langsung pucat Pasih," tanya Meriska mengalihkan perhatian Agung.


"Kau tidak perlu tau itu. Aku akan pergi, jangan menungguku pulang," ucap Agung yang sudah bersiap-siap.


"Baiklah."


Sedangkan Meriska masih saja terduduk di atas ranjangnya.


Agung bergegas pergi. Meriska kembali menelpon seseorang.


"Apa maksudmu semua berantakan di sana?" tanyanya kesal.


"Maafkan saya Nyonya. Tapi tadi kami di serang oleh kelompok yang tidak kami Ketahui, dan mereka juga membawanya pergi,"jawab seseorang di sebrang sana.


"Apa yang kalian lakukan. Menjaga satu wanita saja tidak becus!" hardik Meriska.


"Maaf Nyonya, tapi mereka membawa senjata api, dan jumlah kekuatan mereka juga lebih besar dari kami semua," jawabnya lagi.


"Sekarang juga cari tau, siapa orang-orang itu, dan kemana mereka membawanya!"


Meriska langsung menutup panggilan tersebut.


"Kenapa semua jadi kacau begini, siapa yang membawanya dan kemana mereka membawanya pergi?" gumamnya.


"Dia? Siapa yang Mama maksud?" batin Kiki yang sejak menguping pembicaraan Meriska dari luar pintu kamarnya.


"Kenapa aku merasa semuanya punya rahasia tersendiri." batinnya.


_Bersambung_


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.

__ADS_1


__ADS_2