JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#52


__ADS_3

..."Sebuah penyesalan akan ada di setiap jalan hidup seseorang. Semua penyesalan akan ada rasa sakit dan kebencian didalamnya. Semua selalu saja terlambat satu langkah."...


.../Lasceria...


...***...


"Kenapa bisa begini?"


Meriska yang sampai di villa melihat sendiri kekacauan yang ada di sana.


"Maafkan kami Nyonya. Tapi mereka lebih kuat dari kami," jawab salah satu pengawal itu.


"Dasar tidak berguna!"


Meriska mengerutkan keningnya.


"Apa ada petunjuk tentang mereka?" tanya Meriska lanjut.


"Tidak ada petunjuk sama sekali, sepertinya mereka termasuk pada kelompok mafia," jawabnya.


"Mafia? Bagaimana bisa mereka ikut campur, apa untungnya bagi mereka menculiknya. Hah, semuanya jadi kacau,"


Di lain sisi. Para anak buah dari Adiputera sedang mengawasi mereka semua.


"Tuan, kenapa kita malah sembunyi di sini, bukankah Tuan besar memerintahkan kita untuk membereskan mereka semua?" tanya salah satu anak buah kepada Ketua pengawal.


"Tunggu sebentar, aku akan telpon tuan besar dulu," jawabnya.


Drzt ...


Panggilan keluar.


"Halo Tuan,"


"Ada apa?" tanya Adiputera.


"Maaf, Tuan. Tapi saat kami tiba di sini, ada Nyonya Meriska sedang berada di sana. Apakah kami perlu menunggu atau langsung saja kami bereskan?"


"Meriska? Sedang apa dia di sana?"


"Kami masih belum mengetahuinya, Tuan. Tetapi dia sedang berbicara dengan salah satu ketua pengawal di sana," jelasnya.


"Sepertinya Nyonya Meriska kenal dengan para pengawal itu," lanjutnya.


"Oh begitu,"


"Sekarang kami harus bagaimana, tuan?" tanyanya lagi.


"Kalian kembali saja, tidak perlu lagi berada di sana," balas Adiputera.


"Baik, Tuan."


Tuttt ...


Panggilan berakhir.


"Bagaimana?" tanya salah seorang diantara mereka.


"Kata Tuan besar, kita kembali saja. Ayo!"

__ADS_1


Akhirnya para anak buah Adiputera-pun bergegas kembali ke markas mereka. Jika Meriska sibuk dengan para pengawalnya, begitu pula dengan Agung sendiri. Sebuah gudang kosong. Agung datang menghampiri para preman yang sengaja ia sewa.


"Selamat datang, Bos."


"Apa yang terjadi, ceritakan semua padaku!"


Agung duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan oleh para preman.


"Sesaat kami tiba di sana. Ternyata ada kelompok lain yang sudah lebih dulu datang, Bos. Mereka dengan cepat menghabisi semua pengawal itu, sepertinya mereka dari kalangan mafia. Dalam waktu setengah jam saja, mereka sudah berhasil melumpuhkan semua penjaga di vila itu," jelas salah satu preman. Sebut saja ia Roky.


"Apa yang mereka incar?"


"Kami melihat salah satu pengawal itu membawa seorang wanita keluar dari villa, Bos."


Kedua mata Agung melebar.


"Wanita?"


"Benar. Kami melihat mereka membawa seorang wanita yang pingsan dan segera pergi dari sana," jelasnya lagi.


"Apa kau tau siapa dia?"


"Maaf, Bos. Kami tidak bisa melihat wajahnya karena kami, hanya melihatnya dari kejauhan,"


"Sial! Sebenarnya siapa yang Meriska coba sembunyikan dariku?" batin Agung.


"Kalian awasi terus dia. Kemanapun dia pergi ikuti dia dan ya, jangan lupa untuk cari tau siapa wanita yang di bawa itu sebenarnya," titahnya.


"Siap, Bos!"


"Bagus, kalau gitu aku pergi dulu. Ingat jangan sampai ketahuan!!"


"Tenang saja, Bos. Kami ahli dalam hal ini," jawab Roky dengan yakin.


Agung bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Keluarga yang rumit, tapi itu bukan urusanku juga, haha." batin Roky.


Rumah Bima.


"Kenapa perasaan gue gak enak ya dari tadi, apa terjadi sesuatu pada, Cia?" tanya Bima pada dirinya sendiri.


Bima sejak awal sudah merasakan kegelisahan. Ia sendiri uring-uringan tidak jelas. Beberapa kali Bima menelpon, tapi tidak ada jawaban. Hal tersebut semakin membuatnya merasa gundah.


"Apa gue harus kerumahnya aja? Tapi gimana kalau ada pria itu di sana? Urusannya akan lebih repot nanti," ucapnya seorang diri.


Tak lama. Ponsel milik Bima kembali berdering.


Kring ... Kring. Panggilan masuk dari Kiki.


"Kenapa ni anak nelpon gue tengah malem? Gara-gara dia Cia salah paham sama gue!"


Bima sengaja tidak mengangkat panggilan tersebut. Namun, Kiki terus saja menelponnya berulang kali dan itu membuat Bima merasa kesal.


"Dasar keras kepala!" hardiknya di depan ponselnya sendiri.


Bima dengan kesal mengangkat telepon tersebut.


"Ada apa!"

__ADS_1


"Aduh, Bim. Lama banget sih angkat telpon gue,"


"Langsung aja, ada apa loe nelpon gue?"


"Tentu aja karena gue kangen loe lah, kita kan baru aja pacaran. Masa sih loe gitu banget ma gue," ucap Kiki.


"Kalau loe mau bahas hal yang gak penting, gak usah nelpon gue deh, Ki!"


"Aduh-aduh, sabar dong. Gitu aja udah sewot. Gue cuman mau bilang, kalau cewek kesayangan loe saat ini lagi bersama tunangannya. Katanya sih dia nginep di rumahnya juga," ucapnya meledek.


"Siapa yang loe maksud?"


"Bim, loe gak bener-bener bodoh kan? Atau emang loe gak mau terima kenyataan? Tentu aja anak haram itu siapa lagi memangnya temen loe!"


"Jaga mulutmu itu, Ki! Kenapa Cia ada sama Jay? Kenapa juga dia harus nginap di rumahnya?" tanya Bima.


"Hahaha," Kiki tertawa.


Bima mengerutkan keningnya. Ia tidak tau alasan di balik tawa Kiki.


"Gak ada yang lucu! Sebaiknya loe cepet bilang kenapa Cia bisa ada di sana sekarang?"


"Gue mana tau kenapa dia bisa ada di sana. Lagian itu juga bukan urusan gue, Bim. Ck, gue cuman ngasih tau loe aja, kalau anak haram itu persis sama seperti mamanya dulu. Seorang penggoda!"


"Kiki!!" Bima berteriak marah.


"Gue udah peringati sama loe dulu, jangan coba-coba untuk bicara buruk tentang dia, atau kalau gak--"


"Kalau gak apa! Loe bakal bunuh gue? Haha, Bima-Bima, sadar! Loe itu cuman di anggap temen sama dia gak lebih!"


"Cukup! Gue gak ada waktu buat ladenin kegilaan loe sekarang!"


Tut ... Tut ....


Bima langsung saja memutuskan panggilan tersebut.


"Gue harus ke rumah Jay sekarang! Berani banget Jay bawa Cia ke rumahnya!"


Bima bergegas pergi menuju kediaman Adiputera.


Kediaman Wijaya.


"Kurang ajar! Berani banget Bima mutusin telpon gue!" hardiknya.


"Loe harus tau, Bim. Cuman gue yang bakal miliki loe. Kalau gue gak bisa miliki loe, lebih baik loe menderita sekalian bersama anak haram itu! Kalian semua gak berhak bahagia sampai kapanpun!"


Kiki mengucapkannya dengan penuh dendam. Ada air mata yang mengalir dari matanya. Rasa sakit yang ia rasakan seakan tumpah mengalir bersama air mata tersebut.


Kediaman Adiputera.


Adiputera tengah duduk sambil menatap Keysa yang masih saja terbaring lemah.


"Andai saja dulu aku tidak percaya akan hasutan Mama, pasti kau ataupun aku tidak akan seperti sekarang, Key."


Adiputera membelai rambut Keysa dengan lembut. Ia terus saja memandang wajah Keysa sejak tadi.


"Maafkan aku, Key. Kamu menderita selama ini gara-gara aku. Andai saja aku percaya akan semua yang kamu katakan dulu, mungkin kita akan bahagia sekarang," ucapnya sendu.


"Maafkan aku, jika kau bisa Key. Maafkan aku," ucapnya lemah.

__ADS_1


...Bersambung ......


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....


__ADS_2