JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#11


__ADS_3

..."Teruslah Melangkah kearah depan, dengan begitu kakimu takkan mudah terjatuh ke dasar tanah."...


..._Nurana_...


Setelah dirinya berbicara singkat dengan Bi Imah, seperti biasa Cia kembali kedalam kamarnya. Begitu pula dengan Kiki yang sudah lebih dulu masuk. Setelah selesai membersikan diri Cia langsung menjatuhkan badan rampingnya itu di atas kasur bernilai jutaan dolar. Kaos polos hitam berpadu dengan celana jens robek-robek hitam, menjadi pilihannya.


Hidupnya sangat berkecukupan akan tetapi ia tetap saja merasa berada dalam penjara berduri berlapiskan emas. Memang, jika dikatakan ia adalah anak yang tidak pandai bersyukur. Tapi, jika dilihat dalam berbagai sisi ia tetaplah anak yang terluka akan sesuatu.


Beberapa saat kamar itu seolah hening tanpa gemersik apapun. Bahkan hembusan nafaspun bak hilang tanpa bekas. Cia hanya bisa memejamkan mata tanpa mau melihat apapun, jiwanya seakan kosong akan sesuatu tapi ia tak tau apa itu.


Beberapa saat suara langkah kaki mulai terdengar disetiap sudut ruangan. Sontak saja Cia membuka kelopak matanya dari anganan sesaat, tak lama terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Non, Bibi ijin masuk ya?" ucap Bi Imah dari balik pintu kamar Cia.


"Ada apa, Bi?"


"Bibi mengantarkan makanan buat, Non Cia." ucap lembut Bibi.


"Bawa kembali saja, Bi. Cia gak selera makan," ucapnya ketus.


"Tapi kata, Nyonya ... "


Untuk sesaat Cia menghela nafasnya, entah mengapa setiap kali mendengar nama Meriska, saja sudah membuatnya sesak. "Bilang aja Cia udah makan, Bi" pinta Cia.


"Baik, Non." ucap Bi Imah yang kembali sembari, memabawa kembali makanannya.


"Ma ... Cia rindu." ucapnya bernafas berat.


...***...


Bima langsung bergegas pergi menuju rumah sakit, setelah mendapatkan kabar tentang Ivan. Seperti biasa ia tetap menutupi wajah tampannya itu dari anggota geng singa maut untuk menjaga identitasnya.


Rick, Boby dan juga Repan mereka tak berani sedikitpun menatap mata, Bima. Rasa cemas kian merasuki ketiganya.


Walau bagaimanapun juga, Bima terkenal kejam dan bengis terhadap semua orang yang mengenalnya.


Sesaat, Bima hanya menatap mereka bertiga. Tak lama ia menarik nafas pelan dalam-dalam. "Bagaimana keadaanya?" ucapnya terdengar tenang.


Mata ketiga orang tersebut langsung terbelalak dan sontak mereka saling pandang satu sama lain. Mereka merasa heran mendengar yang Bima ucapkan pertama kali dalam keadaan seperti itu, Boss besar dari kalangan preman kenapa bisa bersikap lembut seperti itu, bukannya menanyakan bagaimana hasil dari pertarungan itu tapi ia malah bertanya tentang kesehatan Ivan.


"Apa kalian tidak dengar dengan ucapanku!" ucap Bima tegas.


"M-Maaf, keadaan Kak Ivan baik-baik saja tapi kondisinya masih di pantau," ucap Boby.


Rick menyenggol sedikit dagu tangan Boby seraya memberikan tatapan heran. "Jangan berbohong pada, Kak Bima " pintanya berbisik pada Boby.

__ADS_1


"Aku mana berani, aku hanya gak mau Boss Bima merasa semakin cemas," Ucapnya membalas.


Keduanya seperti asik berbisik-bisik di hadapan Bima, di sana Repan hanya bisa diam berkeringat dingin menyaksikan tingkah Boby dan juga Rick.


"Apa yang kalian perdebatkan?" ucap Bima sembari menaikan sebelah alisnya.


"Maafkan kami, Kak." ucap keduanya.


"Kalian rawat dahulu luka-luka itu, dan jaga Ivan sampai dia sembuh." ucapnya santai sembari berbalik melangkah pergi.


"Tunggu, Kak Bima" ucap Repan.


Bima berbalik arah menyahut panggilan Repan, "Ada apa?" ucapnya ketus.


"Kakak, mau kemana?"


"Pergi. Menyelesaikan urusan yang belum kalian selesaikan." ucapnya dingin sembari melangkah pergi menjauh dari sana.


Mendengar ucapan Bima, ketiganya tak lagi berani bertanya, mereka sudah paham apa yang di maksud oleh Bima.


Akhirnya Bima sampai juga di dalam markas geng cakar kucing. Sebuah klub malam menjadi tempat pilihan mereka, karena pemilik klub tersebut juga ketua dari geng cakar kucing itu sendiri.


Sesaat Bima hanya berdiri di depan klub tersebut sembari menatap dingin setiap sudut-sudut dinding itu, tak lama suara dering ponsel miliknya membuyarkan semua yang ia pikirkan.


Kringg ... Kring ....


"Di rumah." ucap santainya.


"Jangan bohong, Bim. Sekarang loe dimana? Jangan bilang kalau loe saat ini ada di markas mereka!" pekik Cia.


Bima menaikan sebelah alisnya mendengar hal itu, "Siapa yang berani kabari hal ini sama kamu?" tanya Bima.


"Itu gak penting sekarang! Sekarang gue tanya loe di mana?"


"Gue telpon lagi nanti, saat ini gue lagi mengurusi para tikus-tikus kotor itu," ucapnya dingin.


Tak lama Bima langsung memutuskan panggilan tersebut. Dan, bergegas masuk ke dalam klub tersebut, begitu pula dengan Cia yang ikut bergegas menyusul Bima.


Seperti biasa Cia memakai setelan baju hitam polos dengan berlapis jaket kulit hitam dan juga celana jens robek2 serta rambutnya yang terikat rapi menambah kesan garang namun tetap cool bagi dirinya.


Cia langsung bergegas menuruni tangga dan Kiki melihat itu dari balik pintu kamarnya.


"Mau kemana lagi dia? Aku rasa ada sesuatu yang penting?" ucap Kiki, sembari terus memperhatikan gerak-gerik Cia.


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya Cia sampai jumpa di tempat Bima berada. Dengan aura garangnya ia mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam sana.

__ADS_1


Setelah masuk pemandangan tak biasa menyapa ia, suasana hening tanpa ada seorangpun menjadi sambutan utama baginya, jika di lihat sekilas klub itu hanyalah klub biasa pada umumnya.


Hanya ada beberapa sofa panjang untuk bagian depan dan juga meja repsesionis yang tak bertuan.


"Kemana Bima, kenapa di sini sepi sekali?" ucapnya terheran-heran.


Pada Akhirnya ia memutuskan untuk segera menelpon sahabatnya itu, mungkin saja setelah itu ia akan dapat menemukan di mana Bima berada.


Tuttt ... Tuutt ....


Panggilan tak terjawab, bahkan nomor Bima saja sedang tidak aktif. Cia merasa kesal dan mulai cemas akan keadaan Bima, tanpa menunggu lebih lama lagi ia mulai bergegas masuk kedalam klub lebih dalam lagi.


Matanya mulai mencari-cari kehadiran seseorang, seluruh tempat mulai ia telusuri mulai dari tempat DJ, toilet ataupun lainnya, tapi hasilnya masih sama seperti awal tadi. Seluruh klub itu tidak ada aatupun orang di dalamnya, hingga langkah kakinya berakhir pada sebuah gudang yang berada di paling pojok ruangan.


"Apa mungkin mereka di dalam? Tapi kenapa mesti di gudang? Tunggu. Ini kan hanya gudang mana mungkin mereka di sini," ucapnya resah.


Dengan menyakinkan diri Cia langsung saja memasuki ruangan tersebut, tapi pemandangan itu masih sama saja. Tidak ada satupun orang berada di sana, sampai akhirnya suara benda jatuh terdengar jelas oleh Cia.


Buggg ...


"Siapa di sana?" teriak Cia.


Namun jawaban itu tak kunjung di dapatkan, akhirnya ia mulai menelusuri ruangan tersebut lebih dalam lagi. Dan di sana ia menemukan sebuah kotak yang terjatuh di langit2 lantai.


"Sialan, hanya kotak ternyata." ucapnya lega sembari memegangi kepalanya.


Saat Cia sedang Fokus, akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Dan betapa terkejutnya dia ketika berbalik arah terlihat sudah di sana wajah seseorang yang sempat ia kenal.


"Akh! ..." teriak Cia sembari menampar orang tersebut secara repleks.


Plak ... Tamparan keras ala Cia sudah mendarat tepat di wajah tampan orang tersebut.


..._Bersambung_...


"Sakit banget tu pasti kena tampar... wah kira-kira orang tersebut siapa ya?"


a. tukang becaķ


b.tukang roti


c.hantu


d.isi sendiri ....


#Sampaijumpadiepisodeberikutnya.

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....


__ADS_2