
..."Each person is an enigma. You're a puzzle not only to yourself but also to everyone else, and the great mystery of our time is how we penetrate this puzzle."...
..._Theodore Zeldin_...
...(Setiap orang adalah teka-teki. Kamu adalah puzzle, tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk orang lain, dan misteri besar di zaman kita, adalah bagaimana kita menembus puzzle (teka-teki) ini.)...
.........
Persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Merupakan hal yang indah, terlebih jika keduanya mempunyai rasa yang sama. Namun, sering kali rasa itu yang membuat retakan demi retakan pada dinding-dinding kokoh yang selama ini mereka bangun. Karena sejatinya Persahabatan dan cinta merupakan sua hal yang sebenarnya berbeda rupa dan ruangnya.
Bima yang melihat sikap Cia merasa semakin kesal karena dirinya tak pernah merasa serius akan seuatu. Walaupun Bima merupakan ketua geng yang terkenal kejam dan bengis, tapi sebenarnya ia adalah pemuda yang sangat rajin belajar. Karena masa lalu yang kelam ia tak ingin itu terulang kembali pada kehidupan pribadinya dan juga Cia.
"Astaga, Cia!" keluh Bima, sembari menepuk jidatnya sediri.
Cia merasa heran, "Loe kenapa sih, Bim? Kurang makan atau kurang jodoh?" celetuk Cia.
"Loe yang kurang, tau gak!" cibir Bima.
Cia mengankat sebelah alisnya karena merasa heran den ucapan Bima. "Gue? Gue kurang apaan coba?" celoteh Cia membalas ucapan Bima.
"Ot*ak loe kurang serius," jelas Bima.
"Heleh, gue selalu serius kalau lagi berantem kok. Loe kan tau itu," celoteh Cia.
"Mulai gak waras ni anak, sekarang juga loe ikut gue," ajak Bima.
"Kemana? Warteg sebelah apa malakin anak-anak?" tanya Cia.
"Ikut aja kenapa sih, bawel banget jadi cewek," ketus Bima.
Cia hanya mengerucutkan bibirnya seraya terus mengikuti langkah Bima yang tengah menuntunya menuju suatu tempat.
__ADS_1
Tak lama jejak kaki mereka terhenti tepat di depan ruang perpustakaan sekolah. Cia yang sadar akan hal itu, langsung terlihat di wajahnya kekecewaan yang besar. Karena ia pikir, jika Bima akan mengajaknya ke tempat yang ia sukai seperti warteg, kantin sekolah, atau tawuran dengan geng sekolah lain.
Bagi dirinya, perpustakan itu adalah hal yang paling membosankan sekaligus menyimpan kenangan buruk yang mendalam bagi ia sewaktu kecil dulu. Dengan beberapa helaian nafas, Cia mencoba mengusir segala rasa ketakutannya itu.
"Ngapain sih bawa gue ke sini, gak ada tempat lain apa?" ketus Cia.
"Nanti siang loe ada ujian, jadi sekarang loe belajar sama gue di sini," jelas Bima.
Cia mengheryitkan keningnya seolah ia merasa muak dengan ucapan Bima. "Ogah bener gue belajar, kalau mau belajar loe aja deh. Gue gak ikutan." jelas Cia.
"Jangan banyak alasan! Sekarang loe ikut gue masuk sekarang!!" tihta Bima, seraya menarik lengan Cia masuk ke dalam perpustakaan.
Cia pada akhirnya mengalah dan mengikuti ucapan sahabatnya itu, karena di hati ia yang terdalam, jika sebenarnya dia sangat rindu dengan dirinya yang dahulu.
...***...
"Bagaimana pekerjaan kalian, apakah dia masih aman?" ucap Meriska berbicara di telepon.
"Bagus, kabari jika ada sesuatu," perintah Meriska.
Tuttt ... Panggilan berakhir.
Meriska berjalan menuju sofa yang tergeletak di ujung kamarnya, kemudian ia duduk dengan begitu elegannya.
"Permainan baru saja di mulai," ucapnya seraya terseyum tipis.
Di sisi lain, pengikut setia Bima dan beberapa anggota geng lainnya tengah berkumpul di sebuah lapangan luas yang jauh dari perkotaan. Di sana terdapat puluhan preman tengah berkumpul mejadi dua sisi kubu.
Sepertinya Pagi itu bukanlah pagi yang sejuk dan damai, seolah mentari telah berubah warna menjadi hitam. Tak ada yang terlihat indah di sana, pepohonan hijau serta bunga-bunga liar yang tumbuh pun seraya menjadi hitam dengan hadirnya mereka semua. Aura kebencian yang mendalam terlihat jelas di mata mereka masing-masing.
Ivan dan juga geng singa maut, sudah bersiap sejak semalaman penuh menyiapkan diri mereka masing-masing untuk memulai pertarungan yang akan banyak membawa korban selama ini. Satu- persatu dari mereka dengan tampang garangnya sudah siap dengan di dampingi senjata tajam yang mereka gunakan sebagai alat bertarung.
__ADS_1
"Menyerah saja kau br*ngsek. Minta maaf sekarang atau kau pilih mati!" hardik Ivan.
Rocky yang merupakan wakil ketua geng cakar kucing, ia tak sedikitpun merasa takut dengan ancaman dari Ivan. Malahan ia terseyum kecut seraya menatap tajam mata Ivan yang sudah membara untuk sekian lama.
Pertarungan ini bukanlah pertama kali mereka lalukakan, walaupun setiap kejadian ini, banyak korban yang telah berjatuhan hanya untuk rasa balas dendam semata.
"Jangan banyak cak*ap loe br*ngsek! Kalau takut mati, sebaiknya pulang dan tidur aja di bawah ketiak ketua abal-abal loe!" ledek Rocky.
"Gue peringatkan, jangan Loe berani menghina ketua kami. Kalau gak, pulanglah tanpa kepala kalian!" hardik Ivan.
"Banyak cak*ap!"
"Breng*sek! Cari mati ternyata." ucap Ivan sembari menatap tajam Rocky.
"Semuanya bunuh mereka semua tanpa ampun, ingat bocah itu bagian gue," jelas Rocky.
"Siap, Bos." seretak menjawab
"Serang sekarang!"
Masing-masing dari antar dua kubu saling melayangkan senjata mereka, Ivan dan Rocky juga saling melayangkan belati kewajah musuhnya. Suasana menjadi ricuh tak terkendali, wajah Ivan berhasil terkena sayatan tepat di samping lingkaran mata hingga membuat pola yang dalam. Tak tinggal diam, Ivan membalas sayatan itu hingga melukai lengan Rocky.
Sedangkan anggota lainnya sudah ada beberapa yang tergeletak terkena tusukan pisau, beberapa lainnya masih asik dengan irama kekerasan yang ada.
Semua saling sibuk menyerang dengan begitu bengisnya, yang mereka rasakan bukanlah rasa takut melainkan kebencian yang mendalam. Seolah-olah masing-masing mereka ingin menunjukan kekuatannya tersendiri.
Pertarungan terus berlanjut. Entah sampai kapan semua kegaduhan ini akan selesai, seolah waktu tak berputar sama sekali.
..._Bersambung_...
...Sampai jumpa di episode berikutnya, mohon bersabar jika author update lama....
__ADS_1
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....