JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#13


__ADS_3

..."Hal di dunia ini, tak pernah ada yang abadi. Begitu pula dengan cintaku dan juga kau."...


Dalam ruangan kamar Kiki sudah berjam-jam lebih, mondar-mandir tak karuan semenjak kepergian Cia. Awal niatnya ingin mengikuti kemana Cia akan pergi, tetapi rencana itu tak kunjung terlaksana.


"Sialan, karna anak haram itu gue jadi gak tenang gini," gumamnya.


Rasa penasaran akan apa yang Cia lakukan semakin membesar, hingga saat Ny.Meriska kembali pulang ke kediaman Keluarga Wijaya.


Tak lama, Meriska segera menuju kamar putri sulungnya itu selepas ia turun dari mobil. Di tangannya terdapat bingkisan kecil yang sengaja ia bawa untuk kado manis pitri kandungnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Sayang, kamu ada di dalam kan?" ucapnya lembut.


Ketukan pertama dari Meriska tak kunjung mendapat jawaban, tapi Meriska juga tak kunjung menyerah dengan sikap putrinya itu. Ia sengaja terus-menerus mengetuk pintu kamar, sampai akhirnya usaha itu membuakan hasil yang memuaskan.


Setelah sedikit perjuangan, pada akhirnya Kiki membukakan pintu kamarnya, walau dengan raut muka tak senang.


"Ada apa, Mama kemari?" ketus Kiki, sembari menatap kearah lain.


Meriska hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar putrinya tersebut.


"Mama, mau apa sih?"


"Ayo, kamu duduk dulu sayang. Mama sudah belikan kue favorite kamu loh," ucapnya lembut, sembari menaruh bingkisan itu di atas meja belajar putrinya.


Kiki sedikit tercengang mendengar ucapan Mamanya, jujur ia rindu ingin bermanja-manja seperti dulu dengan Meriska, walau rasanya hal itu tak mungkin lagi terjadi, karena kedatangan Cia di hidup mereka.


Meriska terus saja berjalan-jalan kecil keliling kamar putrinya tersebut, sesekali ia mencoba memegang beberapa benda, yang dimana terdapat kenangan banyak di sana.


"Wah, ternyata kamu masih menyimpan barang-barang yang Mama berikan dulu ya sayang. Lihat ada buku catatan pertama kamu, ada juga photo pertama kali saat kamu baru belajar berjalan, ada juga ini dan itu." Meriska mengutak-atik semua benda, yang terlihat olehnya.


Kiki merasa ada yang salah dengan Meriska hari ini, setelah pertengkaran hebat itu, ini pertama kalinya Meriska masuk kembali kedalam kamarnya. Bukan berarti, selama ini Meriska tak mencoba masuk, tapi Hanya saja Kiki yang terlalu keras kepala tak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Sekarang Mama bilang sama Kiki! Sebenernya Mama itu mau apa masuk kemari?" ucap Kiki terlihat kesal.


Mendengar itu, Meriska segera menghentikan aktifitasnya dan segera menghampiri Kiki yang sedari tadì masih berdiri tetap di depan pintu kamarnya.


Kemudian, Meriska mengulurkan tangannya seraya mengusap lembut di wajah sang putri. Kiki masih terbelalak merasa tak percaya apa yang baru saja Mamanya lakukan, sentuhan itu terasa meluluhkan gunung es yang selama ini telah membeku begitu lama.


Hatinya untuk sesaat kembali luluh dengan sentuhan itu, beberapa kali ia memejamkan mata untuk menikmati momen langka tersebut. Tapi, itu tak berlangsung lama, karena Cia tiba-tiba saja kembali hadir di sela pikirannya saat itu.


Kebenciannya kini kembali lagi dan dengan segera menepis sentuhan lembut Mamanya itu.


"Hentikan, Ma. Sekarang cepat katakan apa yang Mama mau dari Kiki?" ucapnya ketus sembari menatap kearah lain.


"Mama tidak ingin apapun, Mama hanya rindu dengan waktu kita berdua sayang," ucapnya sendu


"Jangan berbohong lagi, Ma. Cepat katakan saja Mama mau apa dari Kiki?" ucapnya semakin ketus

__ADS_1


"Baiklah, Mama ingin besok kita pergi bersama. Bagaimana?"


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Kiki sibuk. Sebaiknya Mama ajak saja anak haram itu,"


"Sayang, besok malam kita ada pertemuan dengan keluarga Adiputera. Papa ingin kita semua hadir bersama,"


"Keluarga Adiputera? Siapa mereka?"


"Mereka salah satu rekan bisnis Papa baru-baru ini, untuk merayakan-nyà, beliau meminta seluruh keluarga kita berkumpul untuk makan malam,"


"Anak haram itu juga ikut?"


"Kiki, jaga ucapan kamu, dia itu adik kamu bukan anak haram!"


"Kenyataanya memang seperti itu kan, Ma."


Meriska menghela nafas sesaat dan kemudian melanjutkan ucapanya. "Terserah kamu, yang penting Mama ingin kalian berdua ikut besok malam, dan Mama harap kamu dan Cia tidak membuat keributan,"


Kiki tak menjawab, ia hanya terus menatap ke arah lain, tak lama Meriska juga pergi dari sana dan segera menuju kamar putrinya yang lain.


Setelah membuka pintu, yang ada di sana hanyalah kamar kosong tanpa penghuni.


"Kemana lagi dia?" gumamnya.


"Bi Imah," ucapnya memanggil


Bi Imah datang dengan tergesa-gesa, "Iya, Nyonya. Ada apa?" ucapnya sopan.


"Cia kemana, Bi? Bukankah saya bilang jangan biarkan dia keluar lagi?"


"Maaf, Nyonya. Tadi saya lihat masih ada, ketika saya pergi sebentar ternyata Nona Cia sudah pergi lagi,"


"Bibi, tau dia pergi kemana?"


"Saya tidak tau, Nyonya."


"Yasudah, lanjutkan saja pekerjan, Bibi."


"Baik, Nyonya."


Meriska langsung menuju kamarnya untuk berbersih dan beristirahat. Tak lama suara dering ponsel miliknya berdering keras, membuatnya terbangun.


"Halo,"


"Bagaimana, Ma. apa anak-anak sudah setuju untuk rencana kita besok?"

__ADS_1


"Papa tenang saja, Mama akan coba membujuk keduanya. Tapi, apa ini gak terlalu cepat, Pa?"


"Cepat bagaimana sih, Ma. Sebentar lagi mereka akan lulus sekolah, dan ini kesempatan bagus kita."


"Tapi, Pa."


"Sudah, Mama turuti saja apa kata Papa. Dan malam ini Papa akan pulang larut malam, jadi kalian makan saja duluan."


"Baiklah, Pa."


Tutt ... Panggilan berakhir.


Meriska kembali menghela nafas dalam, seolah semua beban kini sedang menimpanya. Entah apa yang ia pikirkan.


...****...


Ruang tunggu Pasien.


"Dimana, Bima?" ucap Cia, yang sudah teramat panik akan kondisi sahabatnya itu.


"Kak, Cia. Kenapa bisa di sini?" ucap Boby.


"Gue tanyak dimana dia sekarang? Lo cepetan bilang, jangan banyak omong!"


"Maaf, kak Cia. Kak Bima sedang di ruang ICU."


"Apa! ICU?"


"Benar, Kak. Sudah 2 jam yang lalu tapi dokter belum juga keluar dari sana,"


"Sebenarnya apa yang terjadi, sampai dia bisa terluka parah! Kalian semua kemana saat dia menyerang balik! Dasar anggota gak becus! Lalu dimana Ivan? Bukankah dia harus selalu mendampingi, Bima?"


"Maaf, Kak. Kami sudah lalai."


Tiba-tiba, bugg ... Hantaman keras tangan Cia tepat mendarat ke dinding tepat sebelah wajah Boby saat itu, dan Boby hanya bisa tercengang atas perlakuan Cia. Dirinya adalah orang yang paling ditakuti setelah Bima. Bahkan, Cia juga terkenal lebih bringas dari Bima maupun Ivan ketika ia marah.


"Jangan banyak omong! Sekarang juga,


ceritakan semuanya dari awal!!"


"Baik, Kak." ucap Boby menurutinya.


Walaupun keringat dingin sudah jelas menumpuk di atas keningnya itu, ya bagaimana tidak, Cia merupakan gadis paling kejam dalam geng tersebut.


..._Bersambung_...


...Sampai jumpa di episode berikutnya...


...Berikanlah dukungan terbaik Anda....

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2