
...“Bunga yang telah gugur, takkan bisa kembali pada tangkainya. Begitu pula dengan perbuatan yang engkau lakukan.”...
...***...
Setelah Cia dan juga Jay menjenguk, Bima. Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Sesuai rencana awal. Pergi berkencan. Perjalanan mereka tidak lama, hanya beberapa menit kemudian. Mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah. Hari semakin gelap saja. Keduanya memutuskan untuk pergi makan.
Jay memakirkan kendaraanya. Kemudian turun, diikuti oleh Cia. Keduanya masuk kedalam restoran. Memilih tempat duduk dibalkon, dekat dengan pemandangan alam secara langsung. Dari sana Cia dan juga Jay bisa langsung melihat kerlap-kelip lampu kota secara keseluruhan. Sangat romantis dan tenang.
Jay langsung memesan beberapa makanan. Kemudian bersantai, menikmati pemandangan kota bersama Cia.
Cia tampa diam membisu, semenjak meninggalkan rumah sakit. Jay merasa penuh tanda tanya atas apa yang Cia pikirkan sedari tadi. Beberapa menit kemudian. Makanan yang sudah mereka pesan telah tiba, siap disantap.
“Makanlah.” Jay menatap Cia, sembari bersiap untuk makan.
Cia tidak menoleh, ia masih saja fokus kearah pemandangan yang ada. Dari raut wajahnya terlihat sangat syahdu dan menyedihkan.
“Cia. Loe denger gue kan?” Jay sedikit menaikan volume suaranya.
Cia menoleh, mentap Jay dengan kesal. “Gue gak budek, Jay. Kalau loe mau makan, ya makan aja sendiri. Heboh banget sih!” Cia kembali memalingkan wajahnya. Menatap pemandangan kota. Cia yang mendengar itu sedikit menoleh kearahnya.
“Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu.”
“Bersikan semua makanan, yang ada disini.” tihtanya.
“Baiklah, Tuan.” Pelayan tersebut dengan segera mengangkat semua makanan yang sudah tersaji diatas meja tersebut.
Cia mengkerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan sikapJay barusan. Jay menatap Cia dengan datar.
“Ada apa?”
“Gak ada. Gue heran aja, kenapa loe suruh pelayan itu bawa makanan kedapur. Bukannya loe belum makan apapun?” tanya Cia.
“Terserah gue. Lagian loe juga gak mau makan, kan!”
“Ngapa loe ngikut-ngikut gue segala? Kalau mau makan ya makan aja sendiri.” celoteh Cia.
“Gue mau makan, kalau loe juga makan.” Jay berkata santai.
“Makan sendiri aja ngapa sih, ntar loe sakit gue yang bakal kena imbasnya.”
“Perhatian sekali.” ledek Jay.
Wajah Cia seketika merah merona. Merasa malu atas apa yang Jay katakan padanya. Sesaat kemudian Cia memanggil seorang pelayan. Jay merasa heran.
“Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” ucap pelayan tersebut dengan sangat sopan.
“Gue mau pesen makanan yang dia pesen tadi. Buruan sajikan, jangan lama-lama.”
“Baiklah, Nona. Segera kami hidangkan.” Pelayan tersebut bergegas pergi.
Cia memalingkan wajahnya kearah lain. Tidak berani mentap Jay. Keadaan canggung. Sesaat kemudian, pelayan tersebut kembali lagi, menyiapkan beberapa makanan di atas meja. Kemudian berlalu pergi.
“Makan!” Cia bersiap menyantap hidangan didepannya.
“Bukannya tadi, loe gak mau makan ya?”
“Berisik! Udah makan aja kenapa sih. Gue tau loe kaya, tapi gak mesti buang-buang makanan juga kan. Loe harus bersyukur terlahir dari keluarga yang super berkecukupan.” Cia terus menatap Jay dengan tajam.
“Diluaran sana, masih banyak orang yang kelaperan. Bahkan, ada diantara mereka yang harus berjuang mati-matian hanya untuk sesuap nasi.” celoteh Cia.
Setelah berbicara begitu panjang. Cia langsung menyantap makanannya dengan lahap. Kebetulan, dirinya juga sangat lapar. Jay menatap Cia terus-menerus, ia tersenyum.
“Cih, dasar aneh!” Cia kembali memalingkan wajahnya dari Jay.
Beberapa menit sudah mereka lalui bersama. Namun, sedari awal mereka hanya diam membisu satu sama lain. Tidak tau apa yang akan dibicarakan. Hingga malam semakin larut, keduanya memutuskan untuk pergi dari sana. Pulang kerumah.
Jay mengantarkan Cia pulang kerumah. Kediaman Wijaya.
Setibanya sampai, Cia langsung saja turun dari mobil. Lengkap dengan muka masamnya. Ketika Cia hendak melangkah masuk, Jay langsung memanggilnya.
“Tunggu!” ucapnya yang masih berada didalam mobil.
Cia berbalik, menatap Jay dengan datar. “Apa lagi? “
“Gue Cuma mau bilang. Terima kasih untuk malam ini. Thanks udah mau nemenin gue.” ucap Jay dengan sedikit sendu. Kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Hah? Ngapain pakek makasih segala sih, lebay banget.”
Jay tersenyum lebar. Menatap Cia dengan sangat dalam. “Ya, walau bukan kencan sungguhan. Setidaknya loe ada disamping gue malam ini. Karena itu, gue ucapin makasih. Selamat malam.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Jay langsung mengemudikan mobilnya. Berlalu pergi. Meninggalkan Cia yang masih saja bingung.
Cia segera memasuki ruang utama. Disana sudah ada Meriska yang menunggunya. Duduk bersantai, sembari meminum sebuah susu hangat. Melihat kedatangan Cia, Meriska langsung beranjak dari duduknya, datang menghampiri Cia.
“Selamat datang, sayang.” Meriska mencoba memeluk Cia.
Cia mengakat alis, melangkah mundur. Menghindari pelukan tersebut.
“Aku lelah. Mau istirahat dulu.”
Meriska tau, jika hal tersebut sengaja Cia katakan, agar dirinya tak bisa mendekatinya sama sekali. Meriska tersenyum, sedikit membelai rambut Cia.
“Baiklah, Mama akan bawakan susu hangat untukmu nanti. Kamu naiklah, dan bersikan dirimu dahulu.”
Cia tidak menjawab, ia mengacuhkan segala hal tentang Meriska. Kemudian berlalu pergi. Masuk kedalam kamar.
Beberapa saat kemudian. Meriska menghampiri kamar putri bungsunya tersebut. Mengetuk pintu, kemudian masuk kedalam kamar.
“Cia, Mama masuk ya, sayang.” Meriska melangka masuk. Meletakan segelas susu hangat diatas meja belajar.
Cia keluar dari kamar mandi, dan ia terkejut ada Meriska disana.
“Nyonya. Kenapa Anda ada disini?” tanya Cia heran.
“Kamu ini bagaimana sih, sayang. Mama kan membawakan susu hangat untukmu.” Meriska mengambil gelas tersebut, kemudian memberikannya pada Cia. “Minumlah, biar tidurmu nyenyak.” Meriska tersenyum lebar, seperti biasa.
Cia menerima gelas susu tersebut.
“Terima kasih, Nyonya. Tapi lain kali Anda tak perlu repot-repot.” ucapnya datar, kemudian meneguk habis susu hangat itu.
Meriska tampak senang. Kemudian kembali memberikan sebuah sentuhan lembut diatas kepala Cia. “Sekarang istirahatlah.”
“Oke.”
“Hem, tapi Mama mau bertanya. Apakah boleh?”
“Katakan saja, Nyonya.”
“Hadiah apa? Untuk siapa?” Cia merasa kebingungan, atas kata-kata Meriska.
“Apa kamu tidak memberika hadiah padanya, sayang?” Meriska ikut bingung.
“Tidak. Lagipula, siapa yang harus aku berikan hadiah?” Cia mengangkat sebelah alisnya. Masih saja bingung.
“Hadiah untuk tunanganmu, Jay.”
“Jay? Untuk apa aku memberikannya hadiah?” Cia makin mengekerutkan keningnya.
“Eh, bukanya hari ini adalah ulang tahunnya. Jangan bilang kamu tidak tau itu, sayang?” selidik Meriska pada Cia.
Cia terbelalak. Meriska benar, Cia baru mengetahui jika hari ini adalah hari spesial Jay.
“Apa! Jadi malam ini, Jay berulang tahun. Apa ucapan terima kasihnya tadi untuk ini?” Cia bermain dalam pikirannya.
“Sayang. Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada. Tapi, kenapa orang sepenting dia hari ulang tahunnya tidak dirayakan?”
Meriska melukiskan senyumannya.
“Kata siapa tidak dirayakan, justru besok akan ada perayaan besar-besaran di rumah mereka.” jelas Meriska.
“Ouh, gitu.”
“Baiklah, sekarang kamu istirahatlah. Selamat malam.” Meriska pergi dari sana.
Cia langsung terduduk diatas ranjangnya. “Apa itu alasannya dia terlihat sedih seharian ini. Tapi apa urusannya sama gue?”
Cia teringat apa yang Jay katakan. Jay mengucapkan terima kasih padanya karena ia ada bersamnaya malam ini. Tiba-tiba saja, Cia merasakan ada hal aneh dalam dirinya. Ia merasa ikut merasakan apa yang Jay rasakan. Kesendirian dimalam spesial bukanlah hal yang menyenangkan. Sangat menyakitkan. Cia mulai merasa bersalah pada Jay.
“Bodoh banget gue. Pantesan aja dia terlihat murung hari ini.” Cia mengingat kembali tingkahnya hari ini. Merasa kesal sendiri tas sikapnya.
__ADS_1
Segera Cia langsung mengambil ponselnya. Mencoba mengirim pesan pada Jay. Ingin meminta maaf. Dirinya paling tidak bisa menyakiti hati seseorang.
“Kampret, mana sih nomornya. Kok gak nemu-nemu dari tadi!”
Cia merasa kesal. Sedari tadi ia mencari kontak Jay, namun tidak ditemukan. Kemudian ia tersadar.
“Bodoh! Gue aja kagak pernah minta nomor dia. Gimana bisa punya.” Cia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Lagian, di sini cuman ada nomor, Bima.” Sesaat kemudian Cia tertawa. Menertawakan kebodohannya yang sudah naik level.
“Besok aja deh, gue minta maaf sama dia.” Cia berbaring diatas ranjangnya.
Kemudian ia beranjak dari sana.
Menuju meja belajar. Membuka sebuah laci mini. Mengambil sesuatu dari sana. sebuah liontin biru. Kemudian ia kembali merebahkan dirinya diatas ranjang. Menatap liontin tersebut dengan penuh dengan penuh sendu.
“Selamat malam, Ma. Cia sangat rindu dengan Mama.” Cia mencium lembut liontin tersebut. Kemudian menggenggamnya dengan begitu erat. Dan, tertidur pulas.
Di lain sisi. Kediaman Adiputera.
“Selamat malam, Ma. Hari ini Mama juga gak datang ya. Hem,” Jay menatap sebuah album. Sedikit tersenyum dibalik kesenduhannya. Kemudian beranjak tidur.
...***...
Sinar sang mentari telah menyinari seluruh Bumi. Semua aktivitas yang terhenti telah dimulai kembali.
Kediaman Wijaya dan juga Adiputera sama-sama sibuk. pagi yang sangat cerah. Kini, Cia dan juga Kiki telah sampai disekolah. Seperti biasa mereka selalu saja berpisah, seolah tak mengenal satu sama lain.
“Pagi, Kak.”
Suara sahutan sedari belakang, membuat Cia menoleh.
Telah berdiri tiga murid wanita disana. Tersenyum lebar. Memasang wajah penuh semnagat. Cia mengkerutkan keningnya, merasa heran. Terlebih dirinya tak mengenal satupun diantara ketiga-nya.
“Ada apa?” tanya Cia.
Ketiganya tersenyum lebar lagi. Hinga salah satu dari mereka menyodorkan sebungkus bubur kepada Cia.
“Apa ini?”
“Ini bubur untuk, Kakak.” ucap Lea.
“Mohon diterima, Kak.” pinta ketiganya.
“Kalian bertiga siapa? Kenapa tiba-tiba kasih gue beginian?” selidik Cia lebih lanjut.
“Nama saya Lea, Kak.”
“Saya, Dira.”
“Dan, saya Mirna, Kak.”
“Kami ini yang pernah ketemu Kakak di lorong sekolah.” jelas Lea.
Cia bersikap mengingatnya. Akan tetapi ia sama sekali tidak ingat. “Ouh, ya … ya.” Ia berlagak seolah sudah ingat semuanya. “Lalu, ini bubur buat apaan?”
“Bubur ini, untuk Kakak. Kami ingin berteman lebih dekat dengan Kak Cia. Apakah boleh?” ucap Dira.
“Gak salah tu? Mau temenan sama gue?”
Ketiganya mengangguk. Cia mengkerutkan keningnya. Pasalnya, ia baru pertama kali bertemu dengan situasi seperti itu. Ajakan pertemanan.
“Emang kalian ber-tiga gak pernah denger gosip tentang gue?”
“Kami dengar gosip itu, Kak. “ ucap Mirna.
“Lalu? Ngapa masih mau temenan sama gue?”
“Karena kami percaya, kalau Kak Cia sebenarnya adalah orang yang baik.”
Lea, Mirna dan juga Dira. Mereka tersenyum lebar bersama-sama.
Cia melebarkan matanya. Ia seketika merasakan perasaan hangat. Tersanjung atas apa yang ia dengar.
“Kenapa mereka tersenyum seperti itu buat gue, dan perasaan apa ini. Rasanya ada kebahagiaan yang masuk dalam hati gue.” batinnya.
__ADS_1
..._Bersambung_...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI. THANKS....