
Keesokan harinya.
Cia membuka matanya. Ia melihat Jay sudah berada didekatnya. Tertidur.
"Kenapa dia tidur disini?" batinnya.
Tangannya perlahan menyentuh dengan lembut rambut Jay. Ada rasa kesenangan didalam hatinya.
"Gue baru sadar kalau rambutnya halus banget," gumam Cia.
Sementara tangan Cia yang lain, ia gunakan untuk menyentuh rambutnya sendiri.
"Wah rambut gue kasar. Kok bisa Jay punya rambut selembut ini," gumamnya lagi.
Jay sedari tadi sebenarnya sudah bangun saat Cia menyentuh rambutnya, namun dengan sengaja ia bersikap untuk pura-pura tidur. Diam-diam Jay tersenyum mendengar gumaman dari Cia. Rasanya waktu ingin terus seperti itu. Nyaman dan ingin terus dimanja seperti itu.
Cia terus saja menyentuh rambut milik Jay. Ia nyaman akan kelembutan yang ia dapatkan dari menyentuh rambutnya. Tanpa ia sadari jika Jay memang sudah bangun sejak tadi.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Bima datang. Dengan secepat kilat Cia menyingkirkan tangannya dari kepala Jay.
"Eh, Bima. Kapan loe Dateng?" tanyanya basa-basi.
"Pagi Cia. Gimana kabarmu pagi ini?"
Bima berjalan masuk. Tentu saja itu membuat Jay segera mengangkat kepalanya dan menatap Bima dengan sangat tajam. Bagiamana tidak, kesenangan itu harus berakhir dengan cepat karena kehadiran dirinya yang menggangu.
Bima tentu saja merasakan aura yang menusuk kepadanya. Namun ia tak pernah menghiraukan itu.
"Eh, Jay loe udah bangun," ucap Cia kikuk.
Jay hanya diam seribu bahasa. Ia memijat lehernya dengan pelan. Kemudian beranjak dari duduknya.
"Gue keluar sebentar, beliin sarapan dulu buat loe," ucapnya pelan.
"Gak perlu, Jay. Gue udah bawa sarapan buat Cia." Bima menunjukkan beberapa makanan yang ia bawa kewajah Jay.
"Cia itu sakit. Dia harus makan-makanan yang sehat, bukan makan yang gak higenis seperti itu!"
"Oh ayohlah. Ini juga sehat, lagian gue masak sendiri dari rumah," balas Bima.
"Justru kalau loe yang masak itu makin gak sehat!" balas Jay lagi.
"Justru kalau gue masak itulah yang terjamin kesehatannya, kan gue masak pakai bahan seger,"
"Loe itu bukan koki yang udah punya sertifikat resmi. Jadi gue gak akan percaya akan kesehatan makanan itu! Biar koki gue aja yabg buat makanannya," balasnya lagi.
"Bilang aja loe gak bisa masak kan?" ledek Bima.
"Bisa atau gak itu juga bukan urusan loe!"
Keduanya sudah tampak saling menikam hanya dengan tatapan mereka. Perang dingin serasa menyelimuti seisi ruangan. Tentu saja, hanya Cia yang merasakan itu.
"Mau sampai kapan kalian bertengkar? Kalau mau lanjut, silakan kalian berdua keluar sekarang!!" ancam Cia.
"Sebaiknya loe keluar Bim!" tithta Jay kesal.
"Haha ... Loe gak berhak suruh gue pergi dari sini. Gue akan tetap disini!"
"Kalian itu bisa diem gak sih? Berisik!!"
Keduanya hanya saling menatap. Cia menepuk jidatnya sendiri. Tidak mengerti akan kelakuan kedua pemuda tersebut.
__ADS_1
"Bima," panggil Cia.
"Ya, kenapa Cia?"
"Siniin tu makanannya," pinta Cia.
Bima langsung memberikan makanan tersebut. Jay tampak semakin suram. Namun Bima, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Merasa bangga.
"Jay, Bima duduklah. Kita makan bareng-bareng," tihta Cia.
"Maaf. Tapi gue gak Sudi makan bareng dia!"
"Cih, gue juga gak sudi!"
"Emang kalian ini bocah? Duduk gue bilang! Kalau gak mau biar gue makan sendiri dan kalian keluar sana!" sungut Cia yang sudah kesal.
Seketika keduanya duduk berseberangan arah. Bima di posisi kanan dan Jay di sebelah kiri.
Jay langsung mengambil dengan paksa bungkus makanan tersebut.
"Sininin, gue mau cek apa ini sehat atau kagak!"
"Jay, itu pasti sehat. Gue sering kok makan-makanan yang dimasak Bima,"
Bima tersenyum lebar. Merasa bangga untuk kesekian kalinya. Sedangkan Jay semakin tampak suram.
Beberapa saat kemudian, Jay langsung saja meletakan kembali makanan tersebut diatas tangan Cia. Ia teramat sangat kesal.
"Gue keluar dulu!"
Hanya sepatah kata itu, Jay langsung pergi meninggalkan ruangan dengan kesal. Cia merasa sedikit bersalah.
"Makasih Bim," balas Cia.
"Perlu gue suapin gak?"
"Gak usah, Bim. Gue juga udah baik-baik aja."
Cia memutuskan makan dengan tangannya sendiri. Penolakan tersebut membuat Bima juga ikut merasa sedih.
Beberapa saat kemudian. Saat Cia sudah selesai makan, namun Jay tak kunjung kembali. Tanpa sadar ia terus memperhatikan pintu. Berharap akan kehadiran Jay disana.
"Itu anak kenapa sih gak balik-balik lagi. Apa dia beneran kesel sama gue ya," batinnya.
"Gue lihat, sekarang loe suka sama Jay ya Cia?" tanya Bima.
"Eh, gak kok."
Seketika Cia menjadi gagap. Dirinya saja tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi.
"Gue gak masalah kalau loe suka sama siapapun. Asal gak dengan Jay!"
"kenapa dengan Jay?"
"Sudahlah. Gue mau pergi sekolah dulu," tuturnya.
Bima tidak ingin membahas dengan lebih lanjut. Ia tersenyum tipis sembari mengacak sedikit rambut milik Cia.
"Gue hampir lupa, kalau gue udah beberapa hari gak masuk," gumam Cia.
"It's ok, Cia. Nanti gue yang bilang ke guru kalau loe lagi sakit. Tapi tumben bener loe peduli akan sekolah. Biasanya mau sekolah atau gak juga gak peduli kan," ledek Bima.
__ADS_1
"Gue kangen buat onar di sekolah soalnya. Haha ..."
"Dasar,"
Bima kembali mengacak lembut rambut Cia. Tentu saja hal itu membuat Cia merasa sedikit malu.
"Kalau gitu, gue pergi dulu ya. Loe jaga diri baik-baik."
"Loe juga hati-hati dijalan ya Bim."
"Iya bawel,"
"CK, loe kali yang bawel."
Keduanya saling tertawa ringan. Akhirnya Bima pergi dari sana. Suasana kembali hening. Cia teringat kembali akan Jay yang memang tak kunjung datang.
"Dia beneran ngambek ya, lama amat baliknya kemari," sungutnya.
Cia beranjak dari bangkarnya. Ia merasakan sekujur tubuhnya masih amat lelah dan terasa sangat lemas.
"Gue pingsan tapi kenapa bisa selemas ini sih, ni badan udah kek nenek-nenek, letoy amat," makinya pada dirinya sendiri.
Perlahan namun pasti, akhirnya ia berhasil turun dari bangkar. Cia berniat keluar sejenak untuk menghirup udara segar. Perlahan-lahan dan tertatih-tatih ia berjalan keluar ruangan. Sampai diluar ruangan, ia melihat sekeliling yang terlihat sunyi.
Cia menelusuri lorong rumah sakit. Ruangannya tepat berada di ujung lorong. Tempat VVIP. Pantas saja sekitar ruangannya tidak ada pasien lain. Pikirnya.
Semakin ia berjalan semakin pula ia merasakan tubuhnya semakin terasa lemas. Jantungnya juga berdetak dengan sangat cepat. Kepalanya kembali merasakan pusing yang teramat sakit. Berulang kali ia memegang kepala dan jantungnya. Cia hampir sampai pada Lift. Ia segera menekan tombol. Tapi sayang, ia lebih dulu jatuh kedasar lantai. Pingsan.
Kebetulan Jay kembali. Saat hendak keluar dari lift, betapa terkejutnya dia melihat Cia sudah berada dihadapannya dan sudah tidak sadarkan diri.
"Cia!" teriak Jay.
Dengan sigap ia menyentuh Cia yang sudah terkulai pingsan.
"Cia, bangun. Loe kenapa?"
Sorot mata Jay teramat sangat takut dan cemas. Dengan segera ia langsung menggendong Cia kembali ke ruangannya. Meletakkan ia diatas bangkar.
Jay menekan tombol tepat di belakang bangkar. Sebuah tombol yang otomatis bisa tersambung dengan dokter pribadinya disana.
Titt ...
"Cepat datang kesini. Dia pingsan!"
"Baik."
Sang dokter bergegas keruangan Cia. Sedangkan Jay sudah sangat cemas karena Cia kembali tak sadarkan diri.
"Kenapa dokter itu lambat sekali datangnya!"
Jay menepuk pelan pipi Cia. "Sadarlah. Hei!! Jangan buat gue terus-terusan takut!" makinya.
Sampai beberapa saat sang dokter datang keruangan bersama beberapa suster.
"Maaf tuan, silakan tunggu di luar."
Jay langsung menyingkir dari sana. Memberikan peluang untuk dokter dan suster di situ memeriksa kondisi Cia. Ia segera keluar dari ruangan. Menatapnya hanya dari kaca pintu. Ia kembali teringat akan kenangan pahit saat kecil. Melihat Cia kembali mengingatnya akan sosok Ibunya dahulu.
Bersambung ...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....
__ADS_1