JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#41


__ADS_3

...“Ketika kamu lelah akan hidupmu sendiri, cobalah lihat kehidupan orang lain. Mungkin saja, kamu akan menemukan arti sesungguhnya dari kehidupan.”...


...


.


.


.


Sepanjang perjalanan, Cia menangis seorang diri. Tangannya yang terluka, ia biarkan begitu saja. Rasa sakit yang dirinya rasakan, terasa lebih menyakitkan dari apapun juga. Kenangan yang tidak ingin ia ingat, kini harus terbuka kembali. Dan meninggalkan jejak yang dalam baginya.


Kediaman Adiputera.


Adiputera dan juga Jay sarapan bersama.


“Bagaimana dengan pestamu tadi malam, Jay?”


“Sangat bagus, Pa.”


Jay tersenyum, sembari melanjutkan sarapannya.


“Sangat bagus? Apa ada hal yang membuatmu senang tadi malam?” tanya Adiputera.


Jay teringat kembali, akan kenangannya bersama Cia. Hal itu, lagi-lagi membuatnya untuk tidak tahan untuk tersenyum.


“Ya. Sepertinya memang ada sesuatu,” gumamnya.


“Sesuatu?” Adiputera sama sekali tidak mengerti.


“Ehem, bukan apa-apa, Pa.”


Jay seketika kikuk. Ia merasa malu, jika membicarakan kenangan malam itu. Kenangan saat dirinya, mendapatkan pelukan hangat pertama kali, dari seorang Cia.


“Sungguh?”


Jay hanya mengangguk, kemudian langsung saja meneruskan sarapannya. Bergegas pergi ke sekolah.


Sekolah.


“Hai, Bim. Gimana kabar loe, udah baikan?” tanya salah seorang teman kelas.


“Gue baik.”


"Maaf ya, kami gak sempet jenguk loe di rumah sakit,"


"Iya. Gak apa."


"Eh katanya loe masuk ICU karena di hajar Sama orang gak dikenal ya?" tanya siswi lainnya.


"Bukan. Kemaren Karna gue kecelakaan aja," jelas Bima.


"Bagaimana kabar itu sampai ke mereka." batinnya.


"Ouh. Gitu ternyata."


Teman-teman kelas datang secara bergantian. Bertanya bagaimana kabar Bima selepas keluar dari rumah sakit.


Tak lama setelah itu, terlihat sudah Kiki dan juga dua temannya, Cuki dan Ciki berjalan memasuki ruang kelas.


Bima hanya menatapnya, seraya mencari keberadaan Cia. Namun, tak juga ia dapati.


“Kenapa dia belum datang juga ke sekolah? Apa hari ini juga gak masuk lagi,” batin Bima.


Kiki dan kedua temannya duduk pada kursi mereka masing-masing. Menyingsingkan tas yang mereka bawa. Kiki tersadar, jika Bima sedari tadi sedang menunggu seseorang.


Kiki mulai beranjak dari duduknya.


“Eh, loe mau kemana Ki?” tanya Cuki.


“Iya ni. Bentar lagi masuk kelas loe, pelajarannya Pak Budi,” timpal Ciki.


“Gue Cuma mau kesana bentar,” ucapnya seraya melemparkan pandang kepada Bima.


Keduanya seraya melemparkan pandang, kepada apa yang Kiki tujukan.


“Ngapain loe ke tempat Bima? Bukannya kalian itu musuhan ya?” tanya Cuki lagi.


“Ada urusan sebentar.”


Kiki langsung saja datang menghampiri Bima.


“Nyari siapa?”


Bima menatap kiki heran.


“Nyari Cia, ya?” ujarnya lanjut.

__ADS_1


“Iya.”


“kemungkinan dia gak bakal masuk deh,” ucapnya santai.


“Jangan sok tau! Pergilah dari sini, gue gak mau ngomong sama loe.”


Bima mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Tentu aja gue tau. Gue kan tinggal bareng dia, loe lupa ya, Bim.” ejeknya.


Bima kembali menatap Kiki. Kali ini tatapan itu semakin suram.


“Sebenarnya loe mau bilang apa ke gue?” ucap Bima tanpa berbasa-basi.


“Gue Cuma mau bilang. Pagi ini, dia dan juga Papaku mereka bertengkar lagi. Pertengkaran yang sangat hebat,” ucapnya sumringah.


“Bertengkar? Kali ini karna apa lagi?” tanya Bima.


“Soal itu, tanyakan aja langsung sama orangnya. Gue cuman kasihan aja, pagi ini Papa berulang kali menampar pipinya dengan sangat keras. Ihhh pasti sakit banget tuh rasanya.” Kiki tersenyum lebar, seraya menatap Bima dengan senang.


“Apa! Dia di tampar?” Bima langsung bangkit dari duduknya.


Suara Bima menarik perhatian seluruh siswa yang berada di dalam kelas.


Kiki mengangguk.


Bima mengepalkan tangannya. Kiki melihat itu dan semakin tersenyum lebar, seakan menikmati semua peristiwa tersebut.


“Gue saranin, sebaiknya segera bawa pergi anak haram itu deh. Dia udah terlalu sering buat ulah. Buat gue terlalu muak!” ucapnya seraya berbisik kepada Bima.


Pemandangan seperti itu, sangat membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham. Diantara siswa yang masih berada di dalam kelas, mereka langsung berbisik satu sama lain.


Tanpa ragu, Kiki langsung melontarkan pandangan tajamnya, kearah seluruh penjuru kelas. Seakan mengatakan. ‘Jangan ikut campur!’. Melihat tatapan tersebut, mereka semua langsung berlari keluar kelas. Tidak ingin terlibat terlalu dalam.


“Cukup! Sekali lagi loe menghina Cia, gue akan …”


“Akan apa?” tanya Kiki, yang langsung memotong pembicaraan tersebut.


“Gue juga bisa hancurin hidup loe, Bim. Tapi gue gak lakuin itu, karna gue sama sekali gak punya masalah sama loe. Tapi dia(Cia) sampai kapanpun, gue akan tetap benci dia!” ucapnya berbisik kepada Bima.


Bima menatap Kiki tajam. Namun, tatapan itu seakan Kiki juga ikut membalasnya.


"Gue juga bisa buat loe hancur, Kiki!!" ancam Bima.


“Gue tau loe marah. Tapi, loe jangan pernah lupa, Bim. Dalam kisah ini bukan hanya anak itu yang terluka, tapi gue juga!” ujarnya lanjut.


Bima mengepalkan tangannya begitu kuat. Sesaat sebelum ia pergi, dirinya melampiaskan amarah itu, dengan memukul meja belajarnya sendiri dengan kuat. Kemudian bergegas keluar kelas.


"Eh tu Bima kenapa bisa sampai marah gitu? Loe apain Ki?" tanya Ciki.


"Kita tadi juga lihat, loe pakai acara bisik-bisik segala sama dia. Loe suka ya sama Bima?" timpal Cuki.


Kiki menghela nafas. Menatap kedua temannya dengan santai.


"Jangan terlalu kepo jadi orang. Kalian mau gue buat sengsara juga," ancam Kiki.


"Ye, cuman nanyak doang juga. Gak asik akh," celoteh Ciki.


"Intinya kalian tinggal saksikan aja pertunjukannya." Kiki tersenyum lebar.


**


Di depan gerbang sekolah.


Cia memasuki halaman sekolah. Ia juga masih membiarkan lukanya terus terbuka, darah segar yang terus menerus menetes, jatuh pada hamparan bumi. Setiap murid yang ia lewati, selalu saja berbisik dan memandang Cia yang terlihat kacau pagi itu.


Cia mengacuhkan segalanya. Dirinya terus saja berjalan. Menelusuri lorong-lorong sekolah. Menuju ke kelas.


Tepat sebelum masuk ke dalam kelas. Ia berpapasan dengan Bima, yang juga hendak keluar kelas. Mereka saling terkejut dan menatap beberapa saat.


“Cia, loe baru dateng,” sapa Bima.


“Hem.” Cia menjawab singkat.


“Apa loe baik-baik aja?” tanya Bima.


Cia hanya mengangguk. Bergegas masuk ke dalam kelas. Sesaat ketika itu. Darahnya terus saja menetes, meninggalkan jejak di lantai kelas.


“Ada apa dengannya? Apa karena permasalah pagi ini dengan Papa-nya?” batin Bima.


Tanpa sengaja. Bima melihat bercak darahnya.


“Darah siapa ini?” gumam Bima.


Bima mengarahkan pandangannya kepada Cia yang sudah masuk ke dalam kelas. Di sana ia melihat darah yang menetes dari telapak tangannya.


Tanpa ragu. Bima kembali masuk dan menghentikan Cia.

__ADS_1


“Tunggu, Cia.”


“Kenapa lagi, Bim?”


"Ayo ikut gue," ajaknya.


"Kemana sih?"


Bima menatap sekilas luka tersebut. Tanpa ragu, Bima langsung saja menarik Cia keluar dari kelas. Menuntutnya menuju ruang Kesehatan.


Ruang UKS.


"Ngapain sih ngajak gue kesini?"


"Apa lagi kalau gak obati luka loe!"


Bima seakan semakin kesal. Xia sama sekali tidak memperdulikan dirinya sendiri.


"Cuma luka dikit doang. Jangan lebay deh, Bim," keluhnya.


"Diamlah!"


Bima meminta dokter yang bertugas di sana untuk segera membersihkan luka Cia. Bima tetap menanti tepat di samping Cia.


"Bagaimana kamu bisa terluka? Lukanya juga cukup dalam," tanya dokter tersebut.


"Gak sengaja jatuh."


"Lain kali, lebih berhati-hatilah. Untung saja segera di obati, kalau tidak akan jadi infeksi."


Cia diam membisu. Dokter siap membalut luka Cia.


"Makasih, Dok."


"Sama-sama."


Dokter tersebut berlalu pergi. Meninggalkan Bima dan Cia berdua dalam ruang kesehatan.


"Coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."


Cia hanya menatap Bima. Diam membisu.


"Apa loe bertengkar lagi dengannya?"


Cia mengalihkan pandangannya. Tidak berminat sama sekali membahas hal yang akan membuatnya marah.


"Cia, tatap gue," pinta Bima.


"Gue mohon sama loe. Ini terakhir kalinya untuk loe lukai diri sendiri," ucap Bima lanjut.


"Kenapa loe peduli banget sama gue, Bim?" tanya Cia sendu.


Bima menggenggam tangan Cia dengan lembut.


"Apa hal itu perlu di tanyakan. Gue udah pernah janji buat selalu lindungi loe kan," jawabnya.


"Iya. Gue tau. Tapi kenapa loe begitu baik sama gue yang cuma anak haram ini."


"Cukup, Cia! Loe bukan anak haram. Semua kesalahan orang tua loe, semua itu bukanlah kesalahan loe juga."


"Tapi faktanya gue yang harus bertanggungjawab, Bim. Gue," ucapnya semakin sendu.


"Sudahlah. Jangan bicarakan hal itu lagi. Sebentar lagi kita akan ada ujian kelulusan. Lebih baik loe bisa fokus dengan itu," bujuk Bima.


Cia tersenyum getir. "Haha, apa itu masih penting sekarang. Mau gue lulus atau gak hasilnya akan sama aja kan. Lalu buat apa gue harus bersusah payah."


"Tentu aja ada bedanya. Saat loe bisa lulus dengan nilai terbaik. Loe akan dapat beasiswa. Loe tau apa artinya itu?" Bima menyentuh dagu Cia untuk menatapnya.


"Itu artinya loe bisa hidup tanpa bantuan dari Pak Agung. Itu artinyoe bisa wujudkan impian Mama loe. Dan itu artinya loe bisa tunjukkin sama semua orang kalau Ciaku adalah wanita hebat yang gak mudah untuk di remehkan," jelas Bima menatap yakin.


Beberapa saat Cia hanya menatap Bima. Ia seakan memikirkan apa yang Bima katakan padanya adalah benar.


Belajar dan bisa mendapatkan beasiswa. Adalah salah satu keinginan Keysa yang sempat ia lupakan dulu.


Seketika Cia memeluk Bima dengan erat. Ia merasa sangat bersyukur masih ada Bima di saat terpuruknya.


"Makasih, Bim. Loe selalu ada buat gue."


Bima membelai rambut Cia dengan lembut. Membalas pelukan tersebut.


"Gue janji akan jadi lebih kuat lagi demi loe, Cia. Dengan begitu gak akan ada lagi yang bisa nyakitin loe. Gue janji." batin Cia.


Mereka berpelukan cukup lama. Hanyut dalam perasaan tersebut. Sedangkan Jay yang sedari tadi berada di depan pintu. Melihat segalanya. Hatinya merasakan sakit.


"Loe hanya milik gue Cia. Sebentar lagi loe akan jadi milik gue seutuhnya. Gak akan ada yang bisa menghalangi itu, bahkan termasuk Bima sekalipun." batin Jay.


_Bersambung_

__ADS_1


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.


__ADS_2