
^^^"Sifat serakah seseorang memanglah kuat, namun sifat itu akan menjadi Boomerang bagi dirinya sendiri suatu saat."/Lasceria.^^^
...****...
"Anda mau minum apa?" tanya Adi seraya menekan nomor telepon. Menelpon sekretarisnya.
"Tidak perlu repot-repot, saya hanya sebentar mampir kesini. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan mengenai perjodohan anak kita," jelasnya.
Adi menghentikan aktifitasnya. Ia meletakkan kembali telepon yang ia pegang. Duduk di hadapan Agung. Fokus mendengarkan.
"Apa ada masalah dengan perjodohan ini?"
"Tidak ada. Saya hanya ingin pernikahan kedua anak kita disegerakan," pinta Agung.
"Bukankah sudah kita sepakati dari awal, jika pernikahan ini akan terjadi setelah mereka lulus nanti."
"Saya paham itu. Tapi saya hanya ingin mereka cepat menikah," pintanya kembali.
Agung berbicara dengan penuh keyakinan dirinya. Adiputra melihat kesungguhan itu.
"Kenapa terburu-buru? Apa terjadi masalah? Saya juga berhak tau alasan pasti Anda menginginkan pernikahan ini segera terlaksana bukan, lagipula ini bukan hanya sekedar pernikahan biasa, melainkan transaksi bisnis untuk perusahaan kita berdua."
"Tidak ada. Saya hanya takut, jika pernikahan mereka akan di batalkan nantinya."
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu Tuan Agung. Saya seorang pebisnis dan Anda juga. Saya akan tetap menepati sesuai kesepakatan kita di awal."
"Baiklah. Saya akan percaya pada janji yang anda buat."
"Sikapnya mencurigakan," batin Adi.
Seketika Agung berdiri dari duduknya dan mengulurkan jabatan tangan kepada Adiputra.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya juga ada keperluan lain, jadi saya harus segera pergi. Saya harap tuan bisa menepati janji itu." agung menatap yakin.
Adiputra berdiri sembari menerima uluran tangan tersebut.
"Saya tidak akan pernah menarik kembali janji yang sudah saya ucapkan. Anda tidak perlu khawatir. "
"Kalau begitu saya pamit undur diri dahulu. Maaf sudah menyita waktu berharga Anda." Agung melonggarkan jabatan tangan tersebut.
"Baiklah. Hati-hati dalam perjalanan." basa-basi Adiputera.
"Terima kasih atas perhatian Anda."
Agung meninggalkan ruangan tersebut. Selang berapa waktu, Adiputera segera merogoh kantongnya dan menelpon seseorang.
__ADS_1
"Cari tau apa yang dilakukan olehnya akhir-akhir ini. Laporan semua tanpa terkecuali." Tihtahnya.
Setelah itu Adiputera langsung menutup telponnya dan duduk pada kursi kerjanya tersebut. Sembari melonggarkan sedikit dasi yang ia kenakan.
"Sebenarnya apa yang membuatnya terburu-buru seperti itu," gumamnya.
...***...
Rumah sakit.
Jay terus saja memandang wajah Cia yang terlelap akan tidurnya. Tangannya yang secara perlahan mulai menyentuh pipi Cia, namun terhenti dikarenakan Cia yang tiba-tiba membuka matanya. Sesegera mungkin, Jay menarik tangannya kembali. Cia menatap dengan lekat.
"Loe masih di sini?"
"Loe pingsan tadi, jadi gue harus pastiin loe baik-baik aja sekarang." sahutnya.
Cia perlahan mulai mengangkat tubuhnya. Seraya hendak bangun. Jay dengan cekatan menopang bandannya yang lemah, untuk bersender pada kepala bangkar rumah sakit.
"Kenapa bangun?" tanya Jay.
"Gue mau balik."
"Loe masih sakit. Jadi sementara waktu loe harus di rawat di sini."
"Ogah ... Gue muak di sini, gue mau balik ke rumah."
"Gue pengen balik pokoknya. Jadi, loe minggir deh!" Cia mulai kesal.
Jay menghela nafas pelan. "Oke oke. Loe boleh balik hari ini, tapi gue harus tanya dokter dulu."
"Oke."
Setelah itu Cia kembali tenang. Dan Jay keluar ruangan untuk menemui sang dokter.
Cukup lama Cia menunggu Jay kembali. Ia mulai merasa semakin bosan, namun kini ia harus tetap menunggu. Sebenarnya Cia ingin pulang sendiri, tapi itu tidak bisa ia lakukan karena ada banyak para pengawal di luar ruangannya.
"Ni lama banget sih Jay, cuman ngabarin dokter aja leletnya minta ampun." Gerutunya.
Selang beberapa lama, Jay kembali.
"Gimana?" tanya Cia.
"Kata dokter loe udah boleh balik hari ini. Tapi seminggu sekali loe harus tetep chek up ."
"Iya iya terserah deh." Cia sembarangan meng-iyakan. Walau sebenarnya dia tak peduli akan apapun itu. Karena tujuan utamanya adalah kembali pulang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Jay menyuruh astitennya untuk menyiapkan kepulangan Cia dari rumah sakit. Setelah beres mereka-pun segera pergi dari sana.
Selama perjalanan kembali pulang, karena terlalu lelah, Cia tidur sepanjang perjalanan. Jay hanya menatapnya dengan lekat.
Tak beberapa lama sampailah mereka. Jay mencoba membangunkan Cia, namun Cia terlalu hanyut dalam tidurnya, hingga Jay langsung menggendongnya untuk membawa Cia masuk.
Jay membawa Cia masuk ke dalam kamar dan menidurkannya dengan perlahan. Ia juga secara lembur menutupi tubuh Cia dengan selimut.
Beberapa saat kemudian Cia terbangun. Ia menatap dinding -dinding langit kamar yang ia hinggapi. Terasa asing baginya, karena dinding-dinding kamar tersebut sangat berbeda dengan ruangan di kamarnya selama ini. Hingga, dengan sekejap Cia terbangun dan melihat sekitar.
"Gue dimana? Kamar siapa ini?" tanyanya.
Cia masih melihat sekeliling. Ia mencoba turun dari ranjang dan perlahan melangkah. Melihat sekeliling. Hingga seorang pelayan masuk kedalam kamar tersebut.
"Astaga nona kenapa bangun dari tempat tidur?" ucapnya panik dan segera menghampiri Cia.
"Kau siapa?" tanyanya heran.
"Saya pelayan di rumah ini, Nona." Pelayan tersebut berinisiatif untuk memapah Cia yang masih terlihat lemah. "silakan Nona istrirahat kembali."
Cia menurutinya. Ia duduk di atas ranjang tersebut.
"Sekarang katakan padaku, ini dimana?"
"Ini adalah kediaman Tuan Adiputera, Nona. Tadi Tuan Muda Jay yang membawa anda kemari."
"Apa!" Cia sangat terkejut. Ia tak menyangka Jay akan membawanya pulang ke rumahnya sendiri.
"Jadi ini kamar Jay?"
"Benar Nona. Ini kamar tuan muda "
"Sialan!" umpatnya dalam hati. "jadi dimana dia sekarang?"
"Tuan muda sedang ada urusan di luar sebentar. Tuan bilang, kalau nona membutuhkan sesuatu nona bisa memberitahukannya pada kami." jelas pelayan tersebut.
"Aku lapar. Aku minta tolong ambilkan aku makanan."
"Baik nona. Mohon tunggu sebentar." Ia menunduk dan segera pergi dari kamar tersebut.
"Sialan loe Jay, seenak jidat bawak gue kemari!"
Cia marah, ia hendak segera pergi dari sana, namun ia sadar jika kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan baginya untuk pergi dengan mudah. Hingga ia memutuskan untuk pergi setelah Jay kembali.
...****...
__ADS_1
..._Bersambung_...