JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#30


__ADS_3

...“Dilema akan selalu ada di setiap hati dan pikiran manusia. Ia takkan pernah melepaskan diri, sampai manusia itu sendiri masih takut melepaskannya untuk pergi.”...


...__...


“Siapa wanita ini, kenapa gue merasa kalau pernah melihatnya suatu tempat, tapi kapan dan dimana?”


Jay terus saja mencoba mencari tau, siapa yang berada dalam sebuah photo wanita, yang terpajang di kamar Cia.


Setelah mengantar Cia, dirinya seketika tertarik pada sebuah benda yang berada dalam kamar Cia. Sebuah bingkai photo. Setelah beberapa saat, Jay sama sekali tidak merasa ingat apapun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi dari sana. Tidak lagi mencoba mencari tau.


Meriska dan juga Agung ternyata sudah menunggu Jay sedari tadi di ruang utama, mereka sudah berganti baju yang santai. Karena semakin larut, Jay memutuskan untuk segera pergi dari sana, kembali pulang kerumah. Kediaman Adiptera.


...**...


Sinar mentari selalu saja menyinari setiap bumi, hari ini adalah hari libur sekolah, hingga Kiki dan Cia bisa sangat bersantai. Seperti biasa semua berkmpul di meja makan, tapi tidak dengan Cia. Dia selalu saja telat untuk bangun. Apalagi dirinya merasa sangat lelah setelah pesta tadi malam.


Berselimutkan kain tebal, Cia menutup seluruh tubuhnya. Menghindari sinar mentari yang menyilaukan mata, berusaha untuk melanjutkan tidurnya.


Seperti biasa, setiap weekend tiba, Kiki dan juga teman-temanya akan pergi berlibur. Meriska akan pergi ke suatu tempat, begitu pula dengan Agung. Sedangkan Cia, hanya bisa berdiam diri di dalam rumah. Apalagi yang bisa ia lakukan, di saat semua orang pergi berlibur, ia hanya bisa tiduran dalam kamarnya saja. Bima, sahabatnya sedang sakit sekarang, bagaimana bisa ia pergi.


Mentari mulai semakin tinggi saja, hari juga sudah semakin siang. Meriska dan yang lainnya sudah pergi sedari pagi. Namun, Cia masih saja tertidur pulas.


Tok … Tok … Tok ….


Suara ketukan pintu telah terdengar dari luar pintu Cia. Suara ketukan itu tak sekali dua kali berbunyi, namun semakin lama semakin terdengar keras dan sangat mengusik ketenangan Cia tidur. Berulang kali Cia mencoba mengacukan suara tersebut, sampai ia harus berusaha menutupi telingahnya dengan tumpukan bantal dan juga selimut tebal. Alhasil suara tersebut, malah semakin kuat dan membuatnya sangat marah.


“Akh! Sialan, siapa sih yang kurang kerjaan. Please deh, ini masih pagi banget!” Cia terbangun dari tidurnya, menatap ke arah pintu. “Diam! Berisik tau gak.” Cia berteriak sekuat mungkin.


Sesaat suara tersebut berhenti sejenak, hening. Cia tersenyum puas, kemudian mencoba melanjutkan tidurnya kembali. Akan tetapi, baru saja ia ingin memejamkan mata, kegaduhan itu kembali beraksi.


“Sialan! Woy siapa di luar, loe bisa diem gak!” pekik Cia.


Tidak ada sedikitpun jawaban dari sana, yang ada hanya suara ketukan pintu yang berulang kali, membuat gendang telingah Cia sangat tidak nyaman.


“Cari mati emang ni orang, mesti gue kasih pelajaran dulu!”


Cia langsung menyingkirkan selimut dari tubuhnya, bergegas melompat dan langsung membuka pintu. Akan tetapi, seketika itu juga ia terjatuh karena kakinya tersangkut dengan gaun pesta yang ia kenakan tadi malam.


Bruk …,


“Auh!”


Tubuh Cia memeluk lantai, ia merasakan sakit di sejur tubuhnya. Dirinya baru menyadari jika ia masih menggunakan gaun pesta.


“Sial, gue lupa kalau masih pakek gaun rese ini, merepotkan.” Cia menggerutu sendiri.

__ADS_1


Kemudian ia langsung bangun, dan bergegas membuka pintu. Mencari tau siapa dalang di balik kesengsaraannya pagi itu. Setelah pintu terbuka, seseorang yang sangat membuatnya terkejut, sudah ada di hadapannya.


“Loe. Ngapain loe di depan kamar gue?”


Pria tersebut hanya tersenyum puas, sembari menatap Cia yang sangat berantakan pagi itu. Rambut berkeliaran kemana-mana, gaun yang kusut dan ada sedikit kotoran di dekat mata. Lengkap sudah kejelekan yang ada. Sangat kacau.


“Malah senyum pulak ni anak, apa loe yang ganggu gue tidur tadi!”


Cia semakin merasa kesal, sikap trempamennya sangatlah tak bisa ia hindari. Hingga, dirinya-pun tidak sadar jika pria itu menertawakan penampilannya yang sangat kacau. Jay.


Cia terus saja menghujani Jay dengan amarahnya. Perlahan namun pasti, Jay melangkah mundur sedikit demi sedikit. Dan, sedikit menutup mulut dan hidungnya.


“Loe, kenapa?”


“Bauk, mandi dulu sana.” Jay yang berbicara dari balik tangannya,


Cia langsung saja terdiam, ia memutuskan melihat keadaannya sendiri. kemudian memberikan tatapan tajam pada Jay.


“Apa urusannya sama loe, mau gue bauk kek, wangi kek, ya terserah gue lah. Heboh banget jadi cowok!”


“Mandi dulu gih, gue gak kuat nyium bauk loe.” Jay semakin rapat menutup mulut dan hidungnya. “Gue tunggu loe di bawah, ada hal serius yang mau gue omongin.” Jay berlalu pergi.


“Dasar, cowok gesrek!”


Cia langsung masuk ke dalam kamar. Mengunci pintunya. Setelah mengingat kembali yang Jay katakan, ia perlahan menghembuskan nafasnya ke telapak tangan, dan kemudian mencium baunya. Memastikan apakah yang di katakan Jay memang benar. Perlahan namun pasti, Cia semakin mendekatkan hidungnya ke arah telapak tangan, dan benar saja dia langsung mengkerutkan dahi dan langsung menjauhkan hidungnya.


Cia langsung saja bergegas membersihkan diri. Setelah beberapa jam kemudian, Cia sudah selesai membersikan diri, wangi dan sangat terlihat segar dari sebelumnya. Dengan tatanan rambut yang terikat tunggal di belakang, dan setelan celana jens beserta kemeja biru menjadi pilihannya siang itu.


Sedari tadi Jay sudah menunggunya, akhirnya Cia sudah menuju keruang utama. Menemui Jay.


“Kenapa loe dateng ke sini?” Cia langsung duduk bersebrangan dengan Jay.


“Ngajak loe kencan.”


“Apa! Kencan?” Cia terbelalak, menelan sedikit ludah. “Loe gila, ya!”


“Bukan kemauan gue, tapi Papa yang suruh. Kalau bukan karna Papa, gue juga ogah kencan sama cewek jorok kek lu.” Jay meledek Cia. Mengingat hal yang lucu.


“Heleh, gue juga ogah.”


“Jadi gimana? Papa udah ngirimin mata-mata untuk kita hari ini.”


“Itu masalah loe lah, ngapa gue jadi repot. Gue gak akan mau kencan sama loe, paham!”


“Oke, terserah loe aja sih. Tapi, Papa bilang kalau loe nolak, maka sahabat loe akan selamanya masuk rumah sakit.” Jay berucap santai.

__ADS_1


Cia yang tadinya bersikap santai, kini langsung menatap tajam ke arah Jay. Mendengar nama sahabatnya adalah hal yang bisa membuat ia cemas seketika.


“Apa maksud loe? Jangan bawa-bawa Bima dalam urusan kita!”


“Bukan gue, tapi Papa. Jadi, gimana?”


“Cih, oke gue ikut sama loe.” Cia merasa sangat kesal. “Tapi gue mau sarapan dulu, laper.” Cia mulai beranjak dari sana tanpa terlebih dahulu menunggu jawaban dari, Jay.


Beberapa jam kemudian. Cia dan juga Jay pergi bersama. Cia masih tetap memakai pakaian yang ia kenakan sedari awal. Begitulah gaya pakaian yang membuatnya nyaman.


Selama perjalanan, mereka berdua saling diam membisu. Lagipula tidak ada hal yang bisa di bicarakan. Sedari awal keduanya memang tidak pernah cocok. Hingga seketika, suara dering ponsel milik Cia berdering keras.


Kring … kring ….


Cia langsung menjawabnya, tanpa melihat dahulu jika panggilan tersebut berasal dari, Bima. Seseorang yang coba ia hindari untuk sekarang.


“Halo,”


“Dimana sekarang?” (Bima)


“Pergi kencan, siapa ini?”


“Apa! Kencan? Dengan siapa, Cia?” (Bima)


“Eh, …. ”


Cia baru tersadar, jika dirinya sepertinya mengenal suara tersebut. Seketika ia langsung melihat ke arah ponsel. Dan benar saja, itu adalah Bima. Sahabatnya.


“Mati, gue!” Cia bergumam. Merasa bersalah.


Jay yangg sedang fokus menyetir, melirik Cia yang terlihat cemas. Cia langsung kembali mendekakan ponselnya di telingah.


“Hehe. Bima.”


“Loe bilang apa tadi, Cia? Kencan. Sekarang ada dimana loe? Segera datang kerumah sakit!!” (Bima)


“Gue …. ”


Belum sempat Cia berucap, Bima sudah lebih dulu menutup panggilannya tersebut. Cia terlihat cemas seketika.


“Mati gue!” ucapnya sembari menggenggam erat ponselnya.


..._Bersambung_...


*Sampai jumpa di episode berikutnya. Berikan dukungan terbaik kalian guys.

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2