
...“Suara dan hati sangat berbeda dalam menyatakan cinta. Suara akan mampu memanipulasi, dan cinta mampu mengkhianati.”...
...__...
Meriska telah tiba. Perusahaan WIP. Setelah sampai ia langsung melenggangkan langkah kakinya menuju ruangan direktur utama. Agung Sukti Wijaya. Sepanjang jalan, setiap para karyawan berjumpa dengannya selalu memberikan salam hangat padanya. Karena, ia memang jarang berkunjung. Meriska hanya datang di saat keperluan mendesak. Seperti ada rapat dengan dewan direksi dan lain sebagainya.
Pintu di ketuk. Meriska masuk. Terdapat di sana Agung dan juga Pak Cio yang sedang membahas suatu berkas. Dan, mata mereka kini tertuju pada Meriska.
“Maaf. Aku tidak tau kalian masih sangat sibuk”
“Tidak apa. Masuklah, sayang.”
“Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan.”
Agung mengangguk, dan Pak Cio bergegas pergi. Meriska memberikan senyuman hangatnya seperti biasa. Dan, Pak Cio membalasnya dengan memberikan ucapan selamat datang. Kini, dalam ruangan tersebut hanya ada mereka berdua. Meriska dan juga Agung.
Meriska mengambil tempat duduknya di depan Agung. Menyilangkan sebelah kakiknya. Menaruh tas mini yang ia bawa di atas meja kerja. Lalu menatap Agung dengan tatapan seperti biasa. Senyum hangat.
“Ada apa kau memanggilku, sayang.”
“Di sini hanya ada kita berdua. Jadi, sebaiknya lupakan sandiwara ini.” Agung menatap Meriska dengan tatapan dingin.
“Tidak bisa. Aku suka bersikap seperti ini. Lagipula ini sudah bertahun-tahun lamanya aku terlatih kan. Ups, maaf.” Meriska seolah menutup mulutnya. “Maksudku adalah kau yang sudah berlatih beberapa tahun ini kan, sayang.” ucapnya sumringah.
“Kita, langsung saja pada intinya.”
“Baiklah. Kau ini sama sekali tidak asik saat ku ajak bercanda.” Meriska menghela nafas pelan. “Sekarang katakan. Ada apa?” Meriska tersenyum tipis sembari jari-jemarinya mengetuk-ketuk pelan meja kerja dari suaminya tersebut.
“Pak Ad sudah memberiku sebuah pesan. Ini tentang perjodohan kedua putri kita.”
Meriska seketika menghentikan aktifitasnya. Ia perlahan menatap mata sang suami. Tersenyum. Kemudian kembali bermain dengan jari-jemarinya tersebut.
“Katakan saja.”
“Pak Ad. Beliau sudah memilih salah satu dari putri kita untuk menikah dengan putranya.” Agung menghela nafas. “Dan, dia adalah …. ”
Di sekolah_
__ADS_1
“Hei, Kiki.” seru Ciki dari balik luar jendela.
“Ada apa? Kenapa kau di sana?” Kiki menaikan sebelah alisnya.
Dirinya duduk dengan santai sembari membaca buku pelajaran. Setelah pembicaraan yang singkat dengan Jay tadi. Kiki, hanya diam dan semakin membisu.
Ciki dan Cuki sahabatnya masuk ke dalam kelas. Dari tatapan mata mereka saja Kiki sudah mengetahui akan ada banyak pertayaan yang di ajukan padanya nanti. Dengan segera dirinya langsung berbalik arah dan serius menatap buku. Menutupi hampir seluruh wajahnya.
“Pergilah. Jika, kalian berdua hanya berisik di sini. Maka pergi saja!” ucapnya di balik buku.
“Kau! Kami bahkan belum tanyak apa-apa. Menyebalkan!” Ciki mengerucutkan bibirnya.
Cuki juga meniru gaya Ciki. Kini mereka berdua bagaikan dua sepasang anak kembar. Kiki tidak peduli akan hal itu. Ia masih saja asik membaca buku-bukunya.
Kiki memanglah gadis yang keras kepala. Namun, sahabatnya jauh lebih keras kepala. Mereka mengetahui apa yang akan membuat Kiki menyerah. Ia akan mengalah jika lawannya lebih sangat-sangat keras kepala kepada dirinya. Ciki dan Cuki terus saja diam dan memasang wajah kesal pada sahabatnya itu. Dan, pada akhirnya. Kiki mengalah.
Dirinya menutup halaman buku. Kemudian meletakannya di atas meja. Dan berbalik menghadap pada Cuki dan jua Ciki. Menghela napas pelan.
“Katakan, ada apa?”
Langsung saja kedua ekspresi wajah kedua sahabatnya itu langsung saja ceria seketika. Senyum lebar menghias pipinya. Mata yang berbinar-binar menandakan kebahagiaan yang teramat dalam.
“Dasar, nenek lampir!" celetuk Ciki.
“Kami mau tanya. Apa Cowok baru itu benar-benar calon tunanganmu? Jika benar, kenapa tadi kami mendengar kalau dia sedang membicarakan anak haram itu?” Cuki menatap Kiki dengan amat serius. Di ikuti dengan CIki.
“Apa tadi kalian menguping pembicaraanku!”
“Hehe, itu hal yang tidak sengaja. Kau kan tau kalau kami ini agen kekepoan dini.”
Mereka berdua memasang wajah bodoh.
“Dia hanya calon tunangan. Bukan tunanganku. Jadi, urusannya tidak ada sangkut pautnya denganku. Paham!”
“Ya, kami paham. Tapi, apa loe memang mengaku kalah sama anak haram itu?”
“Ya, benar. Jika anak haram itu yang akan jadi tunangan cowok keren tadi. Secara tidak langsung. Loe sudah di kalahkan sama dia.” celetuk Ciki menimpali ocehan Cuki.
__ADS_1
“Kalian benar. Suka tidak suka. Gue harus selalu menang dari dia!”
Kiki terus saja berhasrat untuk terus menang dan melampaui Cia. Ia terus saja tenggelam dengan rasa kebenciannya. Entah itu buruk ataupun baik. Semua di matanya adalah benar.
Jay terus saja berkeliling menelusuri halaman sekolah. Ia bahkan sempat berulang kali mendatangi gudang sekolah dan juga halaman belakang. Namun, semua tidak ada satupun tanda-tanda kehadiran Cia. Hingga dirinya merasakan lelah dan memutuskan untuk sejenak beristirahat di halaman belakang sekolah. Tempat Cia selalu berada.
Angin yang semilir menerpa wajahnya yang tampan. Hening dan tenang. Tanpa ada kebisingan apapun. Tubuhnya yang indah itu kini sudah berbaring beralaskan rumput-rumput hijau. Menatap cerahnya langit hari itu membuat ia mengingat kenangan lama.
“Hah, apa yang aku lakukan di sini. Seharusnya aku ada di rumah sekarang.” Jay berbicara sendiri.
Tangannya mulai ia rentangkan ke atas langit. Seraya ia ingin menyentuh dinding-dinding langit yang ada. Menangkap dan menjerat semua awan itu. Tatapan sendu kembali ia tunjukan. Hanya seorang diri. Tanpa siapapun.
“Aku sudah sangat lama menantikan hal ini. Bersantai dan menatap langit.” Jay menghela nafasnya kembali. “Tapi, Papa selalu saja merusak rencanaku. Apa aku tidak bisa bermain sebentar lagi. Membosankan.” keluhnya.
“Apa sebaiknya aku pergi saja. Tapi, ini akan menjadi masalah nantinya.” Jay menghadpkan tubuhnya ke arah samping. “Ya, apapun itu. Aku harus segera melakukannya. Dengan begitu, aku akan segera bermain lagi.” Jay berbicara sendiri.
Kemudian ia menutup mata dan terlelap tidur.
Rumah sakit_
“Permisi, apa kau keluaga pasien?”
“Benar. Apa yang terjadi padanya, Dok?”
“Dia sudah sadar sekarang. Tapi, untuk sementara jangan di jenguk dulu.”
“Baiklah. Terima kasih, Dok.”
Dokter berlalu pergi, dan Boby sangat bersyukur. Akhirnya. Bima kembali membuka matanya. Namun, mereka tidak menetahui. Jika, setelah ini perang besar akan terjadi. Dan, semua akan kehilangan harapan serta kepercayaan satu sama lain.
..._Bersambung_...
...“Buah kudu, buah jambu. (Cakepp)...
...Buah rambutan, buah semangka (Cakeppp)...
...Kalau cintamu hanya untukku...
__ADS_1
...Berikan sambutan pada author cantik JPA!”...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....