JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#45


__ADS_3

..."Mencintaimu adalah kenangan terburuk. Bagiku dan juga bagi hatiku."...


Prang.


Terdengar sudah suara pecahan kaca, yang terdengar sedari dalam ruangan. Tempat dimana Keysa di rawat.


Salah satu pengawal yang selalu siap siaga di depan pintu, langsung saja memasuki ruangan tersebut. Memastikan semua masih dalam kendali mereka.


Ketika ia sampai ke dalam sana. Terdapat sudah Keysa yang tersungkur di dasar lantai. Bersama puing-puing kaca yang berserakan di dasar lantai.


Secara sigap pengawal tersebut langsung menghampiri dan membantunya kembali ke atas tempat tidur.


"Bagaimana Anda bisa jatuh?" tanyanya setelah membantu Keysa kembali ke tempat tidur.


Keysa terdiam. Nafasnya masih saja memburu. Seperti sedang melakukan hal yang salah.


"Jika Anda berniat kabur dari sini. Maka segeralah menghapus niatan tersebut. Nyonya memerintahkan kami untuk tidak membiarkan Anda pergi dari sini."


Pengawal tersebut berdiri tegak. Seraya menatap Keysa dengan sangat yakin.


Keysa terdiam.


"Beristirahatlah. Saya akan menyuruh pelayan untuk membersihkan semuanya."


"Bisakah aku menelpon sebentar saja. Aku janji takkan lama," ucapnya ragu.


"Maaf. Tapi Nyonya mengatakan Anda tidak boleh keluar dari sini ataupun menelpon seseorang."


"Sebentar saja. Aku mohon padamu, aku harus menghubungi putriku," pintanya.


"Tetap tidak bisa."


Pengawal tersebut tetap pada pendiriannya.


"Baiklah. Kalau aku meminta kau menelpon Riska. Apakah bisa? Aku mau bicara dengannya. Sebentar saja. Aku janji," ucapnya menyakinkan.


Pengawal tersebut sempat berpikir sebentar.


"Baiklah."


Pengawal tersebut mengambil sebuah ponsel dari dalam sakunya. Menelpon Meriska. Tampak jelas terlihat, Keysa yang mendapatkan sedikit harapan.


"Halo, Nyonya. Selamat siang, maaf saya menganggu."


"Ada apa?"


"Nyonya Keysa ingin berbicara pada Anda. Katanya ada hal yabg penting. Apakah Nyonya bersedia?"


"Berikan telepon padanya,"


"Baik."


Pengawal tersebut langsung memberikan ponsel miliknya kepada Keysa.


"Silakan bicara. Saya akan menunggu di luar."


Keysa menerimanya dengan sangat cepat. Mendekap ponsel tersebut dengan erat.


Keysa memastikan pengawal tersebut keluar lebih dulu dari sana. Kemudian ia memulai berbicara pada Meriska.


"Halo, Riska."


"Ada apa?"


"A-Aku ... Aku mau tau bagaimana kabar putriku," ucapnya cemas.


"Untuk apa bertanya hal itu lagi. Lebih baik Kakak diam dan saksikan saja semuanya dari situ."


"Aku mohon padamu, Riska. Aku janji akan menuruti semua keinginanmu. Asalkan aku bisa melihat keadaan putriku baik-baik saja," pintanya.


"Apa Kakak lupa. Dimata dunia, Kakak sudah lama tiada. Begitu juga dengan putri kecilmu itu."


Deg.


"Riska benar. Apa yang akan Cia pikirkan, kalau tiba-tiba Mama yang sudah lama ia anggap mati. Tiba-tiba menghubunginya seperti ini, tapi ... Aku sangat merindukannya," batinnya.


"Kenapa diam saja? Sekarang diam saja dan saksikan segalanya. Semakin Kakak ingin bertemu dengannya, maka aku akan semakin membuatnya hancur dari dalam."


Keysa membulatkan matanya seketika. Ia sama sekali tidak ingin melibatkan putri kecilnya tersebut.


"Riska. Semua kesalahanku di masa lalu, aku berhak mendapatkan kebencianmu. Tapi, Cia tidak ada hubungannya sama sekali dalam masalah kita. Aku mohon, biarkan dia bahagia," rintihnya.


"Hahaha. Lucu sekali! Seharusnya Kakak pikirkan semua itu sebelum melakukan semuanya."

__ADS_1


Seketika semua terasa hening.


"Kita akhiri pembicaraan hari ini. Jagalah tubuhmu dengan baik. Dengan begitu Kakak masih bisa melihat Cia dari kejauhan."


Tut Tut.


Panggilan berakhir.


Keysa mulai menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Tapi tak mampu berbuat apapun.


"Apa yang harus aku lakukan. Aku gak bisa biarkan Meriska terus melukai Cia. Tidak-tidak. Aku harus cari bantuan lain," gumamnya.


"Benar. Apa aku coba telpon dia saja. Samar-samar aku masih mengingat nomornya," gumamnya lagi.


Keysa mulai mengetik satu-persatu nomor telepon. Ia bergegas melakukannya dengan kecemasan. Jika suatu waktu pengawal tersebut kembali lagi dan mengambil ponselnya.


Kring ... Kring.


"Akh, tersambung. Ayo angkat-angkat. Aku harap aku tidak salah," gumamnya semakin gusar.


Belum sempat panggilan tersebut di jawab. Pengawal tersebut sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Bergegas menghampiri Keysa.


"Apa sudah selesai?" tanya pengawal tersebut. Tetap pada ekspresi datarnya.


"B-Belum. Masih belum," jawabnya cemas.


Pengawal tersebut mulai curiga atas gerak-gerik yang Keysa lakukan. Secepat kilat ia mengambil ponsel tersebut dengan paksa. Tepat di saat itu, panggilanpun tersambung.


"Halo. Siapa ini?"


Berulang kali suara tersebut bertanya. Tapi tidak menukan jawaban.


Pengawal tersebut langsung menatap layar ponselnya. tanpa berbicara ia langsung saja memutuskan panggilan tersebut. menatap serius pada Keysa.


"Katakan pada saya. Siapa yang Anda telepon?"


"Bukan siapa-siapa."


Keysa mengalihkan pandangannya.


"Saya harap Anda tidak berbuat sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri. Istirahatlah."


Pengawal tersebut langsung melangkah keluar kamar. Menutup kembali pintu dengan rapat. Keysa hanya bisa menatap pintu tersebut, tanpa bisa membukanya sama sekali.


"Semua ini kesalahanku. Harusnya aku pergi membawa Cia sejauh mungkin dari mereka. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Keysa hanya bisa menangis tersedu-sedu. Meratapi ketidakberdayaan yang ia alami.


Perusahaan Wijaya.


Agung yang sedangng berada di ruang rapat. Sedang fokus pada pekerjaannya saat itu. Membicarakan hal-hal tentang kelangsungan proyek yang mereka jalankan. Suasana rapat berlangsung cukup lama.


Beberapa saat kemudian. Rapat telah usai. Semua kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Agung.


"Bagaimana perkembangan penyelidikannya?" tanya Agung kepada asistennya. Mark.


"Belum, Tuan."


Brak.


Agung membanting berkas yang ia pegang. Kesal.


"Apa sedikitpun tidak ada informasi?"


"Belum, Tuan."


"Oke. Kau pergilah."


"Baik, Tuan."


Mark menunduk sedikit, kemudian bergegas pergi. Meninggalkan ruangan.


Agung menyenderkan punggungnya ke kursi kerja. Beberapa kali ia menghela nafas. Berpikir keras.


"Mungkin ini satu-satunya cara," gumamnya.


"Cara untuk apa?"


Deg.


Suara itu tiba-tiba membuatnya spontan untuk segera bangkit dari duduknya.


"Tuan, Kenapa Anda tiba-tiba ada di ruangan saya?" tanyanya gugup.

__ADS_1


Pria itu berdiri dengan elegan. Memasukan kedua tangannya pada kedua sisi saku celana hitam mengkilap yang ia pakai. Adiputera.


"Maaf. Sepertinya saya mengejutkan Anda Tuan Agung." Adiputera tersenyum tipis.


"Tidak masalah."


"Silakan duduk, Tuan Adi."


"Terima kasih."


Adiputera duduk di sopa yang sudah tersedia di sana. Begitu pula dengan Agung yang menemaninya duduk.


"Tuan mau minum apa? Saya akan suruh seseorang membuatnya untuk Anda," ucap Agung penuh sopan.


"Tidak perlu repot. Saya di sini, hanya ingin mampir sebentar," jawab Adiputera santai.


"Ok. Baiklah."


Beberapa menit keduanya hanya membahas mengenai pekerjaan saja. Saling memberikan informasi mengenai perkembangan dari proyek yang sedang mereka jalani saat ini. Namun, pembicaraan formal tersebut tidaklah berlangsung lama.


"Boleh saya bertanya, Tuan Agung?" tanya Adiputera.


"Tentu saja."


"Tapi saya akan meminta maaf dulu sebelumnya. Pertanyaan saya akan melenceng dari pembahasan kita tentang pekerjaan," jelas Adiputera.


"Apa ini tentang pernikahan anak kita berdua?"


"Benar."


Adiputera menatap yakin.


"Jay dan juga Cia akan menikah nantinya. Saya hanya ingin tau, asal usul dari putri Anda tersebut."


Agung tertegun atas apa yang baru saja Adiputera katakan.


"Jangan merasa tersinggung, Tuan. Anda tau betul siapa saya kan? Saya hanya memastikan jika semuanya tidak dalam masalah. Apalagi ini menyangkut putra tunggal saya," jelasnya.


Agung menelan ludahnya kembali. Sedikit gugup. Memang benar, Adiputera sudah mengetahui jika Cia bukanlah anaknya bersama Meriska. Tapi ia juga tidak ingin menceritakan siapa ibu kandung Cia.


Agung terdiam.


"Apa ada masalah? Saya hanya ingin tau semua hal tentang calon menantu saya," ucapnya penuh ketenangan diri.


"Tidak ada masalah, Tuan. Hanya saja saya sedikit sungkan untuk menceritakan masa lalu."


"Baiklah. Saya hanya memastikan satu hal. Menurut informasi yang saya dapatkan. Ibu dari anak itu bukankah bernama Keysa?"


Secara mendadak Agung membulatkan matanya. Tertegun atas apa yang baru saja Adiputera katakan.


"Bagaimana dia bisa tau?" batin Agung.


Adiputera menatap serius kepada Agung yang sudah gusar sejak tadi.


"Ya. Saya anggap diam Anda adalah 'iya' untuk pertanyaan saya tadi."


Adiputera tersenyum tipis. Tak lama setelah itu ia beranjak dari duduknya.


"Sepertinya saya harus segera pergi sekarang," ucap Adiputera, sembari mengancingkan salah satu kancing jas-nya.


Agung ikut beranjak dari duduknya. Masih syok dengan yang baru saja terjadi.


"Kali begitu saya pergi dulu, Tuan Agung. Senang berbicara pada Anda hari ini."


Adiputera mengulurkan tangannya. Bersalaman. Agung membalas jabatan tangan tersebut.


"Saya juga senang Anda datang kesini."


"Begitu juga dengan saya."


Tidak lama, Adiputera melangkah keluar ruangan.


"Bagaimana mungkin dia bisa tau. Selama ini, aku sudah menyembunyikan kebenaran itu pada dunia," gumamnya.


Jalan raya.


Adiputera menatap bangunan-bangunan yang ada, dari balik jendela mobilnya. Memikirkan kembali apa yang sudah Agung katakan.


"Ternyata benar. Aku akan segera membalaskan dendamu, Keysa."


..._Bersambung_...


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.

__ADS_1


__ADS_2