JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#15


__ADS_3

..."Alangkah indah, jika semua hati bisa berdamai dengan semua keadaan."...


..._Nura_...


"Cia!" Bentak Kiki menggema ruangan utama keluarga Wijaya itu.


Cia menatap Kiki dengan tajam. Meriska masih terpukul dengan perlakuan kasar Cia dan Agung juga ikut beranjak dari duduknya.


"Kiki. Kamu diamlah! Dan kamu Cia, jangan coba-coba berulah malam ini!!" ucap Pak Agung, sembari mengancingkan kancing atas jazz hitamnya.


Kiki langsung terdiam dan menunduk. Cia masih bingung dengan apa yang di maksud Papanya itu, sedangkan Meriska segera menggenggam tangan mungil putri kecilnya itu.


"Sayang, kamu ikut Mama ke kamar dulu ya," ucapnya membujuk.


Cia menatap tajam, dengan segera menepis kasar tangan Meriska.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!!"


"Mama, urus dulu anak itu. Papa akan tunggu di ruang kerja. Ingat, sebentar lagi kita akan berangkat. Waktu kita sedikit, jadi Papa harap jangan ada yang berulah malam ini!" Agung kemudian berlalu pergi.


Kiki juga mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Lagi-lagi ....


"Loe mau kemana brengsek! Balikin liontin gue, sekarang!"


Kiki berbalik pelan serta memberikan seyuman kecut pada Cia yang sudah mulai membara.


"Liontin? Mimpi aja loe sana. Gue udah bilang, ikuti semua perintah Mama malam ini, kalau gak ... Jangan berharap Liontin busuk itu bakal balik lagi sama loe!!"


Kiki melangkah pergi.


"Kurang ajar!"


"Sayang, kita kekamar kamu dulu ya. Nanti Mama akan jelaskan semuanya sama kamu."


Cia dengan penuh terpaksa menuruti semua perkataan Meriska. Mereka berdua berjalan tidak beriringan menuju kamar.


Di dapur.

__ADS_1


"Ckck ... Keluarga ini udah macam sinetron aja ya. Gak pernah damai," celoteh salah satu pelayan.


Sebut saja pelayan itu, Anggel. Dan teman kalangan gosipnya, Lisa dan juga Jeny.


"Heleh, kapan mereka pada waras sih. Papanya emosian, anaknya apalagi, dan Ny. Meriska itu juga pura-pura baik aja depan orang, aslinya mah lebih parah." ucap Lisa, sembari mengelap gelas-gelas tersebut.


"Huss!! Jangan sembarang kalau ngomong, kalau mereka dengar bisa tamat riwayat kita, lagian lu asal jemplak aja. Ny.Meriska kan orangnya baik dan lemah lembut mana mungkin dia juga sama seperti lainnya?" jelas Jeny, sembari memetik sayuran yang akan di buat masak esok hari.


"Gue kan cuma ngomong doang. Lagian gak masuk akal aja buat gue kalau Ny.Meriska itu dulu mau nerima si Cia iblis jadi anaknya. Secara dia itu anak dari perselingkuhan suaminya sendiri," celoteh Anggel berlanjut ria.


"Iya sih, lu bener juga. Kalau gue jadi Nyonya nih udah gue usir itu bocah," ucap Lisa menimpali celotehan Anggel.


Sesaat kedua teman sepergosipannya itu saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka menatap Lisa bersamaan. Lisa merasa heran.


Tak lama, Anggel dan Jeny langsung tertawa tanpa henti.


"Hahaha ... "


Lisa mengerutkan keningnya, "Kalian kenapa sih? Mala pada ketawa?"


"Lucu aja, ngarep banget bisa jadi Nyonya besar di rumah ini. Kalau Nona Kiki denger bisa tamat riwayat lu, Mak Lis!!" ucap Anggel.


"Bocor? Lu kira kita ember, bisa bocor."


Jeny dan Anggel lagi-lagi tertawa kekeh melihat kelakuan Lisa. Tak lama, Bi Imah sang ketua pelayan pun datang menegur mereka bertiga.


"Kalian semua, sudah gak ada kerjaan lain lagi?"


Mereka langsung pucat melihat kedatangan Bi Imah. Saling pandang satu sama lain dan kemudian hanya bisa menunduk takut. Takut jika akan di laporkan pada Atasan.


"Lain kali jangan suka bergosip! Kerjakan saja pekerjaan kalian di sini dengan tenang, jika saya dengar kalian berulah lagi maka saya akan pastikan kalian di pecat!" jelas Bi Imah.


Ketiganya mengangguk, lalu langsung menunduk malu. Bi Imah kembali pergi melanjutkan pekerjaanya. Sedangkan di kamar Cia. Suasana masih sama tegangnya.


Cia tetap bersikeras untuk menolak hadir dalam acara makan malam itu. Setelah beberapa menit yang lalu Meriska menceritakan segalanya. Seperti biasa ia anak yang sangat keras kepala, seberapa keras pembujuk maka semakin keras pula yang di bujuk.


"Sekarang pergilah, Nyonya!"

__ADS_1


"Sayang, jangan terus-terusan bersikap begitu pada Mama," rintih Meriska seolah ia terluka parah. Tidak raga, melainkan hatinya.


Cia melengos, ia terseyum kecut pada Meriska yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Mama? Apa saya gak salah denger Nyonya?"


Meriska menggeleng. Memberi isyarat jika Cia tidak salah mendengar.


Cia menatap dalam mata yang lembut itu, terdapat di sana banyak kesedihan dan kepedihan yang tersimpan. Yà, mungkin saja.


"Sudahlah, Nyonya. Jangan coba bergurau denganku malam ini. Lebih baik Anda bilang pada suamimu itu dan bilang padanya, kalau saya gak akan pernah mau ikut kemana kalian akan pergi!" jelas Cia.


Meriska semakin Cemas. Belum sempat ia menyangga ucapan putri tirinya itu, tiba-tiba saja Kiki sudah berjalan masuk dalam kamarnya. Seperti biasa aura seram mulai bangit dalam tubuh mereka. Seram dan sedikit memprihatinkan.


Seharusnya anak sesusia mereka saat ini, bisa seperti remaja lainnya. Berbahagia berjalan bersama dan saling menabur cinta. Bukan sebaliknya.


Kiki menempelkan badanya ke pintu kamar Cia. Ia juga menyilangkan kedua tangannya seraya memberi tatapan tajam padanya. Seperti biasa.


"Mama, Papa tadi minta Mama segera ke ruang kerjanya. Kata Papa ada hal penting," ucap Kiki.


Meriska memberi seyuman manis pada Kiki. Ia mengangguk. Tanda menyetujuinya. Tak lama ia langsung pergi dari sana, tak lupa juga sebelum pergi Meriska mengingatkan kembali pada Cia untuk segera bergegas.


Kini hanya tinggal Kiki dan juga Cia dalam ruangan tersebut. Tentu saja ruangan semakin suram hanya dengan permusuhan antar keduanya, yang tak pernah kunjung usai.


"Mau apa lagi, loe!" Cia langsung pada intinya.


Kiki terseyum tipis. Ia mengeluarkan sesuatu yang entah darimana. Liontin biru. Milik Cia.


"Segera bersiap, atau liontin ini jadi milik gue selamanya!"


"Berani banget loe, Ki! Balikin sekarang liontin gue, brengsek!"


"Jangan habiskan waktu loe dengan berdebat! Karena semua itu gak ada artinya buat gue malam ini. Jadi cepatlah bersiap dan segera turun ke bawah. Ingat!! Pakailah pakaian yang normal sedikit." jelas kiki.


Cia hanya bisa marah tanpa berbuat apa-apa malam itù. Kiki juga langsung pergi dari sana meninggalkan Cia seorang diri. Marah. Kesal. Itulah yang mereka berdua rasakan. Tanpa ada satu sama lain yang tau.


..._Bersambung_...

__ADS_1


...Sampai jumpa di episode berikutnya, tetap semangat dan selalu setia dukung author kece badai ini ya. love you all....


...#kangcilok...


__ADS_2