JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#14


__ADS_3

..."Seyuman tak selalu berarti kebahagian. Mungkin saja, terselipkan beribu cerita di baliknya."...


..._Nura_...


"Sebenarnya, semua ini terjadi karena ingin membalaskan dendam pada geng cakar kucing. Akibat pertempuran kemarin, Ivan dan yang lainnya terluka parah, bahkan banyak juga yang tewas saat itu juga. Melihat itu semua, Kak Bima langsung menuju markas utama mereka. Karena merasa cemas saya juga ikut menysul bos besar, awalnya Kami hampir menang, tapi ... "


Boby menghentikan ucapannya, seakan suara di kerongkongannya terhenti akan sesuatu yang tak ingin ia ungkit. Cia justru semakin bertambah kesal dan langsung saja mencengkram lengan baju Boby yang masih berlumur darah.


Cia menatap semakin tajam, "Tapi apa!"


"T-Tapi, si makér misterius membantai habis dirinya."


"Maker misterius? Siapa dia?"


"Saya juga tidak tau, Kak. Rumor yang kami dengar dirinya biasa di juluki hantu jalanan. Si Maker miterius. Dirinya jarang sekali muncul dan hanya orang-orang tertentu yang tau siapa dia sebenarnya. Sialnya, hari ini adalah hari selasa yang dimana setiap setahun sekali dia akan menghabisi satu ketua geng preman di kota ini secara acak." jelas, Boby.


"Sialan, berani sekali dia menyentuh Bima. Siapapun loe, gue akan temukan dimanapun loe bersembunyi!" ucapnya penuh amarah.


"Lalu, apalagi yang kau tau tentang dia?" selidik Cia lebih lanjut.


"Tidak ada lagi, Kak. Hanya itu saja yang kami tau. Yang jelas dia seorang pria dan akan muncul kembali entah kapan," jelas Boby lebih lanjut.


"Loe tau gimana wajah pria busuk itu!"


"Selama ini, tidak ada yang tau bagaimana wajah dan indentitasnya." jelas Boby.


Cia menghela nafas pendek, saat itu dirinya sedang di selimuti awan amarah dan penasaran yang mendalam. Dirinya saat itu serasa sesak dengan segala apa yang terjadi hari ini, setelah mendengar penjelasan Boby Cia langsung memberi perintah padanya untuk segera merawat luka-luka akibat pertarungan miring tadi.


Beberapa saat, akhirnya dokter yang menangani Bima melenggang keluar dari pintu maut itu. Langsung saja Cia menimpali dokter tersebut dengan banyak pertayaan yang bertubi-tubi.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Pasien masih belum sadarkan diri, luka tusukan di berbagai titik vitalnya sangat dalam di tambah lagi beberapa tulang pasien yang patah. Kami akan terus mengawasi kondisinya sampai besok pagi, semoga dia bisa melewati masa kritisnya." Jelas dokter tersebut sembari merapikan kaca matanya yang sedikit miring.


Cia lemas dan merasa tak berdaya saat itu, entah apa yang mesti ia perbuat dalam kondisi tersebut. Wajahnya pucat pasih dan badannya gemetar hebat. Dirinya yang tak kenal takut kini harus menghadapi ketakutan itu sendiri. Sementara, Cia masih termagu di atas pikirannya yang kacau. Dokter langsung berlalu pergi.


Jam terus saja berdetak setiap detiknya. Ia terus berputar-putar seolah tak merasa terganggu dengan kebisingan di antara dunia. Cia masuk duduk termenung di depan ICU. Wajahnya kini bertambah lesu dari detik ke detiknya, sudah menunggu begitu lama, tapi Bima masih saja bertarung dengan maut.


Boby datang. Ia langsung menghampiri Cia yang masih duduk di sana, kakinya terangkat membentik lipatan segitiga dan satunya menghempas langit-langit lantai, di tambah tangannya yang sedari tadi mengacak-acak rambutnya yang sudah kacau itu.

__ADS_1


"Kak, makan dulu," pinta Boby


"Pergi dari sini, sekarang!"


"Tapi, Kak Cia juga butuh makan kan, ini sudah berjam-jam lamanya. Makanlah sedikit, Kak."


"Gue bilang loe pergi, brengs*k!" Cia menatap tajam.


"Maafkan saya, Kak. Saya sudah lancang."


Boby langsung mundur dan ikut duduk di lantai bersama Cia. Sedikit berdekatan. Cia melirik sekilas dan langsung membuang pandangan ke arah lain. Beberapa jam kedepan suasana menjadi diam mencekam, tak ada satu katapun dari keduanya. Cia menghawatirkan Bima, dan Boby menghawatirkan kondisi Cia.


"Bagaimana masalah biaya, Bima?" Cia mulai membuka percakapan setelah lelah membisu terlalu lama.


"Kakak tenang saja, biaya pengobatan Kak Bima, sudah di lunasi oleh seseorang,"


Cia secepat kilat menatap heran pada Boby, "Siapa?" ucapnya heran.


"Pria itu menyembunyikan identitasnya, tadi saya coba tanyakan pada pihak administrasi, dan mereka tetap tidak memberi tau."


"Aneh banget."


"Halo, ada apa?"


"Dimana, buruan balik sekarang!"


Cia mengangkat sebelah alisnya, "Apa urusannya sama loe! Gue gak peduli." ucapnya santai.


"Hei, anak haram. Loe ngerti gak bahasa manusia, hah! Gue bilang balik sekarang ya loe balik, jangan banyak nanyak!"


"Berisik!"


"Brengs*k lo Cia! Kalau loe gak balik kerumah sekarang. Gue pastikan liontin biru kesayangan loe itu bakal gue hancurin saat ini juga!" ancam Kiki.


Cia langsung beranjak dari duduknya, amarah dan rasa khawatirnya langsung meledak saat itu juga. Jangan sampai liontin itu benar-benar di hancurkan. Harapnya.


"Jangan coba-coba, Kiki!"


"Terserah loe aja, tapi gue ingetin loe jangan sampai nyesal!"

__ADS_1


Panggilan langsung berakhir. Cia langsung menghantamkan pukulannya pada dinding ICU itu, rasa kesal dan amarahnya sedikit meredah.


Boby heran dengan perubahan sikap Cia yang tiba-tiba itu, dirinya berusaha menenangkan amarah Cia agar tak menimbulkan keributan di sana.


"Ada apa, Kak?"


"Tidak ada, loe tetap di sini jagain Bima. Gue ada urusan kecil dengan keluarga kadal itu!"


Boby langsung menganggukan kepalanya. Ia hanya bisa menuruti tanpa banyak bertanya, Boby terus menatap punggung Cia yang semakin lama menghilang dari pandangannya.


"Benar-benar mengerikan." batinya.


...****...


Kediaman keluarga Wijaya.


Dengan begitu cepat Cia langsung bergegas sampai ke rumah. Ia mengemudikan kereta besar yang di pinjam dari, Boby. Setelah sampai di rumah, Cia langsung saja mendobrak paksa pintu utama tersebut.


Di sana terlihat Ny.Meriska, Pak Agung, beserta Kiki, yang sudah siap menunggu dirinya di ruang utama. Nampak jelas terlihat mereka semua sudah mengenakan pakaian formal yang begitu rapi, seperti hendak pergi dalam acara resmi. Berbanding terbalik dengan Cia yang masih mengenakan baju kumalnya sedari siang tadi, di tambah dengan sisa-sisa tetesan keringatnya sehabis terburu-buru mengejar waktu.


Agung menatap tajam, begitu juga di ikuti dengan Kiki yang bersantai duduk di sofa keluarga. Sedangkan Meriska, seperti biasa menatap sendu.


Meriska bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Cia yang masih menggebu-gebu menahan rasa amarah.


"Sayang, kamu darimana saja seharian ini, Mama ... "


Belum habis ucapan Cia, dirinya sudah lebih dulu berbicara lantang pada semua. (Jangan di tiru ya!! Benâr-benar durhaka ini anak).


"Balikin liontin gue, sekarang!"


"Sayang, kamu tenang dulu," pinta Meriska.


"Tolong Anda jangan coba-coba ikut campur, Ny.Meriska!"


Cia berteriak sembari menatap tajam. Kiki langsung bangkit menatapnya, dan Pak Agung juga ikut berdiri karena perlakuan kasar Cia pada Meriska.


..._Bersambung _...


..."Sampai jumpa di episode berikutnya"...

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....


__ADS_2