
..."Sering kali lupa dan melupakan. Itulah sifatnya manusia."...
**
Bima yang melihat kemesraan antara Jay dan Cia. Ia memutuskan untuk pergi dari sana, tanpa terlebih dahulu menghampiri Cia.
Sesaat setalah ia meninggalkan kantin. Bima bertemu dengan Kiki dan teman-temannya.
"Hai, Bim."
Kiki tersenyum lebar.
Bima menghiraukan dirinya. Ia tetap diam dan melewati Kiki begitu saja.
"Buset dah. Cuek amat kek bebek," celoteh Cuki.
"Haha. Kasihan bener Kiki di kacangin. Kacang ... Kacang."
Ciki memperkeruh suasana dengan tertawaan yang sengaja ia buat.
Kiki menatap tajam kepada kedua temannya.
"Berisik!" Kiki bersungut kesal.
"Itu anak kenapa sih? Tumben banget gak sama Cia," oceh Cuki.
"Bener. Biasanya tu anak nempel terus sama Cia," timpal Ciki.
"Jangan bahas dia! Kita ke kantin aja," tihta Kiki yang menuju kantin sekolah. Diikuti dengan dua temannya.
"Cie yang sakit hati, karna di cuekin." Ciki masih sempat kembali meledek Kiki.
Kiki hanya mengkerutkan keningnya. Kesal.
Kantin.
Kiki dan teman-temannya mulai masuk ke dalam kantin. Mereka mencari tempat duduk. Sedikit berjahuan dengan Cia dan Jay berada.
"Eh bukanya itu Cia sama Jay ya? Ih kok romantis sih mereka pakai acara suap-suapan segala. Jadi iri," oceh Ciki.
Pandangan nereka bertiga beralih pada Cia dan Jay yang terduduk di pojok ruangan.
"Wihh. Gile, mesra juga ya," timpal Cuki.
Kiki menaikan alisnya.
"Jadi Bima seperti itu, Karena melihat ini," gumam Kiki.
"Pantes ya sih Bima kek keset kusut gitu mukanya. Rupanya dia lihat Cia sama Jay bermesraan ya," celoteh Cuki lagi.
"Jangan berisik! Kita makan aja, jangan ikut campur urusan mereka," tihta Kiki.
Salah satu pelayan datang mengantarkan makanan mereka bertiga. Meletakkan satu persatu makanan yang mereka pesan di atas meja. Kemudian berlalu pergi.
Kiki langsung menyantap makanannya. Namun, kedua temannya masih saja menyaksikan kemesraan tersebut.
"Mau sampai kapan kalian lihat! Makan atau pergi aja dari sini!" Kiki mengatakannya dengan tegas.
"Iya iya, maaf."
Tidak lama, keduanya langsung saja beralih pandang dan melahap makanan yang sudah tersaji.
"Beraninya mereka bermesraan seperti itu. Aku akan benar-benar membuatmu hancur, Cia!" Kiki berbicara dengan dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, semua murid bergegas kembali ke dalam kelas. Di sibukkan dengan tumpukan-tumpukan soal, untuk pelatihan ujian akhir nanti.
Sepanjang kelas berlangsung. Bima terus saja Dian dan enggan menatap Cia. Ia masih saja memikirkan apa yang tadi ia lihat di kantin. Hatinya sama sekali tak tenang, jika memikirkan hal tersebut. Sangat mengusik.
"Bima kenapa sih, dari tadi gue sapa diem aja," gerutu Cia dalam hatinya.
***
"Malam ini Kalian harus bergerak. Periksa semua yang ada di sana. Dan jangan lupa, jika ada seorang wanita, maka bawa dia sekaligus," tihta Adiputera.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Pengawal setianya siap sedia menuruti tihta Adiputera. Kemudian bergegas pergi.
"Malam ini kita akan tau, apa yang coba Meriska sembunyikan selama ini," gumam Adiputera.
"Aku harap dugaanku benar," ucapnya lanjut.
Di sisi lain.
"Malam ini, bawa gadis itu kehadapanku. Aku tak ingin mendengar kata gagal!"
"Baik, Tuan."
"Bagus. Sekarang pergi dari sini," tihta Brion kepada pengawalnya.
Pengawal tersebut menundukkan kepalanya dan kemudian pergi.
Tidak lama setelah itu, Lea masuk ke dalam ruang kerja Brion. Ia menampilkan wajahnya yang sangat muram.
"Ada apa sayang? Kenapa muka cantik kamu di tekuk gitu," tanya Brion khawatir.
"Jangan bersikap sok peduli! Mana janji Papa!!" Lea sangat marah.
"Janji apa?"
"Ih tukan!" Lea bersungut kesal.
Brion tersenyum melihat tingkah putrinya tersebut.
"Soal pengganggu itu, sudah Papa bereskan. Kamu tenang saja."
Lea langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat bahagia. Ia langsung memeluk Brion dengan sangat erat.
"Thanks, Pa. Papa memang yang terbaik," puji dirinya.
"Tentu saja Papa yang terbaik," sahutnya.
"Makasih, Jay."
Cia turun dari mobil Jay.
"Istirahatlah."
Cia menaikan alisnya.
"Ada apa?" tanya Jay kebingungan.
"Bukan apa-apa. Cuman aneh aja loe sok perhatian gitu," jawabnya.
Jay tersenyum hangat. Menatap wanita itu dengan tatapan dalam sedari dalam mobil.
"Setelah menikah, loe akan terbiasa dengan ini," ucapnya serius.
Deg ... Deg.
Seketika pipi Cia memerah dan jantungnya seakan berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Auh akh. Gue masuk dulu. Bye." Cia langsung memalingkan wajahnya dan berjalan masuk.
"Perlahan-lahan, loe akan mulai suka sama gue Cia. Pasti," gumamnya.
Tidak lama setelah itu, Jay langsung saja melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah Wijaya. Menelusuri jalanan. Pulang. Sedangkan Bima yang sedari tadi melihat semua itu, masih saja diam terpaku di depan gerbang.
"Apa loe bener-bener bahagia saat bersamanya, Cia?" tanya Bima dalam hati.
"Jika benar, gue akan lepasin loe mulai saat ini," gumamnya lanjut.
Beberapa saat kemudian, Bima memutuskan untuk pergi dari sana. Tak di sangka suara klakson mobil membuatnya terkejut. Bima langsung berbalik badan. .
Tampak Kiki turun dari dalam mobilnya. Tak lama mobil tersebut melaju masuk ke dalam kediaman Wijaya. Meninggalkan Kiki dan Bima di luar gerbang.
"Wah wah, Bima. Sedang apa loe di sini?" tanya Kiki.
__ADS_1
Bima hanya menatap tajam. Tidak mau berbasa-basi, ia langsung saja melangkah. Bergegas meninggalkan Kiki. Namun, Tangan Kiki lebih dulu menghentikannya.
"Lepas!" Bima menatap tajam, melihat tangannya di sentuh oleh Kiki.
Kiki tersenyum lebar. Ia semakin mempererat genggamannya tersebut.
"Jangan galak-galak, Bim. Aku kan belum selesai ngomong, kok main pergi aja sih," godanya.
"Lepas gue bilang!!"
"Kalau gue gak mau. Gimana?" godanya lagi.
Bima semakin kesal dengan sikap Kiki. Di samping itu, ia juga khawatir jika Cia akan melihatnya berduaan dengan Kiki.
"Lepas! Gue gak mau ribut sama loe hari ini, Ki!"
"Kenapa sih? Sepertinya loe kesel banget hari ini, apa jangan-jangan karna loe lihat Cia dan Jay ..."
Belum siap Kiki berbicara. Bima sudah lebih dulu mencekik lehernya dengan sebelah tangannya. Saat ini posisi mereka sangat dekat satu sama lain.
"Cukup! Gue udah peringatan dulu kan, jangan lagi cari gara-gara sama gue maupun Cia!!"
Bima menatapnya tajam. Kiki masih saja tersenyum di saat kondisinya yang terdesak saat itu. Dan Bima sangat bingung akan hal itu. Hingga ia sadar ....
"Kalian berdua ngapain!"
Suara Bentakan Cia yang membuat Bima terkejut dan secara spontan melepaskan tangannya dari leher Kiki. Begitupun sebaliknya.
"Cia. Loe kok di sini?" tanya Bima.
Cia mendekati Bima. Tanpa berkata apapun, ia langsung saja menampar Bima dengan sangat keras. Lengkap dengan ketajaman mata yang sengaja ia lontarkan pada keduanya.
Plak.
"Dasar brengsek!" maki Cia.
"Ini gak seperti yang loe lihat Cia," ucap Bima menyakinkan.
Kiki terus saja tersenyum. Ia seolah menunjukkan jika yang baru saja Cia lihat adalah sebuah kemesraan antara sepasang kekasih. Tentu saja itu membuat Cia semakin geram.
"Cia. Gue bisa jelasin semuanya," ucap Bima lagi.
"Cukup, Bim. Gue kecewa sama loe! Gue kira loe beneran gak akan khianati gue. Tapi nyatanya ...."
Cia tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia teramat kecewa, sedih dan marah saat itu. Air matanya seakan hendak mengalir deras, namun tak mampu tumpah.
Tak ingin lagi berkata apapun. Cia langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Bima dan Kiki begitu saja.
"Cia!" panggil Bima.
Panggilannya sama sekali tak di hiraukan oleh Cia.
"Semua ini gara-gara loe, Ki!"
"Eh, kok karna gue? Yang nyentuh leher gue siapa? Loe kan," ledeknya bahagia.
"Udahlah, Bim. Santai aja, gak perlu di besar-besarkan masalah sepele deh," ucapnya lanjut.
"Cukup, Ki! Jangan bicara lagi. Gue muak lihat tingkah loe!"
"Cih. Terserah deh. Gue heran kenapa loe segitu takutnya kehilangan dia. Kalau persahabatan kalian beneran tulus. Cia gak akan pernah tinggalin loe kan," celotehnya.
"Gue masuk dulu ya. Bye Bim."
Kiki melambaikan tangannya dan berjalan masuk ke dalam halaman kediamannya.
Bima masih khawatir dengan Cia. Namun, jauh di lubuk hatinya, kata-kata Kiki bisa sedikit membuatnya tenang.
"Gue coba bujuk dia lagi nanti. Saat ini, pasti dia bakalan makin marah sama gue."
..._Bersambung_...
BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.
__ADS_1