JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#48


__ADS_3

...“Dunia tidaklah kejam. Melainkan manusia itu sendirilah yang membuatnya terlihat kejam.”...


.......


.


.


“Beraninya dia mengancamku! Si*l*n!!” maki Jay setelah menerima e-mail tersebut.


“Akan kubuat kau menderita. Aku akan pastikan itu!!” ucapnya lagi.


Dirinya terlihat sangat kesal sekaligus menampilkan raut wajah yang menyeramkan. Tanpa banyak bicara lagi, Jay langsung saja mengambil jaketnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia langsung bergegas keluar kamar sembari menjinjing jaketnya tersebut. Tampak  dari ruang bawah Adiputera yang melihat putranya tersebut terlihat terburu-buru.


“Berhenti, Jay!!”


Seketika itu pula Jay menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik arah menghadap sang Papa.


“Mau kemana kau malam-malam begini?” tanya Adiputera sembari menutup sebuah buku yang ia baca tadi.


“Jay ada urusan sebentar, Pa,” jawabnya.


“Urusan apa?” tanya Adiputera lanjut.


Jay sempat ragu mengatakan segalanya kepada Sang Papa. Namun pada akhirnya ia menceritakan segala hal yang terjadi. Raut wajah adiputera pun langsung saja berubah.


“Pergilah. Bawa juga para pengawal bersamamu,” tihta Adiputera.


“Itu tidak diperlukan, Pa. Jay bisa menangani semuanya sendiri.” Matanya memancarkan kesungguhan yang nyata disana.


“Papa tau kau bisa menanganinya seorang diri. Tapi, untuk berjaga-jaga bawalah mereka. Ini perintah bukan permintaan!” mata adiputera menatap tajam.


Jay menghela nafasnya pelan. Ia mengangguk. Tanda menerima


perintah tersebut. Dirinya sangat memahami Adiputera. Sekali ia memberikan perintah, maka tidak akan ada yang bisa membantah. Tanpa berlama-lama lagi, Jay langsung saja pergi bersama beberapa pengawal ke suatu tempat.


“Periksa dimana lokasinya,” ucapnya dingin kepada para pengawalnya.


“Baik Tuan.”


**


Kediaman Wijaya.


Meriska seperti biasa membawa segelas susu hangat kepada Cia. Ia melangkah dengan anggun menuju kamar putri tirinya tersebut.


Tok tok. Meriska mulai mengetuk pintu kamar Cia.


“Sayang, Mama masuk ya?”


Suasana hening. Tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam kamar


Cia.


“Kenapa dia tidak menjawab? Apa dia sudah tidur?” tanyanya seorang diri.  Tanpa berpikir lagi, Meriska langsung saja membuka pintu tersebut dan mulai memasukinya.


Hening dan tanpa siapapun. Hanya itu yang ia dapati ketika masuk kedalam kamar Cia.


“Cia. Sayang kamu dimana?” tanya Meriska sembari mencari-cari keberadaan Cia.

__ADS_1


Meriska meletakan segelas susu tersebut keatas meja belajar Cia yang terlihat sangat berantakan.


“Kemana lagi dia pergi malam-malam begini?” tanyanya seorang diri.


“Dia pergi sejak tadi,” ucap Kiki yang membuat Meriska terkejut akan kedatangannya.


Meriska menoleh kebelakang, menatap Kiki yang sudah bersandar di depan pintu kamar Cia.


“Pergi kemana dia?” tanya Meriska.


Kiki mengangkat kedua bahunya. “Gak tau. Kabur kali,” jawabnya cuek.


“Kabur?”


“Ya, seperti biasa. Dia kabur dari rumah. Jangan khawatir, dia paling akan pulang beberapa hari lagi. Sejak dulu ia selalu melakukan itu kan,” jawabnya lagi.


“Kemana lagi dia pergi, apa benar dia kabur lagi?  Tapi apa masalahnya kini?” batin Meriska.


Kiki melihat Meriska yang sedang bermain dalam pikirannya seorang sendiri.


“Baiklah sayang. Kamu sebaiknya tidur lebih cepat, besok harus masuk sekolah kan,” ucap Meriska sembari tersenyum tanggung kepada Kiki.


Kiki hanya menatap tanpa berkata apapun, tak lama ia-pun akhirnya pergi dan masuk kembali kedalam kamarnya. Meninggalkan Meriska seorang diri.


“Hah, dia masih saja marah padaku.” Meriska menghela nafasnya dalam melihat itu.


Setelah itu Meriska kembali berjalan menuju kamarnya. Saat ia masuk kedalam sana tampak Agung sudah menunggu dirinya di dalam kamar.


“Darimana saja kamu?” tanya Agung.


“Aku ada urusan sayang,” jawab Meriska.


“Mungkin aku tak perlu bilang dulu tentang Cia kepadanya,” batin Meriska.


“Tenang saja, aku takkan berbuat apapun lagi,” ucap Meriska di dalam pelukan Agung.


Agung menatap wajah istrinya tersebut dengan sorot mata yang mengawasi.


“Baguslah. Atau kalau tidak, maka kali ini aku takkan segan-segan membuat kamu lebih menderita lagi dari sebelumnya!!” ancam Agung sembari mencium leher Meriska dengan lembut.


Meriska hanya diam, sembari merasakan hawa panas yang mulai ia rasakan didalam tubuhnya tersebut.


“Sekarang lakukan tugasmu sebagai seorang istri,” ucap Agung yang terus-menerus mengecup leher Meriska.


Setelah mengatakan hal tersebut Agung langsung saja melanjutkan aksinya untuk menikmati tubuh indah Meriska dan merekapun melakukan hubungan intim.


***


Sedangkan disisi lain Jay telah sampai di sebuah tempat yang ia tuju. Sebuah villa mewah yang terletak cukup jauh dari kediamannya.


“Apa ini tempatnya?” tanya Jay kepada Pengawalnya sembari menatap villa tersebut.


“Benar Tuan. Dari hasil penyelidikan kami benar disni tempatnya,” jawab salah satu pengawalnya.


Jay dan juga para pengawalnya turun dari mobil bersama-sama.


“Oke kalian tunggu disini, aku akan masuk sendiri,” ucap Jay yakin.


Semua pengawal terkejut atas apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


“Maaf tuan muda, kami diperintahkan untuk terus menjaga tuan muda sampai segala urusan disini selesai,” jawab salah satu ketua pengawal.


Jay menatap tajam. “Apa kau lupa siapa aku! Aku bisa menghabisi kalian semua sekarang juga kalau aku mau!!” ancam Jay ang bernada dingin.


Semua pengawal tertunduk. Ada kecemasan diantara mereka semua.


“Maafkan saya Tuan muda, tapi ini perintah dari tuan besar. Kami tidak berani membantahnya,” jawab lagi ketua pengawal tersebut. Panggil saja ia Pak Abdi. Karena usinya hampir sama dengan Adiputera.


“Kalian tunggu disini. Kalau dalam waktu 10 menit aku tidak keluar, kalian baru boleh masuk!” jay mengatakannya dengan sangat tegas.


“Baik, Tuan.”


Semua pengawal menunduk bersama. Mereka hanya bisa melihat Jay masuk seorang diri kedalam villa tanpa bisa menemaninya sama sekali.


Jay terus saja melangkah masluk kedlam villa dengan tingkat kewaspadaan yang aktif. Tiba-tiba saja ada seorang pria yang bertubuh tegap masuk muncul dihadapannya.


Jay menatapnya dengan sangat tajam.


“Silakan masuk, Anda sudah ditunggu oleh bos kami didalam,” ucap pengawal tesebut dengan sopan.


“Mari kita lihat siapa yang berani mengusikku,” ucap Jay dengan nada kesal.


Jay melangkah masuk kedalam villa tersebut di kawal dengan


pengawal tersebut yng berjalan di depannya. Sampai didalam villa tidak ada seorangpun yang ia jumpai disana. Hening.


“Dimana dia?” tanya Jay dengan tajam.


“Silakan Anda naik kelantai atas. Beliau sudah menunggu Anda di sana,” jawab pengawal tersebut.


“Suruh dia mengahadap padaku sekarang. Dia kira siapa bisa seenaknya memberikan perintah padaku!” jay terus saja memberikan tatapan tajam kepada pengawal tersebut.


“Baik, akan saya sampaikan pesan Anda. Silakan tunggu di sini sebentar, saya permisi dulu,” ucapnya sopan.


Pegawal tersebut segera pergi dari hadapan Jay dan segera menemui tuan besar yang ia maksudkan.


Tok tok.


“Permisi Tuan,” ucap pengawal tersebut sebelum masuk kedalam ruangan.


“Dimana dia?” tanya seseorang yang tengah duduk di sebuah kursi mewah menghadap keluar villa. Membelakangi sang pengawal.


“Maaf tuan. Dia meminta tuan yang menemuinya bukan sebaliknya,” jawab pengawal tersebut dengan hati-hati.


Pria tersebut tersenyum tipis.


“Dia masih saja tidak berubah. Sama saja dengan pria itu, angkuh!” gumammnya.


 “Sampaikan padanya. Jika ingin tunangannya selamat maka dia harus menurunkan ego-nya itu,” ucapnya.


“Baik Tuan. Akan segara saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap pengawal tersebut sambil undur diri dari sana.


Prangg ….


Sebuah vas bunga terlempar kelantai dan kini hancur berantakan. Sesaat ketika Jay mendengar apa yang pengawal tersebut sampaikan.


“Beraninya dia!! Akan kupastikan kau mati hari ini.” hardiknya.


..._Bersambung_...

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI....


__ADS_2