JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#60


__ADS_3

..."Darimana datangnya sebuah kepastian, tanpa adanya sebuah cinta. Itu seperti laut tanpa hulunya."...


.../lasceria....


...***...


Setelah mendengarkan apa yang Bima katakan. Rasanya kiki semakin merasa kesal dan merasa, jika semua orang memang tidak pernah sekalipun mendukung dirinya.


"Gue gak butuh nasihat dari loe!"


Kiki langsung pergi meninggalkan Bima seorang diri disana.


"Ck, buang-buang waktu ternyata!"


Bima juga bergegas pergi dari sana dan langsung menuju kantor kepala sekolah. Ia akan menyelesaikan beberapa urusan disana, tentu saja ada yang menyangkut tentang Cia.


...***...


Adiputera bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Tapi sebelum itu, ia mampir terlebih dahulu ke kamar Keysa. Memastikan jika Keysa baik-baik saja.


Adiputera masuk kedalam kamar. Terlihat Keysa yang terduduk diatas kasurnya sembari menatap kearah luar jendela. Melihat mentari pagi yang bersinar memasuki ruangan tersebut.


Kehadiran Adiputera disadari oleh Keysa, namun ia memilih untuk tetap mengacuhkannya.


"Apa kabarmu pagi ini?" tanya Adiputera.


Keysa hanya diam membisu. Masih terus menatap kearah mentari pagi.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Adi lagi.


Keysa masih tetap diam. Hal tersebut sedikit membuat Adiputera merasa kesal.


"Apa kau berencana untuk terus diam selamanya?"


Keysa masih menutup mulutnya rapat-rapat. Melihat itu, semakin membuat Adiputera merasa kesal. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"Teruslah bersikap seperti itu! Aku pastikan kamu takkan bisa menemui putrimu lagi selamanya," ancam Adi.


Mata Keysa mulai melebar. Ia spontan menatap tajam ke arah Adiputera berada. Mendengar hal tersebut membuatnya merasa takut.


"Aku pergi kerja dulu. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, ada asistenku yang akan mengurus segalanya," jelas Adi.


Melihat Keysa yang masih diam. Adiputera memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Tunggu!"


Suara itu mampu membuat langkah Adiputera terhenti. Ia tak berbalik arah, namun siap mendengarkan apa yang ingin Keysa Katakan padanya.


"Apa aku bisa menemuinya sebentar?" tanya Keysa dengan lembut.


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Tidak ada alasan untuk itu."


"Kau sudah berjanji padaku kemarin. Sekarang aku sudah pulih, sesuai janjimu, berarti aku bisa menemuinya!" Keysa tampak gusar.


"Tetap tidak bisa."

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa?"


"Waktunya belum tepat. Jadi sekarang beristirahatlah, aku pergi dulu!"


"Apa! Hei jangan pergi. Bagaimana bisa kau ingkar janji seperti ini?"


"Kamu pasti akan hancur melihat kondisinya sekarang, key. Aku takkan bisa biarkan itu terjadi padamu," batinnya.


Adiputera pergi begitu saja setelah mengatakan hal tersebut.


"Seharusnya aku tak percaya kata-kata busuknya kemarin!" maki Keysa.


...***...


Beberapa saat kemudian Adiputera sampai di kantornya. Setibanya disana, sang sekretaris kian menghampiri. Menyambut kedatangannya di depan pintu masuk kantor.


"Selamat pagi, tuan."


"Apa berkas yang ku butuhkan sudah ada?"


"Sudah saya siapkan semuanya, Tuan."


Mereka terus berjalan menuju ruangan kerja Adiputera. Sesekali Adiputera memeriksa beberapa berkas. Diikuti oleh sang sekretaris.


Langkah Adiputera terhenti begitu saja, ketika melihat Agung yang sudah berada di kantornya.


"Kenapa dia ada di sini?" batinnya.


"Kau pergilah dulu, siapkan berkas-berkas pendukung lainnya." Adi menyerahkan berkas yang ia pegang kepada Diana. Sang sekretaris.


"Baik, Tuan."


Adiputera mulai mendekati Agung yang duduk di dekat resepsionis.


"Ada keperluan apa yang membuat Anda kemari?" tanya Adi langsung.


Agung yang melihat kedatangan Adi langsung bangkit dari duduknya.


"Oh, Anda sudah datang ternyata," Agung mengulurkan tangannya. Berjabat tangan. "Ada hal yang perlu saya tanyakan."


"Silakan ikuti saya."


Adiputera membawa Agung masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Silakan duduk," basa-basi Adi. "Sekarang katakanlah."


...***...


Jay masih menanti Cia sadar kembali. Tapi hal yang ia harapkan sepertinya belum bisa terwujud saat ini. Beberapa saat kemudian. Seorang suster datang menemuinya.


"Permisi tuan," ucap suster tersebut.


"Ada apa? Apa kau ingin memeriksanya?" tanya Jay.


"Tidak. Saya ingin mengatakan bahwa dokter meminta Anda datang keruangannya sekarang," jelasnya.


"Apa hasilnya udah keluar?" tanyanya lagi.


"Saya kurang tau akan hal tersebut. Silakan tuan langsung bertanya pada dokter Brian langsung, tuan."

__ADS_1


"Baiklah. Kau tetap disini dan awasi perkembangannya."


"Baik, tuan."


Jay langsung bergegas pergi dan menuju ruang dokter Brian. Dokter yang merawat Cia.


Tok ... Tok ...


"Masuk," ucap sang dokter.


"Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Jay langsung.


"Silakan duduk dahulu, tuan muda."


Jay duduk. Siap mendengarkan.


"Seperti yang Anda katakan, hasilnya memang sudah keluar."


"Sekarang jelaskan padaku, apa yang terjadi padanya?"


Dokter Brian mengambil sebuah hasil leb laboratorium dari laci mejanya.


Ia menyodorkan hasil tersebut kepada Jay. Dengan segera Jay mengambil dan membukanya. Mencoba memahami.


"Dari hasil laboratorium, pasien telah disuntikkan sejenis racun yang berbahaya. Racun ini tidak akan menunjukkan efeknya dengan waktu yang singkat, tapi racun ini bekerja seperti parasit yang perlahan-lahan akan mulai menggerogoti tubuh yang ia hinggapi. karena jenis racun ini perlahan-lahan akan merusak jantung."


"Cairan racun dalam tubuh pasien tidaklah banyak, untung saja pasien masih disuntikan dalam dosis yang sangat rendah. Akan tetapi jenis racun ini sangat berbahaya setiap harinya. Karena jenis racun ini langsung menyerang jantung seseorang. Itulah alasan Kenapa pasien sangat merasakan sakit di bagian jantungnya. Hal ini bisa terjadi kapan saja,"


"Tapi, dia masih bisa di sembuhkan, bukan?" Jay tampak cemas, hanya karena memikirkannya saja.


"Tentu saja masih bisa, dengan beberapa pengobatan maka kita bisa mengeluarkan racunnya secara perlahan. Tapi pengobatan ini akan terasa sangat menyakitkan. Ini sama kasusnya seperti kemoterapi yang di lakukan para penderita kanker."


Jay termagu mendengarkan. Hati dan pikirannya mulai kalut. Gelisah tak menentu.


"Kapan pengobatannya dimulai?"


"Minggu depan kita sudah mulai melakukan pengobatan pada pasien. Tapi sebelum itu, selama pengobatan berlangsung, pasien tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan yang ekstrim atau merasa syok berat untuk menghindari pemicu racun yang ada dijantungnya."


"Lakukan yang terbaik dokter. Soal biaya, Anda tidak perlu khawatir." ucap Jay menyakinkan.


"Tentu saja, Tuan. Itu memang tugas kami."


"Apa dia harus disini selama pengobatan?"


"Tentu saja pasien boleh dirawat jalan. Tapi tuan harus memastikan ia meminum obatnya setiap hari untuk mempercepat pensterilan racunnya. Setiap seminggu sekali pasien wajib datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut,"


"Baik, aku mengerti. " Jay bangkit dari duduknya.


"Terimakasih. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Sama-sama, tuan."


Jay membuka pintu dan segera keluar dari sana. Menuju ruangan Cia. Beberapa saat kemudian. Jay masuk kedalam ruangan Cia.


Jay melihat Cia yang masih tertidur pulas karena efek dari obat bius.


Perlahan tapi pasti. Jay menyentuh rambut Cia dengan lembut.


"Jangan mati. Gue gak ijinin loe mati apapun yang terjadi." gumamnya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2