JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#20


__ADS_3

..."Jangan mencari kebahagiaan di tempat yang tidak pernah memberikan kebahagiaañ. Dan, tidak pernah ada kebahagiaan di dalamnya."...


..._Reza Zakarya_...


...****...


Mentari pagi mulai menampakan sinarnya, menerpa wajah Cia yang masih telelap tidur di samping tempat tidur, Bima. Beberapa saat, seorang Suster datang dan menepuk pundak Cia. Berniat membangunkan.


"Kenapa dia bisa tidur di sini?" batinnya.


Suster tersebut meletakan nampan yang bérisikan beberapa suntikan dan obat untuk pasien di atas meja. Kemudian ia mulai menepuk-nepuk pundak Cia beberapa kali. Tapi, hasilnya nihil. Hingga, suster tersebut menepuk ulang pundak Cia dengan sedikit keras. Dan, Cia pun mulai terbangun dari tidurnya.


"Halo, Nak. Bangunlah, Kamu tidak boleh tidur di sini,"


Cia menggeliat, dengan mata yang masih tertutup ia menepis tangan sang suster. "Jangan ganggu gue, ini masih pagi jangan berisik!" ucapnya ketus.


"Ampun deh, susah amat di bangunin. Udah mirip kebo aja ni anak!" celoteh sang suster.


"Nak, bangunlah, tidak boleh tidur di sini."


"Hem, oke-oke gue bangun. Jangan berisik!"


"Bukannya dia ya, yang dari tadi berisik," batin suster.


Cia terbangun, ia mengusap kedua matanya yang sudah sangat sembab akibat semalaman menangis, dan perlahan ia mulai membuka mata. Sang suster langsung meminta Cia untuk keluar dari ruang ICU.


Hingga Cia memutuskan untuk duduk di ruang tunggu. Badannya terasa sakit sekujur tubuh. Dan, beberapa saat Boby datang menghampirnya.


"Pagi, Kak."


"Hmm, " Cia hanya membalas sapaan Boby dengan malas. Sejujurnya, ia masih amat sangat mengantuk dan ingin hendak tidur. Tapi apalah daya, rasa kantuk itu tak kunjung membuat matanya untuk segera menutup rapat, apalagi perutnya sudah mulai demo semenjak ia bangun.


"Kak Cia, gak sekolah? Ini kan sudah siang kak. Nanti apa gak takut telat?" tanya Boby.


"Gue bolos hari ini, gue mau jaga Bima aja! Loe kemari gak bawa sarapan. Gue laper ni, "


"Ini kak, kebetulan tadi bawa bubur. Buat jaga-jaga kalau bos bangun nanti, "


"Dia gak suka sama bubur, buat gue aja sini." celotehnya.


Belum sempat Boby menjawab. Ia sudah langsung mengambil paksa bubur tersebut dari tanganya. Dan, Cia dengan lahap menyantap bubur tersebut tanpa sisa.


"Loe udah sarapan kan?"


"Udah, Kak. "


"Kalau belum, loe beli sendiri maksudnya. Gue lagi gak bawa uang buat bayar ni bubur. Kapan-kapan pasti gue ganti. Loe tenang aja, " celoteh Cia.


"Gak apa, Kak Cia. Boby ikhlas."


"Bagus, kalau gitu gue balik dulu bentar. Loe di sini jagain bos bentar sampai gue balik ya,"


"Memangnya, Kakak mau kemana?"


"Banyak tanyak! Gue mau pulang buat mandi dulu, lagian gue kemari gak bawak apapun."


"Siap, Kak. Hati-hati di jalan ya."


"Ya, loe jaga Bima baik-baik ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari gue, paham!"


"Siap, Kak."


Cia beranjak dari sana, dan langsung pergi untuk kembali lagi di rumah yang masih asing baginya. Dengan menumpang mobil terbuka ia bisa sampai dengan selamat sampai di rumah.

__ADS_1


...kediaman Wijaya...


Semua sudah berkumpul di meja makan. Meriska sibuk menyiapkan sarapan untuk di hidangkan di atas meja makan. Kiki, sudah bersiap dengan seragam rapinya untuk segera berangkat sekolah. Begitu pula dengan Agung, yang sudah sangat rapi dengan jazz hitam yang mengkilat.


"Pagi semua, " sapa Agung.


"Pagi, Pa." sahut Kiki.


"Adik kamu mana, Ki?" tanya Agung heran.


"Siapa?" ucap heran Kiki.


"Adik kamu, Cia. Memang siapa lagi?"


"Ouh ... Gak tau, dari tadi malam dia belum pulang, Pa."


Meriska datang, ia membawa semangkuk besar nasi goreng yang siap di santap. Di bantu dengan pelayan yang membawa ayam goreng dan makanan pelengkap lainnya.


"Cia mana, Ma?" tanya Agung.


"Mungkin masih tidur, Pa. Biar Mama cek dulu ya,"


"Anak itu belum pulang, Ma! Tadi pagi Kiki udah suruh Bi Imah cek ke kamarnya, dan dia gak ada di sana."


"Anak itu, selalu saja bikin sakit kepala!" keluh Agung.


"Yaudah, Papa sarapan dulu ya. Nanti kalau dia sudah pulang. Biar Mama yang bicara,"


"Belain aja terus, usir aja kenapa sih. Dari awal dia memang bukan anggota keluarga kita kan," gumam Kiki.


"Cukup, Ki! Jangan mulai lagi. Sekarang habiskan sarapan kamu." ucap Meriska.


Mereka sarapan bersama, tak lama. Cia datang dan membuat pusat perhatian hanya padanya. Walau begitu, ia tetap saja santai berjalan dan mulai menuju tangga.


"Tunggu!" ucap Agung.


"Cia, kamu kemari. Papa ingin bicara, "


Cia memutar kedua bola matanya. Ia sama sekali tak tertarik untuk mendengarkan lagi ocehan yang ada dalam keluarga tersebut. Dalam pikirannya sekarang hanyalah, mandi dan segera pergi kembali.


"Cia, papa mau bicara. Jangan bersikap seperti itu, " ucap Meriska lembut.


"Pa, ayo berangkat sekarang. Sebentar lagi sudah waktunya masuk sekolah, nanti Kiki telat."


"Kalau begitu, papa berangkat dulu dengan Kiki ke sekolah. Masalah Cia biar Mama yang urus, Papa tenang aja ya." ucap Meriska mantap.


Agung menyetujuinya, ia dan juga Kiki akhirnya pergi bersama. Dan, Cia langsung saja pergi ke kamarnya untuk segera mandi. Meriska membantu para pelayan membersikan meja makan, seusai sarapan pagi.


Selang beberapa waktu, Meriska sudah tiba tepat di depan pintu kamar Cia, ia membawa nampan yang di atasnya sudah tersajikan sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat. Kebetulan sekali, Cia baru saja selesai membersikan diri dan hendak segera berangkat untuk kembali menjaga, Bima.


"Sayang, kamu sudah selesai mandi?"


"Ya ..., ada apa Nyonya kesini?" sahut Cia dari dalam kamar.


"Tolong bukakan pintunya dulu, sayang."


Sembari mengusap-usapkan rambutnya yang masih basah dengan handuk, Cia segera membukakan pintu kamar.


"Ada apa, Nyonya?"


"Mama, bawakan kamu sarapan sayang. Ayo di makan, Mama sudah siapin makanan favorite kamu lo, kamu pasti suka." Ucap senang Meriska sembari menunjukan isi nampan tersebut.


"Nyonya gak perlu repot-repot, bawa lagi aja, aku udah makan tadi di rumah sakit,"

__ADS_1


"Rumah sakit. Kamu sakit apa, kenapa bisa masuk rumah sakit?"


"Bukan aku! Tapi sahabatku yang sakit," jelas Cia.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, lihat mata kamu juga bengkak. Kamu habis menangis semalaman ya, sayang?"


"Dia masih belum sadar, dan aku baik."


"Baiklah, nanti biar Mama temani kamu ya kerumah sakit. Sekarang kamu sarapan dulu, oke."


Cia sedikit menyingkirkan badannya ke arah samping, tanda mempersilakan Meriska masuk. Lalu, Meriska masuk dan meletakan nampan berisi makanan tersebut di atas meja belajar. Meriska menyuruhnya untuk duduk dan segera sarapan. Cia mengikuti.


Entah mengapa Cia menuruti begitu saja ucapan Meriska. Hatinya sepintas mulai perlahan luluh akan kebaikan dari Meriska. Namun, dengan segera ia tepis jauh-jauh perasaan tersebut.


"Ayo dimakan, sayang. Apa perlu Mama suapin," ucapnya lembut.


"Gak, aku bisa sendiri." ketus Cia.


"Baiklah,"


Cia hanya mendengarkan tanpa berniat menjawab apapun yang di ucapkan, Meriska. Ia tetap melanjutkan sarapannya dengan cepat. Perasaan nyaman semakin lama ia rasakan pagi itu, mungkin karena ia sudah lama merindukan sosok seorang Ibu untuk merawatnya.


Beberapa saat, Cia selesai dengan urusannya. Dan, Meriska mulai membuka suara. Perlahan ia mengusap lembut rambut, Cia. Sembari terseyum manis ia mulai mengatakan pada Cia dengan mantap.


"Sayang, bisa Mama menanyakan sesuatu pada kamu?" ucapnya mantap.


"Ada apa?"


"Soal perjodohan kemarin malam, Mama mau bilang .... "


"Tidak! Aku tetap menolak itu!!" Cia memotong ucapan Meriska. "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menikah! Apalagi pria itu berasal dari pilihan keluarga Anda!" jelas Cia.


"Kalau itu keputusan kamu, Mama akan mendukung. Nanti, Mama akan bantu bicara pada Papa," ucapnya terseyum tipis.


"Baguslah," ucap Cia puas. "Aku harap Anda bisa menepati janji itu sendiri!" ucapnya mantap.


Seusai menghabiskan sarapannya, Cia mulai beranjak pergi. Ia mulai sibuk menyiapkan beberapa helai pakaian dan keperluan lainnya untuk di masukan dalam ransel biru yang sering ia kenakan. Meriska mulai membantu putrinya tersebut.


"Sayang, bisakah Mama minta satu hal kecil pada kamu?" ucap Meriska ragu-ragu.


"Katakan saja," ucapnya sembari terus sibuk menata beberapa barang.


"Bisakah, mulai saat ini, Cia jangan lagi memanggil Mama seperti orang asing? Bisakah panggil Mama saja seperti halnya kakak kamu, Kiki?"


Mendengar hal itu, Cia terhenti dari aktifitasnya. Ia beberapa saat memikirkan apa yang Meriska minta, namun pada akhirnya ia hanya diam. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Meriska mulai merasa sedih, terlihat jelas di matanya. Kepedihan yang mendalam.


Tak lama, Cia siap sudah untuk berangkat. Tas ransel sudah ia kenakan, senada dengan sepatu kets berwarna hitam berilis putih. Celana panjang dan baju hitam, serta rambut yang ia kucir satu di belakang. Menambah kesan tomboi pada dirinya tersebut. Namun, tetap terlihat cantik.


Beberapa langkah sebelum pintu, Meriska menawarkan tumpangan untuknya menuju rumah sakit. Namun, Cia hanya menggeleng. Tanpa kata, dan tetap melanjutkan pergi.


Meriska kembali merasa kecewa, matanya meredup. Dan beberapa kali ia menghela nafas dalam. Tak disangkah, Cia kembali lagi.


"Apa, Mama akan tetap diam di sana? Tidak jadi mengantar."


Meriska langsung terperanjat dari lamunannya, ia merasa tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Cia. Barusan mengatakan hal yang selama ini paling ia benci.


"Sayang, kamu tadi bilang apa?" ucap Meriska memastikan kembali apa yang tadi ia dengar.


"Mama," ucapnya spontan.


Mendengar hal itu, senyuman Meriska mulai mengembang. Terlihat jelas kebahagiaan yang tersirat pada kedua matanya. Ia sangat bahagia sekaligus masih merasa mimpi. Tak ragu-ragu Meriska langsung saja memeluk erat tubuh Cia. Meriska. Menitikan beberapa air mata, melepas semua tekanan yang ada. Dan, Cia hanya bisa terpaku. Ia juga merasakan hal aneh dalam dirinya, perasan rindu terhadap seorang Ibu. Mulai membuatnya luluh.


"Apa yang baru aja terjadi, kenapa gue bisa mengucapkan kata-kata itu, tapi. Perasaan ini sedikit nyaman, andai saja ini, Mama. Pasti ...." batinnya.

__ADS_1


..._Bersambung_...


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2