
...From Movie : Shanghai...
...Singer: Nandini Srikar, Arijit Singh, shekhar Ravjiani....
...Jo bheji Thi Dua, Who Jaake Aasmaan,...
...Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Hai Laut Ke Sadaa…...
...Jo Bheji Thi Dua … Who Jaake Asmaan...
...Se Yun Takra Gayi, Ke Aa Gayi, Laut Ke Sadaa....
...Saason Ne Kahaan Rukh Mod Liya,...
...Koi Raah nazar mein Na Aaye...
...Dhadkan Ne Kaha Dil ChhodnDiya,...
...Kahaan chhode In Jitsmon Ne saaye...
...Yahi Baar Baar shoctha Hoon Tanha...
...Main Yahaan… Mere Saath Chal Raha Hai Yaadon Ka Dhuaan .…...
...***...
...Doa yang telah ku panjatkan, mencapai langit,...
...Kemudian bertabrakan dengannya (langit) dan memantul kembali tanpa jawaban,...
...(Doa-doaku tak di dengar, dan suaraku kembali padaku)...
...Nafasku berbelok menuju arah yang tak menentu,...
...Ku tak dapat melihat satupun jalan,...
...Detak jantung telah meninggalkan jantungnya...
...Namun, bayang-bayangan itu tak pernah meninggalkan raga...
...Sendiri, aku memikirkan hal ini lagi dan lagi...
...Kabut kenangan berjalan bersamaku....
...****...
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Pak Agung tadi, secara otomatis mereka berdua menghentikan perkelaian yang melelahkan itu, wajah mereka yang sudah lebam akibat pertengkaran kemarin, kini semakin bertambah lebam pula. Mereka berdua sadar jika sampai ucapan Papanya itu benar maka kebebasan sudah takkan ada lagi kedepan-nya.
Meriska menghela nafas lega melihat kedua putri-nya sudah berhenti dari saling baku hantam, dan para pelayan itu tampak jelas di wajah mereka raut kekecewaan yang besar.
“Sialan, sakit banget wajah gue sekarang," batin Cia.
Sembari menahan sakit Kiki juga terus menyeka darah dari hasil perkelahian mereka, “Makin parah luka gue, pukulannya gak pernah main-main,” batin Kiki.
Mereka berdua kini hanya saling menatap tajam satu sama lain, untuk sesaat Pak Agung juga ikut mengehela nafas, kini suasana bagai normal kembali di rasakan-nya.
“Kalian berdua Papa tunggu di ruang kerja, sekarang!” tegas Pak Agung.
Beberapa lama Pak Agung segera melangkahkan kaki-nya menuju ruang kerja, namun Meriska masih tetap tinggal dan segera menghampiri Cia yang tepat di samping Kiki. Rasa cemas terlihat jelas di raut wajah-nya yang masih terlihat awet muda itu.
“Sayang, Mama bantu obati luka kamu ya,” ucapnya cemas.
Sontak Kiki melirik tajam pada Cia karena mendapat perhatian khusus dari Mama yang ia sayangi. Dadanya merasakan sesak saat itu, Cia yang melihat itu langsung saja menghela nafas dalam.
“Sudah cukup Nyonya. Saya bisa obati sendiri luka ini, sebaiknya Nyonya lebih perhatikan putri kandung Anda saja,” ucapnya ketus.
Setelah mengatakan hal itu, Cia langsung mengambil tas sekolah ia yang terlempar sembarang arah tadi, kemudian ia langsung naik ke atas tangga untuk kembali pada kamarnya.
“Benar-benar aneh. Kenapa dia lebih peduli padaku daripada putrinya sendiri, jika maksud hatinya ingin membuatku luluh atas sikapnya, maka semua itu akan sia-sia aja.” batin Cia.
“Tunggu, sayang.” ucap lembut Meriska.
“Ada apa, Ma?”
“Mama bantu kamu oleskan obat, ya?” ucapnya kembali sendu.
Sesaat kiki hanya terseyum kecut atas sikap Mama-nya yang terkesan pilih kasih dalam hal membagi cinta diantara dirinya dan juga Cia.
“Kiki bisa lakukan sendiri Ma, lebih baik Mama bantu tenangkan Papa saja,” ucapnya sedih, sembari terus melangkah pergi.
“Maafkan Mama sayang, semua ini Mama lakukan hanya untuk kebahagiaan keluarga kita nantinya, Besabarlah sebentar lagi.” batin Meriska.
...***...
Di dalam sebuah kamar yang besar dengan cat berwarna hitam bersandingkan abu-abu menambah kesan penuh misteri jika melihatnya. Ya, hal itu seperti mewakili tentang kehidupan dari Cia. Setelah selesai membersikan diri dan berganti pakaian, Cia langsung duduk termenung di atas balkon kamarnya, yang dimana di sana ia bisa dengan jelas melihat sang rembulan menari bersama para bintang.
Wajahnya tampak sendu malam itu, Cia yang biasa terlihat garang dan kejam saat itu, ia lebih seperti sebuah
langit yang kehilangan cahaya-nya. Ia hanya duduk di atas kursi empuk sembari menatap langit dengan penuh tanda Tanya, sesekali ia mencoba memejamkan matanya dan kembali menatap sang langit.
“Ma … Apa Mama sampai sekarang masih hidup, jika benar kenapa Mama tidak pernah mencoba mencariku selama ini? Kenapa Mama menghilang dan meninggalkan Cia bersama orang asing Ma, kenapa?” ucapnya pilu.
__ADS_1
Cia hanya bisa menahan kepedihan agar air matanya tak kembali jatuh, ia takut akan kembali melemah setiap kali ia terjatuh dalam kenangan masa lalu. Tiba-tiba suara keras dering ponsel membuyarkan lamunan-nya dalam sekejap, dengan sigap Cia langsung turun dari kursi tersebut dan melangkah cepat ke dalam kamar untuk mencari keberadaan ponsel yang terus berdering.
Kringg …
Dengan segera Cia merogo isi dari tas sekolahnya, setelah ponsel di temukan ia langsung menganggkat panggilan tersebut tanpa melihat lebih dulu nama yang terera di dalamnya.
“Halo,"
“Loe dah makan?”
Sontak Cia mengkerutkan alisnya mendengar ucapan pria tersebut yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Bima.
“Cia, loe masih bisa denger gue kan?” selidik Bima.
“Masih Bim, heboh banget sih,” ketus Cia.
“Loe udah makan belum, terus makanan gue tadi jadi di makan?” selidik Bima lanjut.
“Berisik banget ni anak sih, syukur lu sahabat gue kalau enggak …. “ gumamnya.
“Kalau enggak kenapa, mau loe santet?” cibir Bima, membalas gumaman Cia.
Cia hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Bima, kemudian ia segera mengambil makanan yang masih berada dalam tas sekolah tadi.
“Udah gi loe makan dulu, gue mau nyamperin anak-anak di markas,” ucap Bima terdengar sedikit cemas.
“Ngapain loe ke markas, geng cakar kucing buat ulah lagi?” selidik Cia.
Bima terdengar menghela nafas untuk sesaat, “Iya, mereka berani merampok di kawasan kita.” ucapnya terdengar sedkit cemas.
Cia yang sadar hal itu, dengan sigap mencoba menenangkan Bima, kalian semua pasti merasa heran kenapa seorang ketua geng preman mesti merasa takut dengan hal yang seperti itu, apalagi kekejaman Bima sudah tersebar luas di pelosok negeri. Setiap orang punyai ketakutan dan kekuatannya sendiri begitu pula dengan, Bima.
Setelah Bima menutup telepon dengan Cia, ia segera bergegas menuju markas utama geng Singa maut yang di mana ia sendiri adalah ketua-nya. Dengan memakai jaket kulit hitam di tambah topeng hitam yang menutupi setengah dari wajanya ia melajukan dengan cepat motor besar yang ia kendarai.
Sesampainya ia di markas semua orang ternyata sudah menunggu dirinya untuk mengadakan rapat mendadak kepada seluruh anggota preman.
“Selamat datang, Kak. Silakan duduk,” ucap penuh sopan.
Serentak semua preman dalam markas itu sedikit menundukan kepalanya, seraya ikut menghormati Bima sang ketua geng singa maut. Suasana semakin menegang semenjak kehadiran Bima, tak Ada satu orang pun yang berani mengucapkan kata-kata jika di hadapannya.
“Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
..._Bersambung_...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....
__ADS_1