
...“Terkadang, perkatan lebih menyakitkan daripada sebuah pisau.”...
...🌟🌟...
Setelah Bima berbincang dengan Boby. Beberapa saat kemudian, Boby bergegas pergi. Karena Ivan masih dalam masa pemulihan diri, sekarang Boby-lah yang bertugas menggantikannya untuk sementara waktu. Semenjak Bima terbangun dari koma, ia sudah tidak lagi mencoba untuk menyembunyikan wajahnya. Ia lebih fokus dengan permasalahn Cia daripada dirinya sendiri.
Setelah Boby pergi, Bima hendak berbaring dan beristirahat sejenak. Tak lama, suara ketukan pintu sedari luar terdengar.
“Kenapa Boby datang lagi, apa ada yang tertinggal,” ucapnya heran.
Bima beranjak dari tempat tidurnya, ia segera membuka pintu.
“Cia. Kenapa loe ada disini? Bukannya harusnya loe ada di sekolah sekarang?” tanya Bima terheran-heran.
Cia tidak menjawab. Penampilannya sangat kacau saat itu, rambut yang berantakan, seragam sekolah yang lusu dan terdapat beberapa luka segar di tangannya.
“Apa yang terjadi? Kenapa penampilanmu seperti ini, Cia?” Bima panik melihat penampilan sahabatnya tersebut, dengan segara ia menuntun Cia masuk kedalam.
“Ayo duduklah dulu,” ucapnya lembut.
Bima menuntun Cia duduk di atas kursi ruang tamu. Kemudian ia bergegas masuk kedalam kamar, mencari kotak P3K. Setelah menemukan itu, Bima langsung menghampiri Cia dan membersikan beberapa lukanya.
“Bim,” ucap Cia lemah.
Bima masih sibuk mengobati dan membalut beberapa luka Cia. Ia tak menjawab.
“Gue …”
“Diamlah! Loe boleh bicara nanti, saat gue selesai obatin luka loe!” sanggah Bima.
Cia terdiam. Matanya penuh dengan tatapan kosong. Bima masih melanjutkan membalut luka Cia. Dirinya dengan penuh lembut merawat sahabatnya tersebut, ia juga membersihkan beberapa noda yang ada di wajah Cia dengan beberapa helai tisu.
Setelah selesai membalut luka Cia, Bima menuju kedapur membawakan segelas air putih. Kemudian memberikannya pada Cia.
“Minumlah.” Bima menyodorkan segelas air putih pada Cia.
Cia menerimanya, ia langsung meneguk habis minuman tersebut. Bima mengambil gelas tersebut dan meletakannya di atas meja.
“Sekarang katakan padaku, ada apa?” Bima bersiap mendengarkan, ia mengambil posisi duduk di samping Cia.
“Gue …” ucapnya ragu.
Bima melihat itu menghela nafasnya sejenak. “Kalau loe belum siap ngomong, sekarang istirahatlah dulu disini, gue akan tunggu sampai loe bangun nanti,” ucap Bima lembut.
Cia menoleh kearah Bima dengan tatapan sendu. Tak berbicara.
Bima menuntunya menuju ke kamar, membantu Cia melepaskan sepatu, kemudian menuntunnya untuk berbaring di atas ranjang. Melebarkan selimut untuk membuat Cia merasa aman.
“Tidurlah,” ucap Bima sembari mengelus lembut rambut Cia.
“Gue capek, Bim. Gue …” ucapnya lemah.
Bima tersenyum hangat, ia kembali membelai lembut rambut Cia. “Gue tau, sekarang loe istirahat dulu,” ucapnya lembut.
“Loe tetep disini ya, Bim. Temenin gue,” ucapnya memelas.
“Baiklah, gue akan temenin loe. Sekarang tidurlah,” ucap Bima tersenyum hangat.
Cia tersenyum. Kemudian ia memejamkan matanya. Terlelap tidur. Bima terduduk di samping ranjang Cia tertidur. Sesekali ia menyentuh lembut pipi Cia dengan sangat berhati-hati.
__ADS_1
“Bertahanlah, Cia. Gue yakin, suatu saat loe akan bisa hidup bahagia.” batinnya.
Beberapa jam setelah Cia benar-benar lelap tertidur, Bima bangkit dari sana dan meninggalkannya sendiri. Bima langsung menghubungi Boby.
Panggilan keluar.
“Iya Kak, ada apa?”
“Selidiki apa yang terjadi tadi di sekolah Cia,” tihta Bima.
“Baik, Kak.”
Tut, tut … Panggilan berakhir.
Sembari menunggu informasi dari Boby, Bima sibuk mempersiapkan sendiri makan malam untuk Cia. Saat ini Cia masih terlelap tidur, dari semenjak siang hingga menuju senja.
Kring … Kring.
Suara dering ponsel milik Cia berdering keras. Bima langsung mengambilnya dari dalam tas Cia dan segera mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelpon.
“Cia, loe dimana?” ucap seseorang dari sebrang sana, Jay.
Bima terdiam. Tak berniat menjawab.
“Cia, loe bisa denger gue kan? Dimana loe sekarang, ada hal penting yang mau gue omongin,” ucap Jay.
“Dia saat ini sedang sibuk, katakan padaku ada apa?” jawab Bima.
“Siapa loe? Dimana Cia?” tanya Jay.
“Gue Bima, Cia sedang sibuk. Katakan aja apa yang mau loe bicarain sama Cia, ntar gue sampein,” jawab Bima santai.
“Sampaikan padanya, malam ini gue akan jemput dia untuk pesta ulang tahunku. Katakan padanya, ini perintah bukan permintaan,” ucap Jay dengan tegas. Terselip nada kesal disana.
“Oke.”
Bima langsung memutusakan panggilan tersebut secara mendadak. Kemudian meletakan ponsel Cia kembali kedalam tas. Bima melanjutkan aktivitasnya yang belum usai. Memasak.
Di dalam kamar.
“Hem,” Cia terbangun dari tidurnya.
Ia menatap sekeliling. Teringat kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian ia melangkah keluar, mencari keberadaan Bima.
“Bim, loe dimana?”
Cia celingak-celinguk mencari keberadaan Bima.
Bima keluar dari dalam dapur, dengan membawa beberapa makanan yang sudah siap santap.
“Loe udah bangun, cuci dulu tu muka lalu kita akan makan bersama,” ucapnya lembut.
Bima meletakan beberapa makanan tersebut di atas meja makan, ia mempersiapkan segalanya. Sedangkan Cia menuruti ucapan Bima, ia masuk kedalam kamar mandi dan membersikan wajah. Ketika ia berada didalam, ia melihat kembali luka-luka yang sempat membuatnya kehilangan akal.
“Hah, sebenarnya apa yang terjadi sama gue,” ucapnya keluh.
Cia memandang wajahnya sendiri di depan kaca. Mencoba mencari jawaban atas segala kebimbangan hati. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari sana dan menuju meja makan. Terlihat sudah, Bima duduk disana menunggu Cia sedari tadi.
Cia duduk, kemudian menatap Bima yang masih saja memakai celemek di tubuhnya.
__ADS_1
“Tu masih aja loe pakek,” ucap Cia sembari mengarahkan padangannya kearah celemek Bima.
Bima mengangkat sebelah alisnya. “Maksudnya?” Bima tak paham.
Bima mengikuti irama langkah pandangan Cia. Ia seketika sadar apa yang di maksudkan, dengan segera ia melepaskan celemek ditubuhnya.
“Maaf gue kelupaan, nah sekarang loe makan dulu. Gue udah siapin makanan kesukaan loe,” ucapnya tersenyum lebar.
“Emang loe bisa masak?” ledek Cia.
“Lumayanlah, setidaknya loe gak akan keracunan kalau makan masakan gue,” balas Bima.
Cia tersenyum. “Loe masih begitu hangat, Bim. Gue sangat beruntung bisa punya sahabat kayak loe,” batin Cia.
“Sekarang ayo kita makan,” ajak Bima.
“Oke.”
Bima membantu menyiapkan makanan Cia di piringnya. Hari itu Cia merasa Bima sangat memperhatikannya. Sepanjang mereka makan bersama, Bima sama sekali tak berniat mengungkit apa yang terjadi pada Cia di sekolah, dan Cia-pun begitu.
Setelah acara makan telah usai, Bima membersikan terlebih dahulu beberapa piring kotor. Cia berniat membantu, namun Bima melarangnya dan menyuruh Cia menunggu di ruang tengah. Beberapa jam kemudian, Bima menghampiri Cia. Hari semakin gelap, sang senja mulai menidurkan diri.
“Cia,” panggil Bima.
“Kenapa, Bim?” Cia menatap Bima yang hendak duduk di sampingnya.
“Tadi Jay menelpon saat loe sedang tidur,” ucap Bima santai.
Cia mengangkat sebelah alisnya. “Lalu kenapa?” ucapnya tak peduli.
“Dia bilang akan jemput loe malam ini, untuk acara pesta ulang tahunnya,”
“Gue gak akan pergi!” Cia menampakan wajahnya yang kesal.
Bima menatap sahabatnya itu dengan penuh sendu. Kemudian Bima mencoba menggenggam tangan Cia. Cia menoleh kepada Bima.
“Gue dukung apapun keputusan loe, Cia. Tapi, sebaiknya loe pergi ke acara itu, gue gak mau keluarga Wijaya bakal makin mempersulit kehidupanmu, apalagi sekarang ada keluarga Adiputera,” ucap Bima sendu. “Saat ini, gue belum cukup kuat buat lindungin loe dari mereka, Ci.” Bima menatap Cia dengan sangat yakin.
“Apa yang dikatakan Bima memang bener, gue juga gak mau Bima ada dalam masalah karna gue,” batinnya.
Cia kemudian langsung beranjak dari sana, ia melepaskan sentuhan Bima. Bersiap pergi.
“Loe mau kemana, Cia?” ucap Bima heran.
“Apalagi, kalau gak ke pesta ngebosenin itu,” celoteh Cia tersenyum kecut.
Bima tersenyum. Tanpa diduga ia memberanikan diri memeluk Cia dengan begitu hangatnya. Cia sangat terkejut atas sikap Bima. Ia merasakan ada kehangatan begitu dalam dalam pelukan tersebut.
“Loe harus baik-baik aja, gue yakin loe kuat Cia,” ucap Bima yakin.
Cia tersenyum. Ia membalas pelukan tersebut. Keduanya saling berpelukan erat.
“Makasih, Bim. Gue beruntung punya loe,” ucapnya sendu.
Setelah berpelukan, mereka berdua segera menuju kediaman Wijaya. Bima memutuskan untuk mengantar Cia kembali pulang. Cia tidak mengetahui, jika pesta malam nanti akan menjadi mimpi buruknya.
🌟
Bersambung ...
__ADS_1
BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI.