JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#18


__ADS_3

..."Bunga yang engkau tebar. Kini, hanya akan tumbuh menjadi duri. Bukan kasih."...


"Apa!"


Jay, Kiki dan juga Cia beteriak bersamaan. Mereka masih tidak percaya akan apa yang mereka dengar tadi. Sebuah perjodohan. Bagaimana mungkin di jaman sekarang masih berlaku hal kekanakan seperti itu.


Kiki dan Cia melihat tajam pada Agung dan juga Mériska. Seolah keduanya ingin meminta penjelasan lebih lanjut. Namun, Jay hanya menyangga keningnya beberapa saat dan kemudian meminum kembali minumannya.


"Gue gak salah denger kan ya? Perjodohan! Ogah!" ketus Cia, sembari menatap tajam Meriska dan juga Agung.


"Papa, semua ini hanya bercanda kan?" cemas Kiki memastikan.


"Loe tuli apa, udah jelas Pak Agung bilang bakal ada perjodohan! Masih aja banyak tanyak!" sahut Cia.


"Loe diem dulu! Gue lagi ngomong sama Papa. Paham gak!" tukas Kiki.


"Dasar budeq!" gumam Cia.


*Budeq \= Tuli*


"Pfft .... " Jay menahan tawa, di sela ketegangan yang ada.


Kiki mendengar itu, tapi ia lebih mementingkan jawaban atas pertayaanya tadi. Dan, sekilas Jay tampak terseyum tipis mendengar celotehan dari Cia.


"Pa, Ma ... Apa benar yang Papa katakan tadi?" lanjut Kiki.


Agung mengangguk. Tanda membenarkan ucapan putri sulungnya itu, sedangkan Meriska malah ikut terseyum lebar. Tanda kebahagiaan yang dalam. Dan, Ad. Ia masih sama, duduk dengan santainya.


"Emang ini masih di jaman siti baya, apa! Pakai acara jodoh-jodohan segala. Intinya gue gak akan setuju perjodohan ini! Titik pakai koma sedikit tambahin tanda seru dua!" seru Cia.


"Ya, aku juga menolak perjodohan ini, Pa!" seru Kiki menimpali ucapan Cia.


"Loe ngapain sih, ngikut-ngikut omongan gue aja dari tadi! Gak berfariasi banget jadi orang" celoteh Cia.


"Cerewet! Gue lagi gak mood untuk cari masalah sama loe!"


"Cih, loe kira gue nenek lamper, cerewet!"


"Itu loe, paham!"


"Dasar, nenek goyang!"


"Kiki, Cia. Cukup!" Agung mulai emosi.


Situasi semakin ruyam, ketika Kiki dan juga Cia kembali bertengkar. Ya, itu sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Tak kenal tempat dan kondisi. Agung segera memberikan tatapan tajam pada kedua putrinya itu. Sontak saja keduanya terdiam. Hening sesaat.


"Maafkan kenakalan putri saya, Pak Ad. Saya harap Anda tidak merasa tersinggung, " ucap Agung.


Ad terseyum tipis. Sedari tadi ia memang sudah asik melihat pertunjukan dari kedua putri keluarga wijaya. Dengan santai pula ia menjawab ucapan Agung.


"Tidak masalah, saya senang melihat anak muda sekarang sangat bersemangat seperti itu, lagipula anak saya tidak jauh berbeda dari mereka. Benarkan, Jay?" Ad terseyum lebar dan menatap pada Jay yang masih asik dengan minumannya.

__ADS_1


"Ya, Pa." Jay mengatakannya dengan malu.


"Syukurlah, kalau Pak Adieputra tidak marah. Saya sempat takut,"


"Tidak perlu khawatir, Pak Agung. Saya bisa memaklumi hal sepele seperti ini. Baiklah, kalau begitu saya pamit undur diri dulu. Untuk másalah perjodohan ini lain waktu kita bicarakan lagi," Ad berdiri dan mengulurkan tangannya. "Senang berkerja sama dengan Anda, Pak Agung." ucapnya terseyum lebar.


"Senang juga berkerjasama dengan Anda, Pak Ad." Pak Agung membalas seyum.


Acara makan malam telah usai. Kini, masing-masing keluarga telah kembali pulang. Mengerjakan kesibukannya tersendiri.


Sepanjang perjalanan, Jay. Ia terus saja diam dan menatap langit-langit malam. Adiputera memperhatikan itu, dan memutuskan untuk bertanya.


"Ada apa, Jay? Apa kau tak senang dengan rencana perjodohan ini?"


"Tidak, Pa. Semua keputusan Papa, adalah yang terbaik."


"Bagus, ternyata Papa tidak salah mendidikmu." ucap Ad terseyum lebar, kemudian melanjutkan ucapannya. "Lalu, siapa nanti yang akan kau pilih menjadi calon istrimu, Jay?" selidik Ad pada putranya.


Jay menghela nafas sejenak, kemudian menjawab pertayaan itu dengan mantap. "Siapapun yang Papa sukai, itu yang akan aku nikahi." jelas Jay, sembari menatap tegas pada Ad.


"Itu baru anak, Papa." Ad menepuk-nepuk pundak anaknya itu.


"Lagipula, kapan gue punya pilihan sendiri selama ini." batinnya.


Jika Jay begitu menuruti kemauan papanya, maka beda lagi dengan keluarga biang masalah ini. Tentu saja, yang akan membuat seisi rumah bergoncang adalah Priscila atau yang sering kita panggil Cia. Setiba dari makan malam itu, ia langsung berseru keras mengumumkan penolakan yang keras terhadap perjodohan itu.


Bagi dirinya, sebuah perjodohan sama saja dengan sebuah pemaksaan dalam membangun keluarga. Ia paling benci akan sesuatu hal yang memaksanya melakukan sesuatu, apalagi ini menyangkut mengenai hubungan keluarga. Dirinya saja sudah teramat sesak untuk tinggal dalam keluarga ini, apalagi harus tinggal dan hidup bersama dengan orang lain. Sangat mengerikan. Itulah pikirnya.


Akhirnya kemarahannya kembali meledak seperti biasa, karena sedari tadi ia berusaha menahan karena perjanjian sebuah liontin.


"Kiki juga sama, Pa! Kiki gak akan mau nerima perjodohan ini, Papa, Mama kan tau kalau aku setelah lulus sekolah akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan!" seru juga Kiki.


"Gue, juga sama!"


"Loe mau kuliah juga? Gak salah!"


"Berisik! Gue bukanya mau kuliah, tapi mau keliling dunia!"


"Emang loe punya uang, miskin aja banyak lagak!"


"Gue mau fokus cari, Mama!"


"Cih, Bukannya Mama loe dah mati!"


"Dia masih hidup! Dan gue yakin itu!!" jelas Cia berkata mantap.


"Terima kenyataan. Wanita panggilan itu udah lama mati! Dan, dia pantes dapatin itu semua," cibir Kiki.


"Brengs*k loe, Ki! Cari mati. Hah!"


Bugg .... Seketika pukulan keras mendarat di permukaan pipi Kiki yang mulus itu. Kini wajahnya sudah lebam akibat ulah dari adiknya sendiri. Tak tinggal diam, Kiki pun langsung membalas pukulan tersebut. Walau keduanya sedikit kesulitan, karena masih memakai dress mini, tapi itu tak menyurutkan api amarah antar kedua kubu. Untuk saling berkelahi.

__ADS_1


Agung dan Meriska terkejut, mata mereka membulat. Dada mereka seketika sesak bak udara terasa menyempit seketika. Bukan karena perkelahian kedua putrinya, melainkan karena mereka tak mengira ucapan itu akan di katakan oleh Cia. Ingin mencari Mama kandungnya.


Hal ini sudah menjadi kenangan lampau, yang sudah mereka lupakan. Terutama untuk Agung. Ia sudah lama melupakan sosok wanita yang dulu sempat menjadi tambatan hatinya. Keysa. Mama dari Cia.


"Kenapa Cia mengungkit wanita itu lagi? Apakah selama ini, ia masih merasa jika Keysa masih hidup. Tapi itu tidak mungkin, ia sudah lama mati dalam kecelakaan bertahun-tahun yang lalu." batin Agung.


"Kenapa tiba-tiba ingin mencari wanita itu, apa hal ini memang sejak lama Cia rencanakan?" batin Meriska.


Ketika Agung dan Meriska sibuk memikirkan hal itu, di sisi lain Cia dan juga Kiki juga sibuk dalam dunia baku hantam mereka. Tak ada yang melerai. Satu sama lain, memiliki luka yang berjejak hampir di seluruh wajah mereka.


"Jangan sekali-kali, loe berani sebut Mama gue. Dengan mulut loe yang busuk itu!"


"Dasar gila! Berhenti berkhayal, terima keyataan kalau Mama loe itu udah Mati!"


"Dia masih hidup! Dan gue akan buktikan sama kalian semua, dasar keluarga mun*fik!"


"Loe sama Mama loe yang mun*fik! Mamanya pel*cur anaknya brengs*k!"


"Kurang ajar!"


"Cukup!" pekik Agung.


Mereka menghentikan perkelahiannya. Wajah Kiki dan Cia kini sudah di penuhi luka memar di seluruh wajah mereka. Sakit dan juga lelah. Itulah yang mereka rasakan.


Meriska masih terdiam, ia masih memikirkan perkataan Cia sedari tadi. Hatinya sedikit gusar dan keringat dingin perlahan menempati wajahnya tersebut. Dan seperti biasa, para pelayan selalu siap menonton pertunjukan yang selalu tayang.


"Apa kalian berdua sudah gak waras! Anak gadis bukannya belajar malah suka sekali baku hantam. Mau di taruh mana muka Papa ini, di sekolah, rumah. Kelakuan kalian berdua semakin menjadi-jadi!" keluh Agung, sembari menatap tajam pada keduanya. "Kalian ini adalah kakak adik. Jadi bersikaplah seperti itu!" tihta Agung.


"Cih! Kalian semua bukan keluargaku. Jadi Anda Pak Agung, berhentilah bicara tentang keluarga padaku!" ketus Cia.


"Bagus. Kalau loe sadar! Sejak awal kami memang bukan keluargamu!" balas Kiki.


"Apa yang kalian berdua katakan! Kita satu keluarga. Dan kalian berdua harus terima itu!" tihta Agung.


"Yang Papa katakan itu benar, kalian berdua berhentilah bertengkar." ucap Meriska.


"Mama lupa apa yang Papa lakukan dulu! Apa segampang itu Mama bisa melupakan pengkhianatan Papa kepada kita, Ma! Maaf. Sampai kapanpun Kiki gak akan pernah lupa. Apalagi menerima anak haram ini di keluarga kita!"


Kiki mengatakannya dengan sangat lantang. Namun, sorot matanya menyimpan butir-butir kepedihan yang mendalam. Suaranya bergetar. Menahan rasa sakit dan juga luka.


Begitu pula dengan Cia.


"Cukup!" pekik Cia.


Suasana semakin memanas. Aura kebencian ada dimana-mana. Tak ada rasa kebahagiaan sedikitpun. Hati yang terluka semakin terluka. Begitulah di hati mereka masing-masing. Bagaimanapun, Kiki dan Cia. Mereka adalah korban dari semua kesalahan Agung, Keysa dan Meriska di masa lampau.


..._****Bersambung****_...


...Sampai jumpa di episode berikutnya....


...Budayakan Gemar Membaca ....

__ADS_1


__ADS_2