JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#19


__ADS_3

..."Goresan tinta yang pernah engkau tumpakan. Selamanya akan berjejak, seperti hamparan bintang di atas sang malam."...


.


.


.


Semakin lama Cia semakin merasa sesak akan semua hal yang palsu ini, ia bagai terus tertahan pada penjara yang begitu menyiksa sekian lama. Sedari kecil sudah di sajikan dengan kehidupan kejam yang seharusnya tak diterima oleh anak seumurannya.


Sejak kecil ia selalu menghadapi tatapan kebencian setiap mata memandang ia dan juga Keysa. Sang Mama. Bahkan, tak luput setiap orang akan mencercah mereka dan menjauhkannya dari kehidupan sosial yang damai. Anak haram dan juga wanita panggilan. Adalah kata yang sudah tertanam sejak ia kecil. Di kucilkan, merasa diri kotor dan juga tak berguna. Adalah perasaan yang masyarakat berikan pada anak sepolos itu. Hingga kini, ia berubah menjadi manusia tak berhati.


Meski begitu, Keysa selalu memberikan dukungan dan semua cinta untuk putrinya. Tak peduli mereka akan berkata apa, Keysa tetap saja menjadi obat penyembuh di sela luka sang putri. Cia.


Tapi, semua tak berlangsung lama, ketika Cia masih membutukan obat tersebut, Keysa malah pergi meninggaļkannya seorang diri. Ia meninggal dalam kecelakaan hebat saat ingin menjemput Cia ke sekolah.


Semenjak itulah, Cia di paksa hidup seorang diri tanpa siapapun. Sepi. Menyakitkan, semua harus ia rasakan. Hingga ia di pertemukan dengan Agung dan membawanya dalam keluarga yang asing bagi Cia. Sejak awal ia tak pernah ingin tinggal. Tapi, harapan bahwa Mamanya akan menjemput ia pulang, membuat ia bertahan sampai saat ini.


"Cukup! Hentikan semua ini!!" ucap Cia menatap tajam pada semua.


Semua diam. Hening. Tak ada yang mengangkat suara, Agung, Meriska dan juga Kiki. Mereka hanya diam, bukan karena takut pada bentakan Cia. Tapi karena tak tau lagi apa yang mesti di perdebatkan.


"Hentikan sandiwara keluarga kalian! Aku muak!! Menjijikan. Kalian semua saling menyalakan satu sama lain, dan semua itu pada akhirnya di tujukan hanya padaku. Hanya aku yang paling di salakan di sini!" ucapnya ketus. Ia menahan tangis yang hampir pecah. "Dan loe Ki, loe bisa bilang apapun sama gue, termasuk yang sering loe bilang. Kalau gue anak haram! Tapi ingat, jangan sekali-kali loe sebut Mama dengan perkataan buruk. Walau begitu, selamanya Mama tetap terbaik dalam hidup gue!"


"Heh! Untuk apa loe bela wanita yang udah menghaņcurkan keluarga orang lain. Apa itu bisa di sebut dengan seorang Mama yang terbaik!"


"Yang berhak menilai seperti apa Mama gue, itu adalah gue seorang. Dan loe gak berhak! Bersyukurlah karena loe gak pernah mengalami apa yang gue alami sejak kecil! Dan berpikir aja, bagaimana kalau hidup gue saat ini. Itu semua loe alami. Apa loe masih bisa bertahan!" ucap Cia mantap sembari terseyum pahit. Tangannya mengulurkan kehadapan Kiki, meminta sesuatu. "Sekarang, balikin liontin gue! Atau kalau gak loe bakal kehilangan satu tangan malam ini!!" ancam Cia.


"Tunggu di sini!"


Kiki melangkah pergi. Ia menuju kamarnya mengambil apa yang seharusnya ia kembalikan sejak awal. Sebuah liontin biru. Bagi Cia, itu bukan hanya sebuah benda tapi juga sebuah kehidupannya sendiri. Kenangan yang berharga. Barang pertama dan terkahir dari Mamanya. Keysa.


Beberapa saat, Kiki kembali turun dari tangga. Sembari ia membawa sebuah kotak mini. Berisikan sebuah liontin. Sesampainya, Cia langsung mengambil paksa kotak tersebut. Dan ia berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Agung hanya bisa terdiam mendengar ucapan Cia. Ia tak bisa berkata apapun. Karena ia juga sadar, semua kekacauan ini, adalah perbuataanya sendiri. Meriska menatap Agung sedari tadi dengan tatapan sendu. Ia hanya diam. Kemudian pergi masuk kedalam kamarnya.


Semua kekacauan telah usai. Semua kembali pada kamarnya masing-masing. Namun, tidak dengan Cia. Ia berangkat pergi menuju rumah sakit. Tempat Bima di rawat.


...****...


Sesampainya di rumah sakit, di sana Cia sudah melihat ada Boby yang masih setia menjaga Bima yang masih di ruang ICU. Dengan dress mini yang sudah kumal tersebut. Cia berjalan tanpa beralaskan sepatu hels, yang tadi ia pakai dalam acara makan malam bersama keluarga Adiputera.


Boby menatap penuh heran. Baru kali ini ia melihat penampilan Cia yang kacau di tambah model pakaian yang ia gunakan sangat jauh berbeda dengan kesehariaanya. Daripada terlihat seperti wanita yang kejam, malam itu ia lebih terlihat seperti seorang gadis kecil yang kehilangan arah.


"Bagaimana keadaanya?" ucapnya tegas.


"Masih sama kak, kata dokter bos sudah melewati masa kritisnya tapi masih perlu diàwasi secara ketat." jelas Boby.


"Kau pulanglah. Biar gue yang jaga Bima di sini," ucapnya tegas.


"Baik, Kak."


"Tunggu!"


Boby berbalik, "Ada apa, Kak? Apa Kak Cia butuh sesuatu?" tanyanya.


"Loe pergi belikan kaos dan celana panjang buat gue sekarang, dan jangan lupa beli juga makanan di warung. Masalah ongkos loe dulu yang bayar, gue lupa bawa uang!" jelas Cia.


"Baik, Kak."


Setelah mendapat perintah, Boby langsung bergegas untuk membeli apa yang Cia katakan tadi.


Selang beberapa lama, akhirnya Boby kembali dengan pesanan Cia. Dan setelah itu Boby langsung pulang kerumah sesuai permintaan, Cia.


...... Ruang ICU ......


Kini Cia sudah berada di ruang ICU. Lengkap dengan baju khusus yang di sarankan oleh dokter dan ia juga memakai masker beserta sarung tangan sesuai perarturan rumah sakit.

__ADS_1


Kini, ia duduk dengan santai tepat di disamping tubuh Bima yang saat ini masih terbaring lemah.


"Hai, bagus ya loe Bim. Enak banget loe enak-enakan tidur sampai sekarang. Loe mau ngeledek gue yang belum tidur-tidur juga sampai detik ini," celoteh Cia sendiri.


Tit ... Tit ... Tit ....


Celotehan Cia hanya berbalaskan suara mesin dari beberapa alat bantu kesehatan yang sudah terpasang rapi di tubuh, Bima.


"Loe ini rese banget ya, Bim. Gue ini lagi ngomong, tapi loe malah enak-enakan tidur." Sesaat Cia menghela nafas. "Gue bilang sekarang loe bangun! Atau gue akan hancurin wajah loe yang lumayan tampan itu. Cukup main-mainnya, Bim. Hari ini gue lagi gak mau ikutin bercandaan loe!" ucapnya perlahan rapuh.


Lagi-lagi, celotehan itu hanya terbalasakan suara mesin kesehatan saja. Sunyi senyap. Hanya itulah yang mampu menjawab semua ucapan Cia.


"Gue bilang, sekarang juga loe bangun. Brengs*k! Loe gak denger apa yang gue bilang. Hah! Bangun, Bim!"


Perlahan pekikan itu, berubah menjadi butir-butir air mata yang mengalir deras di wajah Cia. Rasa tekanan yang besar, rasa sakit, ketakutan semua pecah dan menjadi satu bersama air mata. Dengan sangat kuat ia menggengam kuat baju lengan Bima. Dirinya seketika rapuh dan tak berdaya. Kakinya lemas dan terduduk di lantaì.


"Gue capek, Bim. Kenapa loe malah tidur saat gue butuh loe buat hibur gue. Apa loe tau, hari ini. Gue lagi-lagi di bilang anak haram. Dan juga selalu begitu kan sejak dulu. Apa salahnya kalau gue anak haram! Gue gak pernah minta di lahirkan dengan cara begitu. Gue benci hidup gue dari dulu, Bim!" ucapnya terisak-isak


"Kenapa gak ada satupun yang mau bersama gue, kenapa dunia begitu benci dengan status gue! Kenapa Mama pergi padahal dia selalu janji bakal selalu ada buat Cia. Dia sering berjanji gak akan pernah buat Cia melihat dunia yang kejam ini. Kenapa Bim? Dan sekarang, Loe! Kenapa loe juga sama seperti Mama. Kenapa loe gak pernah dengerin omongan gue."


"Apa hidup gue ini sebuah kesalahan. Kalau begitu kenapa gue mesti di lahirkan. Kenapa? Kenapa semua orang yang gue anggap penting semua pergi. Kenapa!"


"Sekarang loe bangun. Dan jelasin semua apa yang harus gue lakuin sekaranģ! Gue capek, Bim. Gue pingin hidup normal. Gue butuh pelukan Mama dan juga loe! Gue ... Hanya butuh sedikit cinta. Kalau tidak dari dunia. Setidaknya loe bisa kasih itu ke gue bim."


"Bangun sekarang, Bim. Gue mohon sama loe. Gue takut sendiri lagi. Gue takut kehilangan lagi." Cia tetap melnjutkan ocehannya walau derasnya air mata terus saja mengalir. "Jangan tinggalin gue lagi, Bim. Gue gak punya siapapun di dunia ini selain loe, please. Jangan coba-coba tinggalin gue ya." ucapnya terisak-isak.


Cia menangis sejadi-jadinya malam itu. Ia mengeluarkam semua keluh kesahnya selama ini, ia begitu rapuh dan kehilangan arah. Malam itu menjadi malam yang teramat panjang baginyà. Dengan menggenggam tangan Bima. Ia terus mengucapkan hal-hal yang menyakitkan. Ia tak tau lagi harus mengadu pada siapa. Baginya, Bima adalah sahabat sekaligus keluarganya saat ini. Melihat Bima yang hanya diam, terbaring dengan wajah pucatnya dengan bantuan oksigen di bagian mulutnya. Membuat Cia semakin melemah. Dan iapun tertidur lelap beralaskan tangan Bima setelah begitu lama ia menangis.


..._****Bersambung****_...


...Sampai jumpa di episode berikutnya....


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....

__ADS_1


__ADS_2