JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#16


__ADS_3

..."Kita bertemu kembali. Bukan sebagai seorang kekasih, melainkan sebagai sepasang hati tak bernama."...


..._Nura_...


Cia akhirnya menuruti kemauan semua orang malam itu. Ia segera bersiap diri untuk acara makan malam dengan keluarga Adieputra. Membosankan. Itulah kata yang pertama kali keluar dalam mulutnya setelah berjam-jam ia hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.


Pukul 18.00


Sebuah lestoran bergaya klasik mereka datangi. Tampak ketika turun, sebuah bangunan itu begitu megah dan menakjubkan. Cia beserta keluarganya berjalan beriringan. Malam itu ia mengenakan dress mini berwarna biru dengan sedikit riasan kecil pada rambutnya. Sebuah jepitan rambut mini. Dan juga memakai sepatu hels yang memiliki tinggi 3 cm saja. Benar-benar seperti bidadari.


Siapa sangkah, jika ia akan berpakaian seperti anak gadis remaja lainnya. Malam itu. Setelah berjam-jam lamannya, akhirnya kekerasan kepala ia melunak dan mengikuti semua kemauan dari Meriska. Di bantu juga dengan paksaan dari Kiki. Tentu saja itu berhubungan dengan barang penting milik Cia. Sebuah liontin biru.


"Sialan, gue jadi badut begini karena loe, Ki!"


"Jaga mulut loe Cia! Atau loe mau Papa bakal ngirim kita berdua ke asrama gila itu!" bisik Kiki.


"Banyak omong! Loe gak ngerasain apa yang gue rasain malam ini, pakaian, make up dan yang lainnya seperti badut gini di bilang cantik. Gila bener!"


"Ckck. Kasihan ... " ledek Kiki.


Mereka terus berbisik-bisik. Hingga sampai dalam ruangan tersebut, mereka langsung menghentikan perbiņcangan kecil itu. Terpesona. Ya, sepanjang perjalanan menuju ruang makan VVIP. Cia terus menatap setiap sendi-sendi restoran tersebut dengan mata yang begitu antusias, hingga membuat ia lupa sejenak akan rasa bosannya.


"Selamat datang, Tuan Wijaya. Silakan ikuti saya menuju meja anda," ucap salah seorang Pelayan di sana.


Mereka terus mengikuti kemana arah pelayan itu melangkah. Hingga sampai pada ruangan paling spesial di sana. Keluarga Wijaya langsung duduk dan menunggu. Tak lama kemudian, Keluarga Adiputera datang.


Cia duduk berdekatan dengan Kiki. Mau tak mau ia harus melakukan itu karena 2 tempat lainnya memang sudah terkhusus untuk tamu penting yang sebenarnya.


Cia mulai merasa bosan. Baru saja duduk ia sudah tak tahan dengan suasana yang asing baginya. Walaupun alunan melodi dari piano membuat ia suka. Sedikit.


"Apaan ini, gue baru sadar kalau sepanjangn restoran tadi sepinya minta ampun. Masa iya restoran semegah ini sepi pengunjung sih?" batin Cia.


Rasa penasrannya semakin meningkat. Ia menyikut lengan Kiki yang duduk dengan elegan di sampingnya.


"Apa sih, jangan buat ulah deh, Ci! Ingat pesan Papa dan Mama tadi di rumah. Setidaknya malam ini kita sedikit berdamai."


"Peduli amat gue sama itu, gue cuma mau tanya. Di sini pasti makanannya gak enak ya?" ucapnya berbisik-bisik.


"Jangan asal ngomong! Ini restoran terkenal di kota ini, mana mungkin makanan mereka gak enak!"

__ADS_1


"Gue gak asal ngomong, loe apa gak lihat. Sepanjang perjalanan kita masuk tadi satu pelanggan pun gak ada yang datang kemari, itu artinya restoran ini tu sepi!" Cia mulai asik beria berbisik dengan Kiki. Sepertinya malam ini hobi mereka berganti dengan berbisik-bisik.


Kiki menepuk jidatnya sendiri. Ia merasa Cia terlalu polos ataupun terlalu bodoh, untuk mengerti hal-hal yang biasa di lakukan oleh orang-orang kalangan atas.


Akhirnya Kiki memutuskan untuk diam dan tidak menanggapi ocehan Cia yang aneh. Tetap saja bukan Cia namanya jika ia tak keras kepala. Ia sengaja terus-menerus menyikut Kiki untuk mau mendengarkan ocehan renyahnya. Sekaligus mengusir rasa kebosanan.


"Hei, Kiki? Loe dengerin gue dulu, gue belum siap ngomong!"


"Ingin bicara apa sih?"


Cia berhenti sejenak. Suara itu seperti suara yang pernah ia kenal. Menyebalkan dan membuat ia gusar beberapa hari ini. Balasan ocehan Cia bukan Kiki yang membalas. Melainkan ....


Cia berbalik ke samping kanannya. Ia menoleh seraya mencari tau sumber suara. Kali ini tidak dengan tamparan.


Ketika ia menghadap. Sebuah seyuman manis sudah menunggu dirinya saat itu. Wajah itu dan suara itu yang beberapa hari ini membuat ia kesal. Jay.


"Loè!" Cia berseru.


Seruannya itu membuat semua tatapan menuju kearahnya. Mereka menghentikan aktifitas masing-masing. Semua nampak kaget dengan kedatangan Jay beserta papanya Adiputera.


Agung beserta Meriska segera beŕanjak dari duduknya. Di susul dengan Kiki. Tapi tidak dengan Cia. Ia lebih memilih tetap duduk dan terus menatap Jay yang masih terseyum ramah padanya.


"Halo, Pak Agung. Maaf saya datang terlambat."


"Tidak. Kami juga baru saja sampai."


"Apanya baru sampai, jelas-jelas sudah hampir mati gue di sini karna bosan menunggu. Orang kaya sering kali suka berbohong ya." batin Cia.


"Maaf, Pak Agung. karena waktu pertemuan ini saya percepat," ucap Ad.


"Tidak perlu sungkan, Pak. Saya senang memenuhi panggilan Anda kapan saja."


Agung bersama Adiputera atau sebut saja ia, Pak Ad. Mereka berjabat tangan. Kemudian duduk kembali di meja makan.


Meriska juga duduk dikuti dengan Kiki. Begitu pula dengan Jay. Ia berenampilan sangat beda sekali malam itu, balutan kemeja putih beserta jaz hitam menambah aura ketampanan ia semakin meningkat. Sangat berbeda setiap pertemuan ia dengan Cia Sebelumnya.


"Anak ini, kenapa bisa ada di sini? Dan, penampilannya beda jauh saat gue ketemu di gudang tadi," batinnya.


"Apa kabar, Pak Agung? Apakah ini istri dan anak Anda?" ucap Ad, memulai percakapan sembari menunggu hidangan tersaji.

__ADS_1


"Saya baik, Pak. Benar, Ini istri dan putri-putri saya tercinta," Agung satu persatu memperkenalkan keluarganyà.


"Halo, Nyonya Meriska. Senang berkenelan dengan Anda. Wah ... Istri Anda memang seperti rumornya. Persis seperti dewi,"


"Anda terlalu memuji saya, Pak Ad."


"Tidak. Saya memang suka berbicara jujur, Nyonya." Ad langsung melihat kearah Kiki dan juga Cia. "Putri kalian juga cantik-cantik."


"Tentu saja. Mereka mewarisi kecantikan istri saya." ucap Agung.


Tak lama makanan siap di hidangkan dan acara makan malam pun segera di mulai. Semua makan dengan tenang, termasuk Cia.


Acara makan malam selesai. Ad dan juga Agung bersama Meriska memulai percakapan Bisnis. Sedangkan Kiki, Cia dan juga Jay memutuskan untuk menjauh dan berkeliling restoran.


Jay mengajak mereka berdua keliling, melihat-lihat pemandangan malam yang indah dari atas balkon restoran. Kiki sangat antusias. Tapi tidak dengan Cia.


"Ini adalah tempat favorite kami di sini, selamat datang dalam malam seribu bintang," Jay menjelaskan.


"Waw, luar biasa." ucap Kiki terkagum-kagum.


"Tentu saja, ini luar biasa. Di sini adalah tempat paling favorite pengunjung di sini,"


"Benarkah? Pantas saja pemandangan di sini sangat menakjubkan."


Beberapa saat, Jay dan juga Kiki saling membicarakan berbagai hal. Tapi tidak dengan Cia. Ia sedari tadi hanya diam membisu sambil terus menatap langit dengan penuh kepedihan di dalamnya. Cia tak menghiraukan sedikitpun percakapan antar Kiki dengan Jay. Ia hanya larut dalam pikirannya sendiri.


Tak lama Kiki pergi dari sana, ia mendapatkan telepon dari Meriska untuk segera kembali. Ada sesuatu urusan. Kini, di atas balkon mewah itu hanya tertinggal Jay dengan Cia. Sesaat semua membisu, hanya sapaan angin yang menerpa wajah mereka, yang membuat kebisingan.


..._Bersambung_...


...Budayakan Membaca dan saling membantu satu sama lain....


...Buah manggis...


...Buah duku...


...Kamu manis...


...mungkin saja, adalah jodohku.😂...

__ADS_1


__ADS_2