JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#49


__ADS_3

...“Sudah tau dia bukan milliku, tapi masih saja berharap padanya. Dasar hati!!”


...


.


.


.


Sebuah villa yang dimana tempat Keysa berada. Para pengawal Adiputera mulai saja beraksi pada malam itu juga. Mereka secara terang-terangan memasuki villa dengan paksa untuk menculik Keysa. Tentu saja suasana yang damai kini berubah menjadi ramai karena pertempuran antara kedua bela pihak. Mereka saling baku hantam dan tak segan untuk saling menembak satu sama lain. Kericuhan masih terjadi dan itu terdengar jelas dalam gendang telinga Keysa.


“Ada apa diluar sana?”


Keysa berusaha bangun dari tidurnya, ia mulai turun dari ranjang dengan langkah kaki yang tertatih-tatih dikarenakan kesehatannya juga belum membaik betul. Ketika hendak mendekati pintu kamar, tiba-tiba saja seorang pengawal Adiputera sudah lebih dulu memasuki ruangan tersebut.


“Akh! Siapa kau?” tanya Keysa yang mengambil langkah mundur.


“Silakan ikut saya. Saya akan membawa Anda ketempat yang seharusnya,” ucap seorang pengawal tersebut.


“Apa maksudmu?”


Keysa terus saja melangkah mundur dengan keadaanya yang sudah lemah. Dan terdengar sara tembakan yang membuat ia terjatuh seketika.


“Kita tidak punya banyak waktu. Bisa kita pergi sekarang?” tanya pengawal tersebut.


“Tidak! Pergi dari sini!!”


“Maaf. Saya harus memaksa Anda untuk ikut dengan kami.”


Keysa masih saja terduduk diatas lantai tersebut. Ia terlalu lemah untuk bisa bergerak bebas di sana. pengawal tersebut mulai mendekati Keysa dan mebiusnya, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


Kediaman Adiputera.


“Lapor tuan, tugas telah diselesaikan,” ucap pengawal tersebut sembari sedikit menundukan kepalanya.


“Kerja bagus. Sekarang pergilah,” tihta Adiputera.


“Baik. Saya permisi dulu tuan,” ucapnya lagi.


Pengawal tersebut pergi meninggalkan ruang kerja Adiputera.


“Akhirnya kau datang juga Keysa, aku sudah lama menunggumu,” ucapnya seorang diri.


Tanpa menunggu lama, Adiputera langsung saja meningalkan ruang kerjanya dan menuju kamar yang dimana Keysa berada.


Sesampainya disana, Adiputera langsung duduk, tepat disamping Keysa yang masih pingsan karena bius yang diberikan pengawal beberapa saat yang lalu.


“Kau masih sama saja. Tetap terlihat cantik,” ucap Adiputera sembari menyentuh lembut wajah Keysa.


“Kau aman sekarang. Aku akan melindungimu, sama seperti dulu,” ucapnya sendu.


Adiputera terus saja menatap Keysa. Hingga beberapa saat kemudian ia pergi meninggalkan Keysa dan kembali menuju ruang kerja.


“Apa Jay sudah menyelesaikan pekerjaanya juga? Anak itu masih sama saja buasnya seperti dulu. Orang itu pasti akan sial sekali karena bernai mengusiknya,” ucapnya seorang diri, sembari mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja.


Di lain sisi.


Pada akhirnya Jay terpaksa pergi menemui pria misterius tersebut. Kini ia sudah berhadapan dengan orang tersebut yang tak lain tak bukan adalah ayah dari Lea. Brion. musuh dari Adiputera dalam dunia bisnis.


“Berani sekali kau memerintahku! Kau sudah bosan hidup rupanya.” Jay menatap brion dengan tajam.


Brion tersenyum tipis. “Sabarlah sedikit. Anak muda zaman sekarang memang tidak pernah sabaran,” ucapnya santai.

__ADS_1


“Jangan banyak basa-basi. Sekarang lepaskan dia atau kau mati!”


“Hahaha,”


Brion tertwa lepas kali ini. Jay menaikan alisnya. Tidak mengerti alasan apa yang membuat pria tua itu tertawa.


“Sebelum itu lihatlah dulu apa yang akan terjadi.”


Brion menghidupkan sebuah rekaman cctv dalam televisi yang terpampang jelas di samping Jay.


Jay menoleh dan menyaksikan apa yang terjadi. Dalam rekaman langsung tersebut, ia melihat Cia yang tidak sadarkan diri dan terikat diatas kursi dalam sebuah ruangan yang tidak diketahui.


Seketika itu pula Jay langsung saja menatap Brion dengan sangat tajam. Kesabarannya semakin habis.


“Berani sekali kau menyentuh orangku!”


“Haha, tentu aku berani. Jangan menatapku begitu Jay, pertunjukannya masih belum selesai loh,” ledek Brion.


"Apa maksudmu?"


"Lihat saja dulu pertunjukannya," jawab Brion menatap pada layar televisi.


Jay kembali melihat rekaman tersebut. Beberapa saat kemudian ia melihat jika ada seorang pengawal yang mendekati Cia dengan membawa sebuah nampan yang berisi beberapa jarum suntik diatasnya.


Pengawal tersebut langsung menyuntikan cairan tersebut kedalam tubuh Cia. Kemudian ia berlalu pergi dengan meninggalkan nampan tersebut diatas meja


“Apa yang kau suntikan padanya?” Jay kembali menatap Brion.


“Bukan apa-apa. Itu hanya dosis rendah jadi kau tak perlu khawatir,” ucapnya santai.


“Sialan! Aku akan benar-benar mengabisimu!” Jay mulai mendekat kepada Brion. kemarahannya sudah berada di ambang batas.


Seketika itu pula Brion langsung menodongkan sebuah pistol kepada Jay. Tentu saja, Jay secara spontan terpaksa menghentikan langkah kakinya.


“Jangan bertindak sok berani. Kalau bukan karena putriku yang mencintaimu, aku pasti akan membunuhmu sedari awal!”


“Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni permainanya. Cia dalam bahaya sekarang, terlebih cairan apa yang ia berikan padanya tadi,” batin Jay.


“Menikahlah dengan putriku, Lea. Dengan begitu dia akan selamat,” jawab Brion yakin.


Brion masih saja menodongkan pistolnya kepada Jay.


"Lea?"


"Ya, Putri tercantik yang pernah ada. Lea."


Jay menaikan alisnya.


“Baik. Dimana putrimu aku akan menikahinya sekarang,” jawab Jay.


Brion langsung terbelalak mendengar hal tersebut. Ia tak percaya jika Jay akan langsung menyetujuinya.


“Apakah ini salah satu trikmu? Jangan bermain trik denganku, Jay. Atau tunanganmu akan mati ketika suntikan kedua dan ketiga aku berikan padanya,” ucap Brion.


“Aku tidak bercanda. Sekarang panggil putrimu dan nikahkan kami,” jawabnya tenang.


Brion sempat berpikir sejenak dan kewaspadaanya juga mulai melemah. Saat itulah Jay langsung saja berlari cepat dan segera menangkis pistol tesebut dengan tendangan kakinya yang jenjang.


Brak.


Sebuah pistol telah terlempar jauh dari keduannya. Tentu saja kejadian itu membuat Brion sangat terkejut. Belum sempat ia melawan balik, Jay sudah lebih dulu memberikan pukulan yang teramat keras kepadanya, hingga membuat Brion harus jatuh tersungkur kedasar lantai.


“Beraninya kau!’’ hardik Brion.

__ADS_1


“Aku pastikan kau mati malam ini!”


Keduanya bertarung dengan sangat sengit. Saling pukul satu sama lain. Namun, Brion yang lebih banyak terluka.


“Putrimu yang jelek itu mau menikah denganku. Hahahaha, jangan mimpi!"


Kini Jay tersenyum. Ia mulai menikmati pertarungannya. Brion tersungkur di atas lantai. Ia tak sanggup lagi melawan Jay. Namun, pertarungan itu ternyata tidaklah berakhir, para pengawal Brion mulai masuk ruangan dan menyerang Jay secara bersamaan.


Pertarungan tidak berlangsung lama, karena para pengawal Jay yang sejak tadi menungguna di luar villa, kini mereka semua sudah masuk kedalam villa dan membantu Jay.


Beberapa saat kemudian, para pengawal Brion dan begitu pula dengan Brion sendiri sudah berhasil dikalahkan oleh Jay dan para pengawalnya.


Jay mendekati Brion dengan membawa sebuah pistol di tangannya. Ia menodongkan pistol tesebut tepat di atas kepala Brion.


“Dimana kau menyembunyikannya?”


“Aku takkan pernah memebritahukannya padamu.” Brion menatap tajam.


“Masih saja keras kepala rupanya, baiklah kalau itu maumu," ucap Jay.


Jay berdiri di hadapan Brion. Ia langsung menembakkan pistolnya tepat di salah satu kaki Brion.


Dorr.


"Akhh!!" Teriak Brion menahan kesakitan.


"Itu hadiah dariku karena berani sekali mengusikku!"


Jay berbalik arah dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.


“Cari dan Bunuh putrinya sekarang. Jangan lupa hadiakan kepala putrinya nanti!" tihta Jay kepada para pengawalnya.


“Siap tuan muda.”


mendengar hal tersebut, Mata Brion langsung saja terbebelak. Ia takkan bisa menerima kematian putrinya tersebut. Bagaimanapun ia sangat menyayangi Lea melebihi nyawanya sendiri.


“Tunggu!”


Jay menghentikan langkah kakinya.


“Aku akan katakan dimana dia berada. Tapi jangan sentuh Lea,” ucapnya memohon.


Jay tersenyum.


Ia berbalik menatap Brion.


“Katakan sekarang, dimana tunanganku?” tanya Jay.


“Dia ada di belakang villa ini.” Brion mengatakannya dengan sangat yakin.


Jay menatap tajam kemudian tanpa berkata-kata lagi, ia langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Dasar bocah naif. Walau dia bisa menemukan tunangannya itu, aku tidak akan jamin dia akan selamat nanti. Hahaa," ucapnya sembari menahan sakit.


"Secepatnya aku harus menyembunyikan Lea. Tapi sekarang aku harus pergi dulu dari sini," ucapnya lanjut.


“Bawa putrinya kehadapanku nanti. Dan habisi semua orng yang menghalangi kalian,” titha Jay.


“Baik tuan.”


“Manusia rendah itu berani sekali melawanku. Dasar sial*n!” batin Jay.


......_Bersambung_

__ADS_1


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.


...


__ADS_2