
..."Dunia akan baik-baik saja. Akan tetap baik, selama engkau berhati sekaligus berpikir itu baik!!"...
...__...
Cia terus menatap dalam-dalam sang bintang. Cahaya mereka seakan menjadi satu diantara ribuan bintang yang terdampar. Penuh artì dan kisah. Begitulah pikirnya.
"Lagi mikirin apa?" Jay memulai pembicaraan setelah sekian lama terdiam.
Cia tak menjawab. Ia masih fokus dalam menatap semua bintang. Jay sedikit kesal di acuhkan, dan untuk kedua kalinya ia mengulang ucapannya itu.
"Lagi mikirin, apaan?"
Cia masih tidak bergeming dari pandangannya. Ia tak perduli apa yang di katakan Jay saat itu. Hingga, membuat Jay mengambil tindakan ekstrim untuk membuat Cia melihatnya. Ia mencium tipis pipi mungil gadis itu. Hingga membuat sang Cia tersadar akan lamunannya.
Cia langsung menoleh. Marah. Dan langsung menampar wajah tampan Jay. Tapi, tidak berhasil.
"Eits ... Kebiasaan yang buruk," ledeknya.
"Kurang ajar, berani banget loe sama gue!"
"Siapa suruh, dari tadi loe cuekin gue,"
"Loe, pantes gue cuekin!"
"Jangan terlalu galak. Setidaknya, sesuaìkan sikapmu dengan gaun yang loe pakai malam ini," Jay menggoda Cia.
"Berisik!"
"Oke-oke maafin gue, bisa kita berteman sekarang?"
Cia menatap Jay tajam. Ia bahkan menaikan sebelah alisnya sesekali.
"Loe, gak pantes jadi temen gue!"
"Gak masalah. Suatu saat nanti loe juga akan nerima gue dengan senang hati."
Cia hanya menatap. Dan terseyum kecut melihat sikap Jay. Menyebalkan. Itulah yang ia pikirkan saat itu.
Tak lama, suara keras dering ponsel milik, Jay. Membuat suasana semakin tak tenang. Dengan cepat ia langsung menerima panggilan tersebut. Sedangkan Cia masih sama, ia tak peduli sedikitpun dan lebih asik bermain dalam lamunannya bersama para bintang-bintang.
"Ada apa?"
Panggilan itu semakin lama semakin membuat Jay gusar. Nampak jelas rasa kecemasan yang ada dalam raut wajahnya yang tampan itu. Cia sedikit melirik Jay yang masih asik menerima panggilan tersebut.
Tak lama, Jay. Segera menutup panggilan tersebut. Dan, melanjutkan kembali menggoda Cia.
"Lagi lihat apa sih? Mending lihatin gue aja,"
"Gak berfaedah kalau lihat, loe!"
__ADS_1
"Kenapa? Wajah gue lumayan tampan kok," Jay semakin menunjukan sikap narsisnya.
"Lumayan buat gue pukulin, kan!" ancam Cia yang sudah semakin geram dengan Jay.
Jay membalas ucapan Cia hanya dengan seyuman tipis, seraya menikmati suasana hatinya yang selalu kacau itu. Sesaat, Kiki datang. Jika tidak, mereka berdua akan kembali berdebat.
"Jay dan Cia. Kalian berdua di panggil untuk segera bergabung di ruangan, ada hal penting yang mau di bicarakan," jelas Kiki.
"Oke, kami akan segera menyusul."
"Kalian aja, gue ogah!"
"Cia! Loe mesti ingat apa yang gue bilang tadi di rumah."
Cia memutar kedua bola matanya. Tanpa berlama-lama ia mulai menuju ruangan tersebut. Di ikuti dengan Jay dan juga Kiki.
Sesampainya di sana. Suasana tak enak mulai Cia rasakan. Walaupun semua orang terseyum padanya, tapi semua terasa palsu baginya.
"Ayo sayang, kamu segera duduk," pinta Meriska.
Cia menaikan alisnya, Kiki melengos kesembarang arah. Sedangkan Pak Ad dan juga Agung tetap memasang wajah wibawanya.
"Selalu saja dia yang dapat perhatian, Mama!" batin Kiki.
"Ada apa ini?" tanya Cia keheranan.
"Duduk dulu, sayang." pinta Meriska.
"Katakan, ada apa sebenarnya?"
"Cia, jangan terlalu galak dengan Mamamu ini," pinta Pak Ad.
"Tidak apa, Pak Ad. Dia memang suka bercanda," jelas Meriska.
"Benar, Pak. Anak kami yang satu ini suka sekali bercanda," ucap Pak Agung menimpali perkataan Meriska.
"Waw, kalian berdua pandai sekali berakting. Hebat!" gerutu Cia dalam hati.
Kiki hanya terdiam, Jaypun juga begitu. Ia hanya memperhatikan pembicaran tersebut sembari meminum sedikit demi sedikit minumannya. Begitu pula dengan Cia yang hanya berkecamuk di atas pikirannya yang kacau.
Setelah beberapa saat, akhirnya Agung dan juga Meriska mulai angkat bicara. Tak di sangkah, apa yang mereka ucapkan ini. Akan membuat kehidupan putri mereka berubah untuk kedepannya.
"Kami telah memutuskan dan sudah sepakat, untuk melakukan perjodohan untuk kalian bertiga." jelas Agung mantap.
...****...
Setelah beberapa hari, Ivan sempat mengalami koma. Malam ini, dirinya kembali tersadar. Rafan dan juga Rick, mereka sangat senang mendengar kabar itu. Tak lama, keduanya langsung masuk untuk menjenguk Ivan. Setelah di pindahkan di ruang rawat biasa.
"Bagaimana keadaanmu, Kak?" ucap Rock yang antusias.
__ADS_1
"Lumayan,"
"Syukurlah, Kakak masih baik-baik saja. Kami semua takut kalau sempat terjadi apa-apa denganmu." jelas Rock.
"Jangan paksakan diri dulu, Kak. Istirahat saja." ucap Refan.
"Bagaimana hasil pertempuran kemarin?"
"Kita kalah, setelah kak Ivan terbaring lemah. Kami memutuskan untuk mundur,"
"Seharusnya gue yang minta maaf. Karena gue yang terlalu lemah, jadi kita semua harus kalah dari geng busuk itu!" gerutu Ivan.
"Tenang saja kak, lain kali kita akan memenangkannya," seru Rock.
Ivan terseyum. Walau status mereka hanyalah anak buah dari geng singa maut. Tapi, mereka sebenarnya menganggap satu sama lain adalah keluarga sendiri, yang wajib saling menjaga satu sama lain. Inilah yang selalu Bima tanamkan sejak ia membangun kerajaannya sendiri.
Tak lama, Ivan tersadar jika Bima tidak ada untuk menjenguknya. Ia merasa kecewa, karena baginya. Bima sudah seperti kakak kaňdungnya sendiri.
"Ada apa, Kak Ivan?" tanya Refan.
"Apa, Kak Ivan mencari Kak Bima?" timpal Rock.
Ivan mengangguk. Dan seketika Refan dan juga Rock saling pandang. Mereka berbahasa dengan tatapannya masing-masing.
Tentu saja Ivan memperhatikan itu, ia mulai merasa curiga atas apa yang mereka sembunyikan.
"Ada apa?"
Keduanya masih saja diam. Tak ada yang berani berucap sedikitpun. Keringat dengan senangnya mengalir diseputar wajah mereka.
Beberapa kali Ivan bertanya dan beberapa kali pula keduanya hanya terdiam. Hingga akhirnya, Rock dan Refan angkat bicara.
"Saat ini Kak Bima, sedang kritis di rumah sakit." jelas Refan ragu-ragu
"Apa!" Ivan sangat terkejut hingga rasanya yang ia dengar itu adalah hal yang keliru. Sekali lagi ia bertanya untuk memastikan.
"Apa yang aku dengar itu, benar?"
Keduanya mengangguk. Tanda membenarkan ucapan Ivan.
"Antarkan aku kesana! Cepat!" bentak Ivan yang memaksakan diri untuk bangkit.
"Jangan, Kak! Kesehatan kak Ivan masih belum pulih," cemas Rock.
"Benar, sebaiknya kak Ivan pulihkan dulu kondisi, Kakak." cemas Refan.
"Gue gak peduli, sekarang gue harus temui, Kak Bima!"
Ivan semakin mengamuk, ia terus saja memaksakan diri untuk pergi melihat Bima. Dengan terpaksa. Rock dan juga Refan memanggil dokter untuk menenangkan Ivan. Ia di berikan suntikan penenang, dan perlahan Ivan mulai tertidur pulas.
__ADS_1
..._Bersambung_...
...Sampai jumpa di episode berikutnya. Budayakan Membaca Dan Saling Mendukung Satu Sama Lain....