JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#39


__ADS_3

...“Bermimpilah sebanyak dan setinggi mungkin, selagi mimpimu tidak mengusik mimpi orang lain.”...


.


.


.


“Wah pesta kali ini seru banget, kapan-kapan undang gue ya Ki. Lumayanlah makan gratis,” pintah Ciki kepada Kiki.


“Huh. Makan aja yang loe pikirin!” jawab Cuki.


“Loe juga sama!” balas Ciki.


Kiki hanya diam, sembari terus melihat handphonenya. Sepanjang perjalanan pulang, seusai pesta ia hanya melakukan hal itu, tanpa berbicara sedikitpun.


“Kiki, loe ngapain sih lihatin handphone loe mulu. Semenjak dari pesta juga diem terus?” tanya Cuki.


“Iya ni, loe jangan-jangan sedih ya karena rencana buat Cia gagal total,” ucap Ciki menimpalinya.


Kiki menatap kedua temannya tersebut dengan santai. Kemudian berbalik menatap layar handphone miliknya, tak lama meletakkannya kembali di dalam tas mininya.


“Kata siapa gagal, justru umpan yang gue sebar telah dimakan. Kita hanya tinggal menunggu saja,” jelasnya.


Ciki dan Cuki seketika saling menatap, kemudian tatapan tersebut mereka lemparkan kepada Kiki, yang terus saja tersenyum mengerikan.


“Umpan? Maksud loe?” tanya keduanya kompak.


“Saat yang tepat, kalian akan segera mengerti apa rencanaku yang sesungguhnya. Bersabarlah.”


Cuki dan Ciki terdiam. Mereka hanya bisa menunggu.


“Dia terlihat mengerikan saat membuat rencana, untung saja itu bukan untukku.” batin Cuki.


“Apa sebenarnya dari rencananya itu. Sepertinya hal yang besar,” batin Ciki.


“Selamat menikmati hadiah dariku, Cia. Semoga kali ini loe benar-benar hancur. Sangat hancur, jika perlu pergilah menyusul Mama-mu.” batin Kiki.


**


“Ada apa, kau memanggilku tengah malam begini?” tanya Meriska yang sudah berada dalam sebuah rumah. Tempat dimana perempuan yang terbaring koma tersebut di rawat.


“Maafkan saya, Nyonya. Tapi ada kabar yang mendesak.”


“Apa itu? Apa wanita itu sudah meninggal?” tanyanya.


“Silakan Nyonya lihat sendiri,” pinta pengawal tersebut dengan sopan.


“Lihat apa?”


Pengawal tersebut langsung menuntutnya ke dalam kamar perawatan. Dimana wanita tersebut di rawat.


Meriska masuk ke dalam ruangan. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat wanita yang selama ini ia sembunyikan, yang terbaring koma tidak berdaya. Kini wanita tersebut telah membuka matanya untuk yang pertama kali.


Meriska sangat syok. Bahkan, tas yang ia jinjing jatuh ke lantai begitu saja.


“D-D-Dia, sudah sadar.”


Seketika tubuh Meriska bergetar hebat. Tak mampu menahan syok. Dia bahkan, mundur beberapa langkah dari ruangan tersebut. Tidak lama setelah itu, wanita yang terbaring lemah di atas ranjang tersebut, menolehkan wajahnya dan menatap Meriska dengan begitu rapuh. Lengkap dengan alat bantu pernafasan yang masih melekat di wajahnya.

__ADS_1


“K-Kakak.” Meriska menutup mulutnya tidak percaya atas apa yang ia lihat.


“Nyonya. Saya permisi sebentar,” ucapnya sopan.


Meriska tidak menjawab. Ia masih terpaku atas apa yang ia lihat kini, pengawal tersebut keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Meriska sendiri di ruangan tersebut.


Meriska memberanikan diri mendekatinya. Langkah kakinya begitu gemetar. Namun, ia memilih untuk tetap menghampiri wanita tersebut.


“R-R-Ris-ka.”


Hal tersebut adalah kata pertama yang ia ucapkan semenjak sadar. Ia mengulurkan tangannya secara perlahan dan lemah, kepada Meriska.


“Kau sudah sadar?” tanya Meriska.


Wanita tersebut tidak menjawab. Ia hanya menangis. Secara spontan Meriska mendekat. Menggenggam tangannya.


“Ada apa. Apa kau merasakan sakit?” tanyanya cemas.


“Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter untukmu,” ucapnya lanjut.


Meriska hendak beranjak dari sana. Namun, wanita tersebut segera menahannya dengan menggenggam erat telapak tangannya.


“R-Riska, jangan pergi,” pintanya dengan nada yang begitu lemah.


“Panggilan itu, bukankah itu sudah lama sekali, kenapa dia memanggilku seperti itu?” batin Meriska.


“Riska? Kau kenal denganku?”


Wanita tersebut mengkedipkan kedua kelopak matanya. Tanda membenarkan dugaan tersebut.


“Beristirahatlah. Aku akan memanggilkan dokter untukmu,” ucapnya lagi.


Meriska segera bangkit dari sana. Memungut kembali tasnya yang terjatuh tadi, kemudian bergegas keluar dari dalam kamar.


Nafas Meriska kian memburu. Ia terasa seperti habis saja di terjang badai yang besar. Kian memburu, sampai nafasnya-pun tersegal-segal. Peluh keringat kian terlihat sudah di keningnya.


“Nyonya ada apa?” pengawal tersebut datang menghampiri.


“Segera panggilkan dokter, dan periksa dia lagi.”


“Baik, Nyonya.”


Pengawal tersebut segera pergi memanggil dokter. Meriska memutuskan untuk duduk di sofa dekat kamar tersebut. Kakinya masih terasa lemas, nafas masih saja kian memburu.


“Hah! Apa ini, selama ini aku menunggunya untuk bangun, tapi kenapa sekarang aku begitu takut. Kenapa?” gumamnya.


Tidak lama, dokter datang dan langsung masuk ke dalam kamar. Segera memeriksa kondisi wanita tersebut.


Meriska tetap menunggunya di luar ruangan. Sembari menenangkan hati dan pikirannya kembali.


Drrtzz …


Panggilan masuk. Dengan segera ia mengambil ponsel miliknya di dalam tas. Segera mengangkat.


“Halo,”


“Dimana? Cepat pulang sebelum anak-anak tau,” pinta Agung.


“Baiklah. Sebentar lagi aku akan pulang.”

__ADS_1


“Oke.”


Tut … tut. Panggilan berakhir.


Meriska kembali menghela nafas. Tak lama setelah itu, dokter sudah keluar ruangan dan segera menghampirinya.


“Bagaimana keadaanya?” tanya Meriska.


“Kondisi pasien baik-baik saja dan semua normal. Nyonya,” jawabnya.


“Baguslah. Terima kasih, Dok.”


“Saya permisi dulu.”


Dokter tersebut pergi. Meriska beranjak dari duduknya. Bersiap pergi.


“Apakah Nyonya akan pulang sekarang?”


“Benar. Kau awasi terus kondisinya, jika ada yang mendesak langsung kabari aku.”


“Baik. Mari saya antar Nyonya.”


“Tidak perlu. Awasi saja dia. Aku pergi dulu.”


Meriska bergegas pergi. Kembali pulang kerumah.


Kediaman Wijaya.


Agung sudah menunggu istrinya sejak lama. Ia terus menatap keluar jendela dari balik kamarnya. Di sana ia bisa melihat seluruh halaman rumahnya dari lantai dua.


Kring … Kring.


Panggilan masuk.


“Katakan.”


“Saya mengikuti Nyonya. Beliau pergi ke daerah puncak, di sana Nyonya berhenti di sebuah rumah, dan ada beberapa pengawal, yang menjaga rumah tersebut, Tuan.”


“Saya juga melihat, beberapa saat yang lalu ada seorang dokter memasuki rumah tersebut. Tidak lama setelah itu, dokter tersebut kembali pergi,” jelasnya lebih lanjut.


“Apa itu saja?” tanya Agung.


“Benar Tuan. Nyonya saat ini sedang kembali menuju ke dalam rumah,” jelasnya.


“Awasi dia terus. Laporkan semua kepadaku.”


"Siap, Tuan.”


Panggilan berakhir.


“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Meriska. Kenapa juga dia memanggil seorang dokter,” gumam Agung.


Beberapa saat kemudian.


Agung melihat mobil yang di kendari Jay dan juga Cia berhenti di halaman rumahnya. Ia juga melihat Cia dan juga sempat berbincang sedikit. Kemudian Cia kembali masuk ke dalam rumah, dan Jay bergegas pulang.


Tidak perlu menunggu lama, tepat setelah Cia masuk ke dalam rumah, Kiki-pun juga baru sampai kembali ke rumah. Kemudian juga bergegas masuk.


“Pada akhirnya, semua akibatnya akan di tanggung oleh kedua putriku,” gumamnya.

__ADS_1


_Bersambung_


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.


__ADS_2