
Meskipun Burhan dan Salma telah menikah, dan saat ini, mereka tinggal bersama orangtua Burhan, tetapi orangtua Burhan tetap tidak merestui hubungan mereka berdua. Orangtua Burhan tak pernah menganggap Salma ada diantara mereka. Yang lebih parahnya lagi, orangtua Burhan tetap bersikeras untuk menjodohkan Burhan dengan wanita pilihan orangtuanya dan menyuruh Burhan untuk menceraikan Salma.
"Kamu boleh hidup seperti yang kmu inginkan, tapi jangan dengan wanita itu. Dia tak sederajat dengan kita. Lebih baik kamu ceraikan wanita ****** itu." Pinta Ibu Burhan.
"Ma, mau bagaimanapun, mau sejelek apapun dia sekarang adalah istri aku. Jadi mama tidak bisa mengatainya seenak mama." Ucap Burhan dengan tegas.
"Tapi kamu tidak pantas bersamanya." Kata Ibu Burhan.
"Lalu wanita seperti apa yang pantas buat Burhan menurut mama?" Tanya Burhan.
"Vania. Dia mau menunggu kamu sampai kamu menceraikan istrimu." Kata Ibu Burhan.
"Ma, sampai kapanpun aku gk akan pernah ninggalin istri aku." Kata Burhan tehas daneninggalkan Ibunya.
"Gara gara wanita ****** itu, kamu sekarang berani membentak mama." Teriak Ibu Burhan.
Burhan tak menghiraukan perkataan Ibunya. Dia menuju kekamarnya berfikir bahwa Salma akan sakit hati ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya. Dan apa yang dikhawatirkan benar benar terjadi. Ketika Burhan masuk kamar, dia melihat Salma menangis sesenggukan. Burhan berjalan mendekati Salma.
"Sayang.. Hei.. Kamu kenapa? Kok nangis gitu?" Tanya Burhan.
Salma tidak menjawab sepatah katapun. Hanya tangisannya semakin keras.
"Kamu mendengar semua omongan Mama tadi?" Lanjut Burhan.
Salma hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak mampu berkata kata lagi.
__ADS_1
"Tenang, aku gak bakalan ninggalin kamu." Kata Burhan menenangkan sang istri.
"Aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku juga gak mau orang lain miliki kamu." Tangis Salma semakin keras.
"Hei, hei, dengerin aku. Siapa yang bakal ninggalin kamu? Gak ada." Burhan terus mencoba menenangkan istrinya.
Tangis Salma semakin tenang. Dia percaya dengan semua yang dikatakan Burhan terhadapnya. Salma memeluk erat Burhan. Burhan hanya tersenyum dan membalas pelukan Salma.
(Keesokan Paginya)
"Burhan, Mama ingin bicara sama kamu." Seru Ibu Burhan.
Burhan dan Ibunya menuju keruangan Ibunya.
"Ada apa Ma?" Tanya Burhan.
"Mama fikir, Burhan akan melepaskan Salma begitu saja? Maaf Ma, Burhan tidak bisa." Tegas Burhan.
"Ini permintaan terakhir Papa kamu. Apa kamu mau jadi anak durhaka?" Seru Ibu Burhan.
"Maaf Ma. Bukannya Burhan mau jadi anak durhaka. Tapi apakah pernah Mama dan Papa berfikir tentang kebahagiaan Burhan?" Tegas Burhan.
"Ini semua demi kebaikan kamu." Kata Ibu Burhan.
"Kebaikan apa Ma?" Tanya Burhan.
__ADS_1
"Ini semua kami lakukan buat kamu." Kata Ibu Burhan.
"Kalau semua demi kebaikan Burhan, harusnya kalian mementingkan kebahagiaan Burhan. Bukannya malah memaksa Burhan meningglkan orang yang Burhan cintai." Terang Burhan dengan tegas.
"Dia tidak akan membahagiakan kamu." Seru Ibu Burhan.
"Kalau dia tidak akan membahagiakan Burhan, biarkan aku yang membahagiakan dia. Harusnya Mama berterimakasih kepada dia, karena dia aku kembali kerumah ini." Terang Burhan.
"Wanita seperti itu sama sekali tidak pantas mendapatkan kata terimakasih." Kata Ibu Burhan terus mencela Salma.
"Mama merendahkan dia, sama saja Mama merendahkan Burhan." Tegas Burhan.
"Dia gak pantas untuk kamu." Tegas Ibu Burhan
"Terserah Mama." Kata Burhan meninggalkan ruangan Ibunya.
Ibu Burhan semakin tidak menyukai Salma. Setelah Burhan pergi kekantor, Ibu Burhan menghampiri Salma.
"Hei ******, kamu pengaruhi apa anak saya sampai dia tidak mau mendengarkan perkataan saya?" Kata Ibu Burhan marah dan kemudian menampar Salma.
Salma merasa kesakitan atas tamparan yang diterimanya dari Ibu mertuanya.
"Saya tidak mempengaruhi apa apa kepada Mas Burhan Ma." Kata Salma menjelaskan.
"Jangan pernah panggil ku Mama. Saya bukan Mamamu dan saya tidak sudi akan hal itu. Dasar ******." Teriak Ibu Burhan.
__ADS_1
Mendengar semua itu, membuat hatinya semakin sakit. Ingin rasanya dia melarika diri dari semua ini. Tapi demi sang suami dia harus bertahan. Karena suaminyalah sumber kekuatannya. Selama suaminya berada dipihaknya, Salma yakin, dia kan mampu menghadapi semua meski berat.