Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Terdiam


__ADS_3

"Oh gitu ya sudah tidak apa-apa ucapnya semuanya berjalan dan menarik dasinya agar lebih longgar makanya yang panjang terus menuju kamar dia bersama sang istri.


Setibanya di depan pintu kamar. Eran pun berhenti sesaat, sebelum tangannya menggapai handle pintu lalu dia dorong dan membukanya.


Blak ... pintu terbuka dan Eran langsung menutupnya kembali, lalu menguncinya setelah mendapatkan sang istri tengah terbaring di atas tempat tidur di bawah remang-remang lampu temaram.


Eran perlahan berjalan membawa langkahnya mendekati tempat tidur. Sepertinya sang istri sudah tertidur lelap, sehingga tidak mendengar kepulangan sang suami.


Dan kebetulan Eran tidak bilang sebelumnya. Kalau malam itu dia akan pulang dari luar kota.


Bibir heran menunjukkan senyumnya yang lebar, setelah berada di dekat sang istri dan menetapnya sangat lekat lalu mengecup kening dan juga pipinya.


"Selamat malam sayang! selamat istirahat? apa kau tidak merindukan ku? sehingga suamimu ini pulang tidak disambut hangat." Gumamnya Eran sambil mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, tepat dekat sang istri.


Eran membuka jasnya dan juga dasi, sepatu dan kaos kakinya. Lalu naik dan membaringkan diri di samping sang istri yang tampak sangat lelap sekali.


Pangeran, berbaring dengan posisi miring menghadap ke arah sang istri. Dan telunjuknya di tusukan ke pipi sang istri berharap dia bangun.


Bibir Eran kembali tertarik dan mendekati wajahnya ke wajah Sisilia untuk mendarat di tempat yang dia sukai. Yaitu benda tipis yang bikin dia nyandu. Apalagi berapa hari ini tidak dia sentuh.


Eran menyatukan bibir mereka, dengan penuh kemesraan. Dan menimbulkan sensasi yang aneh dan menghadirkan sebuah rasa yang ingin lebih dari sekedar itu, sehingga tangannya pun bergerak bergerilya kemana-mana.


Merasakan pergerakan, yang sudah dia duga kalau itu adalah suaminya. Sisilia terbangu dan membuka manik matanya yang teramat ngantuk itu.


"Abang sudah pulang?" suara parau Sisilia terdengar.


Eran melirik menaikan pandangannya seraya berkata. "Iya sayang. Aku sudah pulang!"


Sisilia bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur. "Kenapa tidak membangunkan aku sih?"


"Kan ini juga sedang membangunkan kamu!" cuph mengecup pipi nya. Eran duduk di samping sang istri.


"Hem ... lagian tidak bilang kalau Abang mau pulang." Lanjut Sisilia sambil mengesampingkan rambutnya.


"Kan buat kejutan sayang. Gimana selama aku tidak ada- apakah semua baik-baik saja?" tanya Eren pada sang istri.


"Aku ... baik-baik saja kok, kamu dimana di sana? apa benar mengadakan kerjasama dengan nona Erika?" selidik Sisilia membuat Eran terdiam.


Dari siapa Sisilia tau kalau dirinya ada kerja sama dengan Erika, padahal dia belum sempat cerita. "Ach mungkin dari ibundanya."

__ADS_1


"Oh, Oya. Itu benar, aku kerja sama dengan Erika untuk promosi hotel ku." Eran membenarkan.


"Ooh, bagus lah." Sisilia dengan nada dingin.


"Kenapa? aku dan dia sebatas urusan kerja, tidak lebih." Eran menatap lekat pada sang istri.


"Nggak, pantas aku tidak melihat nona Erika ke butik atau menemui ibu. Oya, boleh aku tanyakan sesuatu?"


"Apa itu sayang, serius amat." Balas Eran sambil merangkul bahunya Sisilia.


Sejenak Sisilia terdiam dan mengingat-ingat apa yang dia lihat waktu itu di mall, dimana sang ayah mertua berada wanita muda.


Walau sudah mendapatkan ancaman dari tuan Amirudin. Namun Sisilia tetap ingin menanyakannya pada sang suami untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Kok malah diam? katanya mau nanya sesuatu! tanyakan saja sebelum aku tidur nih!" Eran menatap lekat.


"Em, apakah kamu ada saudara perempuan, eh ... maksud ku kamu punya saudara perempuan Kakak atau adik?" Sisilia sedikit ragu.


"Saudara perempuan cukup banyak kan kemarin juga dia kenalin sama kamu." Jawabnya Eran sambil menerapkan keningnya.


"Yang belum kau kenalkan padaku, adakah?" kini Sisilia memandangi dengan penuh rasa penasaran, karena yang dia lihat di mall bersama ayah mertua berada belum ketemu.


Kemudian Sisilia menceritakan ketika dia sedang belanja di Mall. Melihat seseorang yang melihat mertua dan bersama wanita muda.


"Apakah punya fotonya!" selidik Eran.


Sisilia menggeleng dan mengatakan setiap yang dia lihat pada sang suami.


Eran melongo memikirkan kira-kira siapa wanita itu. Hingga beradegan mesra segala! apa mungkin ayahnya memang punya wanita lain, mengkhianati sang ibunda atau sekedar sekretaris? tapi kalau memang hanya karyawan, nggak mungkin semesra itu.


"Nah itu juga yang kepikiran, kalau sekedar karyawan. Tidak mungkin ada adegan mesra seperti itu." Tambahnya Sisilia yang tidak habis pikir.


"jangan bilang sama ibu ya jangan dulu bilang aku mau menyelidikinya siapa dia!" pinta Eran pada sang istri.


"Emangnya kira-kira siapa dia?" tanya Sisilia sambil memegangi tangan Eran.


"Aku tidak tahu makanya aku akan menyerah orang tua menyelidiki kebenarannya!" Eran bilang tidak tahu menahu soal itu.


"Ya sudah, apa mau mandi dulu? Sudah makan belum? Nanti aku siapkan makannya." Tawar Sisilia dengan lirih.

__ADS_1


"Em ..." Eran merasa bingung. Namun jemarinya menurunkan bahu piyama Sisilia.


Membuat Sisilia mengerti apa yang di mau oleh Eren. "Mandi dulu gih? biar nanti lebih santai dan segar!"


"Ini dulu ya? aku sudah tidak tahan dan ingin memandikan benda pusaka ku yang lama ini belum dimandikan." Eran menyeringai pada sang istri yang menunjukan barisan gigi putihnya.


"Emangnya nggak pernah dimandikan kan kamu sering mandi!" Sisilia mengulum senyumnya.


"Oh ... kalau itu sih, mandi biasa! setiap hari juga aku mandikan, tapi ini lain lagi mandi di air keramat." Jawabnya Eran sambil memainkan tangan di salah satu puncak Himalaya.


Membuat Sisilia tersenyum dan meliukan tubuhnya karena geli. Lantas menangkap tangan Eran. "Mandi dulu sana?"


"Nanti saja mandinya! sekalian oke?" Eran membuka kemejanya lalu kemudian dia lempar entah kemana. Mendorong bahu Sisilia agar berbaring kembali.


Seterusnya, pergulatan hebat pun terjadi alias ritual yang biasa mereka lakukan untuk menghasilkan benih terbaiknya.


Malam semakin larut serta beranjak berganti pagi yang indah. Sisilia sudah bangun dan membersihkan diri sebelum suaminya terbangu.


Kini Sisilia sudah rapi dan wangi, mendekat pada sang suami yang masih juga terlelap, kalau dia kenceng pipinya kanan dan kiri.


"Bangun sayang!" sudah pagi nih." Gumamnya Sisilia lalu mengelus pipinya Eran dengan lembut.


Dengan perlahan-lahan, membuka kedua netra matanya yang di paksa di buka tersebu.


"Hem sayang, sudah pagi ya? kenapa baru bangunkan aku!" Eran pun bangun duduk, dan netranya sibuk mencari keberadaan pakaian dalamnya.


"Cari apa? semua pakaian mu Sudah aku bawa ke kamar mandi." Sisilia menunjuk ke arah pintu kamar mandi.


"Lah, terus aku pakai apa ke sana?" tanya Eran sembari menurunkan keningnya.


Lantas Sisilia yang memberikan sebuah handuk kepada suaminya. Namun Eran malah sengaja turun tanpa memakai apa-apa dan mendekati ke arah sang istri.


"Iieh ...ini handuknya pakai!" Sisilia menyodorkan handuk pada Eran.


Eran memeluk Sisilia sambil mengecupnya. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu yang digedor dari luar, beserta suara Puan Nandita yang memanggil nama Eran membuat Eran terdiam dan melihat ke arah daun pintu sembari bergumam. "Gagal!"


Sisilia langsung mendorong dada Eran sambil menyuruh memakai handuk ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2