Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
RUMAH FITRI


__ADS_3

"Tookk... Tokkk... Tookkk...!!" Suara ketukan dari depan pintu terdengar ditelinga Fitri. Fitri bergegas ke depan pintu untuk membukanya. Di pegangnyalah gagang pintu dan membuka pintu.


"Mbak Salma? Masuk Mbak!" Ucap Fitri mempersilahkan Salma masuk.


Salma tersenyum dan mengikuti Fitri dari belakang menuju ruang tamu.


"Silahkan duduk Mbak!" Ucap Fitri menyuruh Salma duduk.


"Iya! Terimakasih." Balas Salma yang menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan perlahan.


"Mau minum apa Mbak? Biar saya buatin." Tanya Fitri dengan sopan.


"Apa sajalah." Jawab Salma ramah.


"Baiklah." Balas Fitri yang bergegas menuju dapur untuk membuatkan minum.


Sedangkan Salma berdiri dan melihat lihat di sekeliling ruang tamu. Tak ada foto Fitri ataupun anggota keluarganya. Hanya ada 2 lukisan yang terpajang didinding.


"Kenapa Fitri tidak memajang foto dia ataupun keluarganya?" Tanya Salma dalam hati.


Beberapa menit kemudian Salma melihat Fitri keluar dari dapur. Dia kesusahan untuk berjalan karena sedang hamil besar dan harus membawa nampan berisi segelas sirup dan beberapa piring berisi camilan. Salma yang tak tega melihatnya langsung mendekat untuk membantu membawanya.


"Sini biar aku saja yang bawa." Ucap Salma meminta nampa untuk diambil alih.


"Tidak apa apa Mbak, biar saya saja." Ucap Fitri menolak.


"Sudah tidak apa apa. Kamu kan sedang hamil. Kamu membawa dirimu sendiri saja susah." Ucap Salma. Salma berjalan kearah meja dengan membawa nampan tersebut dan meletakkannya di atas meja.


"Terimakasih Mbak." Ucap Fitri tersenyum.

__ADS_1


"Udah tidak apa apa. Aku yang minta maaf karena sudah merepotkan kamu." Balas Salma.


Fitri hanya membalas dengan senyum manisnya.


"Ohh iya kenapa tidak ada foto yang kamu pajang? Atau anggota keluargamu?" Tanya Salma setelah beberapa saat mereka terdiam membuat suasana hening.


"Saya tidak punya foto untuk dipajang Mbak. Anggota keluarga apalagi. Saya sudah lama tidak mempunyai anggota keluarga Mbak." Ucap Fitri tersenyum masam.


"Kamu bisa anggap aku dan Mas Burhan keluarga kamu. Kamipun juga begitu. Jadi jangan pernah merasa kalau kamu tidak punya keluarga lagi." Ucap Salma.


Salma merasa bersalah karena membuat Fitri merasa sedih dan matanya berkaca kaca. Sepertinya air matanya hampir meluap.


"Lagian saya juga tidak lama tinggal disini. Setelah saya melahirkan anak ini saya akan pergi dati kehidupan keluarga Mbak." Ujar Fitri menumpahkan air matanya yang sedari tadi ditahannya.


Salma semakin merasa bersalah. Kini seolah olah Salma menjadi orang yang sangat jahat karena sudah memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Salma yang tak tega melihat Fitri menangis, langsung berpindah posisi duduknya menjadi disebelah Fitri dan memeluknya.


"Tidak Mbak. Saya tidak akan menemui Mbak Salma dan Mas Burhan lagi. Apalagi anak ini." Ucap Fitri semakin deras air matanya yang mengalir.


"Kenapa? Kamu sudah seperti keluarga kami sendiri." Ucap Salma mengelak.


"Justru karena Mbak Salma dan Mas Burhan menganggap saya sebagai keluarga, jadi saya memutuskan tidak ingin bertemu dengan kalian lagi kedepannya. Saya takut Mbak kalau sampai saya tidak bisa melepaskan anak ini." Ucap Fitri mengelus perutnya.


Salma semakin erat memeluk Fitri. Tidak tau kata apalagi yang akan diucapkannya. Diapun merasakan apa yang dirasakan Fitri saat ini.


"Saya benar benar minta maaf Mbak." Ucap Fitri.


"Kenapa kamu selalu minta maaf atas kesalahan yang tidak kamu perbuat? Aku justru berterimakasih kepadamu. Berkat kamu keluarga aku dan Mas Burhan bertahan sampai sekarang. Kamu tau sendiri kan orang tua Mas Burhan menuntut cucu dan aku tidak bisa memberikannya. Dan kalau sampai mereka tau mungkin semua ceritanya akan berbeda, tidak seperti ini." Ucap Salma meneteskan airmatanya.


"Ya sudah. Kita tidak usah menbahasnya. Kamu sudah sarapan?" Tanya Salma mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Belum mbak." Jawab Fitri.


"Kamu tunggu disini. Aku buatin kamu sarapan." Ucap Salma.


Fitri hanya mengangguk tanda mengiyakan perintah Salma.


Salma beranjak meninggalkan Fitri dan pergi kedapur untuk memasak.


***


Setengah jam kemudian, Salma selesai memasak dan menyiapkannya dimeja makan. Kemudian menyuruh Fitri datang dan makan.


Fitri menurut saja, dan mulai menyantapnya. Salma duduk didepan Fitri untuk menemaninya sarapan.


"Mbak Salma nggak makan?" Tanya Fitri menghentikan santapannya.


"Tidak! Sebelum kesini aku sudah sarapan. Kamu makan yang banyak agar kamu dan anak kamu sehat." Ucap Salma tersenyum.


Fitri melanjutkan makannya. Setelah habis, Salma langsung membereskan meja makan. Fitri hendak membantunya, tetapi Salma melarangnya dan menyuruhnya menunggu diruang tamu. Fitri tak berani menolak perintah Salma dan hanya bisa menurutinya saja.


Setelah selesai membereskannya, Salma menghampiri Fitri keruang tamu dan ikut duduk di sana. Mereka meneruskan obrolan mereka. Tidak ada hal lain yang mereka lakukan.


Seharian Salma menemani Fitri. Pada akhirnya Salam merasa bahwa hari sudah mulai sore. Jam menunjukkan pukul 15.00. Salma berpamitan pulang karena suaminya sebentar lagi pulang.


"Aku pamit dulu ya. Sebentar lagi Mas Burhan pulang. Besok aku kesini." Ucap Salma ramah.


"Terimakasih ya Mbak. Mbak Salma sudah menemani saya hari ini. Saya jadi nggak kesepian." Ucap Fitri tersenyum.


Salma membalas senyum Fitri dan beranjak pergi. Fitri hendak mengantarkannya ke depan pintu tapi Salma menolaknya. Salma menyuruh Fitri untuk istirahat saja. Karena Sama tak tega melihat Fitri yang kesusahan berjalan karema sedang mengandung anak Burhan.

__ADS_1


__ADS_2