
Sisilia pun kembali menggambar dan tidak lupa memesan makan buat makan siang. Kemudian menyuruh supir untuk membawakan susu bumil ke butik.
"Kak Utari tolong Ini pesanan di packing terus dikirim ke yang tertera ini, sebentar lagi makan siang akan datang silahkan kalian makan dan aku mau istirahat dulu sebentar di atas." Sisilia kemudian beranjak dan menaikkan anak tangga karena dia merasa terlalu lelah ingin istirahat dulu sebentar.
Utari dan Nadia pun langsung packing barang-barang yang sudah dipesan dan mau di OTW kan.
Halo kemudian Sisilia membaringkan dirinya di atas tempat tidur, setelah dia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Dia langsung tiduran sambil melamun namun lama-lama kedua manik matanya terpejam.
"Bos kalian kemana?" suara Puan Nandita setelah berada di dekat Utari yang sedang menyetrika gaun.
"Oh, ada sedang istirahat. Kenapa dan ada apa?" Utari balik bertanya pada Puan Nandita yang planga-plongo.
"Tidak saya hanya ingin menjaga mantu saya saja!" jawabnya Puan Nandita.
"Pengen menjaga atau mengganggu? bukan kah kerjaan Nyonya itu mengganggu nyonya Sisilia!" Utari dengan nada sinis.
"Hi ... siapa kamu? berani bener, bilang begitu sama saya ya?" puan Nandita menatap tajam ke arah Utari.
"Saya ini asistennya nyonya Sisilia di sini dan saya punya kewajiban untuk menjaga Nyonya Sisilia, dari gangguan setan yang terkutuk," ucap Utari dengan ekspresi wajah yang sinis dan tidak suka kepada Puan Nandita.
Tangan Puan Nandita yang menggantung itu mengepal karena merasa kesal. "Dasar kurang ajar kamu ya? nanti saya adukan pada putra saya, agar kamu dipecat dari tempat ini."
Melihat keberadaan puan Nandita berada di sana, Nadia langsung mendekati Utari.
"Saya tidak takut Nyonya, karena saya percaya saya ini tidak salah. Tuan Eran nggak mungkin pecat saya, karena saya tidak melakukan apapun!" bela nya Utari.
"Hoho ... percaya diri banget anda. Saya ini orang tuanya Eran dan perkataan saya akan lebih dipercaya, jika saya mau kalian itu keluar dari butik ini. Camkan itu!" Puan Nandita pun langsung melengos pergi.
Utari tersenyum puas melihat kepergian Puan Nandita. Begitupun dengan Nadia.
"Dasar nenek lampir! pergi saja jauh-jauh, saya sih aslinya nggak akan kuat punya mertua seperti itu, bila perlu kasih racun!" gumamnya Nadia.
"Benar itu, kalau saya mau kasih sianida sekalian! biar mampus di tempat! ha ha ha ..." tambahnya Utari.
__ADS_1
Setengah berapa saat kemudian. sang supir membawa pesanan dari Sisilia. "Permisi saya membawakan pesanan dari nyonya apakah nyonya nya ada?"
"Ooh dia sedang istirahat. Kalau pesanan Nyonya Sisilia, sini biasa saya saja yang mengantarkan nya ke atas!" pinta Utari sembari mengulurkan tangan untuk meminta yang dibawa sopir.
Sopir pun dengan cepat memberikan apa yang menjadi pesanan Sisilia, kalau gitu saya titip ya dan saya permisi!" sopir pun pamit kembali.
Utari mengangguk lalu dia membawa kantong paper pack tersebut ke pantai atas, dia simpan di atas meja tanpa memberi tau Sisilia yang dia yakini sedang tidur.
Selanjutnya Utari beres-beres barang-barang yang berada di lantai atas tersebut yang perlu dia bawa dia turunkan untuk mengisi etalase yang di bawah kosong.
"Apa yang dibawa barusan!" tanya Nadia kepada Utari.
"Itu sepertinya susu bumil dan vitamin-vitamin, aku simpan aja di atas meja karena sepertinya ... nyonya Sisilia tidur di kamar." jawabnya Utari sembari menuju ke arah lantai atas.
Kini hari pun udah sore, dan semua asisten pun sudah waktunya pulang, tinggallah Sisilia di butik itu seorang diri. Dengan niat memang mau menginap di sana.
Biar sekalian dia bisa lembur menyediakan semua pesanan. Atau memperbanyak koleksi agar butiknya lebih memproduksi buatannya sendiri, ketimbang buatan orang lain.
Dalam waktu berapa jam, Sisilia pun sudah mengumpulkan beberapa potong gaun yang tinggal jahit, hingga akhirnya Eran pun datang untuk menemani Sisilia menginap di butik tersebut.
Di butik, hidup berdua terasa tenang dan tentram. Terutama tidak ada sang ibu mertua yang bikin pusing kepala Sisilia.
"Hem, masakannya sudah siap sayang?" Eran melihat ke arah masakan yang masih di dalam wajan.
"Sudah sebentar lagi siap kok, sabar saja. Oya. Aku ingin ke Indonesia, berkunjung ke sana." Sisilia menatap suaminya.
"Em, kebetulan Minggu depan aku mau ke sana, ada urusan di sana. Kalau mau ikut boleh." Eran memegangi tangan sang istri.
"Beneran kamu mau ke Indonesia?" tanya Sisilia ingin meyakinkan dirinya.
"Iya bener minggu depan aku akan ke Indonesia karena kebetulan ada urusan di sana kalau kamu mau ikut boleh, cuman ... butik di sini tutup, atau gimana?" ucap Eran.
"Iya, aku mau! kalau butik aku percayakan pada kak Utari dan kak Nadia, aku akan nyetok yang di perlukan." Sisilia dengan raut wajah yang bahagia.
__ADS_1
Akhirnya dia akan bertemu keluarganya di indonesia. Setelah sekian lama tidak bertemu mereka.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan ke sana sama-sama." Kata Eran sambil merangkul bahu sang istri.
"Makasih ya Abang ... makasih," ucap Sisilia sangat bahagia.
"Ya, sayang!" cuph Eran mengecup kening sang istri.
Kemudian mereka pun menikmati makan malamnya.
Keesokan hari nya, seperti biasa butik sudah di buka. Dan semua karyawan pun sudah pada datang.
Kemudian mereka pun langsung merapikan semua barang-barang dan mulai beraktifitas seperti biasanya.
"Silakan ibu, kakak di pilih ... mana yang di sukai." Utari dengan ramah kepada para pengunjung yang datang waktu itu.
"Saya mau gaun yang seperti ini, namun dengan warna lain." Kata seorang pengunjung tersebut.
Sisilia menghampiri Utari dan pengunjung.
"Em boleh. Ada di atas. Mari?" tapal Sisilia sambil mengajak orang tersebut.
Sementara Utari melayani yang lain yang ada beberapa dan melihat-lihat peralatan buat anak-anak.
Kemudian, Sisilia menawarkan beberapa gaun yang berbeda dan warna yang berbeda juga. Kebetulan wanita itu merasa cocok dan tidak tanggung-tanggung mengambil delapan gaun yang berbeda hasil desain Sisilia sendiri.
"Terima kasih ya Puan, terima kasih banyak dan semoga menjadi pelanggan kami." Sisilia membungkuk hormat dan sangat berterima kasih banyak pada pembeli tersebut.
Setelah pengunjunya pulang. Sisilia melanjutkan aktivitasnya kembali, apalagi minggu depan dia mau ke Indonesia menjadikan dia harus banyak stok kagak sama dia di Indonesia belinya pun tidak tutup.
"Kenapa semala kau tidak pulang? apakah takut dengan ancaman saya apa?" suara Puan Nandita dari arah sampingnya Sisilia yang sedang tampak fokus ke kerjaannya.
"Ibu, aku menginap di sini semalam!" jawabnya Sisilia dengan sedikit kaget ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon doa'nya untuk ibuku yang lagi kurang sehat, semoga cepat sembuh seperti biasa Aamiin