
"Saya minta maaf. Dan saya merasa bersalah telah berkata yang macam-macam padahal itu cucu saya! mau kan memaafkan saya?" ucap Puan Nandita dengan wajah yang tampak serius.
Sejenak Sisilia terdiam. Kepikiran dengan cepat dan tiba-tiba sang ibu mertua meminta maaf padanya. Namun Sisilia merasa lega. Mungkin iya sang ibu mertua sudah luluh dan menerima nya sebagai mantu.
"Aku pasti akan memaafkan mu ibu ..." Sisilia menerima maaf sang ibu mertua yang justru dalam hati kecilnya merasa curiga tetapi dia tepis dengan alasan jangan suudzon.
"Saya menyesal sudah memusuhi mu dan berbuat yang tidak-tidak sama kamu. Saya mulai sekarang akan bersikap baik sama kamu!" Puan Nandita berkata demikian dan seolah memang menyesali.
"Iya, Bu ... aku sudah maafkan itu." Mereka berdua berpelukan.
Pemandangan itu membuat haru Utari dan Nadia. Namun mereka berdua tetap curiga karena siapa tahu Puan Nandita hanya pura-pura saja.
Siapa tahu di balik itu ada maksud tertentu yang tersimpan untuk memperdayai Sisilia yang tengah hamil.
"Saya tidak percaya kalau dia memang tulus, tapi modus yang terselubung dusta." Kata Utari yang menatap ke arah Puan Nandita.
"Aku juga begitu, curiga sama dia kalau ini cuma modus. Nyonya Sisilia harus hati-hati dan jangan terlalu percaya sama nene sihir itu." Tambahnya Nadia menimpali perkataan Utari.
"Yaps, benar sekali kalau nyonya Sisilia harus hati-hati." Utari mengangguk.
Kini Sisilia dan Puan Nandita tampak akur. Namun entah apa yang ada dalam pikiran Puan Nandita entah memang sudah tobat atau apa.
"Sisilia Ibu mau pulang dulu ya? nanti kau pulang, saya akan sediakan makan malam yang enak spesial masakan saya." Puan Nandita mengusap tangan Sisilia.
"Oh, iya Bu ...nanti aku pulang kok. Bu!" jawabnya Sisilia dengan menunjukan senyumnya.
"Bagus, di tunggu ya?" kemudian Puan Nandita pun berlalu meninggalkan butik Sisilia.
Sisilia melihat kepergian sang ibu mertua yang melintasi pintu utama. Dengan bibirnya tersenyum manis dan bahagia karena Puan Nandita sudah mulai bersikap baik.
"Nyonya, jangan mau di kibulin sama mertua, siapa tahu dia cuma pura-pura saja dan di balik itu punya niat untuk berbuat jahat." Utari langsung mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Jangan berprasangka buruk sama orang, pamali." Kata Sisilia sambil memegangi gambarnya.
Ketika sore. Sisilia pun pulang dengan jemputan mobil. Dia langsung mendapati di meja makan terdapat banyak makanan Indonesia yang tersaji di meja makan.
"Waw ... masakan Indonesia nih." gumamnya Sisilia dengan bibir yang tersenyum.
"Gimana apa kau suka? ini semua masakan ku dan spesial buat nanti dan calon baby yang masih di dalam kandungan." Suara Puan Nandita sambil mendekati Sisilia.
"Oya, ini beneran ibu yang masak. Masya Allah ... ibu pandai juga memasak!" Sisilia melihat intens ke arah ibu mertua.
"Kau meragukan kemampuan ku?" kalau tidak percaya cicipi." Puan Nandita menunjuk makanan di meja.
"Em, nanti aku pasti makan Bu ...makasih ya? sekarang aku mau mandi dulu dan nanti kita makan bersama dengan Abang juga." Sisilia kemudian melanjutkan langkahnya ke lantai atas.
Eran pun datang dan langsung menemui sang istri di dalam kamar yang rupanya sedang beres-beres di kamar.
"Malam sayang aku pulang!" Eran menutup pintu lalu berjalan memasuki kamar tersebut sambil membawa tas kerjanya.
Membuat Eran melongo dia merasa kalau isinya tidak meminta apapun untuk diambilkan kenapa tiba-tiba bilang seperti itu.
"Lho sayang, kan nggak minta apa-apa. Jadi aku nggak beli apapun kalau saja kamu memintanya, aku pasti belikan!"
"Iya sih aku minta apa-apa, tapi setidaknya ngerti deh ... kalau orang hamil itu maunya apa? sekalipun nggak bilang." Tambahnya Sisilia.
"Tapi kan sayang, aku bingung harus membeli apa. Nanti aku beli sesuatu dan kamu nggak suka, kamu nggak makan, kan mubazir!tapi kalau seandainya kamu bilang seandainya pengen beli buah apa? ya aku belikan!" sambungnya Eran.
"Ya sudah. Iya ... mungkin aku yang salah, mungkin aku pengen di mengerti!" ucap Sisilia sambil mendekati dan membuka jas nya Eran.
"Emang sayang mau beli apa. Nanti aku belikan?" selidiknya sang suami sambil menatap ke arah sang istri.
"Apa ya? iya lain kali aku akan ngomong kalau pengen sesuatu! sekarang aku nggak pengen apa-apa sih." Kemudian Sisilia menyiapkan air untuk mandi air dan menyebabkan pula pakaian ganti nya.
__ADS_1
Saat Ini mereka, Sisilia Eran dan Puan Nandita juga suaminya tengah makan malam bersama.
Puan Nandita pun mulai pembicaraan di sela-sela menyantap makan malamnya.
"Sebaiknya Sisilia jangan dulu bepergian jauh, apalagi di saat hamil muda seperti ini. Takutnya kenapa-napa! mendingan di rumah saja jangan dulu ke Indonesia, nanti saja kalau sudah lahiran dan baby-nya sudah balita atau aman buat penerbangan," ujar puan nandita.
"Tapi sepertinya aku nggak ada masalah kalau pergi yang jauh, dan aku akan konsultasi ke dokter agar aku bisa terbang ke Indonesia. Lagian aku merasa baik-baik saja kok!" timpal Sisilia.
"Sayang ... kamu itu masih dalam masa-masa ngidam, mabok. Dikit-dikit oe dikit-dikit oe. sedangkan dari sini ke Indonesia itu jalur udara yang kurang aman bagi yang sedang mengidam." Kata Puan Nandita meyakinkan.
"Sisilia benar, kami akan konsultasi terlebih dahulu ke dokter, aman atau tidaknya untuk perjalanan melalui udara, bila aman kita berangkat. Kalau tidak aman berarti aku sendiri yang ke sana dalam urusan kerja." Tambahnya Eran.
"Ya silakan kalian konsultasi dulu dan hasilnya gimana!" ucapan Puan Nandita sembari menyuapkan makannya ke dalam mulut.
Selesai makan, Sisilia diperiksa dokter keluarga dalam rangka konsultasi kalau Sisilia mau bepergian ke luar negeri dalam keadaan mengidam alias hamil muda.
Dan dokter bilang ... kalau di saat ini Sisilia tidak diizinkan untuk melakukan penerbangan, karena kehamilannya masih terlalu muda dan yakini akan rentan sehingga Sisilia tidak diizinkan untuk pergi ke Indonesia.
"Tapi dok ... aku baik-baik saja kok, dan rasa mual pun berkurang, bukankah itu masih dalam batas wajar!" Sisilia menatap sang dokter yang dia rasa seolah mengada-ada sesuatu yang memang baik-baik saja.
"Kalau kata dokter seperti itu, ya sudah. Mungkin lain kali saja kita pergi ke Indonesia bersama-sama." Kata Eran pada sang istri.
Sisilia hanya melihat pada sang suami bergantian dengan dokter.
"Di lain kali, kita sama-sama ke Indonesia tanpa aku ada urusan kerja!" tambahnya Eran sambil memegangi tangan sang istri.
Sisilia terdiam dengan perasaan kecewa dengan pernyataan yang katanya tidak boleh perjalan jauh dulu, sementara dirinya merasa baik-baik saja.
Sementara Puan Nandita menyembunyikan senyumnya yang merasa senang, karena Sisilia tidak diperbolehkan untuk perjalanan jauh ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like comment dan lainnya ya terima kasih.