Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Cobaan


__ADS_3

Eran tampak marah, setelah mendengar cerita kawan sang bunda yang menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya.


Lalu Eran mengayunkan kakinya hendak pergi untuk menemui sang ayah.


Sisilia meraih tangan sang suami seraya berkata. "Mau kemana?"


"Aku mau mencari ayah." Eran menepis tangan sang istri seraya melanjutkan langkahnya yang lebar tersebut, keluar dari pintu ruangan dimana sang bunda di rawat.


"Tapi Abang ..." gumamnya Sisilia, kemudian dia mendekati ke arah Puan wanita yang berbaring lemah dan tidak sadarkan diri.


"Bu ... sabar ya? Ibu harus kuat!mungkin ini cobaan buat Ibu. Ibu tidak boleh terpuruk seperti ini. Ibu jangan kalah dengan wanita itu jangan menyerah! ibu harus kuat ya ... semoga Ibu cepat sembuh!" Sisilia duduk di dekat Puan Nandita sembari memegang tangannya.


"Suster, ini akibat obat bisa terlalu banyak atau memang dia tidak sadarkan diri?" tanya Sisilia ke suster yang sedang menggantungkan selang infus.


"Itu diperkirakan karena keduanya! obat biusnya dan dia memang beliau nggak sadarkan diri juga iya." Suster pun mengangguk.


"Ya Allah ... sembuhkanlah ibu mertuaku ini dan diberi kesabaran, ketabahan. Kuatkan dia untuk bisa menerima kenyataan kalau suaminya sudah selingkuh." Gumamnya Sisilia sembari mendongak ke atas langit-langit.


Selang berapa jam, Eran kembali dengan wajah yang ditekuk.


"Abang, mana Ayah apa dia nggak ikut ke sini?" tanya Sisilia sambil menoleh ke arah suaminya yang baru saja datang.


"Tidak, mungkin saat ini dia lebih memilih selingkuhannya ketimbang istrinya sendiri yang sudah mendampinginya puluhan tahun ini." Jawabnya Eran sembari mengacak rambutnya frustasi.


Dia kecewa dengan sang ayah yang tidak setia dan tega menduakan sang bunda.


"Yang sabar ya? semoga hati Ayah pun segera luluh dan kembali pada istrinya, kasihan juga Ibu. Semoga dia cepat sembuh ya?" Sisilia mengedarkan pandangannya ke arah sang ibu mertua dan suaminya bergantian.


"Iya sayang, dan aku minta maaf atas atas segala kesalahan ibu sama kamu selama ini, tolong maafkan dia!" pintanya Eran kepada sang istri sambil memegangi kedua tangan nya.


"Kenapa Abang bilang begitu? tentunya aku maafkan ibu, apapun kesalahan ibu. Aku sudah memaafkan sekalipun tidak dipinta kok, nggak apa-apa aku ikhlas!" jawabnya Sisilia sembari menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang menunjukan ketulusan.


"Terima kasih sayang, jika kamu mau memaafkan dan doakan dia. Supaya cepat sembuh, dan yang maha kuasa membalikkan hatinya menyayangi kamu, sebagai mantunya yang takkan pernah bisa tergantikan oleh wanita lain sekalipun," sambungnya Eran sembari memeluk bahu sang istri.


"Tentu, Abang ... aku pasti mendoakannya! dia itu mertuaku dan sama saja dengan ibu ku sendiri. Apapun kesilapan nya aku sudah maafkan." Timpalnya Sisilia sembari membalas pelukan sang suami yang begitu sangat erat.

__ADS_1


"Sayang, kamu memang istriku yang terbaik dan takkan pernah tergantikan!" bisiknya Eran tepat di dekat telinga Sisilia.


Sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu yang mendekati pintu ruangan Puan Nandita di rawat. Tampak Erika yang datang membawa buket bunga. "Gimana kondisi ibu, apakah dia sudah sadar?"


"Belum, kondisinya seperti yang kamu lihat!" jawabnya Eran


Sementara di belakangnya Erika, berjalan dengan gontai putra sulung dari Puan Nandita! yaitu Hakim. Pria itu mendekati sang Bunda sembari berkata.


"Ibu kenapa bangun Bu maafkan aku Bu ... yang tak bisa menjagamu. Dan siapa yang sudah membuat Ibu seperti ini dia akan ku penjarakan!" Hakim tampak marah.


Eran mendekati Hakim lalu menepuk-nepuk bahunya. "Sabar, Bang ... doakan saja semoga Ibu cepat sembuh dan dapat berkumpul lagi."


Hakim berdiri dan kedua netra matanya melotot ke arah Eran. "Ini pasti ulah dari ayah mu kan? dia sudah selingkuh dan tidak mau terima kesalahan! sehingga membuat seperti ini kepada ibuku!"


"Bang. Abang ....ini bukan saatnya untuk salah menyalahkan. Tapi ini saatnya untuk mendoakan dan memberi dukungan kepada ibu!" lirihnya Eran kepada Hakim.


"Suami macam apa itu? sudah tahu salah masih juga menganiaya istrinya sendiri, selingkuhan cuma ada di saat ini saja belum tentu sampai nanti atau kapanpun dia masih ada. Sedangkan istri dari dulu sampai sekarang masih mendampingi dasar kurang ajar!" Tambahnya Hakim.


Eran terdiam, dia bingung harus berkata apa lagi. Karena memang benar, semua saksi dan bukti pun menyudutkan sang ayah. Jika kasus ini di ke polisikan. Namun ini tidak akan dia bawa ke pihak yang berwajib. Karena 8n8nsebiah aib keluarga.


Dan setelah selama 10 hari dirawat Puan Nandita dibawa pulang ke rumahnya Eren dan Sisilia, dan selama itu tuan amirudin tidak pernah nongol barang sekalipun untuk menjenguk Puan Nandita di rumah sakit ataupun ke rumah Eran.


Sungguh bikin miris. Ada ya suami macam itu! sudah membuat kesalahan, bukan nya tobat dan meminta maaf pada yang bersangkutan. Malah menghilang begitu saja.


Namun Eran sebagai putranya tidak mau ambil pusing atas ayah nya yang tidak datang menemui sang istri. Yang penting dia bisa merawat sang bunda dengan baik.


Kini kehamilan Sisilia sudah menginjak bulan ke sembilan tinggal menghitung hari saja untuk lahiran.


Dan selama berbulan-bulan, dia ikut merawat sang ibu mertua. Di sela-sela dia pulang dari butik dia rawat seperti ibunya sendiri.


Walau kadang sikap Puan Nandita tidak terlalu berubah, kadang dia sering marah-marah terutama bila kesal dengan kondisinya sendiri yang belum bisa berjalan normal.


"Ibu, harus sabar dan terus berusaha. Agar ibu bisa berjalan kembali, dan Ibu harus percaya kalau Ibu akan sembuh." Sisilia memegangi tangan Puan Nandita yang marah-marah sambil memukul-mukul lututnya.


"Sabar, harus sampai kapan saya harus sabar? ini sudah berbulan-bulan lamanya dan saya tidak juga ada perubahan." Teriaknya Puan Nandita.

__ADS_1


"Iya, kan sudah ku bilang sabar dan berdoa meminta ampun dan meminta pada yang maha kuasa. Semoga Ibu cepat di sembuhkan. Lagian ini juga lagi terapi. Sedang usaha agar Ibu segera sehat dan bisa berjalan." Tambahnya Sisilia.


"Saya bosan. Begini terus ..." Puan Nandita dengan suara keras.


"Bu ... sabar. Sekarang Ibu makan dulu ya?" Sisilia menyuapi Puan Nandita dengan tangannya dan penuh keikhlasan.


Puan Nandita membuka mulutnya dan menerima asupan dari tangan Sisilia. Dengan tatapan yang sulit di artikan, mantunya itu sering dia sakiti dan dia fitnah. Tapi dia malah dengan tetap tulus memaafkan dan merawat dirinya.


"Ibu, mau nambah lagi ya?" Sisilia menawari Puan Nandita untuk nambah makannya dan kelihatannya dia tampak lahap.


Puan Nandita menggeleng. "Cukup."


Kemudain asistennya yang membereskan bekas makannya Puan Nandita.


"Assalamu'alaikum ..." Eran yang baru saja datang dari kantor menghampiri keduanya.


"Wa'alaikumus salam ..." Sisilia mencium tangan Eran dan Eran mengecup kening sang istri.


Puan Nandita melamun mengingat suaminya yang sudah tega selingkuh, dan karena kejadian itu di kamar hotel menjadikan dirinya seperti ini.


Dan sampai detik ini dia tidak melihat sekalipun tuan Amirudin datang untuk menemuinya.


"Bu, jangan banyak pikiran. Yamg penting Ibu di sini aman dan tidak kurang suatu apa pun." Kata Eran sambil mengusap tangan sang bunda.


"Apakah kau sering bertemu dengan ayah mu?" tanya Puan Nandita pada sang putra.


"Em ... kadang-kadang aku bertemu dan ku ajak ke sini, tetapi dia tidak mau!" jawabnya Eran sambil mendudukan dirinya di dekat sang istri.


"Apakah dia sudah menikah lagi?" selidik nya Puan Nandita.


Eran dan Sisilia saling bertukar pandangan. Mereka kebingungan harus menjawab apa? karena setau mereka tuan Amirudin memang menikah lagi ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan rating nya juga makasih.

__ADS_1


__ADS_2