Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
HAMIL 2


__ADS_3

Menuntut agar segera diberikan cucu, itulah hal yang selalu Ibu Burhan lakukan setiap saat sedang ingin berdebat dengan anak semata wayangnya itu. Membuat Burhan tak tau harus bagaimana, dan membuat Salma semakin terpuruk atas tuntutan Ibu mertuanya.


Enam bulan telah berlalu, dan berulangkali Ibu Burhan menuntut untuk segera mempunyai cucu. Tak disangka dan tak pernah terpikirkan oleh Burhan dan Salma, karena mereka tak melalukan program hamil. Tapi trakdir berkehendak lain, Salma hamil untuk yang kedua kalinya.  Salma merasa lega, karena akhirnya dia akan memberikan cucu kepada Ibu mertuanya. Itu artinya dia tidak akan dituntut lagi. Salma memberikan kabar baik ini kepada suaminya, Burhan.


"Mas..." Panggil Salma mengawali pembicaraan mereka.


"Iya? Ada apa sayang?" Tanya Burhan penasaran.


"Aku punya kabar baik buat kamu. Dan semoga kamu senang mendengarnya." Kata Salma.


"Kabar baik? Kalau kaqmu senang dengan kabar itu. Aku otomatis juga akan senang." Jawab Burhan.


Burhan menatap wajah istrinya, dan ingin segera mendengar kabar baik yang akan disampaikan Salma. Burhan tak sabar mendengarnya.


"Aku hamil." Ucap Salma tersenyum dan menunjukkan hasil tes kepada Burhan.


"Serius?" Tanya BUrhan senang tetapi belum sepenuhnya percaya.


Salma mengangguk, menjawab ketidakpercayaan suaminya. Burhan senang dan memeluk istrinya erat.


"Mas jangan erat erat, aku susah nafas." Ucap Salma menepuk punggung Burhan, susah bernafas karena pelukan Burhan.


"Maaf,, maaf,, aku terlalu senang mendengarnya, jadi aku tak sadar memelukmu terlalu erat." Ucap Burhan melepaskan pelukannya.


Salma tersenyum melihat wajah Burhan yang mengekspresikan kebahagiaannya.


"Ayo kita beri kabar baik ini kepada Papa dan Mama." Ajak Burhan beranjak dan menarik tangan istrinya.


Tetapi Salma menolaknya karena dia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa dia benar benar hamil dan kandungannya sehat.


"Jangan beritahu mereka dulu!" Ucap Salma spontan menolak ajakan Burhan.

__ADS_1


Burhan mengendorkan tarikannya dan kembali duduk disamping Salma dengan wajah penuh tanya.


"Kenapa?" Tanya Burhan penasaran dengan jawaban Salma.


"Aku ingin memastikannya dulu dengan mengeceknya kedokter dan memastikan kalau kandunganku sehat." Jawab Salma.


Burhan mengerti maksud Salma dan menyetujuinya.


Pagi harinya, Burhan mengambil cuti tidak berangkat kekantor karena ingin mengantar istrinya pergi cek kandungan. Salma dan Burhan pergi tanpa memberitahu orangtuanya.


Hasil tes menunjukkan bahwa Salma benar benar hamil dan janinnya baik baik saja. Salma merasa lega dan Burhan sangat bahagia.


Sesampainya dirumah, Burhan dan Salma tersenyum bahagia.


"Darimana kalian?" Tanya Ibu Burhan tiba tiba.


Burhan hanya tersenyum kearah Ibunya dan kemudian kearah Salma.


"Aku dan Salma punya kabar baik untuk Mama dan Papa." Kata Burhan merasa senang.


Ayah Burhan yang duduk membaca koran dengan santai disofa langsung meletakkan korannya dimeja. Dia ingin mendengarkan kabar baik apa yang dibawa anaknya itu.


"Kabar baik? Apa?" Tanya Ibu BUrhan.


"Salma hamil." Jawab Burhan dengan senyum lebarnya.


"Benarkah?" Tanya Ayah Burhan yang langsung mendekati mereka yang masih berdiri disamping sofa.


"Iya Pa." Jawab Burhan senang.


Ayahnya langsung tersenyum senang mendengarkan kabar tersebut.

__ADS_1


"Ini benar benar kabar baik." Ucap Ayah Burhan senang.


Melihat Ayah mertuanya sangat senang dengan kabar kehamilannya, Salma tersenyum senang.


Tetapi, tak sesuai perkiraan Salma. Menurutnya kabar yang menurutnya baik ini juga akan baik menurut Ibu mertuanya. Ternyata dia salah mengira. Ibu mertuanya tetap tidak menyukainya. Salma selalu saja salah dimata Ibu mertuanya itu.


"Tidak usah senang dulu. Memang kamu hamil ini kabar baik. Tapi belum tentu kamu bisa menjaganya. Kamu bisa saja menghilangkannya lagi." Ucap Ibu Burhan dengan sadisnya.


Salma langsung tak senang lagi setelah mendengar ucapan Ibu mertuanya. Senyuman yang semula ada diwajahnya, sekarang berganti dengan tetesan airmata yang mengalir dipipinya.


"Mama ngomong apa sih?" Tanya Burhan meneriaki Ibunya.


"Mama hanya berbicara sesuai kenyataannya. Tidak usah senang dulu dengan kehamilannya." Jawab Ibunya tak senang sedikitpun.


"Maaaa! Jaga ucapan Mama. Mama tidak sadar kalau ucapan Mama selama ini membuat Salma merasa tersakiti. Mama boleh tidak menyukainya. Tapi Mama jaga ucapan Mama. Dia istriku." Teriak BUrhan.


"Memang kenapa? Kenapa Mama harus jaga ucapan Mama? Mama memang tidak menyukainya sejak awal." Jawab Ibunya yang berteriak juga.


"Maaaaaa!" Teriak Burhan.


Salma memegang tangan Burhan erat untuk menahan amarah Burhan agar tak berteriak lagi kepada Ibunya dan menghentikan pertengakarannya dengan Ibunya. Salma menangis sesenggukan karena mendengar pertengkaran mereka.Menyadari bahwa Salma tak ingin lagi dia bertengkar lagi dengan Ibunya, Burhan menghentikan teriakannya. Dan memeluk istrinya yang sedang menangis, untuk menenangkannya. Sedangkan Ayahnya hanya diam tak berani membantah istrinya.


Ibu Burhan muak melihat Salma langsung pergi meninggalkan mereka. Burhan kemudian mengajak istrinya kekamar.


"Maafkan Mama ya." Ucap Burhan setelah mendudukkan Salma ditepi ranjang. Burhan duduk disampingnya menatap sedih istrinya seakan ikut merasakan luka yang dirasakan Salma.


Salma merasa lebih tenang dan tersenyum menghapus airmatanya.


"Tidak apa apa. Aku ngerti maksud Mama. Aku menangis karena tak menyangka saja Mama tidak senang dengan kabar ini. Tapi lain kali kamu jangan meneriaki Mama karena membelaku. karena itu akan membuat Mama semakin benci sama aku." Ucap Salma.


"Iya aku janji. Maafkan aku. Aku hanya tak kuat kamu dimaki sama Mama seperti tadi." Jawab Burhan.

__ADS_1


Salma tersenyum mendengar jawaban Burhan yang sangat menenangkannya. Suami yang selalu membelanya, meskipun harus bertengkar dengan Ibunya sendiri.


__ADS_2