Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
HAMIL


__ADS_3

Hari hari berlalu begitu cepat tanpa disadari. Salma sudah mulai terbiasa dengan ucapan kejam dari mulut Ibu mertuanya. Meski hatinya masih sering sakit karena tak mampu menerima perlakuan kejamnya, tetapi tak sesakit saat pertama Salma pindah kerumah orangtua Burhan.


Setelah pindah kerumah keluarga Burhan, Salma sekalipun belum pernah merasakan bahagia setelah menikah karena tekanan dari Ibu mertuanya yang membuatnya selalu menangis. Tetapi Salma hanya bisa bertahan demi suaminya yang sangat dia cintai. Karena dia tahu bahwa suaminya adalah orang yang baik yang juga sangat mencintainya dan tak akan pernah meninggalkannya sendiri.


Setelah sekian lama menanti, akhirnya apa yang ditunggu tunggu telah tiba. Salma hamil anak pertama mereka. Burhan dan Salma merasa sangat senang mengetahui bahwa dia sedang hamil.


"Sayang, aku hamil." Ucap Salma menunjukkan hasil tes kehamilan.


"Apa? Kamu hamil?" Tanya Burhan terkejut.


Salma menjawab dengan anggukan. Burhan yang menyadari bahwa Salma tidak bercanda pagi itu,sangat senang dan tersenyum lebar. Burhan langsung memeluk istrinya dengan penuh rasa sayang.


Burhan dan Salma keluar kamar untuk sarapan, karena Burhan harus segera bekerja.


"Pa, Ma, Salma hamil." Ucap Burhan dengan tersenyum lebar.


"Benarkah?" Tanya Ayah Burhan senang.


Burhan mengangguk. Mengetahui Ayah Burhan senang, Ibu Burhan melirik tajam kearah suaminya. Ayah Burhan langsung diam seketika.

__ADS_1


"Apa? Hamil? Benarkah? Bukan sebuah sandiwara saja?" Tuduh Ibu Burhan.


"Enggak Ma. Salma beneran hamil." Jawab Burhan.


"Syukurlah kalau gitu." Ucap Ibu Burhan tak begitu senang.


Meskipun Ibu Burhan tak merasa senang dengan Salma, tetapi mau bagaimanapun yang dikandung Salma saat ini adalah cucunya. Jadi dia tak ingin jika terjadi apa apa dengan kandungan Salma. Ibu Burhan selalu mengingatkan Salma untuk menjaga janinnya meski dengan kata kata yang tak enak didengar seperti biasanya.


"Kamu harus menjaga bayi itu. Aku memang tak suka padamu, tapi mau bagaimanapun yang kamu kandung adalah anak Burhan dan itu berarti dia adalah cucuku. Kalau terjadi apa apa dengan dia itu semua salah kamu." Ucap Ibu Burhan.


"Baik Ma." Jawab Salma.


Kemudian Ibu Burhan pergi meninggalkan Salma sendiri. Tanpa disadari airmatanya menetes kepipinya.


"Kamu kenapa Salma?" Suara Ayah Burhan dari belakang bertanya kepada Salma.


Salma menyeka airmatanya dan menahannya agar tidak keluar lagi.


"Ehm? Aku tidak apa apa kok Pa." Jawab Salma mencoba tersenyum.

__ADS_1


Tetapi ekspresi wajah Salma tak menunjukkan bahwa dia baik baik saja.


"Karena kata kata Mama lagi ya?" Tanya Ayah Burhan.


Salma hanya tersenyum tak berani menjawab.


"Dia memang seperti itu. Dia belum sadar saja bahwa kamu adalah orang baik. Ya Sudah kamu istirahat saja dikamar." Ucap Ayah mertuanya.


Karena terlalu banyak pikiran dan tekanan, Salma sering merasakan sakit dan kram pada perutnya. Dan ketika dia kesakitan, dia hanya bisa merasakan sakit itu sendiri dan tak berani bilang kepada Burhan apalagi Ibunya. Ibunya pasti akan sangat marah dan menyalahkannya tanpa henti. Tak mengurangi rasa sakitnya, malah justru akan membuatnya semakin tertekan.


Salma memilih untuk memeriksakannya sendiri kedokter kandungan. Pesan dari dokter kandunga, Salma tidak boleh terlalu stres dan tertekan.


"Bagaimana aku tidak stres dan tertekan jika setiap hari aku mendengar katra kata kasar dari Mama. Jika aku memilih mengajak pindah rumah, pasti Ibu Burhan tak akanĀ  setuju. Lagian aku tak ada alasan yang kuat untuk pindah. Kalau alasannya karena aku terlalu stress mendengar kata kata Mama yang kasar setiap hari, itu hanya akan membuatnya semakin marah. Dan Burhan akan marah sama Mamanya. Aku tidak mungkin membuat Ibu dan anak bertengkar. Apa yang harus aku lakukan?" Kata Salma dalam hati.


Salma tak tahu harus bagaimana. Dan dia tak mungkin membahas dengan suaminya. Semua hanya dia pendam didalam hatinya sendiri.


Semenjak mengetahui bahwa Salma hamil, Burhan lebih sayang dan perhatian kepada Salma. Hanya jika Burhan dirumahlah Salma akan merasa tenang dan tidak tertekan. Karena Burhan selalu mebelanya setiap kali Ibunya memberontak.


Ayah Burhan saja tak berani melawannya, apalagi Salma yang hanya seorang menantu. Ayah Burhan sebenarnya ingin membela Salma setiap kali istrinya memperlakukan Salma dengan buruk, tetapi percuma saja.

__ADS_1


__ADS_2