
"Kapan kamu akan memberikan cucu kepada Mama?" Tanya Ibu Burhan.
Burhan terkejut dengan pertanyaan yang Ibunya lontarkan.
"Kenapa Mama tiba tiba tanya soal cucu? Mama kan tahu sendiri aku dan Salma kan baru saja kehilangan bayi kami karena Salma keguguran." Jawab Burhan.
"Jangan terlalu banyak alasan, dan jangan terlalu mudah percaya sama wanita itu." ucap Ibu Burhan.
"Mama ngomong apa sih? Udah ahh." Ucap Burhan yang kemudian meninggalkan Ibunya untuk pergi kekantor.
"Kenapa Mama tiba tiba menanyakan soal cucu? apakah Mama sudah mulai mau menerima Salma sebagai menantunya? atau karena Mama tidak percaya sama Salma dan masih berpikir kalau Salma hanya akan merebut harta? Ahh udah ahh jangan terlalu dipikirkan." Gumam Burhan sambil menegendarai mobilnya.
Dirumah, karena Salma masih didalam masa pemulihan, jadi dia harus lebih banyak beristirahat dan tak melakukan pekerjaa apapun. Dia memilih terus didalam kamar dan menunggu suaminya pulang dari kantor.
"Pa, Mama mau pergi keluar jalan jalan sama temen temen Mama. Mungkin Mama pulang agak malam." Pamit Ibu Burhan.
"Ma,, kenapa sih kamu tidak bisa hilangin kebiasaan kamu yang selalu senang pergi keluar dan berkumpul sama teman teman?" Ucap Ayah Burhan.
"Helllloooooo,,, Papaaa! Ini hanya sekedar hobby yang membuat aku biar awet muda. Lagian kalau seharian dirumah terus, membosankan." Ucap Ibu Burhan.
"Ya sudah terserah Mama saja." Kata Ayah Burhan menyerah menghadapi istrinya.
__ADS_1
Ibu Burhan pergi meninggalkan suaminya.
Beberapa saat kemudian, Salma keluar dari kamarnya karena merasa bosan. Dia merasa rumah sangat sepi tanpa penghuni.
"Pada kemana? Kenapa rumah begitu sepi?" Gumamnya dalam hati.
"Salma!" Sapa Ayah Burhan.
"Ohh, iya Pa?" Jawab Salma.
"Kamu ngapain bengong disitu?" Tanya Ayah mertuanya.
"Ohh Mama? Biasa dia pergi jalan jalan seperti biasanya bersama teman temannya." Jawab Ayah mertuanya.
"Ohh!" Ucap Salma.
"Kalau kamu mau jalan jalan keluar juga, tidak apa apa. Jalan jalan saja." Ucap Ayah mertuanya.
"Enggak Pa. Sebentar lagi Mas Burhan juga pulang." Kata Salma.
Beberapa saat kemudian Burhan pulang dari kantor terlihat sangat lelah.
__ADS_1
"Mas, udah pulang? Kamu kelihatan lelah? Banyak pekerjaan ya dikantor?" Tanya Salma.
"Iya! Tadi harus meeting dengan klien seharian. aku lelah." Jawab Burhan.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu dikamar. Aku siapin air hangat dulu buat kamu mandi." Ucap Salma.
Burhan berjalan menuju kamar dan Salma mengikutinya dari belakang. Salma menyiapkan air hangat dan kemudian menyuruh suaminya untuk mandi.
"Tadi pagi tiba tiba Mama nanyain cucu lagi." Ucap Burhan keluar dari kamar mandi tiba tiba.
"Hemm?" Salma terkejut.
"Aku baru tahap pemulihan, bagaimana aku bisa segera hamil dan memberi Mama cucu. Aku juga ingin tapi tidak sekarang. Sekarang masih pemulihan rahim aku." Ucap Salma setelah beberapa menit berpikir dan mencerna ucapan suaminya.
"Iya aku tahu. Tidak usah terlalu dipikirkan. Besok setelah tahap pemulihan selesai kita bicarakan lagi untuk program hamil kamu." Ucap Burhan mengerti.
Berbeda dengan Ibu mertuanya yang bisanya hanya menuntut Burhan dan Salma untuk segera memberikannya cucu. Itulah yang selalu dia katakan kepada BUrhan, yang membuat batin Salma semakin tersiksa karena tuntutannya tersebut.
Berulang kali Salma melupakannya, berulang kali Ibu mertuanya mengingatkan Burhan untuk segera memberikannya cucu. Salma hanya bisa diam menahan dirinya agar tetap kuat menghadapi keegoisan Ibu mertuanya. Semua yang dilakukan Ibu mertuanya seolah olah agar Salma t6ak merasa nyaman dan meninggalkan Burhan, anaknya. Tetapi Salma selalu mencoba menguatkan hatinya dengan dukungan dari suaminya.
Burhan selalu menguatkan dan mendukung Salma setiap kali Salma menangis dan mengeluh. Terkadang Salma ingin menjerit sekeras mungkin bahwa dia lelah dan tak sanggup lagi menjalani semuanya. Tetapi demi suaminya dia tetap bertahan meski membuat hatinya hancur dengan ulah Ibu mertuanya sendiri.
__ADS_1