Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
IRI 2


__ADS_3

"Mas, kenapa Mama dan Papa tak pernah sekali saja menyukaiku dan menganggapku jadi menantunya? Padahal aku sudah mencoba menjadi yang terbaik buat mereka?" Keluh Salma.


Burhan yang tadinya duduk bersandar dan memegang laptopnya, tiba tiba menatap Salma dengan tatapan tajam dan tak mengerti. Burhan menutup laptopnya dan mencoba memahami perkataan Salma, istrinya. Namun tetap tak paham.


"Kenapa tiba tiba bicara seperti itu?" Tanya Burhan.


"Aku cuma pengen aja Mas, Mama dan Papa tuh menganggap aku ada. Papa memang tak mempermasalahkan kehadiranku sekarang, tapi aku belum pernah sekali saja liat Papa tersenyum senang dengan keberadaanku." Keluh Salma lagi dan lagi.


"Kamu sebenarnya kenapa? Coba bilang sama aku? Mama ngatain kamu apa lagi?" Tanya Burhan.


Salma duduk ditepi ranjang mendekati Burhan.


"Apa aku yang terlalu egois?" Gumam Salma dengan nada rendah dan menundukkan kepalanya didepan Burhan.

__ADS_1


"Kamu ceritakan dulu apa yang terjadi, baru aku bisa menyimpulkan semuanya." Ucap Burhan lembut dan memegang dagu Salma dan menaikkannya. Burhan menatap wajah Salma.


Mata Salma mulai berkaca kaca.


"Tadi pagi setelah kamu berangkat ke kantor, Vania datang kesini." Ucap Salma mulai menceritakan kejadian tadi pagi.


"Apa? Untuk apa wanita itu datang kesini?" Teriak Burhan setelah mendengar nama Vania disebut.


"Kamu tidak perlu iri kepadanya. Kamu cukuo menjadi dirimu sendiri saja. Kamu harus bersabar dengan cobaan ini. Mama dan Papa hanya belum sadar saja seberapa sangat beruntungnya mereka mempunyai menantu kamu. Suatu saat nanti pasti Tuhan akan membukakan hati mereka buat kamu. Kita harus berjuang bersama. Kamu jangan lengah, aku akan selalu mendukung kamu. Bukan hanya sebagai suami tapi juga sebagai orang yang sangat mencintai kamu." Ucap Burhan menguatkan hati istrinya.


"Tapi sampai kapan Mas? Aku takut jika pada akhirnya mereka tetap tak menyukai keberadaanku." Keluh Salma lagi.


"Kamu yang sabar ya. Aku yakin istriku adalah orang yang kuat. Dia tak akan mudah menyerah hanya karna hal seperti ini." Ucap Burhan memegang kedua bahu Salma.

__ADS_1


Salma menganggukkan kepalanya dengan tersenyum kearah Burhan. Burhan membalas senyuman Salma dan mencium keningnya.


"Hari sudah malam. Tidak usah berfikir hal hal yang aneh aneh. Cepatlah tidur." Ucao Burhan menyuruh Salma tidur.


"Aku cuci muka dulu Mas." Ucap Salma beranjak pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Dia takut jika sampai matanya bengkak karena habis menangis.


Setelah mencuci muka, Salma kembali keranjang dan menaikkan tubuhnya. Burhan langsung memeluk tubuh Salma dan menyerangnya dengan ciuman dibibir. Salma yang tak siap dengan serangan Burhan, tersentak dan merasa kehabisan nafas.


"Eehhhmmmm." Erang Salma.


Burhan melepaskan ciumannya dan tersenyum. Salma paham apa yang diinginkan Burhan, suaminya. Mereka menghabiskan malam yang hangat dengan kemesraan yang lama mereka rindukan.


Setelah melakukan hubungan layaknya suami istri, Salma dan Burhan merasa lelah dan tidur dengan pulas. Burhan memeluk mesra istrinya. Hingga silaunya sinar mentari membangunkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2