
Karena Salma tak pernah mengatakan kepada siapapun bahwa dia sering merasakan sakit pada perutnya, maka tak ada yang tahu bahwa dia sangat stres dan tertekan. Meskipun Ibu mertuanya tahu b ahwa Salma sedang hamil, dia tak pernah perduli dengan kondisi Salma. Ibu mertuanya tak sadar jika kondisi Salma juga akan berpengaruh kepada janinnya. Ibu mertuanya selalu saja mengeluarkan kata kata kasar yang sangat menyayat hati. Dan Salma hanya menahannya sendiri tanpa mengatakan kepada siapapun termasuk suaminya. Dia hanya tak ingin Ibu mertuanya menganggapnya mengadu domba antara Ibu dan anak.
Bulan demi bulan telah berlalu, kini usia kandungan Salma berjalan 5 bulan. Dan tak pernah terpikir olehnya, dia hanya menganggap sakit pada perutnya seperti yang terjadi sebelumnya. Jadi dia hanya meminum vitamin dan obat dari dokter. Kemarin kemarin rasa sakitnya akan hilang dalam hitungan menit, akan tetapi kali ini, dia justru merasakan perutnya semakin sakit yang tak tertahankan.
"Maaa! tolong aku Ma. Perutku sakit banget." Teriak Salma yang memegangi perutnya yang kesakitan.
Salma duduk dilantai dan menahan sakitnya. Ibu mertuanya menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Ibu Burhan.
"Perutku sakit Ma." Jawab Salma sambil menangis menahan rasa sakit diperutnya.
Ibu Burhan menghampirinya dan melihat darah mengalir dari kakinya.
"Pendarahan? Pa Salma pendarahan ayo dibawa kerumahsakit." Teriak Ibu Burhan memanggil suaminya.
"Apa yang kamu minum?" Tanya Ibu BUrhan.
"Aku hanya meminum obat dari dokter Ma." Jawab Salma lemah dan pingsan.
Tak kuat menahan rasa sakit diperutnya, Salma lemah dan tak sadarkan diri. Ayah Burhan Megendongnya kemobil.
"Kamu hubungi Burhan cepat." Suruh Ayah Burhan kepada istrinya.
__ADS_1
Ibu Burhan menelepon Burhan untuk segera menyusulnya kerumahsakit.
Sesampainya dirumah sakit, Salma segera ditangani oleh dokter. Salma masih bisa diselamatkan, akan tetapi Salma harus kehilangan bayinya. Mendengar itu, Ibu Burhan sangat marah kepada Salma. Dan setelah Salma sadar, dia langsung mencaci Salma tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Dasar ****** tidak berguna. Kamu sengaja kan gugurin kandunganmu agar kamu bisa menguasai sendiri harta kami? Kamu sengaja meminum obat itu untuk membunuh janin yang ada dikandungan kamu. Dasar tidak berguna." Ucap Ibu Burhan dengan kasar.
Salma hanya menangis menahan rasa sakitnya. Dia sudah tidak berdaya karena sudah kehilangan janinnya, ditambah lagi dengan perkataan Ibunya yang sangat menyakitkan.
"Tidak usah menangis. Hapus airmata buaya kamu. Saya tidak akan terpengaruh." Lanjut Ibu Burhan yang masih kasar.
"Ma, sebaiknya Mama pergi dari sini." Usir Burhan.
"Kamu berani mengusir Mama?" Tanya Ibu Buerhan tak percaya.
"Memang benar dia ******. Jaga kandungan gitu aja tidak bisa." Ucap Ibu BUrhan.
Setiap ucapan Ibu Burhan, membuat Salma semakin terpuruk dan sakit. Airmatanya mengalir semakin deras tak tertahankan.
"Ma, disini kita semua kehilangan bayi itu, tetapi Salma yang paling kehilangan. Mama jangan menekannya seperti ini. Apalagi menyalahkannya. Mama sebaiknya pergi dari sini atau aku akan panggil satpam untuk usir Mama." Ucap Burhan tegas.
"Ayo Ma, kita pulang saja." Ajak Ayah Burhan menarik tangan istrinya.
Ibu Burhan membuang tangan suaminya.
__ADS_1
"Dasar semua sama saja." Ucap Ibu Burhan yang kemudian meninggalkan ruangan.
"Salma maafkan Mama ya. Kamu cepat sembuh ya. Papa dan Mam pulang dulu." Pamit Ayah Burhan dan kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Sayang! Sudah ya jangan bersedih lagi. Aku tahu kamu adalah orang yang paling kehilangan diantara kami. Tapi kamu tak boleh terus seperti ini. Kasihan bayi kita, dia disyurga pasti akan ikut sedih jika tahu kamu seperti ini." Ucap Burhan dengan lembut menenangkan hati istrinya.
Salma tetap menangis, lemah tak berdaya.
"Aku belum melihatnya, aku ingin melihatnya tumbuh besar." Ucap Salma sedih.
"Iya. Tapi Allah sedang menguji kita. Meski kita tak bisa melihat dia, tetapi dia akan bisa melihat kita. Kamu tak ingin kan membuatnya sedih, jadi kamu jangan seperti ini. Kamu harus kuat." Ucap Burhan terus menenangkan Salma.
Salma mengangguk dan menghapus airmatanya. Burhan mkembantunya menghapus airmata dipipi Salma.
"Kamu sekarang istirahat dulu ya. Kamu belum istirahat daritadi." Ucap Burhan.
"Kamu jangan pergi tinggalin aku sendiri." Ucap Salma.
"Iya aku akan menjagamu disini dan aku tak akan kemana mana." Kata Burhan.
Salma memejamkan mata untuk beristirahat. Sedangkan Burhan duduk disebelah tempat tidur Salma dan menunggu Salma tanpa meninggalkannya sebentarpun. Tangan Burhan menggenggam tangan Salma dan tangan satunya membelai lembut kepala Salma. Dan sesekali Burhan mencium kening istrinya. Burhan berharap, dengan ciumannya bisa menghilangkan sedikit beban istrinya. Burhan tahu, dengan Ibu yang tak merestui hubungan mereka, Salmalah yang lebih tertekan. Burhan berpikir, bahwa mereka kehilangan calon anak mereka faktor utamanya adalah tekanan dari Ibunya.
"Maafkan aku sayang." Kata Burhan lirih dan mencium kening istrinya.
__ADS_1