Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
SANG PENGGODA 2


__ADS_3

Didalam mobil...


Vania terus menata Burhan yang sedang fokus dengan kemudinya. Sesekali dia tersenyum melihat wajah fokus pria disebelahnya. Sedangkan Burhan tak menghiraukan tatapan Vania. Dia hanya fokus menyetir agar segera sampai dan jauh dari Vania.


Vania semakin serius menatap Burhan. Matanya tak sedikitpun berpaling dari Burhan. Semakin lama Burhan semakin merasa risi karena tatapan Vania yang sedari rumah kearahnya.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Burhan tanpa menatap kearah Vania.


"Nggak apa apa. Cuma pengen natap kamu aja. Udah lama aku nggak natap kamu seperti ini." Jawab Vania tetap fokus menatap Burhan.


"Jangan menatapku seperti itu!" Balas Burhan memalingkan wajahnya kearah kaca jendela mobil disebelahnya.


"Kenapa? Kamu malu? Hahahaha!" Goda Vania menertawakan Burhan.


Burhan diam tak menjawab. Dia memilih sesekali memalingkan wajahnya kearah jendela dan memfokuskan diri untuk menyetir.


"Ya sudah kalau kamu malu aku menatapmu. Begini saja kalau begitu." Ucap Vania dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Burhan dan kedua tangannya merangkul lengan Burhan.


Burhan terkejut dan semakin risi melihat tingkah Vania.


"Lepasin!" Ucap Burhan menarik lengannya menjauh dari Vania.

__ADS_1


"Enggak!" Tolak Vania dan justru merangkulnya semakin erat.


"Lepasin!" Ucap Burhan lagi. Kali ini tangan kanannya mencoba mendorong kepala Vania menjauh dari bahunya.


"Enggak mau." Vania tetap bersikeras menolak.


Burhan yang merasa kesal meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.


"Kenapa berhenti? Ini belum sampai kantor kamu!" Tanya Vania mendongakkan kepalanya dan menatap Burhan.


"Kamu lepaskan atau turun dari mobilku? Aku sudah cukup bersabar." Ucap Burhan tegas.


Takut membuat Burhan marah, Vania melepaskan tangannya dan menjauhkan kepalanya.


Burhan kembali menjalankan mobilnya dengan wajah dinginnya karena kesal.


"Sial! Pagi pagi sudah dibuat kesal oleh wanita ini. Tau gini aku tadi nggak sudi ngasih dia tumpangan." Ucap Burhan dalam hati.


Vania yang takut, hanya diam menatap ke depan. Dia hanya sesekali melirik Burhan. Tapi setiap kali Burhan menyadarinya, dia segera memalingkan lirikkannya.


Sesampainya di kantor, Burhan menghentikan mobilnya dan turun. Dia memberikan kunci mobilnya kepada pihak keamanan agar memarkirkannya. Vania ikut turun dan mengikuti Burhan masuk kedalam kantornya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikutiku? Bukannya kamu ada urusan sendiri?" Tanya Burhan menghentikan langkahnya.


"Aku mau mampir sebentar di kantor kamu. Aku sudah lama tidak kesini." Jawab Vania.


"Terserah kamu saja." Balas Burhan. Dia melanjutkan langkahnya diikuti Vania dibelakangnya.


Semua karyawan menundukkan kepalanya setiap bertatap muka dengan Burhan. Vania tersenyum dan tetap kagum dengan Burhan.


Sesampainya di ruangan Burhan Vania berkeliling di sekitar ruangan itu dan melihat lihat. Setelah merasa lelah, dia duduk di sofa.


Karena merasa diacuhkan oleh Burhan, Vania bertekad mendekati Burhan. Dia berdiri dibelakang Burhan dan melingkarkan kedua tangannya dileher Burhan. Vania mendekatkan bibirnya ke telinga Burhan.


"Sayang! Kenapa kita tidak bisa seperti dulu?" Bisik Vania dengan suara sexy untuk menggoda Burhan.


"Kamu gila?" Teriak Burhan mendorong Vania hingga melepaskan tangan Vania dari lehernya.


Vania terkejut dan terjatuh. Dia merasa kesal karena sudah dipermalukan seperti ini.


"Kamu nggak punya harga diri? Aku sudah beristri dan kamu tau itu. Jangan sampai aku melihatmu lagi mulai sekarang. Pergi kamu! Pergi?" Teriak Burhan dan jari telunjuknya menunjuk kearah pintu keluar.


Vania yang merasa kesal dan malu tanpa menjawab langsung berdiri dan pergi meninggalkan Burhan.

__ADS_1


Setelah Vania pergi, Burhan bisa bernafas lega. Dia menyandarkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri.


__ADS_2