Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
BERTAHAN


__ADS_3

Mengalami luka batin adalah hal yang paling menyakitkan. Itulah yang dirasakan Salma saat ini yang hidup bersama orangtua mertuanya. Orangtua mertuanya tak pernah sekalipun menganggap Salma ada didalam keluarga mereka. Salma yang bertahan demi suaminya, menahan sakit itu seorang diri. Salma tak ingin Burhan semakin membenci orangtuanya ketika mengetahui perlakuan Mereka kepadanya.


"Sayang, apakah Mama memperlakukanmu semena mena ketika aku bekerja dikantor?" Tanya Burhan.


"Tidak! Mama hanya mendiamkanku seperti biasanya. Kamu tenang saja, suatu hari nanti hati Mama dan Papa pasti akan bisa menerimaku." Ucap Salma.


Salma tak mengatakan apapun tentang semua perkataan Ibu Burhan yang selalu menguras kesabaran. Karena Salma tau jika dia mengatakannya, pasti Burhan akan sangat marah karena Ibunya memperlakukan aku dengan kasar.


Keesokan harinya, Burhan berangkat bekerja. Setelah Burhan berangkat bekerja, giliran Salma mengurus Ayah mertuanya yang sedang sakit. Hati Ayah mertuanya mulai luluh. Karena selama Salma dan Burhan pindah, Salmalah yang lebih sering mengurusnya. Sedangkan Istrinya lebih sering pergi keluar bersama teman temannya, menghambur hamburkan uang akhir akhir ini


"Salma, maafkan Papa. Papa sekarang sadar bahwa kamu adalah orang baik. Papa harap kamu dan Burhan bisa bahagia. Dan maafkan perlakuan Mama juga ya." Ucap Ayah Burhan.


"Iya Pa. Yang terpenting sekarang Papa lekas sembuh." Ucap Salma.


Sore harinya, Ibu Burhan pulang dari jalan jalan membawa banyak bungkusan yang merupakan barang belanjaannya.


"Mama dari mana saja jam segini baru pulang?" Tanya Ayah Burhan.


"Mama dari jalan jalan sama temen temen Mama. Daripada dirumah melihat si ****** itu, lebih baik Mama pergi jalan jalan." Jawab  Ibu Burhan dengan tatapan tajam mengarah kearah Salma.


Mengetahui Ibu mertuanya sangat membencinya, Salma henya mamou terdiam dan menundukkan kepalanya. Hatinya serasa dicabik dengan pisau yang amat sangat tajam.


"Ya sudah terserah Mama saja." Ucap Ayah Burhan.


Ibu Burhan pergi kekamar meninggalkan Suaminya.

__ADS_1


"Salma, maafkan Mama ya. Jangan dimasukin hati semua omongannya." Ucap Ayah Burhan.


"Iya Pa. Tidak apa apa. Aku pergi kekamar dulu ya Pa." Pamit Salma.


Ayah mertuanya mengangguk. Dan Salma meninggalkan Ayah mertuanya dan pergi kekamar. Sesampainya dikamar, Salma tak mampu membendung airmatanya. Tanpa dia sadari airmatanya mengalir deras, seakan mengerti rasa sakit yang dirasakan oleh hatinya. Setiap hari dia harus menahan omongan Ibu mertuanya yang tanpa belas kasihan sedikitpun.


Hari mulai petang, sebentar lagi suaminya puloang. Salma tak ingin menunjukkan rasa sedihnya dihadapan suaminya yang lelah karena seharian harus bekerja. Senyeka airmatanya dan menahan semua rasa sakit dihatinya dengan senyumnya.


Beberapa saat kemudian Burhan pulang. Burhan langsung membersihkan dirinya dan kemudian berkumpul bersama keluarga untuk makan malam.


Setelah makan malam selesai.


"Kapan kalian akan berencana punya anak?" Tanya Ibu Burhan tiba tiba.


Meskipun Ibu Burhan sangat tidak menyukai Salma, tetapi dia juga butuh seorang cucu dari Burhan. Karena dia berpikir kalau dia tak akan mudah memisahkan Burhan dan Salma.


Dengan tersenyum Burhan memegang tangan istrinya. Dengan terpaksa Salma membalas senyum suaminya.


"Bagaimana bisa aku segera hamil kalau setiap hari aku disajikan dengan omongan yang kejam?" Tanya Salma dalam hati.


"Kamu kenapa sayang? Kok melamun?" Tanya Burhan yang mengetahui istrinya tiba tiba melamun.


"Hemm?? Ohh aku tidak apa apa kok." Jawab Salma.


"Apakah ada masalah?" Tanya Burhan lagi.

__ADS_1


"Enggak kok. Aku nggak apa apa." Jawab Salma lagi.


"Apa jangan jangan kamu tak berencana memberikan Burhan keturunan? Biar kamu bisa menguasai harta kami sendiri. Jangan bermimpi." Ucap Ibu BUrhan.


"Enggak Ma!" Jawab Salma.


"Mama ini ngomong apa sih." Kata Burhan kesal dengan perkataan Ibunya.


"Siapa tahu aja dia hanya mengincar harta kita." Ucap Ibu Burhan lagi.


"Maaaa...." Teriak Burhan.


salma yang tahu suaminya sudah sangat marah kepada Ibunya. Jadi Salma memegang lengan Burhan, menahan Burhan agar  meredakan emosinya. Mengetahui istrinya menginginkannya marah kepada Ibunya, Burhan diam dan menarik tangan Salma, kemudian pergi meninggalkan perdebatan mereka.


Dikamar Burhan memandangi wajah bistrinya yang tampak bersedih dengan perkataan Ibunya.


"Sayang! Maafkan Mama ya." Ucap Burhan dengan nada kecewa kepada Ibunya.


Salma balik memandang Burhan dan tersenyum. Melihat senyum istrinya badalah senyum kesedihan, Burhan langsung memeluk Salma dengan erat dan menangis. Tak mampu menahan sedihnya, Salma tak mampu membendung airmatanya juga.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2